NovelToon NovelToon
Love Beneath The Waves

Love Beneath The Waves

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Penyesalan Suami / Slice of Life / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arik Tri Buana

Kael Lancaster seorang komandan angkatan laut dan pengusaha besar, selalu menjadikan keluarganya sebagai pelabuhan hatinya. Ia yak pernah lupa menyelipkan cinta untuk sang istri Aeliana meskipun tak secara terang-terangan. Suatu hari Aeliana menemukan surat yang isinya terkesan mesra. Kecurigaan mulai menggerogoti hatinya dan bayang-bayang perselingkuhan merusak kepercayaannya. Di sisi lain, Kael tak menyadari kecurigaan istrinya. Ia berusaha menghadirkan kebahagiaan untuk wanita yang ia cintai. Apakah cinta mereka mampu bertahan melawan badai kesalahpahaman? atau akankah pernikahan karam oleh ombak curiga tak bertepi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Serangan

Matahari pagi menembus celah tirai utama keluarga Lancaster, memberikan cahaya hangat ke dalam ruangan. Aeliana menggeliat pelan di tempat tidur, merasa nyaman dalam selimut tebal yang membungkus dirinya. Ia mengejapkan mata beberapa kali lalu menoleh ke sisi tempat tidur menemukan sosok Kael yang masih berbaring di sampingnya.

Biasanya pada jam segini, Kael sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Tapi pagi ini berbeda, pria itu masih berbaring dengan satu tangan menutupi matanya sementara lainnya melingkari pinggang Aeliana seolah tak ingin melepaskannya.

“Kael sudah pagi.” Aeliana mencoba membangunkannya.

Kael hanya bergumam dan mempererat pelukannya.

“Jangan pergi dulu…”

“Aku tidak pergi ke mana-mana. Tapi kau harus bangun dan bersiap untuk bekerja.”

Kael membuka sedikit matanya dan menatapnya dengan ekspresi malas. “Tidak mau.”

“Kau adalah seorang komandan. Bagaimana bisa seorang komandan bermalas-malasan seperti ini?”

“Hari ini aku hanya ingin bersamamu, tidak mau pergi.”

“Kau tidak bisa begitu.”

Kael hanya merespons dengan menyelipkan wajahnya ke lekukan leher Aeliana lalu menutup matanya seolah ingin tidur kembali.

Namun sebelum Aeliana bisa membujuk lebih jauh, suara langkah kaki kecil terdengar di depan pintu kamar. Dalam hitungan detik,, pintu terbuka dan muncul dua kepala kecil Julian dan Juvel yang sudah berpakaian rapi.

Julian menyipitkan matanya melihat ke arah ayahnya yang masih berbaring di tempat tidur.

“Ayah belum bangun?”

Juvel memiringkan kepalanya. “Ayah sakit lagi?”

“Ah aku tahu. Ayah malas kerja! Ayah malas kerja karena mau berduaan dengan ibu!”

Kael mendengus lalu mengangkat kepalanya untuk menatap putra sulungnya.

“Apa kau baru saja mengejek ayahmu?”

“Tentu saja. Bayangkan seorang komandan yang ditakuti di medan perang malah tidak mau bangun dari tempat tidur. Apa kata laut?” Kata Julian.

Juvel mengangguk setuju. “Ayah selalu bilang kalau kita harus melakukan tanggung jawab kita!”

“Lihat? Bahkan anak-anak berpikir kau harus pergi bekerja,” ucap Aeliana.

Kael mendesah panjang lalu akhirnya duduk di tempat tidur. Ia mengacak rambutnya dengan malas sebelum menatap Julian dan Juvel yang masih berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat.

“Baiklah, baiklah. Ayah akan berangkat.”

Julian tertawa kecil lalu berbisik pada Juvel. “Lihat? Ibu memang satu-satunya yang bisa mengendalikan ayah.”

“Iya! Ibu lebih kuat dari ayah!” Kata Juvel sambil mengangguk.

Kael hanya bisa menggelengkan kepala sementara Aeliana tertawa melihat interaksi mereka. Dengan berat hati, Kael akhirnya bangun dan mulai bersiap untuk berangkat meskipun jika diberi pilihan, ia lebih suka menghabiskan hari di rumah bersama istrinya. Tapi setidaknya, ia memiliki alasan untuk pulang lebih cepat nanti.

