NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PANGERAN CUPU

KEBANGKITAN PANGERAN CUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.


Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.


Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Beberapa menit kemudian, putri Lu Zhuang tersadar, matanya memicing tajam saat suara yang penuh provokasi menyusup di telinganya. Ia menoleh perlahan, hanya untuk mendapati Shilian berdiri di dekat pintu dengan senyuman puas yang terkesan menusuk. Aroma bunga mawar dari taman istana menyelinap melalui jendela yang terbuka, kontras dengan ketegangan yang memanaskan udara di antara mereka.

"Kau! Dasar pelayan sialan!" seru putri Lu Zhuang, suaranya melengking dengan amarah yang memancar dari sorot matanya yang berkilat. Suara teriakannya bergema, menghancurkan keheningan pagi yang semula damai.

Shilian, tanpa mengurangi senyumannya yang penuh ironi, membalas dengan nada polos namun dingin, "Selir Liu Yuhe, putri Lu, ini masih sangat pagi. Apa yang membuat kalian melangkahkan kaki ke kediaman pangeran sepagi ini?" Matanya yang tajam seperti menyelidiki alasan di balik kunjungan mendadak ini. Ia melanjutkan dengan nada yang lebih ringan namun tetap menyengat, "Apakah kalian datang ke sini hanya untuk menyaksikan kemesraan pangeran dan putri?"

Putri Lu Zhuang maju beberapa langkah, gaun sutranya yang mewah menyapu lantai seperti riak gelombang yang penuh amarah. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya hampir menusuk kulit telapak tangannya sendiri.

"Beraninya kau bicara seperti itu!" suara putri memekik, menggema dengan nada penuh penghinaan, seperti auman singa yang terluka. Matanya yang biasanya seteduh langit sore kini dipenuhi badai yang berbahaya.

Shilian tetap berdiri di tempat, tak gentar. Senyuman di bibirnya berubah menjadi seringai tipis, mengandung ejekan yang halus. "Saya hanya seorang pelayan, Tuan Putri," katanya sambil mengangguk rendah, namun nadanya seperti menyembunyikan belati. "Namun, bahkan pelayan pun tahu kapan seseorang terlalu memaksakan kehendaknya."

Kata-kata itu bagai cambuk di telinga putri Lu Zhuang, membuat darahnya mendidih. "Shilian!" Teriaknya lagi, kini suaranya nyaris pecah. "Ingat tempatmu! Kau bukan apa-apa di istana ini!" Tangannya melambai, nyaris seakan ingin menampar wajah Shilian, namun tertahan, mungkin oleh sesuatu yang lebih mendalam daripada amarah. Mungkin rasa takut pada reputasinya sendiri, atau rasa puas yang samar melihat ketenangan Shilian mulai retak.

Sesaat keheningan merayap di ruangan itu, hanya suara napas berat putri yang terdengar. Cahaya matahari pagi kini masuk lebih terang melalui jendela, memantulkan bayang-bayang yang panjang di lantai, seolah menggambarkan jurang yang semakin menganga di antara dua wanita itu.

Namun, Shilian, dengan segala keberaniannya, kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tegas. "Tuan Putri, pagi ini masih panjang. Dan jika Anda membuang-buangnya dengan kemarahan seperti ini, mungkin waktu akan terasa lebih berat daripada biasanya. Tapi siapa tahu, mungkin kemarahan Anda ini akan jadi pembicaraan para selir lainnya—pastilah sangat menghibur."

Sebuah senyum licik muncul di wajah Shilian, sedangkan wajah putri Lu Zhuang memerah menahan malu dan marah. Ia melangkah mundur selangkah, seperti hendak melindungi dirinya dari ejekan yang menusuk. Emosi yang bercampur di wajahnya membuatnya sulit untuk membalas.

Selir Liu Yuhe yang sejak tadi hanya menonton perdebatan mereka berdua, akhirnya angkat bicara.

"Kami datang kemari, karena ada sesuatu yang sangat penting untuk di bahas. Apakah bisa kau panggilan pangeran untuk menemui ku?" Shilian menyipitkan matanya penuh selidik.

