Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.
Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.
Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.
Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?
Sequel Novel Elara & Leo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter
Sepuluh tahun telah berlalu sejak badai yang hampir menghancurkan mereka. Di atas sebuah kapal pesiar mewah yang berlayar di perairan Mediterania, keluarga besar Vance berkumpul untuk merayakan ulang tahun pernikahan Liam dan Anne yang ke-15.
Leo Vance dan Elara duduk di dek atas, menatap bangga ke arah putra mereka. Liam tidak lagi tampak seperti pria dingin yang menutup diri; ia kini adalah sosok pemimpin yang matang, yang meski tetap tegas di dunia bisnis, selalu melunak saat menatap istrinya. Di sampingnya, Anne tetap cantik mempesona, memancarkan keanggunan seorang wanita yang dicintai dengan sepenuh hati.
Louise Emily Vance, yang kini telah menginjak masa remaja, berdiri di tepi kapal. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas dan berwibawa, mewarisi ketajaman otak kakeknya dan keteguhan hati ibunya. Meski banyak pemuda dari keluarga bangsawan dunia mencoba mendekat, tak satu pun berani melampaui "tembok pelindung" yang dibangun Liam untuk putri tunggalnya.
Malam itu, saat pesta kembang api mulai menghiasi langit, Liam membawa Anne ke ujung kapal, menjauh dari keramaian tamu. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Anne, menariknya erat ke dalam dekapan yang masih sehangat malam pertama mereka.
"Apa yang kau pikirkan, Liam?" tanya Anne sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku memikirkan betapa beruntungnya aku," bisik Liam, suaranya berat penuh haru.
"Dulu aku mengira hidupku sudah berakhir saat aku menutup hati. Aku mengira kebahagiaan hanyalah dongeng. Tapi kau datang, membawa Louise, dan mengajariku bahwa cinta yang paling murni adalah cinta yang berani bertahan di tengah badai."
Anne mendongak, menatap mata biru Liam yang kini penuh dengan pantulan cahaya kembang api. "Kita telah melewati segalanya, Liam. Fitnah, pelarian, hingga rahasia terdalam. Dan lihatlah kita sekarang."
Liam mencium kening Anne dengan khidmat, lalu turun ke bibirnya dalam sebuah ciuman yang lambat dan penuh janji untuk masa depan yang tak terbatas. "Selamanya, Anne. Tidak akan ada lagi perpisahan. Kau, aku, dan putri kita adalah satu jiwa yang takkan terbagi."
Di bawah langit yang berpijar, kisah mereka pun tertulis sebagai legenda di Manhattan—tentang seorang pangeran es yang luluh oleh kesabaran seorang mawar, dan tentang sebuah keluarga yang kekuatannya tidak dibangun di atas harta, melainkan di atas kepercayaan dan pengampunan yang tulus.
...🌷🌷...
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Liam & Anne, see you 😍👋