NovelToon NovelToon
JANJI Yusuf & Sari

JANJI Yusuf & Sari

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Spiritual / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: David Purnama

Kisah asmara antara Yusuf seorang pemuda yang sedang dalam pencarian jati dirinya dengan Sari sang bunga desa. Lika-liku perjuangan kehidupan dan jalan yang telah digariskan mempertemukan mereka. Novel ini bercerita tentang cinta, persahabatan, kondisi sosial dan semangat pantang menyerah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI PULANG

Bapak sempat terkejut ketika di sore hari saat ia pulang kerja melihatku sudah berada di depan rumah dinasnya.

Ada hal sangat penting yang ingin aku bicarakan kepadanya kataku.

Kami berdua pun masuk ke dalam rumah dan bapak menyuruhku untuk menunggu selagi dia bersih-bersih diri.

Segera setelah bapak datang aku langsung memberikan surat dari Yusuf yang dialamatkan ke rumah kami di desa Tunggal.

Bisa dilihat dari ekspresi wajah bapak bahwasanya bapak begitu keheranan setelah membaca surat itu. Kemudian bapak pun kembali menyuruhku untuk menunggu.

Kali ini bapak berjalan keluar, ada seseorang yang juga tinggal di perumahan ini yang ingin bapak temui. Tidak lupa bapak pun membawa surat milik Yusuf itu bersamanya.

Setelah cukup lama akhirnya bapak kembali ke rumah untuk menemui ku. Bapak berkata bahwa besok ia akan meminta konfirmasi lebih lanjut tentang berita ini kenapa sampai bapak tidak mengetahui kabar tersebut.

Malam harinya atas permintaan ibu juga aku menceritakan tentang Mbak Sri yang menyuruh untuk merahasiakan kabar ini kepada anaknya sendiri.

Ternyata pendapat bapak juga sama dengan apa yang disampaikan oleh ibu untuk tidak mencampuri urusan dalam rumah tangga orang lain.

Siang harinya ketika jam istirahat bapak datang membangunkan ku ketika aku yang awalnya berniat hanya tidur-tiduran saja malah benar-benar pulas tertidur.

Bapak menjelaskan tentang kenapa dirinya sampai tidak diberi tahu tentang kabar yang menyatakan bahwa Yusuf memang masih hidup.

“Memang begitulah To. Terkadang apa yang kita anggap sangat penting belum tentu itu ada artinya di mata orang lain”,

itulah kalimat penutup dari penjelasan bapak.

Bapak dan aku sepakat untuk menulis surat balasan kepada Yusuf.

Bapak bilang untuk menggunakan alamatnya yang di sini sebagai alamat pengirim dan juga membujuk Yusuf supaya mau untuk singgah di sini dulu ketika ia pulang di jatah liburnya nanti.

*

“Setan.”

Ternyata itu bapak tua yang aku dulu temui di ruang administrasi ketika aku mengantar surat. Pak Tua yang mengira aku sudah mati.

Aku tersenyum ketika melihatnya. Lalu aku menghampirinya untuk duduk di bangku kosong yang ada di sampingnya.

“Libur juga Pak?”

“Sudah tahu kenapa kau tanya?”

“Bapak pulang kemana?”

“Aku Surabaya.”

“Aku mau ke Jakarta”,

aku menjawabnya dulu sebelum pak tua itu bertanya kemana tujuanku dan itu cukup berhasil membuatnya tersenyum.

Suasana ini benar-benar berbeda. Suasana ketika perjalanan pulang.

Pikiran yang lepas dari pekerjaan untuk sementara waktu rasanya juga menjadikan tubuh ini terlepas dari segala tuntutan untuk melakukan ini dan itu yang menjadikan badan ini begitu ringan.

Tidak terasa seperti baru kemarin naik kapal laut, kini sudah hampir satu tahun aku bekerja di perkebunan dengan segala lika-liku peristiwa yang terjadi.

“Sudah berapa lama sejak kepulanganmu yang terakhir kalinya?”

“Ini baru pertama kalinya saya pulang Pak?”

Bapak itu tampak terkejut.

“Bukannya kau sudah cukup lama bekerja?”

“Aku baru satu tahun Pak.”

“Kelewat rajin kamu. Kamu pikirkan juga kesenanganmu. Tapi memang kebanyakan orang-orang yang pertama kali bekerja biasanya kalau tidak kuat lalu kabur atau seperti kamu ini kerjanya kelewat batas.”

Aku tidak terlalu menanggapi perkataan Pak Tua ini. Ini pertama kalinya aku mendengar dia berbicara dengan kalimat yang cukup panjang.

“Jangan terlalu lugu. Belum tentu yang sepertinya terlihat peduli benar-benar peduli. Itu karena memang kita terjebak dalam situasi. Aku tidak mengatakan semua orang itu punya niatan licik dan memintamu untuk berlaku seperti itu. Tapi memang seperti itulah dunia kerja.”

