"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Sangat Balik Finansial
Layar monitor utama di dalam ruang operasi taktis bunker pangkalan utara kini dipenuhi oleh peta digital global yang berkedip dengan puluhan titik koordinat berwarna biru langit. Data yang baru saja berhasil dibuka oleh pengacara senior Malik dari enkripsi KTI pusat bukan sekadar daftar suap pejabat biasa, melainkan manifes rute pelayaran bayangan milik Vanguard Maritim. Ini adalah urat nadi finansial terbesar sekaligus rahasia paling kotor milik faksi atas Syndicate yang selama ini digunakan untuk menyelundupkan berbagai komoditas tanpa menyentuh bea cukai internasional.
Adrian berdiri tegak di depan meja baja besar, sepasang mata gelapnya menyipit tajam menatap titik-titik koordinat strategis yang tersebar di sepanjang jalur laut barat. Aura predator di dalam dirinya berkilat penuh dengan kepuasan taktis yang pekat. Lengan kanannya yang cedera malam ini sudah terasa jauh lebih baik berkat perawatan intensif Elena, meskipun kain penyangga taktis masih terikat rapi di pundak tegapnya untuk menahan ototnya agar tidak kembali merenggang.
"Tuan Malik, isolasi seluruh data koordinat rute penyelundupan ini sekarang juga. Kirimkan salinannya langsung ke peladen cadangan yang dipegang oleh Hendra di luar wilayah faksi pusat," perintah Adrian, suara baritonnya yang berat dan tebal terdengar menggema rendah di dalam ruangan beton yang dingin. Pria itu memutar sedikit tubuhnya, menoleh ke arah Elena yang sejak tadi masih sibuk menganalisis pergerakan grafik bursa saham di layar tabletnya. "Elena, saatnya kita melepaskan serangan gelombang kedua. Suntikan short selling yang kita lakukan kemarin melalui akun cangkang di Swiss baru memicu kepanikan kecil di lantai pasar. Sekarang, dengan data di depan kita, kita akan menghancurkan fondasi mereka sampai ke akarnya."
Elena mendongak, menyisir beberapa helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jemari kirinya. Meskipun guratan lelah akibat kurang tidur terlihat jelas di wajah cantiknya, sepasang mata indahnya tetap memancarkan kecerdasan taktis yang sangat tajam, elegan, dan menawan. Sebagai seorang CEO Luminous Beauty, ia langsung menangkap arah pemikiran suaminya yang sangat destruktif bagi musuh.
"Kamu mau membocorkan seluruh koordinat pelayaran bayangan ini ke Otoritas Maritim dan Pengawas Finansial wilayah barat malam ini juga, bukan?" tanya Elena, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman taktis yang cerdas.
"Tepat," sudut lipatan bibir Adrian ikut terangkat tipis, membentuk senyuman kejam yang sangat samar namun sarat akan dominasi absolut. Ia melangkah mendekati Elena, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum mawar yang lembut dari tubuh istrinya kembali menenangkan saraf taktisnya yang tegang. Tangan kiri Adrian bergerak perlahan, meremas lembut namun kuat pundak Elena, menyalurkan rasa aman yang protektif dan posesif di tengah situasi mereka yang masih menjadi buron.
"Begitu otoritas maritim barat menerima bukti otentik bahwa Vanguard melakukan operasi penyelundupan berskala masif, mereka tidak punya pilihan lain secara hukum internasional selain membekukan seluruh kapal kargo milik Vanguard yang saat ini sedang berlabuh di pelabuhan internasional. Saat berita penyitaan itu pecah, saham Vanguard di bursa London dan Hong Kong yang sudah kita short sejak kemarin akan runtuh ke titik nol dalam hitungan menit," lanjut Adrian dengan nada suara yang teratur namun mematikan.
Elena tersenyum menantang, sebuah senyuman menawan yang mempertegas keberanian mutlaknya sebagai seorang keturunan sejati keluarga Alexander. "Taktik yang luar biasa kejam, Tuan Arsa. Mereka bermain kotor dengan membekukan aset domestik kita lewat hukum palsu dari pejabat korup di faksi pusat, dan kita membalasnya dengan membekukan seluruh aset global mereka lewat hukum internasional yang nyata. Ini adalah pertukaran bisnis yang sangat adil."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Elena langsung menggerakkan jemarinya dengan tangkas di atas layar tablet taktisnya. Ia mengirimkan perintah terenkripsi kepada Hendra untuk segera mengeksekusi penyebaran dokumen manifes logistik Vanguard tersebut melalui ratusan jaringan proksi anonim yang tidak akan bisa dilacak oleh tim IT Syndicate.
