Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabrakan Tak Terduga
Lamunan getir tentang jeratan utang bank harian itu akhirnya buyar ketika Reno berdeham pelan.
Pria itu sengaja mengetukkan jemarinya di atas meja etalase, memecah kebisingan antrean pelanggan yang mulai memadati pelataran kedai.
"Sini, Na. Biar aku yang bagian ulek sambalnya, kamu fokus bungkusin dan pegang uang saja," cetus Reno seraya meraih ulekan batu dari tangan Alana tanpa permisi.
Alana sempat mengerjapkan mata terkejut, namun sedetik kemudian tawa tipisnya lolos. Rasa hangat perlahan menyusup ke dadanya melihat kepedulian Reno.
"Beneran, Kak? Enggak gengsi nih anak teknik mendadak jadi tukang ulek cabai?"
"Gengsi nggak bakal bikin perut kenyang, Na," sahut Reno santai. Pria itu langsung mengambil posisi nyaman di depan cobek besar, lalu mulai menumbuk cabai dan bawang dengan gerakan yang bertenaga.
"Tapi kan Kak Reno baru pulang bimbingan, pasti capek," ujar Alana merasa tidak enak, tangannya kini beralih mengambil kertas minyak pembungkus.
Reno menggeleng kecil sambil terus mengulek, "Cuma ngulek begini mah kecil, hitung-hitung latihan otot tangan sebelum begadang ngetik bab empat."
Kehadiran Reno sore itu benar-benar menjadi penyelamat bagi Alana.
Dengan bantuan tangan kekar Reno, ritme pelayanan di kedai Geprek Rumah Rasa berjalan dua kali lebih cepat dari biasanya.
Tepat saat jarum jam menyentuh angka tujuh malam, sisa ayam goreng di dalam etalase kaca telah habis tak tersisa.
Alana segera melangkah ke depan dan membalik papan penanda di pintu menjadi tulisan Tutup.
Reno yang masih setia di sana tidak langsung bergegas pulang. Ia meraih selembar kain lap bersih dan mulai membersihkan sisa-sisa minyak di meja kayu. "Sisa ayamnya benar-benar habis, Na? Enggak ada yang disisain buat kamu makan malam?"
"Enggak ada, Kak. Hari ini bersih semua, alhamdulillah," jawab Alana sambil menyapu sisa potongan kol di lantai. "Nanti aku gampang, bisa mi instan atau beli camilan di depan gang."
Reno mendengus pelan, menatap Alana dengan pandangan menegur. "Kebiasaan. Jangan keseringan makan mi instan, kamu itu udah kurus begitu."
"Iya, Kak Reno yang cerewet," canda Alana, mencoba mencairkan suasana.
Pria itu berjalan ke arah motornya setelah selesai mengelap meja terakhir, lalu menoleh sekilas. "Udah beres semua nih. Aku balik duluan ya, Na. Ingat pesan aku, habis ini langsung mandi, terus istirahat."
Alana mengangguk patuh di ambang pintu kedai. "Iya, Kak. Makasih banyak ya udah repot-repot dibantu dari sore sampai selesai."
"Santai aja, kayak sama siapa aja kamu ini. Duluan ya, Na," pamit Reno sebelum menyalakan mesin motornya.
Setelah memastikan motor Reno melaju pergi membelah kegelapan gang, Alana buru-buru menutup tirai bambu kedainya.
Suasana kedai mendadak berubah sunyi, menyisakan Alana dengan kepalanya yang kembali berisik.
Rasa lelah yang mendera sejak subuh seolah luruh bersama guyuran air dingin saat Alana membersihkan diri di kamar mandi kecilnya.
Setelah berganti pakaian dengan kaus oblong longgar dan celana kain yang nyaman, Alana duduk di tepi kasur busanya yang tipis.
Ia membuka laci meja rias, mengeluarkan stoples plastik tempat uang, lalu mulai menghitung lembaran rupiah hasil jualan dengan teliti.
"Satu, dua, tiga... empat ratus lima puluh ribu," gumam Alana lirih, menghitung lembaran uang yang sedikit kusut itu.
Beruntung, habisnya sisa bahan baku membuat pemasukannya malam ini cukup untuk menutupi modal esok hari.
Namun, alih-alih merasa tenang, jemari Alana justru mulai bergetar dingin saat pandangannya jatuh pada selembar kertas lusuh perjanjian utang bank keliling di sudut laci.
