Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog: Dividen Cinta dan Kekacauan yang Sempurna
Lima Tahun Kemudian.
Minggu pagi di kediaman keluarga Abimanyu tidak lagi hening dan steril seperti penthouse mereka dulu.
"PAPA! AWAS ADA LAVA!"
Teriakan melengking itu memecah kesunyian pukul enam pagi.
Dhandy Abimanyu, yang kini berusia 35 tahun dan semakin matang (baca: semakin mempesona dengan sedikit uban tipis di pelipis yang justru membuatnya terlihat berkarisma), sedang berdiri di tengah ruang keluarga. Dia memegang cangkir kopinya dengan satu tangan, sementara kaki kanannya diangkat tinggi-tinggi.
Di bawahnya, Arkananta Bumi Abimanyu (5 tahun), sedang merangkak di atas karpet dengan helm sepeda di kepalanya.
"Arka, Papa mau duduk. Turunkan level siaga lavanya," kata Dhandy datar, tapi matanya geli.
"Nggak bisa, Pa! Lavanya naik! Papa harus naik ke gunung sofa!" perintah Arka, menunjuk sofa dengan gaya bos kecil.
Dhandy menghela napas pasrah. Dia meletakkan kopinya di meja (yang sudut-sudutnya sudah dipasangi pengaman karet), lalu melompat naik ke atas sofa mahal itu.
"Aman, Komandan?" tanya Dhandy.
"Aman!" Arka mengacungkan jempol, lalu membuka helm sepedanya. Rambutnya ikal dan tebal seperti Naya, tapi tatapan matanya tajam dan analitis persis Dhandy. "Menurut perhitungan Arka, lava akan surut dalam waktu lima menit. Jadi Papa bisa minum kopi lagi nanti."
Dhandy tersenyum miring. Anak ini... benar-benar hibrida yang menakutkan. Arka punya imajinasi liar Naya, tapi menyampaikannya dengan kosakata baku Dhandy.
"Bagus. Analisis risiko yang cermat," puji Dhandy, mengacak rambut anaknya.
"Pagi, Jagoan-jagoan Mama!"
Naya muncul dari arah dapur membawa nampan berisi pancake berbentuk dinosaurus. Di usia 29 tahun, Naya terlihat lebih anggun, meski piyama Spongebob-nya masih menjadi outfit andalan di rumah. Bedanya, perut Naya kini kembali membuncit indah. Hamil anak kedua, usia 7 bulan.
"MAMA! Ada lava!" lapor Arka.
"Oh ya? Waduh, Mama harus terbang dong!" Naya berpura-pura melayang menghindari karpet, lalu mendarat di samping Dhandy di sofa.
Dhandy segera merangkul pinggang istrinya, mencium pipinya sekilas. "Pagi, Bumil. Perut aman? Adik bayi nendang?"
"Nendang terus. Kayaknya dia lagi main bola di dalem," Naya menyandarkan kepalanya di bahu Dhandy. "Mas, Arka tadi nyoret-nyoret tembok lagi nggak?"
"Tidak. Tadi dia cuma menganalisis struktur lava imajiner. Dinding aman. Laporan keuangan saya di iPad juga aman... untuk saat ini," jawab Dhandy.
Mereka sarapan bersama di ruang keluarga yang berantakan penuh mainan lego dan buku gambar. Pemandangan yang akan membuat Dhandy versi 5 tahun lalu pingsan karena serangan jantung. Tapi Dhandy versi sekarang? Dia bahkan tidak peduli ada remah pancake jatuh di celananya.
"Pa," panggil Arka dengan mulut penuh sirop maple.
"Telan dulu, Arka," tegur Dhandy otomatis.
Arka menelan. "Nanti kalau Adik bayi lahir, Arka boleh ajakin main saham nggak?"
Naya tersedak susunya. "Hah? Main saham?"
"Iya. Papa bilang, investasi harus dimulai sejak dini. Arka mau ajarin Adik compounding interest."
Naya menatap Dhandy tajam. "Mas! Kamu ngajarin apa aja ke anak umur lima tahun?!"
Dhandy mengangkat bahu, wajahnya tanpa dosa. "Saya hanya mengenalkan konsep dasar literasi keuangan. Daripada dia belajar main judi slot?"
