NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:188.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kukuruyuk.

Matahari pagi mulai merangkak naik, menyinari Desa Qingshui dengan kehangatan yang nyaman. Suara burung gereja yang berkicau di dahan Pohon Ajaib menjadi musik pagi yang menyambut Lin Ye saat dia keluar dari pintu belakang rumahnya.

Lin Ye meregangkan tubuhnya. Hal pertama yang dia periksa tentu saja adalah petak lahan tempat dia menanam tomat matahari terbit dan sayuran biasa. Pertumbuhannya sangat stabil. Daun-daun hijau itu tampak semakin lebar dan segar berkat energi pasif dari pohon raksasa di dekatnya. Tanah di sekitarnya juga masih terjaga kelembabannya karena Pagar Angin Penolak Hama mencegah angin kering merusak struktur tanah.

"Semuanya tumbuh dengan baik. Tapi sayuran ini butuh air yang lebih banyak saat batangnya mulai meninggi," gumam Lin Ye sambil menatap ember kayunya yang kosong.

Masalah utamanya saat ini adalah air. Sumur tua di samping rumahnya memiliki debit air yang sangat kecil karena dasarnya dipenuhi lumpur dan sampah dedaunan kering yang menumpuk selama belasan tahun. Semalam dia menjatuhkan ember kayunya ke dalam, yang berarti sekarang dia sama sekali tidak punya alat untuk menimba air.

"Aku harus mencari tambang yang lebih panjang dan pengait baja untuk mengambil ember itu, lalu membersihkan dasar sumurnya perlahan-lahan," kata Lin Ye.

Dia menoleh ke arah bangunan kecil dari kayu lapuk yang berada tepat di sebelah kiri rumah utama. Itu adalah gudang penyimpanan alat tani milik mendiang kakeknya. Kemarin dia hanya masuk sebentar ke bagian depannya untuk mengambil keranjang bambu. Sekarang, dia harus membongkar isinya untuk mencari alat yang berguna.

Kriet.

Pintu gudang itu terbuka dengan suara berderit keras. Debu tebal langsung beterbangan di udara, membuat Lin Ye terbatuk beberapa kali. Dia mengibaskan tangannya, menunggu debu itu sedikit mereda sebelum melangkah masuk.

Ruangan di dalam gudang itu cukup gelap dan pengap. Bau apek dari kayu tua dan logam berkarat sangat menyengat. Berbagai macam barang rongsokan menumpuk tidak beraturan. Ada sisa-sisa jaring burung yang sudah robek, cangkul berkarat yang gagangnya patah, tumpukan karung goni bekas, dan beberapa lempeng besi tebal yang sepertinya adalah mata bajak traktor kuno.

Lin Ye mulai memindahkan barang-barang itu satu per satu. Dia memisahkan kayu yang masih bisa dipakai untuk kayu bakar ke sudut kanan, dan membuang barang yang sudah benar-benar hancur ke luar gudang.

Saat dia mengangkat sebuah karung goni tebal di pojok ruangan, matanya tertuju pada sebuah benda panjang yang bersandar di dinding.

Itu adalah sebuah joran pancing yang terbuat dari bambu kuning yang sudah dipoles sangat halus. Bentuknya melengkung sempurna dengan tali senar tebal yang masih tergulung rapi di bagian gagangnya. Di ujung senar itu, terdapat kail besi kecil yang anehnya tidak berkarat sama sekali, lengkap dengan pelampung kayu berbentuk bulat.

"Pancingan kakek," Lin Ye bergumam pelan. Dia mengambil joran bambu itu dan mengusap debu di permukaannya. "Kondisinya masih sangat bagus. Kakek pasti sangat merawat benda ini. Ini bisa berguna untuk mencari tambahan lauk di sungai nanti sore."

Lin Ye meletakkan pancingan bambu itu di luar gudang dengan hati-hati. Dia kembali masuk untuk melanjutkan pencariannya. Dia butuh tali tambang dan pengait besi.

Di bawah tumpukan mata bajak traktor yang berat, Lin Ye melihat ujung sebuah rantai besi kecil yang terhubung dengan jangkar pengait.

"Ah, itu dia. Itu bisa kugunakan untuk menarik ember di sumur," kata Lin Ye.

Dia membungkuk dan mencoba menarik rantai itu. Namun, tumpukan besi bajak di atasnya terlalu berat. Lin Ye memutuskan untuk memindahkan lempeng besi bajak itu terlebih dahulu dengan kedua tangannya. Besi itu sangat berat dan permukaannya dipenuhi karat tajam.

Srat.

Lin Ye mengernyitkan dahinya. Karena lantai gudang yang licin oleh debu, kakinya sedikit tergelincir saat mengangkat besi bajak itu. Besi tajam yang berkarat itu merosot dari pegangannya dan menggores lengan bawah kirinya dengan sangat keras.

Prang.

Besi itu jatuh membentur lantai. Lin Ye segera menarik lengan kirinya. Goresannya cukup panjang, dari dekat siku hingga ke pergelangan tangan. Darah segar mulai merembes keluar, menetes ke lantai gudang. Rasa perih yang amat sangat langsung menyengat sarafnya.

"Sial. Ini luka yang cukup dalam, dan karatnya bisa menyebabkan infeksi," rutuk Lin Ye.

Dia buru-buru keluar dari gudang, masuk ke dalam rumah, dan mengambil selembar kaus bersih dari kopernya. Dia merobek kaus itu dan melilitkannya kuat-kuat di lengannya untuk menghentikan pendarahan.

