Yuk jejak yang baik, like dan komentar yang membangun cerita Author lebih baik lagi.
ig : ny.fadli_
fb : ghassani
🌟🌟🌟
Dewi adalah wanita dengan jabatan khusus di agen BNN bisa terbilang orang kepercayaan kepala BNN.
Suatu hari dirinya ditugaskan menangkap, menggeledah bandar narkotika yang dimana targetnya adalah tunangannya yang saat itu Dewi kaget akan profesinya.
Suatu hari, Dewi berbicara empat mata pada tunangannya itu, namun tunangan nya menembak mati Dewi di sebuah ruangan, tepat di bagian dada tiga kali.
Mata Dewi masih melotot, memikirkan tunangannya itu untuk melepas profesinya, namun tidak menyangka dia memilih membunuhnya dan membuang dirinya ke laut.
Mata Dewi masih terbuka dan dendam ingin membalas semua perbuatan ini, Lalu ia bersumpah akan memberi perhitungan pada mantan tunangannya itu dan juga pemilik tubuh lemah ini, demi menjalani kehidupan baik di kesempatan hidupnya untuk tidak tertindas kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Enam
MAAF TERNYATA REVIEW BAB DI TOLAK, AUTHOR BARU REVISI MALAM JADI TUNGGU CRAZY UP HARI INI YA ALL
Enjoy and Happy Reading.
🌸🌸🌸
Bruk.
Tangan melipat cepat, membuat tubuh lawan jadi kaku, dia ingin berteriak saat Juwita mendorongnya. Tetapi Juwita sudah cepat membungkam dan memberi hitungan untuk diam.
Shut.
"Kenapa harus menghindar Viona?" berbisik.
"Lepas ga, apa sih mau kamu Juwita. Udah cukup bikin hari hari aku ga tenang!"
"Oke, gimana kita buat deal sekarang! Atau mau aku sebar kelakuan kamu diluar."
"Ga jelas, tahu apa emangnya kamu ini?"
Juwita pun memberikan sebuah video, dan percakapan antara dirinya dengan seorang pria. Viona yang melihat dengan keadaan tangan di piting hanya bisa memejamkan mata karena ancaman Juwita.
"Ahs .. Lepas dulu, oke aku turutin."
"Bawa aku ke tempat Zak ini, atau aku akan permalukan kamu lebih dalam lagi, sekaligus masuk dalam hotel prodeo. Apa kamu mau? Lihat dari gerik kamu, sepertinya memakai nya juga kan ..?"
Viona melepas, ia meraih ponselnya dan terlihat gemetar karena nama yang di minta Juwita ia sedikit penat.
"Ga usah gelisah, apa susahnya kasih tahu nomor Zak dan temuin aku dengannya." teriak naik satu oktaf Juwita.
"Iya, bisa sabar ga sih, lagian aku bukan takut karena pemakai." racau Viona, jika ia sendiri sangat takut.
"Hah .. Akhirnya buka suara juga, baru juga digituin."
Juwita masih menahan pintu toilet, berjaga di depan pintu menunggu Viona. Viona sedikit meracau, sebab ia takut kekasihnya super loyal itu terpana melihat Juwita.
"Kenapa sih bisa tahu dia, emang kamu ada hubungan apa sama pria itu?" tanya Viona.
"Bukan urusan kamu Viona, yang jelas aku menawarkan kesepakatan, apa kamu mau aku sebar tentangmu yang sekarang di rumah. Em .. Gimana ya perasaan Gwen. Mama kamu pasti senang kali ya kalau aku kasih bukti, secara memegang uang papaku lagi banyak dia." cibir Juwita membuat Viona tidak berkutik.
"Apaan sih, orang gak ikut ikutan soal warisan keluarga, gajelas banget ocehannya." balas Viona, namun di cengkram tangannya oleh Juwita.
"Aw Aw Ampun .. Sakit."
"Cepat mangkanya!"
Viona pun, menghubungi seseorang dan di minta untuk bertemu tiga jam lagi, alhasil saat Viona bisa di kendalikan olehnya. Dan hari itu, Viona pun pergi di lepas oleh Juwita yang tanpa sadar Viona di buntuti.
Juwita meraih sesuatu di bangku saat ia duduk bersama Aldo, ia hampir meninggalkan Aldo, beruntung Aldo sadar.
"Eh .. Tunggu! Juwita mau kemana, makanan dan minumnya gimana?"
"Aldo, maaf aku harus buru buru."
Juwita yang pergi, hampir kebingungan bagaimana ia bisa mengejar Viona yang saat itu naik taksi. Beruntung saat itu Aldo peka, ia berhenti dan meminta Juwita masuk.
"Ayo .. Masuk cepat!"
Juwita pun masuk, hingga saat Aldo menyetir, senyum memberi ultimatum.
"Kejar Viona, aku tahu tempat tongkrongannya. Ga perlu khawatir terlambat .."
"Sejak kapan kamu deket sama Viona?"
"Kamu lupa, aku sohib nya Arman. Sebelum dia pindah universitas di luar negeri, ternyata dia sakit dan tidak ada, hal seperti ini juga di lakukan Arman. Mungkin memang nasib nya yang umur pendek, jatuh ke kamu untuk menyelamatkan keluarganya." Aldo masih menyetir dan bercerita.
