NovelToon NovelToon
ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

Status: tamat
Genre:Suami ideal / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Mafia / Tamat
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.

Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.

Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.

Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.

Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26. Siapa Dio?

Kelaya sangat bersemangat memulai harinya, udara pagi yang cerah, sapaan penduduk yang ramah meskipun sebagian besar Kelaya tidak mengerti, tapi cukup melihat senyum para penduduk desa sudah membuat perempuan itu cukup berenergi dan suasana hatinya perlahan membaik. Ia mendatangi kios yang kemarin dia lihat terdapat papan yang menuliskan butuh karyawan secepatnya, butuh beberapa menit sampai Kelaya berhasil meyakinkan si pemilik kios kalau dia orang yang berdedikasi tinggi, bisa bekerja di bawah tekanan dan siap belajar untuk bisa mulai bekerja.

Ah, ibu si pemilik kios tidak terlalu mengerti bahasa-bahasa perkotaan yang sulit, baginya melihat semangat dan niat si pelamar sudah cukup untuk menerima Kelaya mulai bekerja sebagai penjaga kios sepatu. Senyum selalu merekah pada wajah manisnya, meski tidak menggunakan bahasa daerah, Kelaya cukup bisa menarik pembeli dengan bahasa tubuh dan bahasa isyarat agar orang-orang mampir dan membeli. Hingga waktu siang menjelang, si pemilik kios menyuruh Kelaya untuk istirahat.

Kelaya memilih duduk di samping kios dan membuka kotak bekal makan siangnya yang sederhana. Ia menyantap makanannya dengan hati yang puas dan bangga. Ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat berharga. Ia akan menunjukkan pada Elkan, bahwa dia juga bisa mendiri. Ah, lagi-lagi nama pria itu masuk ke dalam kepalanya. Bikin suasana hatinya bergoyang saja.

Cekrek!

Suara kamera yang terlalu terdengar itu membuat Kelaya menolehkan kepalanya. Pria itu ada lagi disana dilengkapi senyumnya yang lebar dengan seringai jahil yang khas.

"Kau memotretku lagi?!" Kelaya melotot pada Dio yang tengah terkekeh melihat hasil potretnya Kelaya pada ponsel yang dipegangnya.

"Lihat, mulutmu terbuka lebar sekali, kau mau makan nasi atau mau makan batu?"

"Cepat hapus!"

"Astaga. kenapa galak sekali." Dio menghapusnya, dan menunjukkan layar ponselnya pada Kelaya sebagai bukti poto aib perempuan itu sudah dihapus.

"Kau bekerja sekarang?"

"Hm," Kelaya melanjutkan makannya.

"Dimana suamimu?"

"Kerja di ladang." jawab Kelaya sekenanya. Padahal bisa saja Kelaya bilang itu bukan urusan Dio, tapi entah kenapa dia ingin Dio tahu bahwa dia dan suaminya baik-baik saja.

"Dan suamimu membiarkanmu bekerja di tempat yang jauh dari rumah?"

Kelaya melihat Dio dengan tatapan sengitnya. "Bukan urusanmu. Sana pergi, menganggu waktu istirahatku saja."

Alih-alih menurut dan pergi, Dio malah ikut duduk di sebelah Kelaya, dia meluruskan kakinya yang panjang, kemudian meletakkan tas kamera yang selalu dibawanya itu dengan hati-hati di atas jalanan pasar.

"Kalau kau jadi istriku, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, tidak perlu kau harus bekerja jauh dari rumah."

"Aku bekerja karena aku ingin." jawab Kelaya, masih dengan nada ketus yang membela sisi suaminya. Meski pun sebenarnya hatinya terasa nyeri.

"Ya tidak apa-apa, tapi aku akan mengantarmu, atau kalau pun aku tidak bisa mengantarmu, aku akan mempekerjakan seorang supir yang siap sedia antar dan jemput kau."

"Suamiku juga sudah membayar orang untuk antar dan jemput aku." Sahut Kelaya masih dengan nada membela Elkan. Ia tak sepenuhnya berbohong, kan? Pak Andri memang dibayar Elkan untuk mengantar ke pasar.

Dio tidak menyela kalimat pembelaan Kelaya, tapi pria itu hanya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.

"Kenapa kau tidak bekerja saja denganku? Aku akan memberikanmu gaji besar dibandingkan kerja disini."

Kelaya mengerutkan keningnya, "Aku tidak berniat menjadi model."

"Hei, hei, jangan kelewat geer, aku tidak menawarimu bekerja sebagai model."

