Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Rahasia yang terungkap
Malam itu, dinginnya udara tebing terasa menusuk hingga ke tulang. Di sekitar sana, Rubellite bersama beberapa pasukannya mulai mendirikan tenda untuk beristirahat. Jauh dari keramaian prajurit, Valerius tampak duduk sendirian di tepi jurang yang curam. Matanya menatap kosong ke arah langit malam, seolah sedang menuntut jawaban atas segala hal yang telah terjadi.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Raze datang dan langsung berdiri di samping Valerius. Tanpa basa-basi, Raze melontarkan pertanyaan yang menusuk, menanyakan apakah Valerius benar-benar sadar akan apa yang telah ia perbuat kepada Rubellite selama ini.
Valerius sempat tertegun. Pandangannya tetap lurus ke depan saat ia menjawab dengan suara lirih, "Memangnya... apa yang telah kuperbuat?"
"Kau... hampir membunuh Rubellite," jawab Raze tanpa ekspresi.
Mendengar kalimat itu, wajah Valerius langsung pucat pasi. Darahnya seolah berhenti mengalir, memutih layaknya salju yang berembus di tengah udara malam yang kian dingin.
"Begitu... ya..." gumam Valerius, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
Raze kemudian bangkit berdiri, menatap Valerius untuk terakhir kalinya sebelum berkata, "Valerius, kau masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya."
Valerius tersenyum getir, menertawakan dirinya sendiri. "Memangnya aku masih bisa memperbaiki sesuatu yang telah hancur?"
Raze tidak langsung menjawab. Ia mulai melangkah pergi secara perlahan, meninggalkan Valerius yang kembali tenggelam dalam kesendiriannya.
"Mana kutahu," ucap Raze setengah berbisik dari kejauhan. "Setidaknya, kau harus berusaha sedikit sebelum menyesal di kemudian hari."
Keesokan paginya, hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Genderang keberangkatan telah bertalu. Di halaman markas, para pasukan sudah bersiap di atas kuda masing-masing, siap berpacu menuju jantung Kekaisaran Valtia.
Di sudut ruangan, Rubellite terdiam dalam keheningan yang dingin. Tangannya bergerak perlahan, mengenakan jubah hitam tebal untuk menyembunyikan identitasnya. Begitu tudung jubah terpasang sempurna, tatapan matanya mengeras. Tanpa membuang waktu, ia segera melangkah keluar, berangkat memimpin barisan bersama Raze dan seluruh pasukannya.
Sementara itu, ketegangan yang kontras sedang terjadi di balik dinding megah istana Kekaisaran Valtia.
Shiera tersentak mundur dengan wajah memerah menahan amarah. Di pelupuk matanya, layar hologram dari sistem miliknya terus memunculkan peringatan merah dan mengalami error tanpa henti.
"Arghh...! Kenapa semuanya tidak berjalan sesuai rencana?!" geram Shiera, mencengkeram rambutnya frustrasi. "Harusnya jalang itu sudah mati di tangan kekasih tercintaku!"
[PERINGATAN: SISTEM ERROR. GAGAL MEMPROSES PERINTAH.]
Melihat tulisan itu, firasat buruk langsung menyergap dada Shiera. Naluri hewannya seakan tahu bahwa ajalnya sudah tidak lama lagi. Dengan napas memburu, ia segera berlari meninggalkan kamarnya menuju ruang kerja sang Kaisar.
"Ayah! Ayah harus menyelamatkan aku... Ada seseorang yang datang untuk membunuhku!" tangis Shiera pecah begitu ia menerobos pintu ruangan, langsung bersimpuh di hadapan penguasa Valtia itu.
Kaisar Volrantz mendongak, matanya berkilat tajam mendengar aduan putri angkatnya. "Siapa? Siapa yang berani menyentuh putri kesayangan-ku di tanah kekuasaanku sendiri?"
Dengan wajah yang sengaja dibuat ketakutan, Shiera mendesiskan satu nama, "Si penipu itu... Rubellite. Dia kembali untuk membunuhku, Ayah!"
Mendengar nama itu, petir seakan menyambar kesadaran sang Kaisar. Kepala Kaisar Volrantz tiba-tiba terasa berputar hebat. Denyut nyeri menghantam pelipisnya bertubi-tubi saat mantra manipulasi dalam benaknya mulai retak.
"Rubellite..." gumam sang Kaisar, dan seiring dengan sebutan nama itu, dinding ingatannya runtuh, membawanya kembali ke masa lalu.
[Flashback]
Dahulu kala, hiduplah seorang gadis bangsawan yang kecantikannya tiada tara. Lorthina De Orleans—putri dari Duke Orleans yang agung. Gadis berambut putih berkilau dengan sepasang mata biru jernih laksana permata berharga. Kecantikannya bukan hanya visual, tapi juga memiliki sihir alami yang mampu memikat pria sedingin apa pun.
Hampir setiap hari, Duke Orleans berkunjung ke istana Valtia dan selalu membawa putri kecilnya. Hingga pada suatu siang, Lorthina tersesat. Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam taman mawar rahasia yang tersembunyi.
Di sana, di antara kelopak mawar yang bermekaran, duduklah Pangeran Volrantz de Valtia muda yang terkenal kejam dan tak tersentuh. Ia sedang fokus membaca sebuah buku tebal.
Alih-alih takut, Lorthina justru menghampirinya dengan wajah polos tanpa beban. "Tuan... Anda sedang membaca buku apa? Kelihatannya seru sekali?"
Volrantz tersentak. Kepalanya menoleh cepat, terkejut karena ada orang asing yang berhasil menembus barikade dan masuk ke taman rahasia miliknya. "Bagaimana bisa kau sampai ke tempat ini?!" tanyanya dengan nada mengintimidasi.
Bukannya menangis, Lorthina justru mengulas senyum manis yang sangat tulus. "Aku tersesat... Aku ke sini saat ikut ayahku berkunjung."
Senyuman polos di tengah taman mawar itulah yang menjadi awal dari segalanya. Hari di mana rasa cinta pertama kali tumbuh di hati sang pangeran dingin, jauh sebelum takdir mereka dihancurkan oleh sebuah konspirasi.
[pesan author]
" Aku penasaran nih novel ku ada yang baca kah, karna akhir akhir ini rasanya jarang ada komen Ama minta update."
"Kalau pun ada makasih yah udh mau baca novel ku hhe. "