Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ~ Tidak Selevel
Rencananya Brama akan pulang lebih awal, tapi hanya rencana karena ritme pekerjaannya tidak bisa dihindari. Apalagi sang pemimpin sedang berada di luar kota. Sesekali senyumnya merekah mengingat adegan yang sudah dilewati bersama Kiran.
Gadis yang sukses menjadi seorang wanita karena ulahnya. Ada rasa bersalah karena langsung meninggalkan istrinya disebabkan panggilan dari kantor. Sampai di rumah, lampu tengah dan ruang tamu sudah dipadamkan. Ada bias sinar dari celah pintu kamar Kiran.
“Kebiasaan,” gumamnya ketika mendapati kamar Kiran tidak terkunci.
Brama tidak langsung masuk ke kamar Kiran, melainkan ke kamarnya sendiri. Membersihkan diri dan berganti piyama lalu menuju kamar Kiran. Merebah pelan di samping istrinya dan berbaring miring menatap wajah wanita itu.
“Cantik,” ujar Brama lirih. Tatapannya tertuju pada gaun tidur Kiran dengan tali spageti dan posisi berbaring miring membuat bagian depan tubuhnya terlihat menonjol dan sebagian terlihat karena gaun bahan satin yang mudah jatuh. Apa yang ditangkap oleh matanya, mengirimkan pesan pada otak dan bagian tubuh lain hingga membangkitkan gairah kelelakiannya.
“Ck, kamu memang candu dan berbahaya,” ujar Brama lalu menarik selimut dan merengkuh tubuh Kiran ke dalam pelukannya.
Kiran terjaga karena merasa gerah dan pengap, saat membuka mata wajah Brama yang tersaji di depannya. Wajah dengan gurat lelah, tapi tetap tampan. Hembusan nafas Brama terasa di kepalanya. Tidak ingin mengganggu tidur suaminya, perlahan Kiran melepaskan diri dari rengkuhan pria itu.
Bukan terlepas, nyatanya Brama semakin mengeratkan pelukannya.
“Mas.”
“Hm.”
Alih-alih tidak nyaman, justru Kiran merasa sangat nyaman. Apalagi parfum khas Brama masih menguar membuat Kiran menghirup dalam-dalam seakan aromaterapi yang akan membuat tidurnya semakin rileks.
***
“Mas Bram,” gumam Kiran dengan mata masih terpejam.
Terjaga karena merasakan sesuatu yang basah terasa di leher lalu turun ke tulang selangka. Siapa lagi kalau bukan Brama yang berulah. Semakin sadar sepenuhnya mana kala pria itu sudah bermain di area lain.
“Mas ….”
“Kenapa manis?” tanya Brama sudah mensejajarkan tubuh mereka dan tubuh pria itu benar-benar berada di atasnya.
“Mas, aku ….”
“Masih sakit?”
Kiran mengangguk lalu menggeleng pelan, membuat Brama tersenyum.
“Jangan khawatir, aku akan pelan. kamu cukup nikmati saja.”
Kiran merasa tubuhnya belum begitu nyaman, ditambah dengan kegiatan pagi ini. Terasa pegal di punggung dan pangkal pah4nya. Apalagi di bawah sana, masih terasa perih dan tidak bisa digambarkan. Berbeda dengan Kiran yang lesu, Brama terlihat bersemangat. Bahkan pagi ini pria itu sarapan lebih lahap dari biasanya.
Scramble egg yang dibuatkan bi Ati tidak cukup, bahkan ditambah roti bakar lapis selai. Semua dibuat dan disiapkan bi Ati karena Kiran tidak berminat melakukan apapun.
“Tidak usah kerjakan apapun, pekerjaanmu lanjutkan saja besok. Cukup istirahat dan berbaring. Kalau masih perih, aku akan belikan salep untuk ….” Brama tidak melanjutkan ucapannya dan hanya mengerlingkan kedua mata.
“Padahal aku berencana bertemu orang, tapi kayak gini gimana mau ketemu orang. Jalan juga malas. Mas Bram terlalu bersemangat, bilang mau pelan nyatanya kayak kuda liar.”
Brama tergelak mendengar keluhan Kiran. Dari awal memang hanya wanita ini yang berani menegur dan mengejeknya. Bukan sekali dua kali, penampilan dan sikapnya cukup menggoda dan menggemaskan. Sekarang Kiran adalah istrinya, miliknya sepenuhnya.
“Aku berangkat,” ujar Brama mendekati Kiran dan mencium kepalanya. “Janjimu geser hari lain saja. Nanti aku urus supir yang bisa antar kamu.”
“Hm.”
Sedangkan di tempat berbeda. Yudis sudah mendapatkan laporan dari Brama mengenai kedekatan Emran dengan Vira. Tidak langsung menegur atau melarang putranya agar memutuskan hubungan dengan Vira.
“Kemana Erlan?” tanya Yudis karena hanya melihat Emran di meja makan.
“Sudah berangkat,” sahut Narita.
“Bagaimana kegiatan magang mu?” tanya Yudis dan kali ini ditujukan untuk Emran, setelah menyesap kopinya.
“Lancar Yah.”
“Tapi Mas, kapan kamu kasih Emran posisi yang jelas. Masa hanya staf.”
“Kamu pikir staf bukan posisi yang jelas. Dia baru selesai sidang skripsi, belum ada pengalaman dan kegiatan magang yang dia lakukan adalah tahap untuk posisi yang lebih baik. Sekarang kalau aku berikan posisi manager, apa Emran bisa?”
Narita menatap bergantian suami dan putranya. Memang perlu waktu untuk Emran mendapatkan posisi yang bagus apalagi menggantikan suaminya. Salah langkah bisa-bisa perusahaan kacau.
“dan kamu Emran, fokus saja dengan karirmu. Sebagai laki-laki masih terlalu dini bicara masalah jodoh, jangan terlalu dalam memendam perasaan sama perempuan. Kecuali kamu sudah siap segalanya untuk menikah.”
“Iya, Yah,” sahut Emran dan hanya menunduk.
“Ah, kalau begitu kita jodohkan saja Emran. Kamu tahu ‘kan putrinya Nyonya Li, kayaknya seumuran dengan Emran. Nggak apalah dikenalkan sekarang, tiga atau empat tahun lagi mereka pasti siap berumah tangga.”
“Tidak perlu,” sahut Yudis.
“Iya, tapi harus jadi perhatian. Calon istri Emran nanti harus selevel dan sepadan dengan keluarga kita.”
Emran mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ucapan Bundanya jelas menohok. Saat ini Vira adalah dunianya dan secara status sosial mereka tidak selevel. Apalagi usia Vira jauh di atas umurnya. Sudah pasti tidak akan mendapatkan restu dari orangtuanya.
“Emran, kamu dengar apa kata Bunda. Melamun saja.”
“Dengar Bun,” jawab Emran lalu menghela nafasnya.
dari awal bab, dah trasa beda aja👍