"Aku harus segera memindahkan uang ini sekarang juga," bisik Alana pada diri sendiri.
Pikiran Alana langsung tertuju pada Hendra. Omnya itu adalah tipe orang yang bermata gelap jika sudah urusan uang.
Hendra tidak akan segan-segan mendobrak pintu atau mengacak-acak seisi kamar Alana jika pria paruh baya itu kembali datang dalam keadaan mabuk atau kalah judi seperti subuh tadi.
Membiarkan uang tunai berada di dalam kedai sama saja dengan menyerahkan lehernya sendiri ke tangan sang paman.
"Kalau ditabung di rekening, Om Hendra enggak bakal bisa ambil paksa," pikir Alana logis.
Alana buru-buru memasukkan beberapa lembar uang ratusan ribu itu ke dalam dompet kecilnya.
Ia memutuskan untuk pergi ke supermarket dua puluh empat jam yang terletak di ujung jalan protokol demi melakukan pengisian saldo rekeningnya.
Bagi Alana, menyembunyikan uang di dalam sistem aplikasi jauh lebih aman daripada menyimpannya di bawah bantal.
...----------------...
Suasana supermarket di jam-jam malam terasa begitu lengang. Hanya ada kepakan sayap serangga yang sesekali menabrak lampu neon putih di langit-langit gedung yang tinggi.
Alana berjalan agak tergesa-gesa menyusuri lorong bagian tengah yang diapit oleh rak-rak tinggi berisi camilan.
Kepalanya menunduk dalam, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan aplikasi perbankan, sibuk menghitung estimasi sisa keuntungan bersih setelah dipotong setoran tiga puluh ribu rupiah untuk besok sore.
"Dipotong setoran bank harian, lalu disisihankan untuk beli ayam besok subuh... sisanya mepet banget," keluh Alana dalam hati dengan dahi berkerut.
Karena terlalu fokus pada hitung-hitungan di dalam ponselnya, Alana sama sekali tidak menyadari ada sesosok tubuh tinggi tegap yang baru saja berbelok dari arah lorong kopi.
Pria itu melangkah berlawanan arah dengan kecepatan konstan yang intimidatif.
Brak!
"Ah!" Alana memekik pendek saat pelipis dan bahunya menghantam sesuatu yang luar biasa keras—terasa seperti menabrak tiang beton berlapis marmer tebal.
Benturan keras yang tak siap diantisipasi itu membuat genggaman tangan Alana terlepas seketika. Ponselnya melayang di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai tegel dengan bunyi retakan yang cukup nyaring.
Tubuh mungil Alana sendiri terhuyung beberapa langkah ke belakang, hampir saja jatuh terjungkal jika ia tidak segera mencengkeram erat pinggiran rak besi di sampingnya.
Rasa pening langsung menjalar di kepala Alana, membuat pandangannya sempat mengabur.
Mengabaikan denyut nyeri di bahunya, gadis itu buru-buru berjongkok dengan panik demi memungut ponselnya yang berharga.
"Ma-maaf... maaf, saya benar-benar tidak sengaja, saya kurang hati-hati," cicit Alana dengan suara bergetar lambat.
Namun, belum sempat jemari Alana menyentuh casing ponselnya yang retak, sebuah bayangan tubuh yang tinggi besar runtuh di atasnya, seketika memutus pasokan cahaya lampu neon supermarket.
Atmosfer di sekitar lorong itu mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Aura kaku, pekat, dan sedingin es kutub seketika menjepit udara, membuat Alana mendadak merasa dadanya sesak luar biasa akibat tekanan tak kasat mata.
"Punya mata itu digunakan untuk melihat jalan, bukan cuma jadi pajangan di wajah."
Sebuah suara bariton yang teramat berat, rendah, dan sarat akan nada tajam yang menusuk terdengar dari atas ubun-ubun Alana.
Suara itu begitu dingin, tanpa emosi namun memiliki kekuatan intimidasi yang luar biasa kuat hingga membuat seluruh persendian Alana membeku seketika dalam posisi berjongkok.
Alana menahan napasnya. Dengan gerakan lambat yang gemetar, ia memberanikan diri untuk mendongak.
