Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Gengsi, Air Mata yang Sunyi, dan Uluran Tangan Pihak Ketiga
Sore itu, ruko Sukaasih tidak lagi terasa hangat. Suasana di depan kantor Arka-Logistics mendadak tegang luar biasa ketika dua mobil patroli dari Dinas Perhubungan dan kepolisian setempat parkir melintang di depan garasi.
Beberapa petugas berseragam turun, membawa map kuning dan mulai memasang stiker segel berwarna kuning-merah di pintu kantor Arkan serta garis kuning di sekeliling barisan truk boks roda enam miliknya.
Dari balik meja bar Kopi Karsa, Ghea menyaksikan semua itu dengan jantung yang berdegup kencang. Dia langsung meletakkan kain lapnya dan berjalan setengah berlari ke teras kafe.
"Ada apa ini, Pak?" terdengar suara Arkan yang terdengar sangat tenang namun menyimpan nada emosi yang tertahan. Dia berdiri di depan petugas bersama manajer operasionalnya.
"Perusahaan Anda dilaporkan beroperasi tanpa izin trayek distribusi yang sah untuk wilayah Kirana, dan ada laporan masuk mengenai dugaan manipulasi muatan barang ilegal," ujar salah satu petugas dengan tegas. "Seluruh armada Arka-Logistics kami bekukan sementara untuk proses penyelidikan selama minimal satu bulan ke depan."
"Tapi, Pak! Semua dokumen perizinan kami lengkap dan sah secara hukum! Kami tidak pernah membawa barang ilegal!" bantah manajer operasional Arkan dengan wajah panik. "Kalau armada kami digembok sebulan, kami bisa dituntut denda penalti miliaran oleh klien-klien kami!"
"Silakan selesaikan keberatan Anda di kantor pusat wilayah Kirana besok pagi. Hari ini, segel tetap harus dipasang," jawab petugas itu dingin sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantor Arkan yang kini tampak suram dengan garis penyegelan.
Arkan mematung di teras kantornya. Tangannya yang mengepal di dalam saku celana tampak bergetar sangat halus. Ghea yang menatapnya dari seberang pagar pembatas merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat. Dia tahu betul, pembekuan operasional ini adalah taktik kotor dari Kargo Jaya, kompetitor terbesar Arkan untuk mematikan bisnis Arkan yang sedang naik daun.
Malam harinya, Sukaasih diguyur gerimis tipis.
Ghea duduk di meja kerjanya yang gelap, menatap laporan keuangan Kopi Karsa. Saldo kafenya saat ini memang cukup banyak, namun masalah Arkan kali ini bukan soal uang. Arkan membutuhkan koneksi hukum tingkat tinggi di kantor wilayah Kirana untuk membatalkan tuduhan palsu itu dalam waktu semalam. Jika tidak, besok pagi Arka-Logistics akan resmi dinyatakan gagal bayar denda penalti kontrak kerja sama dan terancam bangkrut total.
Ghea menatap layar ponselnya, jarinya ragu di atas kontak bertuliskan "Papa Solaria".
Kalau gue telepon Papa, Papa pasti bisa beresin ini dalam lima menit pakai koneksinya. Tapi... Arkan pasti bakal benci banget sama gue karena melanggar perjanjian kita untuk gak pernah pakai nama orang tua. Dan gue juga gak mau kelihatan lemah di depan Arkan, batin Ghea, air matanya perlahan luruh membasahi pipinya yang pucat.
Ghea meremas ponselnya erat-erant. Rasa frustrasi karena tidak bisa berbuat apa-apa demi menyelamatkan cowok yang dia sayangi membuatnya merasa sangat tidak berguna.
Hingga sebuah nama terlintas di kepalanya: Hana.
Ghea tahu Hana berasal dari keluarga terpandang di wilayah Kirana. Paman Hana menjabat sebagai salah satu kepala divisi hukum di kantor wilayah kementerian perhubungan yang membawahi kasus penyegelan armada ini. Hana pasti bisa membantu Arkan dengan sangat mudah.
Namun, membayangkan dirinya harus memohon bantuan pada wanita yang selama ini membuat dadanya terasa panas dan cemburu adalah hal tersulit yang pernah Ghea bayangkan dalam hidupnya. Ego Solaria-nya yang setinggi langit memberontak keras.
