(Dalam Revisi)
Setelah mengalami pelecehan, dan mengalami depresi, serta dalam keadaan mengandung, Latifa diasingkan ke suatu tempat oleh keluarganya ke kampung halaman sang nenek.
Empat tahun kemudian, Latifa kembali ke kota dan mendapatkan pekerjaan di sana demi sang putra semata wayang. Ketika sesekali sang putra di bawa ke kota, Latifa harus dihadapkan pada pertemuan kembali dengan lelaki yang pernah merenggut kesuciannya sekaligus ayah biologis dari putra semata wayangnya.
Latifa berusaha menghindar dan menyembunyikan identitas sang anak. Namun sia-sia.
Setelah gagal menghindari pria yang pernah merenggut kesuciannya, Latifa terpaksa menerima tawaran pernikahan dari lelaki itu demi sang anak.
Lalu apakah akan hadir cinta setelah pernikahan itu, dan mampukah Latifa diterima dengan baik oleh keluarga lelaki yang pernah merenggut kesuciannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Fakta Mencengangkan
Kening Latifa mengkerut dalam, setelah mendengar pengakuan dari Gaza. Papa? Papa siapa? Adakah seseorang atau lelaki lain yang mendatangi Gaza dan mengaku sebagai papanya Gaza?
Beberapa menit kemudian, Nek Romlah dan Kakek Prana datang dari belakang. Wajah kedua orang tua itu mendadak terlihat pucat dan takut ketika melihat Latifa.
"Latifa?"
"Nenek, Kakek, apa kabar? Lama Tifa tidak ke sini, tapi rumah Nenek dan Kakek sudah berubah seperti ini." Latifa menyambut nenek dan kakeknya sembari mencium tangan kedua orang tua itu.
Latifa sudah tidak sabar bertanya banyak tentang hal yang terasa janggal dan baru dilihatnya di rumah nenek dan kakeknya ini.
"Sebentar Sayang, mama mau bicara sama nenek dan kakek buyut. Aza main dulu di depan. Mama bawa oleh-oleh banyak di dalam kantong itu," bujuk Latifa seraya beranjak dan duduk di kursi yang masih terlihat masih baru.
"Nek, sejak kapan rumah ini direnovasi begini? Lalu siapa yang disebut papa oleh Gaza tadi, Tifa menjadi berpikiran, jangan-jangan kalian telah mengenalkan seseorang pada Gaza, lalu menjanjikan sesuatu?" tanya dan tebak Latifa penasaran.
Nek Romlah dan Kakek Prana sebentar saling melempar pandang, ada risau dari raut wajah keduanya.
"Rumah ini berubah seperti ini sudah kurang lebih dua bulan yang lalu." Kakek Prana menjawab sembari sesekali menatap ke arah Nek Romlah.
"Dua bulan? Apakah yang memperbaiki rumah ini, adalah orang yang berkaitan dengan orang yang disebut papa oleh Gaza?" Latifa kembali bertanya dengan kening semakin mengkerut dalam.
Nek Romlah dan Kek Prana kembali membeku, yang mampu mereka lakukan hanyalah saling menatap risau. Hal itu membuat curiga pada diri Latifa.
"Kenapa Nenek dan Kakek diam, pasti ada yang kalian sembunyikan?" Mata Latifa menatap dalam wajah kedua nenek dan kakeknya itu.
"Sebenarnya kami ...."
"Ayolah, Ne. Jujurlah, Tifa akan mendengarkan kalian." Latifa mendesak.
Setelah beberapa saat saling pandang dan sepakat yang akan bicara adalah Kakek Prana, Latifa dengan serius siap-siap mendengarkan.
"Awalnya ...."
Akhirnya Kakek Prana menceritakan awal kedatangan seorang lelaki muda yang mengaku sebagai ayah biologis Gaza. Dengan sungguh-sungguh lelaki yang bernama Pradika itu mengungkapkan penyesalan akan dosa dimasa lalu yang dia lakukan atas jebakan seseorang.
Setelah berusaha meyakinkan dan membuat kakek dan nenek Latifa percaya, Pradika mulai mendekati Gaza. Memberikan perhatian lebih dan mencurahkan kasih sayang, lalu meyakinkan bahwa dirinya adalah papa biologis Gaza, sehingga berhasil membuat Gaza memanggil Pradika dengan panggilan papa.
Melihat Gaza dan Pradika begitu dekat dan akrab, nenek dan kakek Latifa tidak rela seandainya mereka dijauhkan. Pada akhirnya Nek Romlah dan Kek Prana, awalnya terpaksa menerima kehadiran Pradika hanya untuk Gaza. Namun seiring waktu, Dika memperlihatkan ketulusan dan kebaikannya, sampai ketika meminta ijin untuk memperbaiki rumahnya yang sebagian sudah mulai bocor dan rusak, Kakek Prana dan Nek Romlah tidak bisa menolak.
Akan tetapi, selama Dika mengunjungi rumah Kakek Prana, Pradika meminta kedua orang tua itu untuk tidak menceritakan terlebih dahulu tentang kedatangan dirinya ke rumah mereka kepada orang tua Latifa di kota atau kepada Latifa sekalipun.
Kakek Prana dan Nek Romlah menyanggupi, asal Dika yang bertanggung jawab atas semua ini. Dan Dika menyanggupinya.
Kakek Prana mengakhiri ceritanya dengan mata menatap jauh. Tarikan nafasnya dalam setelah ia menceritakan semuanya.
Cerita Kakek Prana, sungguh mencengangkan bagi Latifa. Untuk beberapa saat dia hanya mampu membeku tanpa kata.
"Mama, kenapa Mama tidak datang bersama Papa?" celoteh Gaza yang tiba-tiba berlari dari luar merangkul tubuh Latifa.
