Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DNA Haplogroup
“Apa yang akan Abang lakukan sekarang? Menemukan Arkan di Verentis Sentral atau menemui orang yang menghubungi Arkan?” tanya Armin dari seberang.
“Sepertinya aku akan menemui orang yang sudah menemui Arkan. Terus pantau Arkan di Verentis Sentral.”
“Baik.”
Panggilan di antara keduanya segera berakhir. Kenzo lanjut menghubungi Hector. Dia kembali membutuhkan bantuan temannya itu.
“Halo.”
“Aku akan pergi Roses. Apa ada mobil yang bisa kusewa di sekitar sini?”
“Ya. Tuan Javier sering menyewakan mobilnya. Rumahnya yang dekat belokan menuju safe house. Rumah dengan tembok merah.”
“Baiklah. Terima kasih.”
“Hei ... tidak perlu berterima kasih. Kita ini teman.”
Selesai menghubungi Hector, Kenzo bergegas menuju kediaman Javier. Pria itu perlu secepatnya sampai di Roses. Jangan sampai pria itu berpindah tempat lagi.
Setelah berhasil mendapatkan mobil yang akan disewanya, lebih dulu Kenzo menuju safe house. Dia langsung menemui Erik.
“Aku akan pergi ke Roses. Kalian tetaplah di sini. Awasi terus Arsela.”
“Apa Kolonel sudah menemukan Kael?”
“Ya. Setelah menjemputnya, kita akan langsung pulang ke Indonesia.”
“Siap!”
Tanpa membuang waktu, Kenzo langsung membereskan barang-barangnya yang tidak seberapa banyak. Dia segera pergi menggunakan mobil sewaannya.
Jarak dari desa Cadaques ke Roses berjarak 16 kilometer. Jalan yang dilalui dipenuhi kelokan, tapi pemandangan di sekitar sangat bagus. Andai tidak sedang menjalankan misi, Zyan akan menyempatkan diri mengambil gambar, lalu mengirimkan pada istrinya.
Kaki Kenzo alias Zyan menekan pedal gas lebih dalam lagi, membuat laju kendaraan semakin kencang.
Dalam waktu dua puluh menit, pria itu sampai di Roses.
Roses adalah sebuah kota pesisir di Costa Brava, Catalonia, Spanyol. Kota ini berada di ujung utara teluk Roses, cukup dekat dengan perbatasan Prancis.
Begitu sampai di kota kecil ini, dapat terasa kalau kota ini bergaya kota nelayan tua. Namun dipadu dengan resort keluarga modern sebagai daya tarik wisata.
Kenzo menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil, kemudian menyisiri bangunan tua yang berderet di sepanjang jalan. Berbekal alamat yang diberikan Armin, Kenzo menanyakan lokasi yang dicarinya pada penduduk lokal.
Salah seorang penduduk lokal bersedia mengantar Kenzo ke alamat yang dimaksud. Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dari tempatnya memarkir mobil.
“Apa ini tempatnya?” tanya Kenzo seraya memandangi bangunan tua di depannya.
“Iya,” jawab pria yang mengantarnya.
“Terima kasih,” Kenzo memberikan sedikit uang pada pria yang sudah mengantarnya.
Untuk beberapa saat pria itu berdiri di depan bangunan yang diperkirakan didirikan sejak tahun 70 atau 80-an. Gedungnya sendiri berada di dekat pelabuhan.
Sejenak Kenzo mengamati keadaan gedung. Apartemen ini terdiri atas empat lantai, yang masing-masing unit terdapat balkon dengan pagar besi.
Pemandangan dari gedung ini menghadap ke kanal Santa Margarita. Ada satu pintu masuk di bagian depan yang menghadap jalan utama. Tidak ada petugas keamanan yang berjaga. Artinya, siapa saja cukup bebas keluar masuk gedung ini.
Pria itu kemudian berkeliling, mencoba mencari tahu apakah ada jalan keluar lain. Di bagian belakang terdapat pintu lain. Pintu keluar yang terbuat dari besi ini menghadap gang belakang dan biasanya bukan jalan umum. Hanya digunakan untuk akses teknisi air atau listrik.
Usai mempelajari keadaan sekitar, Kenzo masuk ke dalamnya. Di dalam gedung berlantai empat ini tidak ada lift. Hanya ada tangga utama dan satu tangga yang merupakan jalur evakuasi. Jalur ini terhubung ke pintu belakang yang tadi dilihatnya.
Kenzo segera menaiki tangga. Pria yang menghubungi Arkan alias Kael tertangkap berada di kota ini dan tinggal di sini. Lebih tepatnya berada di unit 304. Pria bernama Niklas Doras ini sudah tiga harinya berada di sini.
