Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi
Fira keluar dari kamarnya, melangkah berjalan menuju ruang Tv, Fira mendudukan diri di atas sofa di samping Bara.
Sunyi...
Hanya suara televisi yang terdengar, tak ada yang memulai pembicaraan di antara keduanya. Sampai setengah jam berlalu.
“Aku bilang gak ya” hati Fira. “Ahh tapi kalau nanti dia menolak gimana?” pikirnya dalam hati.
Bara sesekali melirik ke arah Fira yang terlihat begitu kebingungan.
“Kau kenapa?” ucap Bara.
Fira tersadar dari lamunannya, dan reflek menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa.
“Bicaralah ada apa!” seru Bara.
Fira menarik nafasnya begitu dalam, mengumpulkan energi untuk bisa berbicara kepada Bara. Karena meskipun mereka sudah satu atap bersama, tapi komunikasi diantara keduanya, masih terbilang belum cukup baik.
“Em... a-apa,” ucap Fira dengan ragu. Bara meliriknya sebentar kemudian kembali fokus menonton acara di TV.
“A–a–apa kamu lusa ada acara?” tanya Fira.
“Memang kenapa?” tanya balik Bara, tanpa menjawab pertanyaan Fira.
“Temanku mengadakan pesta pertunangan, dan aku di undang untuk menghadirinya. Apa kau bisa menemaniku?” tanyanya ragu, tangan Fira yg mengepal di atas lahunan pahanya, terlihat sedikit berkeringat.
“Pergilah sendiri saja, aku tak bisa menjajikan.” ucap Bara, yang merebahkan kedua tangannya di atas bahu sofa.
“Seharusnya tadi aku tidak usah bilang padanya, kalau ujung-ujungnya dia menolak.” gumam Fira dalam hati. Raut wajah nya seketika berubah, nampak sedikit kekecewaan di dalam hatinya. Padahal Fira sangat berharap kalau Bara bisa menemaninya.
“Baiklah tidak apa-apa.” lirih Fira pelan.
Kini mereka melanjutkan kembali menonton acara TV, sampai acara TV selesai di antara keduanya, masih tak ada obrolan, selain hal yang Fira tanyakan tadi.
Bara mematikan Tv, kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Fira yang masih duduk terdiam di sofa.
Fira berjalan kedapur untuk mengambil segelas air minum, karena Fira merasa kerongkongannya begitu kering. Ketika Fira sedang meneguk air, tiba-tiba listrik seluruh ruangan padam. Gelap gulita menyelimuti seluruh sudut ruang.
Bara yang berada di kamarnya, berteriak memanggil nama Fira. Fira yang berada di dapur dengan segera menyauti panggilan Bara, disimpannya gelas itu di atas meja mini bar, ia perlahan berjalan, tangannya menyusuri sisi tembok dan meja yang dilewatinya. Kemudian masuk ke dalam kamar Bara.
Prak... Sebuah pajangan dari kayu di kamar Bara jatuh, karna tersenggol tangan Fira yang menyusuri meja.
“Fira...” ucap Bara.
“Iya ini aku,” sahutnya, Fira berjalan perlahan, kemudian dia menyentuh sisi ranjang, dan mendudukan dirinya di tepi ranjang.
Bara yang merasa ada seseorang, yang duduk di tepi ranjang, langsung ia mendekati dan perlahan ia menyentuh tubuh Fira dengan sembarang.
“Jangan menyentuhku.” teriak Fira kaget, ketika Bara menyentuh pundaknya.
“Diamlah! kemari duduk di dekatku.” perintah Bara, yang masih memegang lengan Fira.
“Apa... duduk di dekat nya? gak ah aku gak mau, apalagi gelap-gelap begini.” gumam Fira dalam hati, sambil bergidik membayangkan hal yang tidak-tidak.
“A–aku akan mencari lilin.” ucap Fira terbata. Ia segera berdiri dari duduknya, hendak berjalan, namun tangan Bara kembali menarik lengan Fira, hingga Fira kembali duduk di tepi ranjang.