"Baik. Silahkan kalian tunggu di ruang utama," balas Shilian. Lalu, pelayan dari kediaman pangeran Li Wei mengantar mereka menuju ruang tamu.

Sebelumnya, Di dalam kamar, putri Mei Ling tengah melakukan gerakan anggun, tubuhnya bergerak selaras dengan angin pagi yang sejuk. Rambutnya yang panjang tergerai, berkilauan diterpa sinar matahari. Pangeran Li Wei, yang masih berbaring miring, memperhatikan istrinya dengan senyum lembut. Namun, senyumnya memudar ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok selir Liu Yuhe dan putri Lu Zhuang yang mendekat dari kejauhan. Wajahnya berubah serius, seolah menyadari sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Ia pun langsung beranjak dari berbaring nya.

Dengan sengaja, pangeran Li Wei menarik Mei Ling ke dalam pelukannya, membisikkan sesuatu yang membuat istrinya tersenyum malu. Ia memastikan jendela kamar tetap terbuka, membiarkan adegan mesra itu terlihat jelas oleh kedua wanita yang kini berdiri di ruang tamu. Cahaya matahari pagi yang hangat memantulkan bayangan mereka di lantai, menciptakan suasana yang kontras dengan ketegangan yang mulai terasa.

Di ruang tamu, selir Liu Yuhe duduk dengan anggun, namun matanya yang tajam mengamati setiap detail di sekitarnya. Putri Lu Zhuang, di sisi lain, tampak gelisah. Ia menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas ujung gaunnya yang mewah.

"Bibi, apakah rencana kita akan berhasil?" tanyanya dengan suara yang hampir berbisik, nada cemasnya tak bisa disembunyikan.

Selir Liu Yuhe menoleh perlahan, senyum licik menghiasi wajahnya. "Kita lihat saja," jawabnya dengan nada penuh keyakinan. "Apakah pria bodoh itu berani membantahku?" Matanya menyipit, memancarkan kelicikan yang membuat putri Lu Zhuang sedikit tenang, meski hatinya masih berdebar kencang.

Waktu seolah berjalan lambat. Aroma teh melati yang tersaji di meja kecil di depan mereka tak mampu meredakan kegelisahan yang menggantung di udara. Putri Lu Zhuang melirik ke arah pintu, berharap pangeran Li Wei segera muncul, sementara selir Liu Yuhe tetap tenang, seperti seekor ular yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Tidak berselang lama, langkah lembut terdengar mendekat. Pangeran Li Wei dan putri Mei Ling muncul di ambang pintu ruang tamu, keduanya membawa kesan yang berbeda. Putri Mei Ling melangkah dengan anggun, kepala tegak, auranya memancarkan wibawa seorang wanita yang percaya diri. Di sisi lain, pangeran Li Wei berjalan beberapa langkah di belakangnya, tangannya yang besar memegang ujung bajunya dengan gerakan ragu-ragu, seperti seekor itik yang takut kehilangan induknya. Matanya yang besar melirik ke sekitar ruangan dengan ekspresi kosong, seolah tak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Penampilannya yang konyol membuat senyum kecil muncul di bibir Selir Liu Yuhe, meski ia berusaha menutupinya.

Cahaya pagi yang hangat masuk melalui celah-celah jendela, menyinari wajah Mei Ling yang tanpa cela. Dengan nada tenang namun tajam, ia menyapa tamunya, "Salam, Selir Liu Yuhe, Putri Lu Zhuang." Pandangannya menyapu mereka berdua, matanya seperti belati yang berkilauan, tajam namun terselubung. "Ada apa pagi-pagi sekali, kalian sudah datang ke kediaman kami? Apakah ada hal yang sangat penting?"

Nada suaranya tanpa basa-basi, langsung menusuk inti persoalan, seperti api kecil yang tiba-tiba menyulut minyak. Selir Liu Yuhe dan Putri Lu Zhuang saling melirik sesaat, tanda keraguan yang mereka coba sembunyikan. Suasana ruangan terasa dingin meski sinar matahari menerobos masuk dengan hangat. Aroma teh melati di meja depan mereka tak mampu mengusir ketegangan yang kini merayap di antara mereka.