Alih-alih tinggal di hotel, dia justru menyewa unit apartemen. Itu artinya dia akan tinggal cukup lama. Sepertinya ada hal yang ditunggunya.
Sesampainya di lantai tiga, koridor di lantai ini begitu sepi. Kenzo terus berjalan mendekati unit 304. Sesampainya di sana, Kenzo mengeluarkan pistolnya. Dia berdiri di bagian samping pintu, baru kemudian mengetuknya.
TOK!
TOK!
TOK!
Masih belum ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Kembali Kenzo mengetuk pintu dengan posisi tidak berubah.
TOK!
TOK!
TOK!
Untuk kali ini upayanya berhasil. Pintu mulai terbuka walau hanya sedikit.
Dengan cepat Kenzo mendorong pintu seraya menodongkan pistolnya. Sontak pria itu mengangkat kedua tangannya. Wajahnya tampak pucat. Dengan tatapan penuh selidik, Kenzo memandangi pria di depannya.
Tinggi pria itu sekitar 165 sentimeter. Tubuhnya tidak kurus, tidak juga gemuk. Rambutnya ikal dan kacamata menghiasi wajahnya. Sungguh penampilan pria di depannya ini jauh dari gambaran Kenzo.
“Niklas Doras?” tanya Kenzo.
“I-Iya,” jawab pria itu sambil terus mengangkat kedua tangannya. “A-Anda siapa?” tanya Niklas takut-takut.
“Kamu yang menghubungi Kael. Benar?”
“S-Siapa Kael?”
“Ingat baik-baik siapa Kael. Atau … peluru di pistol ini akan langsung menembus kepalamu!”
Kenzo mengarahkan ujung pistol ke pelipis Niklas. Seketika buliran keringat membasahi kening Niklas. Tubuhnya bergetar saking takutnya.
“Kamu yang menghubungi Kael?” Kenzo semakin menekan ujung pistol ke kening Niklas.
“I-Iya,” jawab Niklas akhirnya. Pria itu takut juga kalau Kenzo menembaknya.
Dengan sebelah kakinya Kenzo menutup pintu unit. Dia menggerakkan pistolnya, meminta Niklas untuk duduk di sofa. Pelan-pelan pria itu mendudukkan dirinya di sofa.
Kenzo menarik sebuah kursi ke dekat sofa yang diduduki Niklas. Pria itu mendaratkan bokongnya di sana sambil terus mengacungkan pistol kepada Niklas.
“Apa tujuanmu menghubungi Kael? Ceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi!”
Niklas menelan ludahnya kelat. Pria yang berada di hadapannya, jauh lebih menyeramkan dari Kael. Baru saja dia membuka mulutnya, suara Kenzo kembali terdengar. “Jangan coba-coba membohongiku. Aku tahu seseorang berkata jujur atau bohong!”
“A-Aku menghubungi Kael untuk meminta bantuannya menemui atasanku, Profesor Elio Sarin,” Niklas menjeda ucapannya sejenak. Dia perlu menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong.
“Profesor Elio Sarin adalah lulusan S1 Mikrobiologi. Dia lanjut studi mengambil jurusan Virology hingga mendapat gelar doktor. Aku adalah muridnya.
Profesor banyak melakukan penelitian dan melakukan rekayasa virus. Dia juga yang menemukan cara membuat virus dari DNA haplogroup. Virus ini sangat berbahaya dan membuat kematian tanpa terdeteksi.”
Masih belum ada tanggapan dari Kenzo. Dia membiarkan Niklas menyelesaikan ceritanya dulu. Dia masih berusaha menyusun kepingan puzzle. Apa hubungan virus ini dengan penculikan Arsela.
“Sadar kalau virus yang dikembangkannya berbahaya, profesor bermaksud memusnahkannya. Tapi rekan profesor yang tamak menjual informasi ini pada seseorang. Akibatnya profesor diburu. Dia diminta membuat virus ini lebih banyak lagi.
Agar tidak terdeteksi, profesor menyerahkan diri agar ditahan di Verentis Sentral. Saya meminta bantuan Kael untuk mengeluarkannya dari sana.”
“Kamu bilang kalau ada konspirasi atas penculikan Arsela. Apa yang kamu ketahui?”
“Arsela adalah salah satu penyumbang DNA haplogroup. Karena itulah dia diculik. Mereka membutuhkan DNA Arsela untuk membuat virus tersebut.”
***
Yang baca Nathan, jangan ditinggal ya gara² ada Zyan😁
Besok aku ijin libur. Biar pembaca baru dan yang masih nabung bab bisa ngejar ke bab terakhir🤗
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