“Maksudnya Pak?”, tanyaku.

“Tidak apa,” sambil ia menepuk pundakku.

“Nanti kamu tahu sendiri”, pak tua itu masuk ke dalam kapal.

Aku masih berada di deck kapal setelah obrolan dengan Pak Tua itu.

Bayangkan saja kami harus berbicara dengan sedikit berteriak agar suara kami bisa saling terdengar untuk menyaingi suara air laut yang dilalui kapal dan suara mesin kapal yang juga cukup keras terdengar.

Masih saja ada yang mengganjal dalam pikiranku.

Kenapa Sapto menyuruhku untuk datang ke alamatnya yang di Jakarta dan menahan ku untuk langsung pulang ke Tunggal?

Aku benar-benar tidak ada petunjuk untuk itu. Ataukah dia cuma ingin pamer saja dengan mengajakku berkeliling ibu kota?

Aku terbangun begitu kapal yang kami naiki sudah berlabuh.

Aku melihat ke sekeliling Pak Tua itu sudah tidak ada. Lagi-lagi aku lupa siapa nama bapak tua itu.

Ternyata tidak memerlukan waktu yang lama untukku sampai ke alamat yang ditujukan Sapto padaku.

Sehabis turun dari kapal aku hanya perlu berganti satu angkutan saja untuk sampai di komplek perumahan para pekerja di sini.

Aku pun tidak perlu bertanya ke sana ke mari untuk menemukan alamat rumahnya.

Nama-nama gang dan juga nomor-nomor rumah yang tampaknya masih baru ini memudahkan ku untuk mencari dimana tempat yang ditinggali Pak Yanto.

Gang B Nomor 8.

Aku cocokan lagi alamat yang ada di amplop surat dan juga sebuah rumah berukuran sedang yang kini ada di hadapanku.

Memang benar ini alamatnya tapi kenapa pintunya terbuka?

Apa jangan-jaang Pak Yanto sudah memboyong Sapto dan Budhe Yati kesini.

“Permisi”,

aku sudah berada di depan pintu rumah yang terbuka itu.

Seseorang yang tidak asing bagiku keluar dari rumah dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan sarung.

Ia tampak bingung melihatku.

Dia memandangiku dari kaki hingga ujung kepalaku berulang-ulang.

Aku tutup kumis ku dengan menggunakan dua jari.

Rasanya jika hanya rambutku yang sedikit panjang saja pasti dia tidak akan pangling.

Ekspresinya pun sontak berubah. Matanya membelalak dan senyum lebar menyeringai di wajahnya.

Aku langsung memeluknya ketika ia hendak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.

“Suf... Suf...”

Sapto mendorongku.

“Bau badanmu.”

Aku membenarkan perkataannya. Seharian dalam perjalanan memang membuat badan menjadi lepek dan bau.

Meskipun aku tahu itu aku sengaja memeluknya.

“Mandilah dulu sana”, suruhnya.

Setelah selesai mandi aku yang tadi sempat berpikir aneh ketika melihat Sapto pertama kali tadi ketika ia hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada waktu menemui ku, kini aku pun ikut berpenampilan sepertinya.

Udara di sini panasnya tidak enak, mungkin itu juga yang Sapto rasakan.

“Pada kemana orang-orang To?”

“Masih pagi seperti ini mereka pada masih di kantor.”

Aku dan Sapto berbincang panjang lebar sambil tiduran di lantai ubin yang dingin di hawa Jakarta yang panas.

Aku ceritakan segala pengalaman yang aku alami selama aku bekerja di perkebunan. Cerita-ceritaku membawa kami dalam tawa yang layaknya orang gila yang tak berhenti-hentinya tertawa terbahak-terbahak.

Ceritaku juga mengheningkan suasana sejenak.

Dia pun juga menceritakan bagaimana keadaannya dan juga bagaimana keadaan di desa Tunggal beserta kabar orang-orang di sana.

Ketika aku hendak bertanya soal Sari ia menjawab dengan mengalihkan pertanyaanku.

Apa yang disembunyikannya?

Aku tunggu saja biar nanti dia bercerita dengan sendirinya.

“Memangnya kau sudah menetap di sini To?”

“Aku hanya sekedar berkunjung saja.”

“Sudah berapa hari kamu di sini To?”

“Hari ini”, jawabnya.

Sapto melanjutkannya dengan tersenyum.

“Aku tidak lebih dari 10 menit dari kamu Suf.”

“Ketika kamu datang tadi aku baru saja selesai mandi setelah sampai sini.”

Aku pun juga turut tertawa mendengar penjelasan Sapto. Ternyata dia baru saja sampai di sini juga hari ini.