Juwita pun jadi luluh, apakah saatnya ia harus melibatkan Aldo dengan masalah intinya yang rumit. Dan saat kehilangan jalan taksi keberadaan Viona, wajah sebal Juwita terlihat membuat Aldo membelok melintas jalan menyempit, namun sebelum Juwita memberontak mobil Aldo berhenti mengejutkan.
"Lihat dari sini aja, bentar lagi juga Viona keluar. Apa kamu janjian ketemu seseorang di sini?"
"Hm .. Enggak, Aldo selain tentang Viona. Kamu tahu banyak hal apa lagi tentang keluargaku saat kamu jadi detektif dengan kak Arman?"
"Banyak .. Aku cuma lihat orang seperti apa, dan ada lima tempat yang Arman datangi, aku yang antar."
Oh ..
Juwita pun menunggu di dalam mobil, beberapa saat ia makan dan minum yang di pesan oleh Aldo, mungkinkah Viona tidak ada disini.
"Kita pulang aja, udah setengah jam disini."
"Lihat itu .." Aldo yang menunjuk dengan bibirnya, membuat Juwita yang sedang makan kentang menatap lurus, sebab benar Viona turun dengan seseorang.
Juwita meraih kacamata hitam, rambut nya ia ikat bulat, dan memakai sweater Hoodie lengkap penutup kepala.
Aldo meraih tangan Juwita, ia meminta Juwita tetap di mobil, dan membiarkan Aldo yang membantunya untuk turun.
"Biar aku aja, anggap sebagai uang berobat kemarin aku berterimakasih, aku juga masih hutang budi banyak sama Arman. Jadi libatkan aku kapanpun kamu mau Juwita, aku ikhlas tanpa dibayar tanpa balasan."
Kata kata Aldo, membuat Juwita senyum. Memberikan sebuah kamera dan alat kecil seperti perekam tak terlihat yang di sembunyikan di dalam sebuah pena, sementara Juwita di dalam mobil masih memantau pergerakan Viona dengan dua orang melalui smartphone pintar, sebab Aldo sudah berpura pura menjadi tukang pemburu sampah dengan tampilan yang tidak di kenali.
'Good Aldo, terimakasih. Atas nama semesta yang berpihak, terimakasih sudah memberi jalan untuk Juwita.'
🪻🪻🪻
Esok hari, Juwita hampir saja kesiangan. Hal seperti biasa yang dilakukan kediaman di rumahnya, yakni melihat Meta semakin sombong, bahkan makan di meja makan saja terlihat jijik jika Juwita ikut bergabung meraih sarapan.
Gwen pun makan steak pagi pagi, memotong sambil menyindir membuat Juwita yang duduk meraih sepotong roti tersenyum miring.
"Anak tidak tahu diri, kenapa juga harus di rumah ini sih. Jadi sampah kok betah ada di istana ku."
"Hah .. Haa haa." gelak tawa Juwita membuat yang lain menatap aneh.
"Sakit Jiwa lo ya, ketawa kenceng kenceng ga ada yang lucu juga." sebal Meta, saat itu.
Bruk.
"Kalau aku sampah, berarti kalian kotoran yang menyelip di sebuah sampah. Paham kan sampai disini Tante ..?"
"Kau .. Berani begitu sama mama Gwen." teriak Meta, yang tak suka Juwita selalu membangkang.
"Kalau aku berani emang kenapa, memang kamu siapa Meta. Hanya anak selingkuhan saja berani mengusik Juwita."
"Kamu sembarangan kalau bicara ya! Aku adukan ke Dad .."
"Ada apa ini, kenapa berisik sekali sih." teriakan Gober, dengan style an kuno meski pakaian mahal, tetap saja wibawa dan aura ketampanan gagah tidak di miliki.
"Dad .. Juwita bilang aku anak selingkuhan! Huhu .. Terus udah berani mengusik mama Gwen, dan Viona kenapa kamu diam aja mama kamu ditindas." Meta mengadu membuat Juwita masih santai melahap sarapannya, melihat Viona bagai anak linglung tidak seperti biasanya, sudah membuat Juwita senang.
Gober pun mendekat, lalu bertanya langsung pada Juwita saat itu juga.
"Juwita kamu .."
"Paman ga usah buang buang tenaga marah, kalau aku punya bukti. Apa paman mau berita ini tersebar, paman lupa kalau ibu dari Meta ini seorang istri dari abdi negara, emang sih cinta pertama paman. Tapi kalau aku adukan, bukan cuma karier dua orang yang jelek, mungkin paman bisa .. DI D O R. Haa .. " tawa Juwita membuat Gober kesal, bahkan tangannya membentuk pistol ke arah kening.
"Ikut aku ke ruangan kerja Juwita. Paman harus bicara tentang papa mu."
Gober pergi, sementara Juwita tahu maksud dari sang paman, ia takut rahasianya terbongkar dan penghuni lain di meja jadi penasaran dan mencari lebih dalam siapa yang di maksud omongannya pagi ini.
Dad .. ( Meta di cuekin, sementara Juwita memberi kiss by untuk semua orang di meja makan.)
Krek ..
Menutup pintu, Juwita berdiri dengan santai. Tidak habis pikir pamannya bisa tenang duduk di meja kerja kebesaran sang papa. Juwita senyum miring, masih menatap punggung Gober.
'Aku akan tenggelamkan paman lebih dulu.' racau nya dan tersadar saat Gober membalikan badan.
BERSAMBUNG ..
sikit2 pun xda ke, payahlah macam nie😪