Pandangannya bergerak naik, dimulai dari sepasang sepatu pantofel kulit hitam mengilat tanpa setitik pun debu, celana kain berpotongan mahal yang jatuh dengan sempurna, hingga akhirnya berhenti pada wajah seorang pria keturunan Indonesia-Prancis yang sedang menatapnya dari ketinggian.
Pria itu adalah Arsen.
Jas kerjanya yang rapi kini sudah tersampir di tangan kiri, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka serta dasi yang telah dilonggarkan.
Sisa-sisa kemarahan besar dari ruang rapat sore tadi tampaknya belum sepenuhnya menguap, justru mengkristal menjadi sepasang mata elang yang menatap Alana dengan pandangan yang begitu menghina.
"Maaf, Pak... saya benar-benar tidak melihat Anda tadi," ulang Alana lagi, suaranya mencicit ketakutan melihat kilatan amarah di mata pria asing tersebut.
Arsen tidak berniat memaafkan. Ia melirik ponsel Alana yang retak di lantai dengan ujung matanya, lalu kembali menatap wajah pucat Alana dengan pandangan muak. "Tidak melihat? Jadi berjalan sambil menunduk menatap layar elektronik itu adalah tren baru untuk menabrak orang lain?"
Alana menelan ludah dengan susah payah, ia memberanikan diri berdiri tegak meskipun lututnya terasa lemas di bawah tatapan tajam Arsen. "Saya tahu saya salah karena tidak memperhatikan jalan. Tapi Anda juga tidak perlu sekasar itu berbicara kepada saya."
Arsen terkekeh sinis, sebuah tawa pendek tanpa nada humor yang justru terdengar mengerikan di telinga Alana. Pria itu maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka hingga Alana terpaksa bersandar sepenuhnya pada rak besi di belakangnya.
"Kasar?" desis Arsen, suaranya begitu rendah namun sarat akan penekanan yang menekan mental. "Kamu yang menabrak saya, mengacaukan langkah saya, dan sekarang kamu mencoba mendikte bagaimana cara saya berbicara?"
"Saya tidak bermaksud mendikte, saya hanya meminta maaf dengan sopan," bela Alana, matanya mulai berkaca-kaca bukan karena cengeng, melainkan karena kombinasi rasa lelah, takut, dan kesal yang campur aduk di dalam dadanya.
Arsen menatap lekat-lekat mata bulat Alana yang mulai basah. Alih-alih merasa iba, ingatan Arsen justru melayang pada tangisan palsu Keisha di ruang rapat sore tadi. Baginya, semua air mata wanita adalah bentuk manipulasi murah yang paling ia benci di dunia ini.
"Simpan air mata murahmu itu," ucap Arsen dingin, suaranya terdengar datar tanpa ampun sedikit pun. "Urusan saya hari ini sudah terlalu banyak untuk ditambah dengan drama tidak penting dari orang asing seperti kamu."
Alana mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. "Saya tidak sedang berdrama, Pak. Ponsel saya rusak karena benturan tadi, dan saya sudah mengakui kesalahan saya. Apa itu belum cukup bagi orang terhormat seperti Anda?"
Arsen menatap Alana dari atas ke bawah, menilai penampilan gadis itu yang hanya mengenakan kaus oblong longgar dan sandal jepit tipis. Sudut bibirnya terangkat, membentuk segaris senyuman meremehkan yang sangat kentara.
"Orang terhormat tahu bagaimana cara berjalan dengan benar di tempat umum," ketus Arsen menohok ego Alana. Pria itu memundurkan langkahnya, merapikan letak jas di lengannya tanpa memedulikan lagi kehadiran Alana di depannya. "Minggir. Kamu menghalangi jalan saya."
Alana terdiam membeku, membiarkan tubuhnya bergeser beberapa senti ke samping demi memberi jalan bagi pria berhati es tersebut. Ia menatap punggung tegap Arsen yang melangkah lebar meninggalkan lorong tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
"Dasar dosen sombong tidak punya hati," umpat Alana lirih setelah sosok Arsen hilang di balik meja kasir depan.
Alana kembali berjongkok dengan perlahan, memungut ponselnya yang kini layarnya retak seribu dengan hati yang hancur.
Di bawah temaram lampu supermarket yang mulai terasa sunyi, Alana menyadari satu hal; pertemuannya dengan pria dingin itu baru saja menambah daftar panjang kesialan hidupnya di akhir pekan ini.