Gue egois banget kalau ngebiarkan Arka-Logistics hancur cuma karena gengsi dan rasa cemburu gue, batin Ghea, mengusap air matanya kasar dengan punggung tangannya. Dia memantapkan hatinya. Malam itu juga, Ghea mengirimkan pesan singkat kepada Hana untuk mengajak bertemu di kafe pada pukul sepuluh malam setelah kafe tutup.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit.
Hana melangkah masuk ke dalam Kopi Karsa yang lampunya sudah diredupkan. Dia masih mengenakan terusan kerja berwarna krem yang tampak sangat rapi dan anggun. Begitu melihat Ghea yang duduk sendirian di meja bar dengan wajah yang tampak lelah dan mata yang sedikit sembap, Hana langsung menghampirinya dengan senyum lembut khasnya.
"Selamat malam, Mbak Ghea. Maaf ya saya agak terlambat," sapa Hana ramah, lalu duduk di kursi bar di sebelah Ghea.
Ghea memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman paling tulus yang bisa dia berikan. "Malam, Mbak Hana. Terima kasih banyak ya sudah mau datang malam-malam begini."
Hana menatap wajah Ghea dengan pandangan menilai yang hangat. "Mbak Ghea... sepertinya ada hal yang sangat mendesak ya? Soal... masalah yang menimpa Mas Arkan sore tadi?"
Ghea menarik napas dalam-dalam, menggenggam cangkir teh hangatnya yang sudah mendingin untuk mengurangi rasa gugupnya. Ghea menatap mata Hana lekat-lekat, lalu dengan perlahan, ia menurunkan seluruh benteng ego dan gengsinya yang telah dia jaga selama bertahun-tahun di Sukaasih.
"Iya, Mbak Hana. Ini soal Arkan," kata Ghea, suaranya sedikit bergetar namun terdengar sangat mantap. "Saya tahu paman Mbak Hana adalah kepala divisi hukum di kantor wilayah Kirana. Saya... saya mau memohon bantuan Mbak Hana untuk menggunakan koneksi paman Mbak guna membatalkan penyegelan armada Arka-Logistics malam ini juga."
Hana tertegun mendengar penuturan Ghea. Dia tidak menyangka pemilik kafe yang biasanya bersikap sangat dingin dan berjarak dengannya ini akan berbicara sedetail dan serendah hati ini demi Arkan.
"Mbak Ghea... saya sebenarnya juga cemas dengan keadaan Mas Arkan," jawab Hana lembut, dahinya berkerut cemas. "Tapi, kenapa Mbak Ghea tidak membicarakannya langsung dengan Mas Arkan saja? Saya rasa Mas Arkan akan lebih senang jika kita membahasnya bersama-sama."
Ghea menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyuman sedih terukir di bibirnya yang pucat.
"Jangan, Mbak. Tolong... jangan pernah biarkan Arkan tahu kalau saya yang meminta bantuan ini pada Mbak Hana," pinta Ghea memohon, matanya yang bulat kini kembali berkaca-kaca menatap Hana. "Arkan itu... kepalanya sekeras batu. Gengsinya setinggi langit. Dia tidak akan pernah mau menerima bantuan hukum jika dia tahu bantuan itu datang karena saya yang memohon-mohon pada Mbak."
Hana menatap kepalan tangan Ghea yang gemetar di atas meja bar. Kepekaan Hana sebagai wanita yang cerdas membuatnya perlahan mulai menyadari sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik dinginnya sikap Ghea kepada Arkan.
"Mbak Ghea... kamu... sangat peduli ya dengan Mas Arkan?" tanya Hana pelan, suaranya terdengar sangat lembut namun penuh selidik.
Air mata Ghea yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos juga, mengalir membasahi pipinya. Ghea buru-buru menyekanya dengan tisu, namun dia tidak lagi mencoba menyembunyikan kerapuhannya di depan Hana.
"Dia sudah berjuang sangat keras untuk membangun bisnis itu dari nol, Mbak Hana," bisik Ghea dengan suara serak menahan tangis. "Saya tidak bisa melihat semua kerja keras dan mimpinya hancur dalam semalam hanya karena taktik kotor saingannya. Jadi saya mohon dengan sangat... tolong bantu dia. Mbak Hana bisa bilang ke Arkan kalau Mbak membantunya murni karena kerja sama bisnis kalian atau karena kepedulian Mbak sendiri pada dia. Biarkan... biarkan Arkan berpikir kalau Mbak Hana-lah penyelamatnya hari ini."
