menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Udah hampir sejaman aku gak bisa tidur. Cuma bolak-balik, kadang duduk, kadang balik rebahan. Semuanya gak ada yang nyaman. Pikiranku masih kacau gara-gara pria tadi.
Saat aku duduk sambil termenung. Tiba-tiba Azzahra menyodorkan selimut, bantal dan juga ponselku.
Ku dongakkan kepalaku. Ku tatap wajahnya yang sendu. Lagi-lagi gara-gara aku.
"Dik!" panggilku tanpa menerima pemberiannya.
Tanpa bicara. Dia meletakkan yang dia bawa tadi ke atas meja.
"Dik. Makasih!" ucapku kemudian. Aku butuh ponsel, butuh selimut juga. Meskipun dia marah, tapi Azzahra masih pengertian dan peduli padaku.
Melihat Azzahra yang sudah masuk ke kamar. Segera ku raih ponsel itu. Ku coba menghubungi si Joy.
"Ada apa Bro?" Suara Joy bagai penyelamatku. Aku sudah gak sabar ingin dia cepat-cepat datang ke sini dan menjelaskan pada Azzahra.
"Bro, besok pagi tolong datang ke rumah gue ya? Gue minta tolong banget ini!" pintaku setengah memohon.
"Apa ada masalah? Eh ngomong-ngomong, suami Jule udah ke rumah lu belum?" tanyanya.
"Lah lu kok tahu?" selidikku aneh. Apa jangan-jangan Joy yang ngasih tahu soal alamat rumahku ini padanya.
"Ya gue baru denger. Si mbak kasir bilang, suami Jule ngancam dia. Terus si mbaknya ngechat gue. Tanpa berpikir aneh-aneh, pas mbak kasirnya nanya, ya gue kasih tahu. Tapi gue gak ngasih tahu lu di rumah mana. Nomor berapa. Gue cuma bilang, lu tinggal di kampung jeruk," jelasnya.
"Huft! Kenapa lu baru bilang sih? Suami Juleha udah ke sini, bikin onar. Ujung-ujungnya mau minta duit," ucapku lagi.
"Terus Bro? Apa lu di tonjok? Sorry banget gue gak tahu Bro. Ini gue baru sampai di karaokean. Gue lagi mesen minum, gak sewa tempat juga."
"Pokoknya lu besok pagi harus kesini!" suruhku lagi.
"Pagi gue kerja Bro? Lu tahu sendiri kan? Jam 7 gue berangkat. Jam 4 baru pulang," jawabnya memberitahuku.
"Pokoknya lu harus kesini. Entah jam 4 itu, lu harus langsung ke sini!" perintahku tanpa penolakan.
"Oke-oke. Kayaknya kalau lu udah nyuruh gini, pasti penting banget," ucapnya.
Dan aku gak mau basa-basi. Segera ku matikan telfonku tadi.
Si Joy benar-benar gak bisa diandelin. Masalah disuruh jaga rahasia, tetep saja diumbar. Mentang-mentang lagi dekat sama si mbak kasir karaoke itu.
"Awas aja, pokoknya dia harus jujur pada Azzahra," gumamku lagi.
Kini aku mencoba merebahkan diriku. Meskipun sulit untuk memejamkan mata. Tapi aku terus berusaha. Hingga suara ngaji menjelang subuh terdengar jelas.
Aku segera bangun.
Ternyata Azzahra juga sedang membuka pintu kamar.
Aku menatap dari kursi ruang tamu. Dia juga menatapku. Tapi tak ada ekspresi di wajahnya. Sepertinya dia juga sama sepertiku. Tak bisa tidur semalaman.
Segera ku susul dia yang hendak ke kamar mandi.
"Dik! Apa mas tetap bisa ngimamin kamu?" tanyaku agak ragu-ragu.
Dia yang berada di depan dengan posisi membelakangiku hanya terlihat anggukan kecil darinya.
"Suwun ya Dik," ucapku senang.
Semoga kesalah pahaman ini segera usai. Biar aku bisa membina kembali hubungan rumah tangga ini.
Dia selesai mandi. Dan aku sudah menunggunya di depannya. Sambil mengusap rambutnya, dia berjalan menunduk menghindariku.
Aku sedih. Tapi bagaimana lagi? Semua akan ku usahakan semampuku.
Usai mandi. Seperti biasa aku menjadi imamnya. Semua seperti biasa, dia menyalami tanganku dan menciumnya. Hanya saja, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia lebih suka diam dari pada memaki diriku.
