Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.
Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.
Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.
Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.
Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.
[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]
*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH ENAM
Aksen meringis pelan tatkala Ara menekan-nekan kapasnya terlalu dalam. Perihnya saja masih belum hilang, kekasihnya itu sepertinya sudah mau memberikan luka yang baru terhadapnya.
"Kamu bisa pelan-pelankan yang." Aksen hendak memprotes. Selain Ara yang hanya diam tanpa mengeluarkan satu dua patah kata saja, Ara hanya menggunakan bagian tubuhnya untuk melakukan sesuatu. Termasuk mengangguk dan menggeleng sebagai pengganti kata yang mudah dilakukan.
Ara sudah diizinkan Mamahnya karena ketidak berangkatannya ke sekolah. Meskipun Mamahnya berdusta untuk menutupi kesalahan anaknya, itu lebih baik ketimbang Ara harus mendapatkan surat peringatan yang pertama kali. Ara sendiri memilih untuk diam, SP baginya itu sudah tak baru lagi dalam hidupnya. Menolak pun sepertinya tak baik, karana itu didapat dari kesalahannya sendiri.
"Sayang, kamu kok diem aja sih. Masa aku dicuekkin!" lagi-lagi Aksen memprotes. Ia sungguh jengah dengan Ara yang memilih untuk diam saja.
Lagi-lagi, Ara hanya menggeleng. Niatnya sudah bulat untuk mendiami seseorang, termasuk yang berada dihadapannya. Jika bukan karena jahil, Ara juga tidak akan membogem seseorang secara cuma-cuma. Tak cukup sampai disitu, permintaan menjadi seorang kekasih, nyatanya hanya permintaan utama. Sedangkan bonusnya, Ara tetap harus bertanggung jawab dengan luka yang ia toreh itu. Sungguh jenius kau Aksen, bahkan Ara sudah menghafal namanya dengan baik!
Oke, Aksen tak bisa terus-terusan seperti ini. Ia menggenggam tangan Ara, kemudian menatap tajam manik mata Ara.
"Kamu marah sama aku?" Aksen bertanya dengan hati-hati.
Ara tetap tak bergeming. Jika ini rumah Ara, mungkin sudah dipastikan Aksen lebih mengalami babak belur dari ini. Itu mutlak!
Sedangkan jauh dibalik dinding sana, ada Devon beserta istrinya yang terus cekikikan tidak jelas. Kapan lagi mereka melihat Aksen yang berubah besar-besaran, dari sifat biasanya dingin tak tersentuh. Ditengah-tengah itu, ada buah hati mereka yang terus mengernyit bingung. Ia juga ingin melihat apa yang orang tuanya saksikan, namun terhalang oleh kedua orang tuanya yang terus memegangi kedua tangannya sembari cekikikan kecil.
Anak kecil yang tak lain adalah Galaksi itu merajuk. Ia dengan pelan melepaskan genggaman tangan orang tuanya, lalu melangkah maju demi menyaksikan peristiwa yang tengah terjadi. Tentu Devon beserta Alissha tak menyadarinya, bahkan ketika Galaksi sudah ada di depan mereka.
"Om Aksen, Tante Ala." Galaksi berlari kearah kedua orang yang masih beradu pandang itu. Sedangkan Devon dan istrinya langsung menatap ke belakang, berharap itu bukan benar-benar anaknya.
Ara maupun Aksen yang mendengar panggilan itu, mendapatkan dua tanggapan yang berbeda-beda. Jika Ara tersenyum binar, maka Aksen hanya mengeluarkan senyuman kecutnya. Niat ingin beromantis dengan Ara, sirna sudah dalam kepalanya. Terlebih lagi Ara yang tak pernah merespon ucapannya, dan Galaksi sendiri mendapatkan hak istimewa dari kekasihnya.
"Hai Adek manis. Apa kabar?" seperti awal pertama bertemu, Ara langsung mencubiti pipi anak itu dengan gemas.
Ingat! Aksen cemburu. Meskipun yang dicemburui hanya anak kecil, tetap saja ia cemburu. Terlebih Ara menyelingi respon kepada Galaksi dengan senyuman manis. Cepat-cepat Aksen bersedekap dada, berharap sang kekasih peka terhadap kode yang diberikan olehnya.
"Baik Tante. Tante Ala jadi cantik deh, Galaksi jadi cinta." ucap Galaksi yang membuat Ara terkekeh pelan.
Sedangkan Aksen mendelikkan matanya mendengar penuturan Galaksi itu. Diajari siapa Galaksi bisa mengatakan kata-kata seperti itu? Dari kejauhan, sang isteri dari Devon, langsung menarik kuping suaminya dengan keras. Mendengar penuturan anaknya tadi, sudah dipastikan itu adalah ajaran Papahnya.
"Kamu ngajarin anak yang enggak-enggak." Alissha memekik garang. Bisa-bisanya Galaksi dicuci otaknya seperti itu.
Aksen sendiri memegang bahu Galaksi, berniat untuk bertanya.
"Galaksi diajarin sama siapa?" kiamat hidupnya, jika Aksen mengetahuinya.
Galaksi melengkungkan bibirnya, sehingga pipi chubby nya itu ikut mengembung bersamaan dengan senyum manisnya.
