Serena Laurent, seorang wanita yang pernah terluka cinta, terpaksa meninggalkan semuanya setelah difitnah mantan pacarnya, Logan Winston. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu lagi dalam keadaan yang tidak terduga, Logan telah menikah karena perjodohan, justru tidak bisa melupakan Serena dan ingin memilikinya kembali.
Dengan dalih dendam, Logan menebus Serena kepada pemilik Club malam dimana Serena Bekerja untuk menebus hutang ayahnya, kemudian memaksa Serena untuk menikah dengannya secara diam-diam.
Namun, Semakin lama Serena semakin terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya. Logan mulai menunjukkan sisi lain dirinya, dan Serena mulai merasakan perasaan yang sudah lama ia kubur.
Apakah Serena akan menjadi korban racun cinta kedua, ataukah menemukan jalan keluar untuk lepas dari pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Mengobrol dengan Hansel membuat Serena sampai lupa waktu, yang awalnya hanya makan siang berubah jalan-jalan disekitar sejarahnya kota Arcadia. Mereka hanya mengobrol ringan, Serena hanya mendengarkan sedangkan Hansel yang bercerita kalau dia pernah jatuh cinta pada seorang gadis.
Saat mereka berdiri diantara orang-orang yang berlibur menikmati pemandangan didepan mata, ponsel genggam milik Serena tiba-tiba bergetar. Serena memang sedang memegang ponselnya, begitu ada panggilan masuk dia bisa langsung mengecek.
"Sebentar ya, aku angkat dulu!" Ucap nya.
Hansel mengangguk pelan, lalu menjawab "Baiklah, aku tunggu disini!"
Serena menyingkirkan diri sebentar untuk mengangkat telepon masuk dari Elsa. Ia juga lupa kalau ternyata sudah jam lima sore, pantas Elsa menelponnya.
"Hallo?"
[Hallo Serena, bagus sekali ya jam segini belum kembali. Meskipun aku memberimu waktu untuk keluar sendirian, bukan berarti kamu bisa seenaknya. Kalau tuan Logan tau, kamu tau sendirikan apa yang terjadi?] Ucap Elsa diseberang telepon. Padahal sebenarnya Elsa berada tidak jauh dari mereka, tapi dia sengaja menelpon Serena dan mengingatkannya untuk segera pulang.
Elsa tidak meninggalkan Serena karena dia belum tau siapa pria yang bersama Serena, ia hanya menjaga jarak kalau sewaktu-waktu ternyata pria itu berniat tidak baik pada Serena.
"Iya, aku akan segera kembali. Maaf membuatmu kesulitan!" Jawab Serena, tiba-tiba saja dia jadi merasa bersalah pada Elsa karena takut Elsa mendapatkan hukuman juga dari Logan.
[Aku tunggu diapartemen. Hati-hati!]
.....
Setelah selesai menutup telepon Serena memasukkan ponselnya kedalam tasnya lalu menghampiri Hansel. "Maaf, Hansel. Sudah mau malam, aku harus pulang!" Serena berpamitan.
"Aku antar kamu pulang. Mobilku tidak jauh dari sini!" Tawar Hansel, kalau mengantar Serena kan dia bisa tau dimana tempat tinggal Serena, jadi lebih mudah untuk bertemu Serena.
Diantar Hansel tentu bukanlah ide yang baik, kalau Hansel tau dimana dia tinggal, Serena takut pria itu datang tiba-tiba apalagi kalau sampai Logan ada di apartemen. Logan bisa marah padanya, dan Serena juga tidak mau kalau pernikahan mereka sampai ada yang tau, termasuk Hansel
"Tidak perlu, Hansel. Aku sudah pesan taxi online! Itu sudah datang..." Serena melambaikan sebuah taxi online yang menuju kearahnya, setelah Elsa menelpon ia memang langsung memesan taxi, supaya punya alasan untuk menghindari keinginan Hansel jika seandainya mau mengantar dirinya pulang. "Sampai jumpa!"
"Hati-hati, Serena!" Hansel pada akhirnya pasrah, tapi tidak masalah karena ia yakin bisa bertemu Serena lagi.