Belum usai ketercengangannya karena cerita dari Kakek Prana, kini ditambah lagi dengan sikap Gaza yang antusias menanyakan kehadiran papanya, yang sudah jelas yang disebut Gaza sebagai papa adalah Pradika.
"Sejak kapan laki-laki bajingan itu mulai memberi pengaruh pada kakek dan nenekku juga Gaza? Dia ternyata sangat licik, berani memainkan siasat di belakangku. Lalu apa maunya?" Dalam hati Latifa berbicara dengan perasaan yang sungguh kesal pada Pradika.
"Tifa, jika seandainya keputusan kakek menerima kehadiran Pradika, tidak berkenan di hati kamu, maka kakek mohon maafkan kelancangan kakek menerima semua yang Pradika lakukan terhadap kami.
Latifa tidak menyahut, tatapnya kini beralih pada Gaza. Banyak tanya di sana.
"Pradika, kenapa semakin hari semakin berani saja? Dia kini sudah mendapatkan hati nenek dan kakek serta Gaza. Tapi, jangan harap kamu bisa meraih hatiku," tegasnya mendengus.
Meskipun hati Latifa dilanda perasaan dongkol terhadap Dika, Latifa terpaksa menerima kenyataan ini yang menurutnya pahit.
Dua hari kemudian Latifa terpaksa harus kembali ke Jakarta, dan meninggalkan kota Bogor dan juga anak semata wayang.
"Mama harus kembali ke Jakarta, karena mama masih punya kewajiban pada restoran tempat mama bekerja," alasan Latifa sedih. Gaza merengut tidak terima.
"Sebentar lagi Aza masuk sekolah, Mama akan bawa Aza ke Jakarta dan sekolah di sana. Jadi, untuk sementara Aza tinggal bersama nenek dan kakek buyut dulu," bujuknya lagi tidak putus asa.
"Asikkkk, kalau Aza sekolah di Jakarta, nanti bisa ketemu Papa," girangnya. Latifa hanya diam membeku. Nyatanya tanpa Gaza dan nenek kakeknya tahu, orang yang dibahas Gaza dan disebut sebagai papa itu, kini sudah memaksa menjadi istrinya. Dan mereka sah secata hukum agama maupun negara.
"Nek, Kek, Tifa pamit dulu, ya. Titip Gaza," Latifa berpamitan setalah Latifa berhasil membujuk Gaza untuk membiarkannya kembali ke Jakarta.
"Dah Mama, temuin Papa di Jakarta, ya," lambainya seraya berkata yang membuat hati Latifa semakin sedih.
Latifa segera menaiki gojek pesanannya untuk tiba di terminal bis Bogor. Sayangnya tepat di tengah jalan, tiba-tiba hujan mendera begitu lebatnya. Terpaksa Kang gojek menepi dan membawa berteduh motor dan Latifa di sebuah halte.
"Hujannya lebat, Neng. Kita berteduh dulu," ujar Kang gojek, alhasil Latifa segera turun dari motor dan berteduh di bawah atap halte yang tidak begitu lebar.
Hujan sudah berlangsung kurang lebih 10 menit, dan Latifa masih berteduh di sana, hanya dirinya dan kang ojek. Perasaan Latifa mendadak tidak enak, dalam keadaan hujan begini dia berdua dengan orang asing. Latifa berdoa semoga hujan ini segera reda.
Saat hati Latifa risau karena hujan semakin lebat, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Latifa terkejut plus senang, sebab mobil itu milik Dika. Dia tahu hafal betul dari nomer polisinya.
"Dika? Apakah ini kebetulan atau dia memang sengaja habis menemui Gaza secara sembunyi-sembunyi dari aku?"
"Fa, kamu mau menunggu hujan reda sampai kapan? Masuklah," titah Dika seraya membuka pintu mobil untuk Latifa dari dalam.
Latifa masih enggan dan jual mahal atas tawaran Dika. "Sayang, masuklah. Ini hujannya bakal menyita waktu lama. Apakah kamu mau menunggu lama di sini bersama Mas ojek itu?" bujuk Dika seraya meraih payung dan pada akhirnya dia turun dari mobil menuju Latifa.
"Maaf Mas, penumpang ini istri saya dan saya akan bawa dia dengan mobil saya. Ini ongkos gojeknya saya bayar." Dika berbicara pada Kang ojek lalu memberikan sejumlah dua lembar uang merah, padahal baik Latifa dan Kang ojek belum ada kesepakatan untuk saling lepas tumpangan.
"Baiklah Mas, terimakasih banyak. Silahkan bawa saja kalau memang si Eneng ini istrinya," balas Kang ojek sembari senyum sumringah.
Latifa terperanjat mendengar tukang ojek itu sudah menyerahkan dirinya pada Dika. Dengan hati yang gelisah Latifa masih pura-pura tidak mau ikut Dika.
"Sayang masuklah," titahnya. Latifa menatap Dika sesaat dengan dilakan yang kurang suka.
"Ah baiklah kalau begitu, aku tinggalkan saja kamu di sini bersama Kang ojek. Aku tidak peduli kamu gimana-gimana," ujar Dika menyerah seraya bermaksud melangkahkan kakinya dari halte itu.
"Tunggu, aku terpaksa ikut," tahan Latifa membuat senyum di bibir Dika. Akhirnya Latifa masuk ke dalam mobil Dika yang sejak tadi pintunya sudah Dika buka. Dika tersenyum senang, sebab hujan ini sepertinya akan menjadi berkah untuk dirinya.
Gimana nih kelanjutannya? Apa yang akan terjadi selanjutnya dalam perjalanan mereka kali ini?
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
lanjuut 😊