Kelaya melemparkan tatapan sengit pada Dio yang ditanggapi kekehan santai pria itu. "Kau bisa bekerja sebagai asistenku. Misalnya, kau bisa mengaturkan jadwal untukku, menunjukkan tempat-tempat yang bagus di desa ini."

"Tidak tertarik, kau cari saja orang lain."

"Apa kau takut suamimu tidak memberikanmu ijin?"

"Dia pasti akan mengijinkanku."

"Benarkah? Memangnya dia tidak akan cemburu kalau kau bekerja dengan pria lain?"

"Suamiku bukan pria pecemburu."

"Wah, patut dipertanyakan cintanya padamu." Ujar Dio dengan nada provokasi yang membuat Kelaya berhenti mengunyah dan menatap Dio dengan tatapan sebal. Kemudian tinju dari kepalan kecil tangannya mendarat pada lengan Dio.

"Sana pergi! Kau membuatku kehilangan selera makan saja!"

Dio melongok ke arah kotak makan yang dipegang Kelaya, kemudian berkata, "Kehilangan selera makan tapi isinya sudah habis tuh!"

"Berisik!" Kelaya berdiri, hendak meninggalkan Dio, tangan tang pria itu sekonyong-konyong menahan tangan Kelaya.

"Aku serius dengan tawaranku. Pikirkanlah."

* * *

Satu minggu sudah Kelaya bekerja di pasar, pergi pagi-pagi sekali diantar Pak Andri, pulang terkadang bareng dengan Pak Andri lagi tapi terkadang dengan naik turun angkutan umum, lanjut naik ojek. Tidak sekali pun Elkan menawarkan diri untuk mengantar dan menjemputnya meski pria itu tahu perjalanan panjang yang dilalui Kelaya setiap hari bisa membuat tubuh perempuan itu kehilangan banyak energi.

"Kau terlihat pucat." kata Elkan tiba-tiba ketika mereka berpapasan di antara pintu dapur dan ruang tengah.

Kelaya menatapnya dengan tatapan datar, sebelum merespon kalimat datar pria itu dengan sebuah kata tanya yang bernada datar juga, "Lalu?"

"Kau bisa jatuh sakit jika terus memaksakan dirimu bekerja seperti ini setiap hari."

Kelaya tersenyum tipis dan sinis, "Tidak perlu membebankan dirimu dengan peduli kepadaku. Lakukan saja seperti yang biasa kau lakukan, yaitu mengabaikanku." kata Kelaya seraya berlalu melewati Elkan, tapi baru beberapa langkah, tubuh Kelaya terhuyung, Elkan mengulurkan tangannya tepat waktu. Ia membawa Kelaya untuk duduk sementara dirinya berlutut di depan Kelaya.

"Kau sakit." katanya.

"Sudah kukatakan abaikan saja aku seperti biasa." kata Kelaya, ia hendak berdiri, tapi kepalanya memang terasa berat. Jadi dia kembali duduk.

"Kita ke klinik sekarang." Elkan berdiri hendak membantu Kelaya juga untuk berdiri. Tapi Kelaya menepis tangan Elkan dengan kasar.

"Lepas! Kau mau apa? Apa kau lupa untuk menjaga jarakmu dariku? Aku tidak mau ya dituduh memancing hasrat mu itu!"

Elkan membuang napas pelan, dia kembali berlutut di depan Kelaya, tatapannya dalam dan lekat memasuki hazel milik Kelaya.

"Aku...minta maaf, malam itu aku sudah keterlaluan."

Kelaya memalingkan wajahnya, giginya menggigit dinding dalam mulutnya, menahan sekuat tenaga untuk tidak luluh pada tatapan pria itu. Permintaan maaf yang sangat tiba-tiba dan terdengar kaku itu justru membuat pagar kawat berduri yang dibangun Kelaya nyaris rubuh diterpa kuatnya angin yang meniup.

Kelaya memilih diam, dia takut, getaran dalam dadanya akan menggoyahkan pertahanannya untuk tidak lagi berharap pada gunung es di hadapannya itu.

"Aku tahu aku membuatmu marah. Aku tahu aku terlambat untuk minta maaf." kata Elkan lagi.

Kelaya masih betah dengan diamnya.

"Maaf, aku butuh waktu untuk-"

Tin! Tin!

Suara klakson mobil Pak Andri menyela ucapan Elkan yang sudah berhari-hari ia latih di depan cermin. Elkan memejamkan matanya sesaat, menahan rasa kesal di ujung tenggorokan.

"Kau di sini saja."

"Aku harus berangkat sekarang." kata Kelaya.

"Aku tidak mengijinkanmu bekerja."

"Aku tidak meminta ijinmu."