"Sama Papah Om. Katanya kalau ketemu sama Tante-tante cantik, Galak halus ngomong kayak gitu. Kata Papah, biar dapat Mamah balu." jawab Galaksi polos.
Skakmat! Alissha langsung menarik suaminya itu dengan tak berperi kemanusiaan menuju kamarnya. Salah siapa, ia mengajari hal yang tidak-tidak kepada anaknya. Alissha sendiri sudah berada dipuncak emosi sekarang!
"Astaga, Bang Devon!" desis Aksen, namun diurungkan kembali.
Ara sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya ia cukup bingung dengan kelakuan Kakak beradik itu. Apakah mereka memiliki sikap yang serupa, atau mmungkin sangat erbeda? Ara sendiri tak pernah melihat orang tua Galaksi. Seperti apakah rupanya pun, Ara kurang tahu.
Ting... Tong...
Bel rumah Aksen berbunyi nyaring, tentu membuat Ara maupun Galaksi yang sedang berbincang langsung membungkam. Disisi itu, ada Aksen yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi untuk membuka pintu rumahnya.
Ceklek...
Aksen langsung tersenyum lebar, dan memeluk seseorang yang baru saja datang. Ya, itu Papahnya yang baru saja pulang dari luar negeri untuk mengurus bisnis yang ia lakukan bertahun-tahun lamanya.
"Apa kabar Pah?" tanya Aksen sebagai pembuka.
Papahnya tersenyum, kemudian menepuk bahu kanan anaknya pelan-pelan. Ia sudah sangat tua untuk menjalani bisnisnya, namun dirinya masih enggan untuk melepas pekerjaan dan berbahagia dimasa tua. Ia masih belum bisa melupakan istrinya yang sudah dipanggil ke rumah Tuhan. Mengingat itu saja, demi meminimalisir kesendiriannya, ia lebih senang berkutat dengan para dokumen sekaligus mengerjakannya.
"Bagaimana kabar Adikmu di sana?" tanya Papahnya sembari membawa tas besarnya di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk merangkul anaknya.
Aksen sendiri sudah mengambil koper besar milik Papahnya, dan terdiam. Ngomong-ngomong soal Adiknya, ia jadi teringat soal sang Adik yang sudah lama tak berhubungan. Tentu ia sangat berat hati, namun harus bagaimana lagi? Tak ada sinyal apapun, sehingga sulit untuk berkomunikasi.
"Nggak ada komunikasi, tapi pasti dia baik-baik aja di sana." jawab Aksen sekenanya, dan terlihat nampak sendu.
Papahnya mengangguk. Semoga saja apa yang diucapkan Aksen benar adanya. Namun belum saja ia sampai diruangan keluarga gema tawa dua orang lawan jenis, membuat Papahnya mengernyit dahi.
"Itu Galaksi cucu Papah kan? Itu sama siapa Sen?" tanya Papahnya yang kemudian memberhentikan langkahnya.
Aksen sendiri yang awalnya nampak sendu, berubah menjadi tersenyum malu. Jika ia mengatakan Ara sebagai kekasihnya, apakah Papahnya tidak meledeknya? Tapi jika ia tak jujur?
Aksen menghembuskan napas panjang untuk menjawab pertanyaan Papahnya. Berharap Papahnya dapat paham, dan tak meledeknya selanjutnya.
"Kekasih Aksen Pah." mirip sebuah gumaman kecil, namun membuat Papahnya yang disampingnya dapat mendengarnya meskipun sekilas.
*Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik*...
Papahnya langsung tertawa keras, kapan lagi ia melihat Aksen yang mengucap sesuatu dengan tampang malu-malu seperti itu. Sudah sangat dipastikan, Aksen sangat mencintai gadis yang sedang bermain dengan Galaksi itu.
"Galaksi tangkap." Galaksi mengangguk, dan dengan sigap menangkap bola yang dilempar oleh Ara.
Ara sendiri hanya bertepuk tangan. Begitu bangganya jika Reval mau diajak seperti itu? Tapi tetap saja Reval tak ada duanya. Buktinya saja tingkah Reval, selalu terlihat menyebalkan dimatanya.
"Tante Ala punya trik main bola?" Galaksi bertanya-tanya, semoga saja Tante cantiknya itu memiliki sesuatu yang menarik perhatiannya secara lebih.
Ara sendiri sedikit berpikir, dan langsung menjentikkan jarinya. "Ada, mau Tante tunjukkin. Tapi nggak di sini, kapan-kapan Tante ajak kamu ke suatu tempat. Hanya kita berdua."
Aksen yang mendengar Ara mengatakan hanya berdua saja, langsung mengerucutkan bibirnya cepat-cepat. Kemudian menatap Papahnya yang terus melihat interaksi antara kekasih dan keponakannya itu.
"Cemburu sama keponakan sendiri, haram nggak sih Pah?" Aksen sudah lebih dari cemburu saat ini.
Pertanyaan konyol, bahkan Papahnya langsung membuka matanya lebar-lebar dan mengangakan mulutnya saking tak percayanya.
Apakah benar ini anaknya yang bernama Aksen? Yang dari dulu punya sifat dingin itu?
*****
1988 Kata.