Putri Lu Zhuang meremas gaunnya semakin erat, gemetar dalam kecemasan yang tak dapat disembunyikan. Tatapannya sesekali melirik ke arah gulungan kain kuning di atas meja kayu yang sederhana namun terawat, seolah berharap gulungan itu dapat meyakinkan mereka semua akan posisinya. Di sisi lain, Selir Liu Yuhe tetap menjaga ketenangannya, senyum kecil terlukis di wajahnya, seperti seorang pemain catur yang yakin akan langkah terakhirnya.

"Ah, Tuan Putri," jawab Selir Liu Yuhe akhirnya, suaranya terdengar manis namun penuh dengan permainan intrik. "Tentu saja kedatangan kami tidak tanpa alasan." Dengan gerakan yang anggun namun penuh kepastian, ia mengambil gulungan itu dan meletakkannya di atas meja, suaranya nyaris berbisik namun menusuk. "Aku ingin memberikan dekrit dari kaisar. Sebuah kehormatan bagi pangeran Li Wei untuk menerima seorang selir di kediamannya."

Ruangan seketika dipenuhi dengan keheningan tegang, seolah semua yang hadir di sana menahan napas. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela tampak pucat, tak mampu menghangatkan suasana yang mulai membeku. Putri Mei Ling hanya tersenyum sinis, kedua tangannya terlipat di dada. Ia menatap Putri Lu Zhuang dan Selir Liu Yuhe bergantian, tatapannya dingin dan tajam, seperti pedang yang siap menusuk.

"Seorang selir?" tanyanya dengan nada yang nyaris berbisik, namun cukup tajam untuk menusuk hati mereka yang mendengarnya. "Kenapa harus pangeran Li Wei yang kaisar pilih? Bukankah masih ada pangeran-pangeran lainnya yang belum menikah?"

Selir Liu Yuhe mengangkat dagunya sedikit, mempertahankan senyum tipis di wajahnya. "Ayah Lu Zhuang adalah teman baik kaisar," jawabnya, suaranya tenang namun terukur, seperti menari di atas benang tipis. "Dan, tentu saja, Putri Lu Zhuang... mereka adalah kekasih masa kecil pangeran Li Wei. Selain itu, dia juga sangat memahami pangeran Li Wei."

Putri Mei Ling menyipitkan matanya, sinar matanya menyalakan api kecil yang berbahaya di dalam dirinya. "Benarkah?" katanya, nada sinisme semakin tajam di setiap katanya. "Tapi, kenapa aku tidak pernah mendengar bahwa pangeran Li Wei memiliki kekasih masa kecil?"

Ia menoleh dengan perlahan ke belakang, menatap pangeran Li Wei dengan sorot mata yang penuh tuntutan. "Apakah benar yang dikatakan oleh Selir Liu Yuhe, jika Lu Zhuang adalah kekasih masa kecilmu?"

Pangeran Li Wei, yang sejak tadi berdiri seperti anak kecil yang tersesat, akhirnya mengangkat wajahnya. Dengan gerakan cepat, ia menggeleng tegas, nyaris tanpa ragu. Suara gaun sutra yang bergesekan dengan lantai mengisi keheningan di ruangan itu, sementara wajah Putri Mei Ling menyiratkan kepuasan dingin.

1
Cindy
Ayolah lanjutkan lagi ya ceritanya.
Cindy
👍👍👍👍👍
Jumadi 0707
enak juga bacanya coba lanjut
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Up....Up....☕
🎧✏📖
salam kenal jika berkenan mampir juga👋👍🙏
Rizky Mutha: siap kak, nanti aku mampir
total 6 replies
ShiZi_
kalimat lemah buat sesaat, tenang saja😃
Rizky Mutha: 🥰🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Nori^
berapa kata ni, sekejap ja
Rizky Mutha: 1.250 kata
total 1 replies
Nori^
Tenang kamu lemah hanya satu bab saja, bab selanjutnya jadi kuat kok /Facepalm/
muhmamad fajar Fathurrizky
lanjut update thor ceritanya seru
MiseryInducing
Pas baca endingnya, kerasa kayak kehilangan teman baik. Pokoknya cinta banget sama cerita ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!