Lin Ye berjalan cepat keluar dari gerbang rumahnya. Dia harus mencari klinik terdekat. Dia ingat Kepala Desa Wang mengatakan ada fasilitas kesehatan kecil di tengah desa.

Saat Lin Ye menyusuri jalan tanah, beberapa warga yang melihat lengannya terbalut kain berdarah langsung menatapnya dengan cemas. Kepala Desa Wang yang kebetulan sedang bersepeda dari arah balai desa langsung berhenti dan turun menghampirinya.

"Ya ampun, Lin Ye. Apa yang terjadi dengan lenganmu? Kenapa banyak darah begini?" tanya Kepala Desa Wang dengan raut wajah panik.

"Hanya kecelakaan kecil, Kepala Desa. Saya sedang membersihkan gudang kakek dan tergores besi bajak yang berkarat. Apakah di desa ini ada klinik yang buka hari ini? Saya butuh obat merah dan perban yang bersih," jawab Lin Ye berusaha tetap tenang.

"Besi berkarat? Itu sangat berbahaya, Nak. Kamu bisa infeksi parah. Ayo, cepat pergi ke Klinik Desa Qingshui. Letaknya hanya dua blok dari sini, tepat di sebelah gedung sekolah dasar. Kebetulan hari ini Perawat Bai sedang bertugas. Biar aku antar kamu ke sana." Kepala Desa Wang langsung menuntun sepedanya.

"Terima kasih banyak, Kepala Desa. Saya bisa berjalan sendiri, Anda tidak perlu repot-repot," tolak Lin Ye halus.

"Jangan keras kepala. Kamu tamu dan warga baruku, aku harus memastikan kamu selamat sampai di klinik. Ayo cepat," desak Kepala Desa Wang.

Mereka berdua berjalan agak cepat menuju tengah desa. Sesampainya di sana, Lin Ye melihat sebuah bangunan bercat putih yang bersih, sangat kontras dengan bangunan kayu lain di sekitarnya. Terdapat plang kecil bertuliskan Klinik Kesehatan Desa Qingshui di atas pintunya. Aroma obat antiseptik yang khas langsung tercium saat mereka mendekat.

Kring.

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi saat Lin Ye mendorong pintu klinik tersebut. Ruangannya tidak terlalu besar, hanya ada tiga ranjang pasien yang dipisahkan oleh tirai putih, sebuah meja kerja, dan lemari kaca penuh berisi obat-obatan.

"Permisi, apakah ada orang di sini? Ada pasien darurat," panggil Kepala Desa Wang.

Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari ruangan belakang. Seorang wanita muda yang mengenakan jas perawat berwarna putih bersih muncul dari balik tirai. Rambut hitamnya yang lurus sebahu diikat rapi ke belakang. Wajahnya sangat cantik dengan riasan yang minimalis, memberikan kesan lembut dan menenangkan. Matanya yang bulat memancarkan kepedulian yang tulus.

"Kepala Desa Wang? Ada apa?" tanya perawat itu. Matanya kemudian tertuju pada Lin Ye dan kain berdarah yang melilit lengan kirinya. Raut wajahnya langsung berubah serius. "Astaga. Siapa ini? Silakan duduk di ranjang nomor satu sekarang juga. Biar saya periksa lukanya."

"Ini Lin Ye, cucu mendiang Kakek Lin Tian yang baru kembali dari kota. Dia terluka saat membersihkan gudang tuanya," jelas Kepala Desa Wang sambil membantu Lin Ye duduk di tepi ranjang.

"Tolong bantuannya, Perawat. Nama saya Lin Ye," kata Lin Ye mengangguk pelan.

"Nama saya Bai Ruoxue. Tolong tahan sedikit ya, Tuan Lin. Saya harus membuka ikatan kain ini untuk melihat seberapa parah lukanya," kata Bai Ruoxue dengan suara yang sangat lembut namun tegas.

Dia mengambil gunting medis dari sakunya dan memotong kain kaus yang melilit lengan Lin Ye dengan sangat hati-hati agar darahnya tidak menempel di kulit yang terluka. Saat kain itu terbuka, goresan panjang yang cukup dalam terlihat jelas.

Bai Ruoxue mengernyitkan alisnya. "Lukanya cukup panjang, tapi syukurlah tidak mengenai pembuluh darah utama. Anda tergores apa, Tuan Lin?"

"Besi bajak traktor yang sudah berkarat belasan tahun," jawab Lin Ye jujur.

Bai Ruoxue langsung mengambil botol cairan antiseptik, kapas steril, dan beberapa alat kecil dari nampan besi di mejanya. Dia duduk di kursi kecil tepat di depan Lin Ye.

"Besi berkarat adalah sarang bakteri. Saya harus membersihkan luka ini secara menyeluruh agar kotoran karatnya hilang. Ini akan terasa sangat perih. Apakah Anda mau saya beri bius lokal?" tanya Bai Ruoxue menatap mata Lin Ye.

"Tidak perlu, Perawat Bai. Lakukan saja. Saya sudah terbiasa dengan rasa sakit dan tekanan saat bekerja di kota," jawab Lin Ye sambil tersenyum tipis.

Bai Ruoxue menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Tolong Kepala Desa Wang pegangi bahunya agar dia tidak bergerak."

Bai Ruoxue mulai menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas steril dan menepukkannya perlahan ke atas luka Lin Ye.

1
🔵SENJA
wah ini keren 😳
Heni Setiyaningsih
/Rose//Rose//Rose/
Ferdy Palit
cerita yang mendidik penuh,thank you
🔵SENJA
hadeeeh bulshit semua 🤮
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!