“Diamlah! temani aku! lagian disini gak ada lilin.” seru Bara.
Sungguh lelaki tampan ini takut sekali akan kegelapan, apalagi karna rasa traumanya di masalalu, makanya Bara tidak Bisa tenang jika keadaannya gelap gulita, apalagi kalau tidak ada orang.
“Ka–kalau begitu, aku akan mencari handphone ku.”
“Jangan! diam disini jangan kemana-mana.”
“Kalau begitu berikan ponselmu? kan kalo pake handphone bisa nyalain senter.” ucap Fira. Sambil menyodorkan sebelah tangannya, meminta ponsel Bara.
“Ponsel ku, gak tau dimana, sudah jangan di cari.”
“Dia ini kenapa sih?” batin Fira.
“Tapi ini gelap, aku mau cari ponselku dulu.” Fira menepiskan tangan Bara dari lengannya. Namun Bara dengan seketika memeluk Fira, hingga Fira kaget dan memberontak.
“Hey... apa yang kau lakukan, jangan memelukku seperti ini.” Fira mencoba melepaskan dirinya dari pelukan tangan Bara.
“Diam! atau aku akan melakukan yang lebih dari ini.” ancam Bara. Fira langsung diam membungkam, ia membulatkan kedua matanya, ketika mendengar perkataan Bara.
“Tidurlah” Bara menarik tubuh Fira dalam pelukannya.
“Ya Allah... kenapa bisa begini.” gumam Fira dalam hati. Sekarang ia merasa hati nya sedang berdulag dag dig dug duar. Apalagi saat ini posisinya terbaring dengan lengan Bara yang melingkar di perutnya.
2 jam berlalu, Bara dari tadi sudah terlelap tidur dengan posisi masih memeluk Fira. Namun Fira ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, karena perasaannya yang merasa tak nyaman dan gusar sehingga membuatnya masih terjaga. Dan byar... lampu di kamar kembali menyala.
“Alhamdulillah” lirih Fira.
Fira hendak melepaskan pelukan Bara. Namun seketika Bara bangun dari tidurnya. Dengan mata, yang sedikit terbuka.
“Jangan pergi, tidurlah denganku malam ini.” ucap Bara pelan.
“Ta–tapi.”
“Cepat tidurlah.” Bara kembali mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di sisi bahu Fira. Akhirnya Fira pun mengiyakannya, dan tidur dengan posisi terlentang, di samping Bara.
***
Hari ini Dion sudah kembali masuk kerja, sepulangnya dari Singapura, yang ada di pikiran Dion hanyalah, ingin segera menemui gadis manis yang selalu terbayang-bayang di pikirannya.
Nampak sekali raut wajah penuh semangat, menyinari ketampanannya. Dion berjalan memasuki lift, tak sedikit pegawai wanita yang mencoba menarik perhatian Dion ketika mereka saling berpapasan. karena kegagahan dan ketampanannya, Dion bayak di idolakan oleh para pegawai wanita dan mungkin Dion adalah orang ke dua setelah Bara, yang mendapatkan banyak fans rahasia di kantornya.
Siang hari nya, Dion sedang duduk berbincang dengan seorang lelaki, yang tak lain ialah Tn. Hendra ayah dari Adit, beliau menemui Dion untuk menanyakan perkembangan proyek kerjasamanya dengan perusahaan Cleon Compeny, dan Tn. Hendra juga tak lupa untuk mengundang Bara ke acara pesta pertunangan anaknya, yang akan dilaksanakan lusa, secara megah.
Selesai berbincang dengan Tn. Hendra, Bara segera pergi masuk ke ruang kerja Bara.
“Ini, Undangan dari Pak Hendra, acaranya lusa.” Dion memberikan selembar undangan kepada Bara, dan disimpannya di atas meja kerja Bara.
Bara meraihnya kemudian di lihatnya sejenak dan menyimpannya kembali di atas meja. Ia kembali disibukan dengan laptopnya.