Setelah mobil taxi yang membawa Serena pergi, pria itu menghafal plat mobil tersebut kemudian berlari menuju mobilnya. Hansel tidak kehabisan ide untuk tau dimana tempat tinggal Serena, pria itu mengikuti taxi yang ditumpangi Serena.
Drrrtttt!!!
Drrrtttt!!!
Drrrtttt!!!
Baru saja hendak menginjak pedal gas mobil, ponselnya berbunyi. Terpaksa Hansel mengangkatnya terlebih dahulu, pria itu menghela nafas dengan kesal karena sepertinya akan gagal mengikuti Serena secara diam-diam.
Telepon itu dari Sekretaris nya yang memberikan kabar kalau ada pekerjaan penting yang harus segera dikerjakan.
.....
Serena membuka pintu apartemen, begitu terbuka ia cukup terkejut melihat Elsa ada didepan pintu. "Sejak kapan kau disini?" Tanya Serena.
"Sejak menunggumu pulang! Kau pikir kau itu tuan putri sampai aku harus menjagamu dua puluh empat jam? Kau seperti anak kecil yang pulang saja harus diingatkan! kalau sampai tuan Logan tau kau pergi tanpa ingat waktu bagaimana?" Elsa melipat tangannya didada sembari memarahi Serena seperti seorang ibu.
Serena tidak perduli soal Logan, mau pria itu marah atau tidak memang Logan tidak pernah bersikap lembut padanya kan. Tapi yang membuat Serena diam, perkataan Elsa justru membuatnya mengingat sosok wanita yang melahirkannya kedunia ini.
Serena ingat saat masih kecil ia sering bermain dengan temannya sampai lupa waktu, lalu ibunya marah dan takut kalau ayahnya akan menghukumnya.
Sepuluh tahun lebih ia tidak pernah melihat wajah ibunya, bagaimana kondisinya, bagaimana kabarnya. Sejak keluarganya hancur dan berantakan, Serena tidak pernah lagi merasakan kasih sayang dan cinta yang tulus.
"Kenapa diam saja?" Elsa menegur, lantaran melihat Serena yang diam saja malah terkesan sepertinya melamun, apalagi raut wajahnya tiba-tiba berubah tidak bersahabat dan mendung.
Serena tersadar, lalu kepalanya menggeleng pelan. "Aku mau kekamar, kalau urusanmu disini sudah selesai pergi saja! Jangan khawatir, aku tidak akan pergi lagi!"
Serena tiba-tiba pergi, Elsa justru mengerutkan kening seraya berpikir kenapa sikap Serena berubah seperti itu. Serena yang biasanya selalu melawan tiba-tiba menjadi cengeng, apa kata-katanya tadi ada yang menyinggung perasaannya?
Di Satar, Logan baru tiba di hotel tengah malam. Dia sengaja kembali ke hotel menunggu Elena tidur, ia lembur di restoran yang buka dua puluh empat jam dan menyewa ruang VVIP.
Harapannya begitu sampai dihotel mewah itu Elena sudah tidur, tapi begitu membuka pintu ternyata wanita itu justru tengah memainkan ponsel diatas ranjang. Logan menghela nafasnya dengan kasar, ia malas meladeni sikap Elena yang selalu merayunya.
"Kau belum tidur?" Logan berbasa-basi sembari melepaskan jasnya.
"Kenapa kamu pulangnya jam segini, Logan? Kamu dari mana saja sebenarnya?" Gerutu Elena sembari turun dari ranjang. "Jangan-jangan kamu berkencan dengan wanita lain disini?" Elena mulai berpikir kemana-mana.
"Aku kesini karena urusan bisnis, bukan soal wanita. Buang pikiran burukmu jauh-jauh, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan karena di Arcadia masih banyak pekerjaan yang menungguku!" Balas Logan. ia mengangkat tangan mengistirahatkan supaya Elena tidak perlu membantunya.
Begitu Logan masuk kedalam kamar mandi, Elena menghentakkan kakinya dengan kesal. Tangannya mengepal dengan kuat seolah begitu dendam dan ingin segera bisa menaklukkan sosok pria dingin itu. "Awas saja kamu Logan, aku tidak akan biarkan kamu dekat dengan wanita lain apalagi mengkhianatiku! Sebelum kembali ke Arcadia, kamu harus menjadi milikku seutuhnya!"
ibarat terlihat orang, tapi mayat berjalan