"Dia lima tahun, Mas! Harusnya diajaron nyanyi Baby Shark, bukan Compound Interest!"
"Kenapa tidak keduanya? Baby Shark yang berinvestasi di terumbu karang. Itu konsep Sustainable Finance," jawab Dhandy santai.
Naya geleng-geleng kepala, tapi dia tertawa. Inilah hidupnya sekarang. Berdebat dengan suami jenius yang kaku dan anak jenius yang kreatif.
Siang harinya, Arka sudah tidur siang (setelah negosiasi alot dengan Dhandy soal durasi penggunaan iPad).
Dhandy dan Naya duduk di teras belakang, menghadap taman luas tempat Mochi (si kucing tua yang makin gendut) sedang berjemur.
Dhandy sedang memangku Naya—posisi favorit Naya semenjak hamil besar karena kakinya sering bengkak. Tangan Dhandy memijat pelan betis istrinya.
"Mas," panggil Naya pelan, menikmati pijatan suaminya.
"Hm?"
"Inget nggak sih, dulu kita nikah gara-gara kopi tumpah?"
Dhandy terkekeh pelan. "Ingat. Kemeja Egyptian Cotton saya yang hancur lebur. Sampai sekarang nodanya tidak pernah hilang total, saya simpan di lemari sebagai monumen sejarah."
"Terus kontrak gila itu," lanjut Naya. "Pasal Pamungkas: Dilarang Jatuh Cinta."
"Itu pasal paling bodoh yang pernah saya buat dalam karir saya sebagai negosiator," aku Dhandy. "Saya melanggarnya di minggu pertama."
"Minggu pertama?!" Naya mendongak kaget. "Lho? Katanya pas di Bali?"
"Di Bali itu pengakuan resminya. Jatuh cintanya sudah sejak kamu membakar dapur saya dengan telur gosong. Ada sesuatu yang... menarik dari kekacauan itu."
Naya mencubit lengan Dhandy. "Dasar aneh."
Dhandy menghentikan pijatannya, lalu memeluk perut buncit Naya dari belakang. Dia meletakkan dagunya di bahu Naya.
"Naya," bisik Dhandy.
"Ya?"
"Terima kasih sudah mengacaukan hidup saya."
Naya tersenyum, matanya berkaca-kaca. Dia memegang tangan Dhandy yang melingkar di perutnya.
"Terima kasih juga sudah merapikan hidup aku, Mas. Walaupun kadang cerewetnya ngalahin Oma."
"Ngomong-ngomong soal Oma," kata Dhandy. "Kemarin Oma menelepon. Katanya kalau anak kedua ini perempuan, namanya harus ada unsur bunga. Biar wangi."
"Bunga? Hmm... Seruni? Melati?"
"Bagaimana kalau Lotus?" usul Dhandy. "Bunga yang tumbuh di air keruh tapi tetap bersih dan indah. Filosofis."
"Boleh juga. Lotus Senja Abimanyu?"
"Senja lagi. Kamu terobsesi sekali dengan matahari terbenam."
"Biar romantis, Mas!"
"Baiklah. Kita diskusikan nanti pakai Excel."
"MAS!!"
Dhandy tertawa lepas, lalu mencium pipi Naya dengan gemas.
Di bawah langit Jakarta yang cerah, di rumah yang penuh cinta dan sedikit kekacauan itu, Dhandy Abimanyu menyadari satu hal:
Dia dulu adalah pria yang hidup berdasarkan skenario kaku, rencana matang, dan prediksi data. Dia pikir dia bisa mengendalikan segalanya, termasuk siapa yang akan dia nikahi.
Tapi semesta punya skenario lain. Skenario yang ditulis dengan tinta takdir, diwarnai dengan tumpahan kopi, dan dibubuhi tanda tangan berupa cincin di jari manis.
Dan ternyata, skenario semesta itu jauh lebih indah, lebih seru, dan lebih menguntungkan daripada proposal bisnis mana pun yang pernah dia buat.
"Cinta itu bukan tentang menemukan orang yang bisa hidup bersamamu. Tapi menemukan orang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya." — (Kutipan dari Buku Harian Dhandy Abimanyu, yang disembunyikan di brankas baja).
...****************...
— SELESAI —
Terima kasih telah mengikuti perjalanan cinta Naya & Dhandy dari Bab 1 sampai Epilog!