“Tolong lihat, jadwal kita lusa. Apa ada acara penting?” Ucap Bara, yang masih fokus melihat ke arah laptopnya.
Dion segera meraih ponselnya, dilihatnya jadwal pertemuan kerja di hari lusa.
“Untuk lusa, jadwal meeting kita hanya sampai jam 2 siang, dan jam 3 sore ada jadwal dengan client kita yang dari malaysia, kemungkinan beres sampai jam lima" Ujar Dion.
“Baiklah kalau begitu, malam harinya kau saja yang gantikan aku untuk datang ke acara Tn. Hendra.”
“Baiklah.” Dion mengangguk, dan kembali melakukan aktivitas kerjanya.
***
“Huh... suntuk sekali” ucap Fira yang merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Seharian ini Fira tidak keluar, dia hanya berdiam di dalam kamar apartemennya, selesai membereskan pekerjaan rumah dan memasak, ia merasa bosan karena dari tadi ia hanya rebahan di atas sofa sambil mengotak atik remote TV, memindahkan channel untuk mencari tontonan yang menurutnya menarik.
“Hoam...” Fira menguap, hingga matanya sedikit berair.
“Ah lebih baik aku berenang saja di balkon.” gumamnya. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukan jam setengah 4 sore.
“Em... lebih baik aku berenang dulu sebentar lah, dia kan pulangnya jam.” Fira bergegas ke kamarnya untuk bersiap.
Kini Fira sudah siap untuk menyebur di kolam renang yang berada di balkon, tentunya pakaian yang Fira pakai sedikit sexy, Fira hanya mengenakan celana hotpan berwarna hitam, dan tangtop mini yang berwarna pink fanta.
15 menit berlalu, Fira asyik berendam dan berenang, meregangkan tubuhnya di dalam air. Pikiran dan tubuhnya kini terasa lebih fresh. Fira beranjak naik dari kolam, Sambil menikmati segelas jus jeruk yang sempat ia buat sebelum berenang tadi, Fira memandangi pemandangan kota di atas balkon, Fira merebahkan tubuhnya di atas kursi pantai yang terbuat dari plastik.
“Hem... nikmat sekali ya Allah.” gumamnya, sambil tersenyum. Fira menghirup udara sore hari, yang cukup menenangkan hati dan jiwa baginya. Kemudian Fira kembali menyebur ke dalam air.
***
Ceklek, suara pintu apartemen terbuka, Bara masuk ke dalam dan menutup kembali pintu itu. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sejenak merebahkan tubuhnya di atas kursi kerja yang ada di kamarnya. Kemudia Bara segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan aktifitas di kamarnya, Bara keluar menuju dapur. Kemudian ia membuka tuduk saji yang ada di atas meja bar. Dilihatnya ada beberapa macam masakan, yang sudah berjajar rapih.
Bara merasa aneh, karena dari tadi ia tak melihat Fira. Matanya berkeliling melihat kesetiap sudut ruang, untuk mencari keberadaan istrinya itu.
Matanya kini tertuju ke arah pintu balkon yang terbuka. Bara berjalan menuju balkon, dan dia melihat Fira yang sedang asyik berenang di dalam air. Bara mendudukan tubuhnya di atas kursi pantai yang ada di balkon.
Fira yang sedari tadi menyelam di dalam air, kini ia muncul kembali ke permukaan, dengan posisi masih membelakangi Bara. Dan ketika Fira membalikan tubuhnya, betapa terkejutnya Fira saat melihat Bara sudah duduk di kursi, seakan menontonnya.
“Kamu!” teriak Fira kaget.
****
Hallo... readers semuanya, maaf ya akhir2 ini author lambat banget up nya, dikarenakan pekerjaan author akhir-akhir ini lg banyak, nulis baru sedikit saja sudah ada gangguan 😂 jadi author nulis sebisanya ya.
Jangan lupa untuk terus dukung author dengan cara like, komen & vote, sebanyak-banyak nya biar author makin semangat hehe 😁
See You On The Next Chapter😘