NovelToon NovelToon
Hidupku Kurebut Kembali

Hidupku Kurebut Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga / Selingkuh / Kebangkitan pecundang
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Sofia Grace

“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”

Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.

Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.

Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.

Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Pisah Kamar

Ron kaget. Bu Yuna juga kedua pembantu, Mbak Ti dan Mbak Nah, tertegun mendengar pengakuan Mey. “Adik Cyll dan Sam sudah ikut Tuhan Yesus tinggal di surga.”

“Kenapa begitu, Ma?” tanya Cyll kritis.

Mey tersenyum kecil. “Karena Tuhan Yesus tahu adik akan lebih bahagia tinggal di surga. Mama sudah punya Cyll dan Sam. Kalau nambah anak lagi Mama takut tidak bisa bagi perhatian sama kalian. Jadi ya sudah, untuk selanjutnya Mama ga akan hamil lagi. Cukup sudah ada Cyll dan Sam. Buah hati Mama.”

Penjelasan istrinya itu bagaikan ketok palu hakim di telinga Ron. Mey tak mau punya anak lagi. Dan pria itu semakin syok ketika malam hari setelah menidurkan Cyll dan Sam, Mey membongkar barang-barang pribadinya di kamar.

“Mau dibawa kemana barang-barang ini?” tanya Ron panik. Masa istrinya mau minggat dan menggugat cerai?

Mey menatap suaminya. Ekspresi wajahnya tenang. “Aku mau pindah ke kamar tamu untuk seterusnya. Jadi kamu bebas ngapain saja di kamar ini. Aku ga peduli.”

Ron syok. “Tapi kita kan suami istri, Mey,” protes pria itu. “Apa kata anak-anak kalau tahu papa-mamanya tidak sekamar?”

Mey tak mau kalah, “Menurutmu apa pendapat anak-anak kalau tahu adik mereka mati akibat kamu tulari penyakit berbahaya? Apa pendapat anak-anak kalau tahu papa mereka suka main perempuan bahkan waktu mamanya hamil sekalipun?”

“Kamu sudah gila, Mey. Besok kamu mesti terapi lagi dengan Dokter Rose!”

“Aku ga mau. Mestinya kamu ngaca, Bang. Ngaca! Kamu yang harus terapi dengan psikiater. Suka ngeseks dengan gaya aneh-aneh. Kencing dimana-mana ga pake pengaman sampe kena penyakit kelamin! Berapa kali sudah kamu selingkuh dariku, Bang? Berapa kali, hah?! Jangan-jangan sudah sejak kita masih tinggal di rumah kontrakan kamu sudah main PSK.”

“Aku baru melakukannya setelah Sam lahir, Mey.”

Pengakuan Ron membuat istrinya tertegun. Beberapa detik kemudian Mey mencoba mencerna penjelasan suaminya. “Karirku memang berkembang pesat sejak kita menikah, Mey. Harta melimpah dan gaya hidup naik level. Tapi yang tidak kamu tahu, aku sebenarnya tertekan menghadapi persaingan ketat di kantor. Tidak mudah bagiku mencapai taraf kehidupan yang sekarang. Banyak problem yang membuatku stres. Tapi aku ga bisa cerita sama kamu karena kamu ga akan paham. Kamu ini cuma ibu rumah tangga biasa. Aku butuh pelampiasan buat buang stres. Caranya dengan hubungan seksual. Main dengan PSK bagiku itu melegakan sekali. Tinggal bayar, beres. Mereka servis sesuai kemauanku. Aku ga perlu mikir apa mereka kesakitan, bad mood, atau ga suka caraku berhubungan intim. Mereka diperlakukan seburuk apapun ga berhak protes. Setelah itu pikiranku fresh dan bisa konsen lagi dengan pekerjaan.”

Mey terpana. Jadi itu sebabnya Ron suka main PSK. Sekali pakai terus buang. Mereka sekedar alat untuk membuang stres dan diperlakukan seenaknya. “Kalau begitu kenapa kamu menikahiku, Bang?”

Ron menjawab lirih, “Aku memang berniat membangun keluarga harmonis, Mey. Sekian tahun bersamamu aku sungguh bahagia. Tapi kemudian kusadari bahwa aku membutuhkan seks lebih dengan orang lain yang bisa kuperlakukan sesukaku dan tak perlu kutanggung risikonya.”

“Aku yang menanggung risikonya!” tukas Mey sengit. “Aku tertular penyakit kelamin dan anak kita meninggal dalam kandungan!”

Ron mendesah. “Itu keteledoranku. Aku mengaku salah, Mey. Lain kali aku pakai pengaman.”

“Kamu gila, Bang! Bahkan sampai sekarang masih berniat main PSK lagi?!”

“Ga ada suami yang sempurna, Mey. Terimalah kekuranganku. Setidaknya aku bertanggung jawab menafkahi keluarga dengan layak.”