Lalu Azzahra kini sedang memasak. Dia menghangatkan sisa kepiting yang di resto kemarin.
Entah apalagi yang ia masak. Aku cuma melihatnya bolak-balik buka kulkas lalu menutup kembali.
Aku hanya bingung mau bicara apa. Mau membantu pasti ia tolak. Akhirnya aku memutuskan untuk menyapu saja.
Saat ku ambil sapu ijuk, dia menatapku sekilas. Padahal dah berharap dia bicara "jangan mas" nyatanya dia tetap diam saja.
Fiuh. Ternyata begini rasanya didiemin sama istri sendiri. Gak enak banget.
Aku menyapu sambil melamun. Bingung mau bujuk gimana jika Joy belum ke sini. Akhirnya ku ambil ponsel. Ku chat si Joy.
"Jangan lupa ke rumah gue Bro. Gue tunggu." Setelah terkirim, HP-nya kembali ku kantongi.
Tak lama kemudian, hp ku berbunyi tanda ada whatsapp masuk.
"Ok Bro. Sore setengah 5."
Huft. Ternyata masih lama. Aku harus menunggu sore lagi. Padahal mau ke toko. Mau cek karyawan juga. Jika gak di cek, takutnya kerja seenaknya. Meskipun sebenarnya sudah ku awasi juga dari CCTV. Tapi gimana ya? Jika ku tinggal ke toko, Azzahra pasti makin salah paham. Dikiranya aku nemuin istri orang lagi.
"Ehm!" Sebuah interupsi deheman mengejutkanku.
Aku gelagapan dan kembali melanjutkan acara nyapu. Rupanya Azzahra hendak lewat di sampingku.
Apa hari ini Azzahra kuliah ya? Tanyaku pada diriku sendiri.
Tapi di sini aku yang salah. Harusnya aku tak boleh diam juga. Jika terus begini, masalah gak akan selesai juga. Jadi aku harus beranikan diri bertanya.
"Dik!" panggilku saat dia hendak membuka pintu kamar.
Dia tak menjawab. Hanya gestur tubuhnya yang merespon. Dia berhenti mendengarkan panggilanku.
"Apa hari ini Dik Azzah kuliah?" tanyaku memastikan.
Tak ada jawaban. Tapi dia menggeleng.
Aku paham. Dia lagi gak kuliah hari ini. "Ah, iya Dik. Baiklah," jawabku lagi.
Aku bingung mau ngapain lagi. Tiba saatnya akan sarapan. Dia hanya mengambilkan sepiring nasi, tanda aku disuruh makan. Tanpa ada suara, tanpa ada menyuruh. Tapi memberiku sepiring nasi tanpa lauk itu pertanda dia menyuruhku.
Susah banget ya Allah, jika cowok seperti ku disuruh peka sama istri yang lebih pendiam.
"Makasih Dik," jawabku setelah menerima sepiring itu.
Dia duduk di kursi ruang makan. Cuma ada 2 kursi dan meja panjang di dapur. Tempat ini biasanya ku pakai ngopi. Sekarang disulap Azzahra jadi meja makan dan perabotan dapur lainnya.
Ku lihat menunya. Ada sayur sawi campur kecambah. Ada tempe goreng, ada ayam goreng, dan ada kepiting kemarin.
Aku tersenyum senang. Ku tatap dia yang sedang baca bismillah. Lalu aku ikutan berdoa sebelum makan.
Akhirnya pagi ini kami makan dengan diam yang sesungguhnya.
Ah, lezat sekali masakannya. Apa begini ya rasanya dimasakin sama istri?
Tak lupa juga, usai sarapan Azzahra menyodorkanku segelas kopi. Sungguh, meskipun dia sedang marah padaku. Tapi dia tetap perhatian padaku. Bahkan dia masih memperhatikan apa itu kesukaanku.
"Makasih ya Dik. Udah dibuatin kopi," ucapku sambil melihatnya.
Dia hanya mengangguk kecil. Lalu dia melanjutkan aktifitasnya. Sedang aku, aku menikmati kopi dengan banyak melamun hari ini.
Azzahra POV
Meskipun aku tahu mas Mustafa suka ke tempat karaokean. Tapi aku tahu, dia pasti gak bohong soal istri orang.
Padahal aku sudah menunggunya untuk bercerita. Tapi ternyata, sampai sarapan pun dia masih menyimpan rahasia itu. Jadi apa yang bisa ku lakukan selain mendiamkannya?
Bersambung...