NovelToon NovelToon
Same But Different

Same But Different

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Trauma masa lalu / Teen School/College / Teman lama bertemu kembali / Bullying dan Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kanza Hann

Isya sadarkan diri dalam kondisi amnesia setelah mengalami kecelakaan ketika studi wisata. Amnesia itu membuat Isya lupa akan segala hal yang berkaitan dengan dirinya, bahkan banyak yang menilai jika kepribadiannya pun berubah. Hari demi hari ia jalani tanpa ingatan yang tersisa. Hingga pada suatu ketika Isya bertemu dengan beberapa orang yang merasa mengenalinya namun dengan identitas yang berbeda. Dan pada suatu hari ingatannya telah pulih.

Apa yang terjadi setelah Isya mendapatkan ingatannya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanza Hann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

026 : Jauh Berbeda

Di jam pelajaran setelah istirahat pertama, kelas 2-1 harus belajar mandiri karena guru yang mengampu sedang ada rapat dengan Kepala Sekolah. Untung saja kali ini mata pelajaran Sejarah, sehingga ketika diberi tugas pun masih relatif mudah daripada dengan yang berbau rumus atau perhitungan.

Quin yang biasanya lambat saat mengerjakan tugas, kali ini begitu cepat dan hampir selesai seperti tidak ada kendala. Namun, saat sampai di soal terakhir ia mulai kesulitan mencari jawaban karena catatannya di minggu lalu ada yang kurang. Quin membolak-balikkan halaman buku catatan untuk mencari jawaban.

"Di mana sih? Sepertinya materi itu setelah ini deh!" Quin pun teringat akan suatu hal, "Oh iya... hari senin kemarin aku sempat nggak masuk. Mungkin saat itu ada catatan tentang materi ini."

Quin pun berbalik ke arah Isya yang tepat berada di belakangnya. "Sya, pinjam buku catatanmu sebentar dong!" pinta Quin.

"Untuk apa?" tanya Isya tanpa melihat lawan bicaranya karena masih sibuk menulis jawaban.

"Kemarin senin pas aku nggak masuk, ada catatan materi baru kah?" tanya Quin memastikan.

"Iya," jawab Isya singkat.

"Pinjam dulu sebentar dong, buat aku foto catatannya! Ini di soal terakhir ternyata buku catatanku belum ada materinya."

"Oh begitu... nah!" Isya membiarkan Quin untuk memotret catatannya sejenak. Quin senang telah mendapat apa yang ia butuhkan, "Oke terima kasih!" dengan sigap ia langsung mengambil gambar.

Cekrek cekrek cekrek

"Oh ya, tumben banget kamu cepet ngerjain tugas? Dah hampir selesai pula." tanya Isya penasaran.

Quin dengan percaya diri menjelaskan salah satu keahliannya, "Muehehe... kalau sekedar menyalin jawaban aku ini jagonya! Soal pelajaran hafalan kan jawabannya sudah pasti ada di materi dan buku catatan. Kalau tinggal menyalin saja, gampang kan?" jelas Quin sembari memanyunkan bibir di akhir kalimat.

"Benar juga sih," ucap Isya menyetujui pendapat Quin.

Quin kembali menghadap ke bangkunya dengan benar guna menyelesaikan jawaban di buku tugas sejarah. "Ya sudah, aku mau lanjut nulis dulu ya!"

"Oke!" respon Isya disertai acungan jempol. Isya pun juga kembali mengerjakan tugas.

Baru juga mau menulis, Quin mendapati ada kejanggalan pada tulisan Isya yang sedang ia lihat. Ia pun kembali berbalik untuk menanyakan suatu hal, "Hei Sya!"

"Apa lagi?"

Quin meraih buku catatan Isya. Kemudian, ia menunjuk tulisan tangan yang tertulis di sana. "Ada apa dengan tulisan tanganmu? Kenapa jadi jelek seperti ini?"

Isya mengernyitkan dahi sebagai respon dari pertanyaan Quin, "Masa sih? Perasaan ini tulisan sudah rapi. Jelek dari mana coba?"

"Hadeh... Tidak biasa pun kamu menulis pakai huruf latin. Apalagi kaya tulisan dokter begini! Biasanya tuh tulisanmu rapi banget kaya mesin ketik!" jelas Quin. Isya pun heran kenapa teman yang satu ini selalu memberi komentar dengan segala hal yang ada pada dirinya. Komentar yang Quin berikan pun selalu berlainan dengan apa yang Isya lakukan.

"Mana ada tulisan manusia yang seperti mesin ketik? Aku menulis latin pun agar cepat selesai nulisnya!" Isya menyangkal.

"Ish... ini anak nggak percaya! Eum... sepertinya aku masih menyimpan tulisan tanganmu yang dulu. Sebentar aku ambil!" Quin bergegas menuju loker di bagian belakang kelas. Ia mencari sesuatu di dalam lokernya. "Nah, ini dia!" setelah ketemu, ia kembali menghampiri Isya.

"Nih, lihat saja sendiri!" Quin memberi Isya selembar kertas berisi tulisannya yang dahulu. Isya meraih kertas tersebut dan melihatnya sendiri untuk membuktikan apakah anggapan Quin itu benar.

Mata Isya terbelalak lebar ketika membandingkan tulisannya yang sekarang dengan yang ada di kertas pemberian Quin. Kedua tulisan tangan itu nampak beda jauh. "Bagaimana ini bisa terjadi?"

Quin mendekat dan ikut mengamati kedua tulisan tangan itu bersama dengan pemiliknya. "Nah kan, benar apa yang aku bilang! Bahkan anak TK saja bisa tahu kalau tulisan tangan itu jelas beda jauh. Ada apa denganmu, Sya?"