Mey tak tahan lagi. “Mainlah dengan PSK sesukamu. Aku tak peduli! Tapi aku tak mau berisiko tertular penyakit kelamin lagi. Hubungan suami istri kita sudah berakhir, Bang. Aku cuma akan menjadi istrimu secara hukum, tapi secara riil aku tak sudi lagi!”

Mey membawa barang-barangnya pergi meninggalkan kamar. Ron termangu. Final sudah. Mey tak mau disentuhnya lagi. Mereka suami istri hanya di atas kertas. Pria itu terduduk lemas. Hatinya terpukul sekali.

***

Lambat-laun Bu Yuna menyadari bahwa anak dan menantunya tak lagi sekamar. Dia mengajak Mey bicara berdua. “Ibu tahu kamu masih berduka akibat keguguran. Tapi hal itu sudah takdir, Mey. Lupakan masa lalu. Jadilah istri yang baik seperti dulu.”

Si menantu tersenyum sinis. Perasaan tak sukanya pada Bu Yuna muncul kembali. Lagi-lagi ibu mertuanya ini membela Ron.

“Bang Ron suka main cewe, Bu. Dia sering bayar PSK buat diajak nge-seks aneh-aneh. Akibatnya Bang Ron ketularan penyakit kelamin. Aku ketularan juga sampai keguguran.”

Bu Yuna ternganga. “Ga mungkin Ron seceroboh itu, Mey. Ga mungkin.”

“Bukannya Ibu pernah cerita Ayah dulu juga suka main perempuan? Apa Ayah ga pernah kena penyakit menular seksual dan menulari Ibu? Kalo begitu, Ibu beruntung sekali  ga sampe kehilangan anak dalam kandungan akibat penyakit jorok itu.”

Muka Bu Yuna memerah. Dia tak tahu harus berkata apa. Perasaan perempuan tua itu campur aduk antara marah dan malu. Marah atas perkataan kurang ajar si menantu sekaligus malu mengetahui karma atas perbuatan bejad putra kandungnya.

Mey menunggu komentar si ibu mertua. Dia ingin tahu apa pendapat Bu Yuna atas penderitaannya akibat perbuatan Ron. Tapi ibu mertuanya itu diam saja. Pandangan perempuan tua itu menerawang. Sikapnya salah tingkah, seperti mau bicara tapi takut salah.

“Aku sudah tak mau disentuh Bang Ron, Bu,” aku Mey kemudian. “Makanya aku pindah kamar. Biar saja Bang Ron bebas merdeka di kamar yang besar itu. Bawa perempuan lain juga aku ga peduli. Sudah kuputuskan kami cuma suami istri di atas kertas, lain tidak. Dia mau sebandel apapun di luaran, sudah bukan urusanku lagi.”

Tiba-tiba Bu Yuna menghardik, “Kalau tidak ada anakku, kamu tidak akan menjadi nyonya besar seperti sekarang, Mey! Jangan lupa kamu dulu juga bukan perempuan baik-baik. Bekerja setiap malam menemani laki-laki hidung belang di tempat karaoke. Memangnya di tempat seperti itu kamu berharap bisa mendapatkan pasangan seperti apa? Sudah untung anakku mau menikahi dan mengangkat derajatmu setinggi sekarang. Jangan lupa, kamu pernah menabrak orang sampai mati. Anakkulah yang melepaskanmu dari jeratan hukum. Kalau tidak, kamu sekarang sudah tinggal di penjara, Mey!”

Si menantu menyeringai. Dia tak takut pada ibu kandung suaminya ini. “Ibu silakan bicara apa saja. Aku ga peduli. Jangan lupa di rumah ini siapa yang mengurus semua kebutuhan Ibu? Siapa yang mengatur menu makan Ibu sehari-hari? Kalau Ibu sakit, siapa yang berinisatif  periksakan ke dokter?”

Bu Yuna terdiam. Ron memang tak pernah mengurusinya sedetil itu. Paling satu minggu sekali anaknya tersebut masuk ke dalam kamar untuk memberinya uang jajan. Tanpa basa-basi bertanya ibunya sudah makan belum, makan apa hari ini, bagaimana kondisi kesehatannya. Bahkan akhir-akhir ini Ron sudah tak mengantarnya untuk terapi ke psikiater. Mey-lah yang menemani Bu Yuna.

“Aku sudah lelah lahir batin, Bu. Mulai sekarang aku ga akan mengurusi Ibu dan Bang Ron lagi. Biar Mbak Ti dan Mbak Nah yang kuajari melakukannya. Aku mau fokus sama anak-anak dan diri sendiri.”

 Selanjutnya Mey berbalik badan dan melangkah dengan gagah meninggalkan kamar ibu mertuanya. Bulu kuduk Bu Yuna berdiri. Dia merasa menantunya sudah menjadi orang yang berbeda. Hal ini membuat perempuan tua itu merasa was-was.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!