...…...

Suasana di markas militer terasa lebih tegang dari biasanya. Kael duduk di kursinya, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang tak beraturan. Pikirannya masih dipenuhi Aeliana tapi kini tugasnya sebagai Komandan Angkatan Laut menuntut perhatian penuh.

Pintu ruangannya diketuk dengan cepat sebelum seorang pria masuk dengan wajah serius.

“Komandan, kami mendapatkan laporan bahwa kapal asing telah melanggar batas teritorial perairan kita.”

“Seberapa jauh mereka masuk?”

Sian langsung menyerahkan sebuah dokumen.

“Sekitar dua belas mil laut dari garis batas. Mereka tidak menunjukkan bendera nasional dan tidak merespons peringatan dari kapal patroli kita.”

“Ada dugaan mereka hanya kapal nelayan atau ini sesuatu yang lebih serius?”

“Kapal mereka terlalu besar untuk sekedar kapal nelayan, Komandan dan pergerakan mereka terlalu teratur.”

Kael mengangkat alisnya. Ini buka pertama kalinya ada kapal asing yang mencoba melanggar batas teritorial. Tapi biasanya mereka akan segera mundur setelah diberikan peringatan. Jika kapal-kapal ini tetap bertahan bahkan setelah diberi sinyal peringatan maka situasinya bisa lebih serius.

“Segera hubungkan aku dengan tim patroli laut.”

Dalam hitungan detik, suara dari seorang perwira di kapal patroli terdengar.

“Komandan, kapal asing masih berada di perairan kita. Mereka tidak merespons komunikasi dan tetap maju perlahan ke arah daratan.”

“Tingkatkan kewaspadaan. Gunakan pengeras suara untuk memberi peringatan terakhir. Jika mereka masih tidak merespons dalam lima menit, siapkan tembakan peringatan.”

“Dimengerti, Komandan!”

“Apakah kita memiliki identifikasi visual terhadap kapal mereka?” Tanya Kael pada Sian.

“Ya. Satelit telah menangkap gambar mereka dan kami menemukan beberapa tanda yang mencurigakan. Beberapa bagian kapal tampaknya dimodifikasi untuk menyembunyikan sesuatu.”

Lima menit berlalu dan laporan terbaru masuk.

“Komandan, kapal asing tidak mengindahkan peringatan kami. Kami sudah menembakkan tembakan peringatan tapi mereka tetap tidak merespons.”

Kael menggertakkan gigina. “Siapkan kapal serbu. Aku akan datang sendiri.”

Sian langsung menegang. “Komandan! Anda tidak perlu turun langsung ke lapangan—“

“Ini wilayah kita dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injaknya.”

Tanpa menunggu Sian menyelesaikan kalimatnya, Kael sudah mengenakan seragam tempurnya dan bergegas menuju dermaga tempat kapal serbu disiapkan.

........

Di tengah lautan, gelombang menghantam keras lambung kapal patroli. Kael berdiri di anjungan, matanya menatap tajam ke arah kapal asing yang tatap bertahan di batas perairan.

“Kirimkan peringatan terakhir. Jika mereka masih tidak merespons, kita akan naik ke kapal mereka.”

Sian segera mengambil pengeras suara dan berbicara.”Kapal anda melanggar batas teritorial kami. Ini adalah peringatan terakhir. Segera hentikan mesin anda dan bersiap untuk diperiksa. Jika tidak, kami akan mengambil tindakan.”

Semua awal kapal menahan napas, menunggu respons. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban.

“Siapkan tim boarding. Kita akan naik ke kapal mereka,” ucap Kael.

Dengan cepat, beberapa anggota pasukan bersenjata lengkap bersiap menaiki kapal asing tersebut. Kael ikut dalam kelompok itu. Dengan lompatan sigap, ia mendarat di dek kapal yang terasa sunyi. Terlalu sunyi. Matanya menyapu sekeliling. Tidak ada tanda-tanda ada kru.