"Entahlah... aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini?"

Sementara itu, Bella yang posisi duduknya berada di belakang mengamati pembicaraan Quin dan Isya sejak awal sampai akhir. Tatapannya nampak semakin curiga kepada Isya. "Ini jadi semakin menarik!" ucapnya lirih.

Tiba-tiba Naila menoleh ke belakang untuk menanyakan catatannya yang sedang Bella pinjam. "Bella kamu sudah selesai menyalin catatanku?"

Lamunan Bella pun terbuyarkan oleh kemunculan Naila dari depan. "O-oh, iya sudah, a-aku sudah selesai menyalinnya." jawab Bella dengan agak terbata.

"Aku ambil sekarang ya?" Naila hendak mengambil catatannya kembali karena ia harus lanjut menjawab soal di mana jawabannya ada di buku catatan tersebut. Bella pun membiarkan buku itu diambil oleh pemiliknya. Kebetulan dia juga sudah selesai mencatat. "Iya, ambil saja! Terima kasih."

"Iya, sama-sama." Naila senang bisa membantu kawan barunya. Ia juga bersedia menawarkan bantuan jika Bella membutuhkannya. "Kalau ada kesulitan kamu bisa tanya aku saja. Aku harap kita bisa lebih akrab!" ucap Naila disertai senyum polosnya.

"Oke... Aku juga berharap bisa punya teman akrab di sini," jawab Bella dengan senyum penuh kepalsuan. Dalam penglihatan Bella, Naila adalah sasaran empuk yang dapat ia manfaatkan untuk menggali informasi lebih banyak tentang Isya. Kebetulan juga dia adalah sahabat dekat gadis itu. Jadi, rencananya akan lebih mudah dijalankan jika berhasil dengan cara ini.

***

Ding dong ding dong ding~

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Pelajaran di kelas 2-1 sudah berakhir dan tidak ada tambahan jam untuk hari ini. Quin jadi sangat senang serta bersemangat untuk segera pergi ke pemotretan. "Oke, hari yang indah, tidak ada jam tambahan, waktunya pergi ke tempat pemotretan!"

Dengan cepat Quin memberesi peralatan sekolah miliknya ke dalam tas. Saat membuka tas, ia melihat sebuah kotak hitam di dalamnya. Ia pun teringat akan kejadian malam itu. "Oh iya, kotak ini kan..." Quin langsung mengambil kotak tersebut, kemudian memberikannya kepada Isya. "Nah, ini untukmu!"

"Kotak Apa ini?" Isya bingung saat menerima pemberian tak terduga dari Quin.

"Aku juga tidak tahu apa isi dari kotak itu!" jawab Quin jujur. Karena, semalam ia lelah dan langsung tidur. Jadi, tidak sempat untuk mengintip apa isi di dalamnya. Lagipula, ia masih ingat dengan jelas wanti-wanti dari sang pemberi kotak.

"Jadi ini bukan dari kamu?" tanya Isya.

"Bukan! Kemarin malam ada seorang pria yang menemui aku di studio pemotretan dan menitipkan kotak itu untuk diberikan ke kamu. Mungkin saja dia penggemar rahasiamu." jelas Quin.

"Aku mana ada penggemar rahasia? Justru yang harusnya punya penggemar itu kamu yang seorang model, bukannya aku!"

"Entahlah... Buktinya dia menitipkan kotak itu untukmu!"

"Oh ya, ngomong-ngomong siapa yang memberi kotak ini? Apa kamu mengenal orangnya?" Isya jadi semakin dibuat penasaran.

"Aku tidak tahu siapa dia dan aku pun tidak mengenalinya. Yang aku lihat sih orangnya tinggi dengan pakaian serba warna hitam ditambah lagi pakai topi dan masker. Kalau begitu penampilannya bagaimana aku bisa kenal?!" jelas Quin jujur.

Isya jadi penasaran apa isi kotaknya. Ia pun berencana untuk membuka kotak sekarang juga. Melihat hal itu, Quin pun menyarankan agar Isya menunda rasa penasarannya untuk membuka kotak itu di tempat umum. "Eh, Sya tunggu! Jangan dibuka dulu!"

"Hah? Memangnya kenapa?" tangan Isya jadi membeku ketika hendak membuka penutup kotak.

"Kalau mau tahu apa isinya, kamu buka aja di rumah deh! Soalnya pria yang memberikan kotak itu bilang jangan sampai ada yang tahu isi kotak itu selain dirimu. Bahkan aku yang dititipi aja juga nggak boleh tahu." Quin menjelaskan alasan kotak itu tidak boleh dibuka oleh sembarang orang.

"Hadeh... mau membuka kotak saja ada peraturannya. Ya sudahlah, aku buka saja nanti saat sampai di rumah." Isya harus bersabar sejenak hingga ia sampai di rumah. Dengan begitu ia baru bisa melihat apa isi kotaknya.

Dalam hati ia masih bertanya-tanya serta sangat penasaran dengan apa yang tersembunyi di balik kotak tersebut. "Memangnya apa isi kotak ini? Sampai-sampai aku harus membukanya di tempat yang sepi dan hanya aku sendiri."

1
Nola
keren
Wy Ky
.
Protocetus
izin promote ya thor bola kok dalam saku
〈⎳ FT. Zira
like sub dan 🌹 untukmu kak Thor🫰🫰
〈⎳ FT. Zira
aku ninggalin jejak di chapter 1 dulu ya kak.. nanti baca secara berkala...

-One Step Closer-
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!