"Aku akan memecat Pak Andri jika kau tetap pergi."

"Hei! Mana bisa begitu!"

"Bisa. Aku bisa melakukannya."

"Ugh!" Kelaya kembali duduk, tangannya terlipat di depan dada, bibirnya maju sepanjang penggaris ukur di bengkel.

Elkan menahan bibirnya agar tidak tersenyum melihat tingkah Kelaya, dia berdiri untuk menemui Andri di luar.

"Jang!" Pak Andri menyapa lebih dulu.

Semakin kesini, gaya berpakaian Andri dan gaya sisiran rambutnya semakin membuat Elkan mengerutkan dahi. Jika awal-awal dulu Andri bergaya pakaian sederhana dengan kaus dan jins, kini pria itu telihat berusaha sangat keras untuk tampil modis. Seperti pagi ini, orang itu mengenakan kemeja motif kotak-kotak besar berwarna kuning neon yang dimasukkan ke dalam celana bahan berwarna hijau botol, ikat pinggang kulit imitasi, rambut keriting yang diolesi minyak cukup banyak agar bisa disisir klimis dan mengilat.

"Kelaya tidak ke pasar." kata Elkan langsung pada intinya.

"Oh..." Andri terlihat sedikit kecewa karena penampilannya yang luar biasa akan menjadi sia-sia.

Sialan! Elkan mengutuk dalam hatinya. Tangannya mengepal erat di dalam saku celana olahraga hitam yang dikenakannya.

"Oh, tapi ini tadi ada titipan untuk Neng Kelaya. Dari temannya, tadi saya papasan."

"Teman?" Elkan menerima sebuah paper bag yang diulurkan Andri.

Kini perasaan Elkan bercampur-campur seperti es buah dengan berbagai macam buah yang dicampur menjadi satu dalam sebuah wadah. Elkan kembali ke dalam pondok tanpa harus menunggu Andri pergi lebih dulu, dia sudah berniat untuk berhenti menggunakan jasanya.

"Kau mendapatkan sebuah titipan dari teman," kata Elkan memberikan paper bag tadi kepada Kelaya. "Apa aku mengenalnya?"

Kelaya tidak langsung menjawab pertanyaan Elkan, sebelum memastikan siapa 'teman' yang mengirimkannya paket ini. Kelaya mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantong kertas itu, kotak yang membuat kedua alis Kelaya bergerak naik sangat tinggi.

"Handphone? Aku dapat handphone?" katanya pada dirinya sendiri, dengan nada terkejut juga setengah antusias untuk melihat isinya.

Alat komunikasi jarak jauh itu membuat kedua mata Kelaya berbinar melihatnya. Sudah lama sekali dia tidak menggunakan ponsel. Sementara Kelaya sibuk mengagumi ponselnya, Elkan mendapati secarik pesan yang tertinggal di dalam kantong kertas tadi.

"Siapa Dio?" Nada tanyanya tajam dan dingin menusuk.

.

.

.

Bersambung~~>>

1
Mrs. Ketawang
Dio itu Zeon
Mrs. Ketawang
kaaannn Dio itu penjahat😡
Mrs. Ketawang
keren ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
jurigen bgt kalo Dio musuh dlm selimut
Mrs. Ketawang
Dio nih misterius
Mrs. Ketawang
siapa sbnarnya si Dio ini,sok knal sok dekat bgt sama Kelaya😏
Mrs. Ketawang
mau di peluk jg sama bang Elkan😍😍
Mrs. Ketawang
lagi sweet"nya😍
Dio ganggu aja😁
Mrs. Ketawang
Bagus ceritanya...
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
WOUW....baru pertama ketemu lgsung ngajak nikah aja nih Kelaya🙈
Nelita Nopitasari
penuh teka teki🤔
Youleannaa
bagus ,,,
Desty Winianti
padahal ceritanya bagus..tp yg.baca cuma sedikit....mungkin blum pada Nemu. ini novel
Lovely Shihab
Tegang, seru, romantis n keren, dikemas apik ma author. Keren kamu thor, the best 👍👍👍👍
Lovely Shihab
Paling benci lihat orang keras kepala. Disuruh dirumah aja tetep keluar
apajalah
👌👌🍂👌🍂🍁
apajalah
bravo🍂🍁🍂🍁🍂👌👌👌
Yustika PAMBUDI
sepertinya cinta segitiga Dio, elkan dan pacarnya yg meninggal ya... ?
Siska Febriana
Dio itu ya Zeon
Lastri Naila
ceritanya bagus sekali...untungnya aq senang dgn novel yg tamat jd gak nunggu nunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!