Sementara Malik di sudut ruangan, sibuk mengawal proses transmisi data rahasia yang memakan waktu cukup besar karena enkripsinya yang tebal, atmosfer di dalam ruang bunker mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Detik demi detik berlalu dengan ketegangan psikologis yang hebat, berpindah dari angka-angka di layar monitor langsung ke dalam dada mereka masing-masing.
Satu jam kemudian, monitor tabung kuno pangkalan yang menampilkan pergerakan real-time saham Vanguard Maritim mulai bergerak dengan sangat liar. Grafik hijau yang awalnya sempat mencoba merangkak naik secara mendadak berbelok tajam ke bawah, membentuk garis merah vertikal panjang yang terjun bebas tanpa rem sama sekali.
PING. PING. PING.
"Berhasil! Serangan kita tembus, Tuan!" seru Hendra lewat jalur audio terenkripsi di telinga mereka, suaranya terdengar sangat bersemangat hingga bergetar hebat. "Tuan Adrian, Nyonya Elena! Berita tentang penyitaan dan pembekuan massal puluhan kapal kargo Vanguard di pelabuhan barat baru saja pecah di media internasional utama! Saham faksi atas langsung anjlok drastis sebanyak tiga puluh lima persen dalam waktu kurang dari empat puluh menit! Para investor besar mereka di London mulai panik luar biasa dan menjual seluruh portofolio saham mereka secara massal untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan! Portofolio keuangan Vanguard hancur total!"
Elena mengembuskan napas panjang yang sudah ia tahan di dalam dadanya sejak pelarian semalam. Rasa lega yang luar biasa seketika merayap di sekujur tubuhnya, membuat kedua kakinya mendadak terasa sangat lemas setelah dipaksa berdiri berjam-jam di depan meja operasi baja yang dingin. Tubuh rampingnya sedikit terhuyung ke belakang akibat kelelahan fisik dan mental yang mendadak mengendur.
Namun, sebelum punggung Elena sempat menyentuh tepi meja baja, sebuah lengan kiri yang luar biasa kokoh, kekar, dan hangat sudah lebih dulu melingkar dengan sigap di pinggang rampingnya. Tangan kiri Adrian menahan seluruh bobot tubuh Elena dengan cengkeraman yang sangat kuat, protektif, dan penuh dengan kepemilikan penuh.
Adrian menarik tubuh Elena hingga menempel erat tanpa jarak pada dada bidangnya yang hangat. Di bawah temaram siraman cahaya merah taktis dari langit-langit bunker, sepasang mata gelap Adrian menatap lurus ke dalam manik mata Elena dengan tatapan yang begitu intens, pekat, dan dalam. Seolah-olah kehancuran total saham musuh di luar sana dan runtuhnya raksasa Vanguard Maritim sama sekali tidak ada artinya bagi Adrian dibandingkan dengan keselamatan wanita yang ada di dalam dekapannya saat ini.
"Jangan pernah memaksakan fisikmu sampai kelelahan ekstrem seperti ini lagi di hadapanku, Putri Kecil," bisik Adrian dengan suara baritonnya yang rendah, berat, dan serak tepat di dekat telinga Elena. Sentuhan napas hangatnya mengirimkan getaran aneh yang membuat detak jantung Elena seketika berpacu dengan liar di dalam rongga dadanya. "Perang finansial melawan faksi atas ini masih panjang, dan aku sangat membutuhkanmu dalam kondisi terbaikmu untuk memimpin imperium bisnis baru kita bersama nanti setelah semua kekacauan ini berakhir."
Elena mendongak, menatap lekat-lekat garis rahang tegas Adrian yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya. Di dalam dekapan suaminya, di tengah dinginnya pangkalan utara dan status mereka yang masih menjadi buronan sewilayah, seluruh dinding batas pernikahan kontrak di antara mereka kini benar-benar telah runtuh tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah sebuah emosi cinta nyata yang menuntut mereka untuk saling mengandalkan, melindungi, dan menjaga satu sama lain sampai titik darah terakhir.
"Aku tidak akan pernah membiarkan diriku tumbang sebelum melihat seluruh faksi atas Syndicate hancur berlutut di bawah kakimu, Adrian," balas Elena dengan bisikan yang sarat akan komitmen sejati seorang istri, sementara tangan kirinya bergerak naik untuk menggenggam erat pergelangan tangan kiri Adrian yang masih mengunci pinggangnya dengan posesif.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus penuh afeksi yang sangat jarang ia perlihatkan kepada dunia, sebelum akhirnya ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh Elena. Pria itu menyalurkan seluruh sisa kekuatan, kehangatan, dan perlindungan mutlak yang ia miliki kepada sang istri, siap untuk menghadapi serangan balik nekat dari faksi atas yang kini telah mereka pojokkan ke ujung jurang.
......BERSAMBUNG......