Hana terdiam sangat lama. Dia menatap Ghea dengan pandangan yang campur aduk antara kagum, haru, dan sedikit rasa sesak yang asing di dalam dadanya sendiri. Hana akhirnya menyadari bahwa hubungan di antara Arkan dan Ghea jauh lebih dalam dan rumit daripada sekadar tetangga ruko biasa. Mereka adalah dua orang yang saling menjaga dari balik bayangan dengan cara yang paling menyakitkan bagi diri mereka sendiri.
Hana menghela napas hangat, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Ghea yang dingin.
"Baik, Mbak Ghea. Saya akan hubungi paman saya sekarang juga untuk mengurus pencabutan segel darurat malam ini," ucap Hana tulus. "Saya janji... Mas Arkan tidak akan pernah tahu soal pertemuan kita malam ini."
"Terima kasih... terima kasih banyak ya, Mbak Hana," ucap Ghea tulus dengan senyuman lega yang luar biasa manis di tengah air matanya yang masih menetes.
Keesokan paginya, pukul delapan, matahari Sukaasih kembali bersinar terang.
Kantor Arka-Logistics mendadak riuh oleh sorak-sorai para pengemudi truk dan staf operasional. Dua mobil dinas perhubungan kembali datang, namun kali ini bukan untuk menyegel, melainkan untuk mencabut seluruh stiker segel dan garis kuning pembatas di sekeliling truk Arkan. Petugas menyerahkan surat resmi pencabutan tuduhan palsu atas nama kementerian perhubungan wilayah Kirana.
Arkan berdiri di teras kantornya dengan napas lega yang luar biasa panjang. Beban seberat gunung yang semalaman menghimpit dadanya mendadak runtuh seketika.
Tepat saat itu, Hana turun dari mobil sedan putihnya dengan senyum lembut yang menenangkan. Dia berjalan mendekati Arkan.
"Mas Arkan," sapa Hana manis.
Arkan berbalik, menatap Hana dengan dahi berkerut heran sekaligus penuh rasa terima kasih. "Mbak Hana... ini semua karena bantuan paman Mbak Hana di Kirana semalam kan?"
Hana tersenyum manis, matanya sempat melirik sekilas ke arah jendela kaca kedai Kopi Karsa yang tertutup rapat tirainya di sebelah ruko, sebelum akhirnya kembali menatap Arkan.
"Iya, Mas. Paman saya semalam langsung memeriksa berkas laporannya dan menemukan banyak kejanggalan dari pihak pelapor, jadi segelnya langsung dicabut pagi ini," bohong Hana dengan sangat lancar dan lembut, menjaga rahasia yang telah dia janjikan pada Ghea semalam. "Saya senang armada Mas Arkan bisa kembali jalan hari ini."
Arkan menatap Hana dengan tatapan mata yang sangat hangat dan penuh rasa hormat. "Mbak Hana... saya bener-bener gak tahu harus bilang apa. Terima kasih banyak ya. Mbak Hana udah menyelamatkan bisnis saya hari ini."
Hana hanya mengangguk lembut, menyembunyikan rasa bersalah sekaligus haru di dalam dadanya. "Sama-sama, Mas Arkan. Kita kan rekan kerja yang erat."
Dari balik tirai kedai kopinya yang sedikit terbuka, Ghea menyaksikan seluruh adegan itu dengan tatapan mata yang teramat redup. Dia melihat bagaimana Arkan menatap Hana dengan kehangatan yang belum pernah Arkan tunjukkan pada siapa pun, dan bagaimana Hana tersenyum manis di samping cowok itu.
Setetes air mata kembali lolos di sudut mata bulat Ghea, membasahi pipinya yang pucat di balik kegelapan kafenya yang sunyi.
Dada Ghea terasa sangat sakit, jauh lebih menyakitkan daripada saat dia harus memohon bantuan pada Hana semalam. Namun di balik rasa sakit itu, ada rasa lega yang teramat sangat melihat truk-truk boks milik Arkan bisa kembali melaju dengan gagah di jalan raya hari ini.
Yang penting bisnis lo aman, tiang listrik sombong, batin Ghea pelan dengan senyuman sedih yang teramat manis di bibirnya, sebelum akhirnya berbalik membelakangi jendela untuk mulai menyeduh kopi pesanan pelanggan pertamanya hari itu, membiarkan dirinya tenggelam kembali dalam kesunyian bayangan pelindung yang dia ciptakan sendiri.