Jika selingkuh membuatmu lebih bahagia, maka lepaskanlah wanita yang selalu setia menunggumu dan menerimamu apa adanya.
Jika selingkuh membuatmu lebih baik menjalani hidupmu, maka tinggalkanlah orang yang selalu mendukungmu saat ini.
Dan jika selingkuh membuatmu nyaman, maka janganlah kau kembali untuk menyakiti pasanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Krismadini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat, Bisa Pulang.
Matahari mulai tenggelam, jalanan mulai sepi, untungnya Ria mulai sadar. Kristin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Ria masih saja tak percaya. Ria baru percaya saat Kristin mulai panik mencari teman yang mau menjemputnya.
Ria pun membuka kontak ponselnya mencari salah satu teman yang sekiranya mau menjemputnya. Akhirnya satu nama berhasil dihubungi, namanya Sidik. Dia senior dalam tim voli saat SMP, yang tentu saja Kristin mengenalnya.
Ria menelpon Sidik dan menceritakan apa yang menimpa mereka, tak sabar melihat Ria mengobrol dengan Sidik, Kristin pun merebut gagang telepon itu.
Tangan Kristin masih gemetar setiap kali berhasil menghubungi temannya.
“Hallo Sidik. Tolongin gue please, jemput gue sekarang. Gue takut Dik.” suara Kristin terdengar bergetar, maklum saja saat itu Kristin memang ketakutan sekali. Apalagi ini tempat asing baginya.
“I--Iya, kamu ini dimana? Kok bisa nyasar ke situ?” Sidik pun ikut panik saat mendengar suara Kristin yang terdengar hampir nangis.
“Pokoknya kamu jemput aku sama Ria sekarang. Aku mohon, please.” berulang ulang Kristin hanya meminta untuk segera dijemput. Ria pun kembali merebut gagang telepon itu.
Ria memberikan alamat tempat mereka menunggu, kemudian Ria kembali keluar dari bilik wartel itu.
“Udah, tenang. Sidik bakal jemput kita kok.” Ria mencoba menenangkan Kristin yang masih terlihat syok.
Sudah hampir satu jam lebih mereka menunggu tapi Sidik belum tampak juga batang hidungnya. Malah Budi, cowok kenalan Ria yang datang menghampiri mereka. Dia datang mendekati Ria dan Kristin yang tampak duduk di depan wartel, berusaha membujuk mereka untuk kembali bersama rombongan mereka tadi. Tapi dengan tegas Kristin menolaknya dan menyuruhnya pergi.
Kemarahan Kristin terhadap Budi sempat menjadi tontonan orang yang melintas di sekitar mereka. Tak peduli dengan pandangan orang Kristin tetap bersikeras menunggu teman yang mau menjemputnya.
Malam makin larut, pemilik wartel pun memberi tau Kristin dan Ria kalo warungnya akan tutup, dan menyuruh mereka menunggu di tempat lain. Sayangnya Kristin menolaknya dengan halus, karena sudah terlanjur memberikan alamat tempat itu pada Sidik.
Si pemilik warung pun mengizinkan mereka menunggu di depan tempat usahanya asalkan tidak membuat keonaran lagi seperti tadi.
Sudah lebih dari dua jam Kristin menunggu setelah berhasil menghubungi Sidik tadi. Kristin mulai tampak panik lagi, apalagi ini sudah hampir jam sepuluh malam. Kristin tampak mondar mandir tak tenang. Hingga akhirnya seorang pria paruh baya menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk ikut bersamanya.
Mata Kristin membulat sempurna, emosinya yang masih tertahan karena marah pada Budi tadi akhirnya dia luapkan pada lelaki tua itu.
“Bapak kira saya ini cewek apa, main ajak aja. Saya ini lagi nungguin kakak saya jemput. Coba kalo anak bapak digituin sama pria tua kaya bapak. Apa bapak mau?!” seru Kristin penuh emosi.
Mendengar ucapan Kristin tadi, pria tua itu akhirnya memilih pergi tapi tetap mengumpati Kristin.
“Murahan aja sok jual mahal.” ucapnya pelan,
Kristin yang mendengar ucapan pria itu pun segera berteriak.
“TAI LO! ANAK BINI LO YANG MURAHAN!” sarkas Kristin penuh emosi. Ria langsung menenangkan Kristin lagi, takut kalo malah mereka yang dianggap membuat kerusuhan.