Dia juga menjelaskan kunjungannya kali ini karena dia besok di hari senin ada keperluan untuk wawancara kerja di tempat kakaknya bekerja.

Ia juga tidak menyangka bahwa akan bertemu denganku di sini hari ini.

Karena lelahnya kami dalam perjalanan, masing-masing obrolan kami berlanjut dengan hilangnya kami menuju ke alam mimpi.

Aku terbangun dengan badanku yang masih terasa sedikit pegal-pegal.

Kuusap-usap mataku ternyata jam diding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Lama juga aku tertidur.

Tapi masih ada yang lebih lama. Sapto masih lelap dalam tidurnya.

“Sudah bangun Suf.”

Itu suara Pak Yanto.

Dimana dia?

Aku segera berjalan keluar rumah dimana Pak Yanto sedang menikmati kopi dan juga rokoknya.

Malam itu kami lalui dengan berjalan-jalan di sekitaran Jakarta.

Sapto menjadi pemandu kami dengan sok tahunya. Padahal aku yakin dia bisa berlagak seperti itu karena Pak Yanto atau pun Hadi yang sudah mengajaknya terlebih dahulu.

Pak Yanto juga ikut bersama kami, ia tidak keberatan karena memang besok adalah hari minggu yang artinya ia tidak akan bekerja.

Kota metropolitan memang benar-benar berbeda.

Kapan desa Tunggal bisa kelap-kelip seperti ini?

Semoga saja pemasangan listrik yang sudah direncanakan bisa segera menyentuh Tunggal.

Setelah hampir tengah malam kami menyusuri pesona malam Jakarta kami pun segera pulang. Kata Pak Yanto kalau sudah larut malam seperti ini suka muncul makhluk-makhluk aneh yang akan memangsa orang-orang seumuran aku dan Sapto ini, apalagi yang masih pada bujang katanya.

Aku dan Sapto pun tertawa menanggapi candaannya.

Di hari minggu yang cerah itu setelah menikmati bubur ayam keliling yang sangat lezat. Aku, Sapto dan juga Pak Yanto berkumpul di ruang tamu.

Kami bertiga berkumpul layaknya akan ada sebuah pembicaraan yang begitu penting. Pesan Pak Yanto di malam sebelumnya yang menyatakan bahwa ada yang ingin dibicarakannya esok hari.

Aku rasa untuk alasan inilah kenapa mereka memintaku untuk singgah kemari dan tidak langsung pulang ke Tunggal.

Sebuah kabar yang secara singkat disampaikan oleh Pak Yanto dilanjutkan dengan rincian-rincian kisahnya.

Setelah Pak Yanto dan Sapto menceritakan semuanya padaku sepertinya mereka sengaja memberiku waktu untuk berbicara dengan diam tak bersuara.

Entah perasaan apa ini. Rasanya seperti kosong tidak ada sama sekali yang aku pikirkan.

Patah, satu demi satu sendi-sendiku seperti dikoyak-koyak .

Rasa marah, geram, ingin rasanya ku pecahkan ingatan-ingatan ini.

Ada juga sebuah ruang lega yang turut merasakan kebahagiaan.

Seperti aku sudah bersiap-siap untuk menerima semua kenyataan.

Tertunduk aku menelurkan air mata.

Aku tersenyum kemudian tertawa.

Aku melihat Sapto. Wajahnya iba dengan mata yang ikut berkaca-kaca.

Sementara Pak Yanto menyalakan kembali batang rokoknya yang dari tadi sudah hidup mati hidup mati.

Cukup lama aku membisu setelah perbincangan itu sampai aku bisa kembali berbicara pada mereka.

Meskipun tidak lepas seperti sebelumya aku mencoba untuk tetap sehangat mungkin dalam bersikap dan baik Sapto maupun Pak Yanto juga mengerti tentang situasiku ini.

*

“Kamu tidak mau cukur dulu kumismu itu Suf? Nanti orang-orang pada pangling.”

“Tidak perlu To.”

“Memang kamu itu ikut-ikutan siapa jadi numbuhin kumis begitu?”

“Di perkebunan kebanyakan seperti itu To. Mungkin mereka tidak sempat cukur karena sudah lelah setelah seharian di kebun. Lagian karena aku juga sudah lumayan lama di sana, biar kalau ada anak-anak baru melihatnya dikira aku ini sudah seperti pekerja-pekerja senior lainnya yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana To. Lihat saja bapakmu",

"Tapi aku cuma buat iseng saja sama anak-anak baru itu selain aku juga malas kalau harus cukur setiap hari.”

“Sukses ya To buat nanti wawancaranya semoga kamu bisa diterima.”

Itulah percakapan terakhirku di pagi itu sebelum aku pamit kepada Pak Yanto dan juga Sapto.

Aku pulang menuju Tunggal seorang diri lantaran Sapto yang memang masih ada keperluan di sana.

1
🍃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!