Kael mengangguk dan memberi isyarat untuk menyebar. Mereka bergerak dengan hati-hati, menyisir dek kapal dan lorong-lorong sempitnya. Kael meraih senjatanya. Jika musuh tiba-tiba menyerang ia tidak akan ragu untuk melawan.

“Komandan! Kami menemukan sesuatu!”

Di dalam ruangan kecil, mereka menemukan peti besar yang tersegel rapat. Salah satu anak buahnya mencoba membuka segelnya dan begitu peti itu terbuka sesuatu di dalamnya membuat semua orang tercengang. Senjata. Persenjataan militer dalam jumlah besar yang tampaknya hendak diselundupkan.

Namun sebelum mereka sempat bertindak lebih jauh, suara langkah kaki bergema di kejauhan. Kael meraih senjatanya. Jika orang-orang itu berniat melawan, ia tidak akan ragu bertindak.

Kael mengangkat tangannya, memberi isyarat pada pasukan untuk bersiap dan suara langkah tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong. Rentetan peluru menghujani mereka dari depan.

“Baku tembak! Cari perlindungan!” Seru Kael.

Timnya segera berlindung di balik dinding kapal dan peti kemas. Percikan peluru menghantam baja kapal, memantulkan suara memekakkan telinga. Kael melirik ke depan, melihat beberapa pria bersenjata berat yang bersembunyi di belakang peti besar.

“Gunakan granat kejut. Kita harus membuat mereka kehilangan momentum!”

Salah satu anggota timnya menarik granat kejut dari sabuknya, menarik pinnya dan melemparkan ke arah musuh.

Bratss

Cahaya menyilaukan memenuhi lorong, diikuti oleh suara ledakan singkat. Para penyelundup terkejut. Beberapa dari mereka menutup mata sambil meraba-raba senjata mereka.

“Sekarang serang!”

Kael langsung keluar dari perlindungan dan menembakkan peluru. Rentetan tembakan dari tim Kael menggempur musuh yang kehilangan koordinasi. Beberapa dari mereka tumbang, sementara yang lain mencoba mundur ke dek utama.

Kael memberi isyarat untuk timnya maju. Mereka berlari melalui lorong, menaiki tangga sempit yang mnuju dek utama. Begitu sampai di atas, mereka menemukan kelompok penyelundup yang tersisa sudah bersiap dengan senjata mereka.

“Serahkan diri kalian!”

Namun pemimpin mereka menyeringai licik. Ia mengangkat tangannya ke udara, seolah menyerah tapi jari-jarinya dengan cepat menekan sesuatu di arlojinya

“Sampai jumpa, Komandan Lancaster.”

BIP!

Suara detakan terdengar dari dalam kapal. Kael menoleh, matanya membesar saat melihat angka hitungan mundur yang menyala merah di salah satu panel dinding.

BOM!!

1
Quenby Unna
ya setuju banget
Quenby Unna
dih si itu lagi
Han Sung hwa
wow udah end....ditunggu karya selanjutnya
Aldin Andi
thor saran saja sih., "Suara Aeliana membawanya kembali ke masa kini." mending di ganti sama "Suara Aeliana membawanya kembali ke kenyataan."
Aerik_chan: terima kasih kak sarannya..
total 1 replies
Han Sung hwa
happy ending.....
Han Sung hwa
ditampar balik kael, nangis nanti
Han Sung hwa
1 vote untukmu kak
Han Sung hwa
5 iklan untukmu kak...
Han Sung hwa
ada aja gebrakan anton si anying ini
Han Sung hwa
5 iklan untukmu kak....semangatttttzzsss
Han Sung hwa
gila nih orang
Han Sung hwa
1 vote untukmu kak...
Han Sung hwa
nggak punya malu nih orang
Quenby Unna
wow sudah end aja....banyak-banyak iklan untukmu kak
Quenby Unna
3 iklan untuk mu kak..
wow bab ini bikin aku mewek bombay/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Quenby Unna
keren banget nih cerita...uhuuuuuyyy nggak sabar mau lihat bab selanjutnya
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍🥰
Quenby Unna
bab ini menegangkan sekali
Aldin Andi
thor. ini di lubuk hati atau di lubuh harinya, Thor?
Elisabeth Ratna Susanti
mantap jiwaaaa 😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!