“Udah Kris. Tenang dulu, sabar, jangan emosi kaya gitu. Ntar malah kita yang dikira bikin masalah.” Ria terus berusaha memegangi lengan Kristin yang ingin melempar batu ke arah pria tua itu. Semantara pria itu malah bertingkah seperti anak kecil, dia menoleh ke arah Kristin sambil meledeknya dengan menjulurkan lidahnya.
Nafas Kristin masih terlihat ngos-ngosan karena emosi. Tak lama kemudian Sidik datang bersama Anton teman seangkatan dengan mengendarai motor supra.
Melihat Sidik datang Kristin langsung memeluk Sidik dan segera memboncengnya.
“Sidik, ayo pergi dari sini. Gue gak mau lama-lama disini.” ucapanya dalam tangis.
Sidik sedikit heran dengan sikap Kristin yang langsung akrab dengannya, seingatnya mereka jarang sekali menyapa satu sama lain meski mereka satu sekolah waktu SMP.
Sidik dan Anton langsung memacu motor mereka menjauhi tempat itu, dan membawa Kristin ketempat yang lebih ramai.
Mereka berhenti di sebuah warung makan yang cukup ramai. Sidik mencoba menenangkan Kristin yang sedang ketakutan dengan memberinya minuman hangat.
“Minum dulu, kamu kedinginan, kan?” Sidik pun menyodorkan segelas teh manis hangat untuk Kristin dan Ria.
“Sudah tenang, sekarang cerita. Kenapa kalian bisa nyasar sampe sini?” tanya Sidik pada mereka berdua.
Tanpa menunggu perintah Kristin menceritakan semua kejadian yang dialaminya, dari awal hingga berakhir menunggu dia. Terlihat raut wajah ketakutan Kristin, tangannya masih terlihat gemetar memegang gelas yang berisikan teh hangat itu. Setelah menunggu Kristin tenang, mereka pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
Setelah beberapa hari dari kejadian itu, orang tua Kristin ditegur tetangganya. Katanya Kristin pernah menjebak Ria bersama teman laki-lakinya dan mengajaknya menginap di hotel. Semua kejadian itu diputar ceritanya, entah siapa yang membuat cerita itu. Tapi saat Ria ditanya orang tua Kristin ia sendiri tak pernah merasa mengalami kejadian itu.
*****
“Iya, lo tu goblok. Mau-maunya dibohongi Ria.” ucap Cindy kesal tiap kali mengingat cerita itu.
“Bukan goblok, tapi belum mudeng.” sahut Kristin yang tak ingin memperpanjang acar ghibah mereka.
Cindy dan Kristin pun tiba di balai warga, disana masih terlihat lengah hanya beberapa orang yang mereka kenal. Salah satunya ada Adit mantan pacar Kristin, yang kebetulan datang bersama adiknya yang bernama Nia.
“Stt, stt, stt. Cie, cie, ketemu mantan nih.” Cindy terus menggoda Kristin agar mau menyapa Adit.
“Apaan sih. Kebiasaan deh lo.” sahut Kristin yang mengabaikan Cindy.
“Noh, noh, Dimas noh.” Kristin ganti menggoda Cindy, saat melihat salah satu cowok yang dikenal usil di lingkungan mereka. Yang kebetulan dia suka dengan Cindy.
“Ambil aja sana.” ucap Cindy yang kemudian mendekati segerombolan perempuan di sudut lainnya.
Kristin pun menahan tawanya setiap kali berhasil menggoda Cindy, ia pun ikut membuntui Cindy dari belakang dan ikut berbaur dengan yang lainnya.
Ini sudah hampir jam delapan malam acara pun segera dimulai. Kristin duduk bersebelahan dengan Cindy tentunya, maklum saja ini pertama kalinya Kristin ikut bergabung dalam acara seperti ini. Sementara Cindy sudah sering mengikutinya, apalagi setiap menjelang bulan puasa Cindy selalu ikut acara yang melibatkan seluruh warga perumahan tempat mereka tinggal.
Selesai acara Cindy masih sibuk beramah tamah dengan yang lainnya sementara Kristin terlihat mojok sendiri sambil minum teh kemasan.
Seorang cowok mendekatinya dan menyenggol bahunya, membuat teh yang tengah disedotnya muncrat.
“Sendiri aja. Trio kwek-kwek kok kurang satu? Yang satu kemana?” ucapnya mengagetkan Kristin.
“Hm.” Kristin terlihat mengelap mulutnya yang menyemburkan teh. Kristin menatap kesal pada cowok itu.