Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.
Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam-2
Darmadi bersama kedua remaja itu berusaha keluar dari kebun karet menuju bidan Andana yang bertugas tak jauh dari Balai Desa.
Bidan itu baru beberapa bulan terakhir ini mengabdikan dirinya didesa Karang untuk menjadi petugas medis yang siap melayani para warga sekitar.
Darmadi merobek pakaiannya dan membalut luka yang terdapat dipunggung remaja itu untuk mencegah pendarahan yang terus mengalir.
Kemudian Surya dan Darmadi bersama-sama memapah tubuh Sigit yang terluka dibagian punggungnya.
Dari dalam kebun karet, mereka melihat banyaknya nyala lampu yang berasal dari suluh bambu dan juga senter berada didepan rumah Ki Roso.
"Bang, ini bukan rencana kita-kan?" tanya Surya yang menatap keramaian disana.
Darmadi tercengang melihat sesuatu yang diluar dari perkiraannya. "Ini bukan bagian rencana kita, sepertinya ada seseorang yang memiliki rencana lain," ujar Darmadi.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Surya lagi.
Darmadi tampak terdiam sejenak. Ia merasa harus melihat apa yang sedang terjadi disana.
"Sur, kamu bawa Sigit ke bidan Andana, abang akan coba memeriksa apa yang terjadi disana," titah Darmadi.
Surya membolakan matanya, meskipun tentu saja Darmadi tak dapat melihatnya, karena suasana yang gelap.
"Aku takut sosok itu akan mengikuti kami, bang," Surya merasa sangat takut. Bagaimanapun bahaya itu akan mengancam mereka, kapanpun dan dimanapun.
"Sosok itu tidak akan kembali lagi, sebab ia akan menyusun rencana lainnya," jawab Darmadi.
Surya menganggukkan kepalanya, meskipun sebenarnya ia sendiri merasa ketakutan dan tidak sepenuhnya meyakini ucapan pemuda tersebut.
"Bawa ini, untuk bejaga-jaga." Darmadi memberikan sebotol spray berisi bubuk merica dan bubuk cabai yang dipadukan dengan air.
"Untuk apa, Bang?" tanya Surya sembari mengamati botol yang dipegangnya.
"Jika ada yang mengganggumu, semprotkan ke wajahnya, kalau bisa matanya, agar membuat sosok itu kesakitan," jawab Darmadi menjelaskan, "Ya sudah, kita berpisah disini, cepatlah bergerak," titah Darmadi.
"Iya, Bang," lalu mereka berpisah ditepi kebun.
Darmadi berbelok arah menuju kediaman rumah Ki Roso. Ia merasa penasaran siapa yang menggerakkan massa untuk menggerebek rumah ki Roso dan pastinya memiliki tujuan yang lain.
"Ki, keluar! Atau kami akan menggerebek rumahmu," ancam Jarwo dengan lantangnya.
Ki Roso menatap sang istri, lalu menarik nafasnya dengan berat.
"Jangan keluar, Ki. Bagaimana jika mereka berbuat anarkis?" pinta Mbok Darsih sembari mencengkram lengan suaminya, tatapannya tampak sayu dan berusaha menahan pria paruh baya itu agar tak memenuhi keinginan warga.
"Tenanglah. Aku akan baik-baik saja. Jika aku tak kembali, maka selesaikan semua apa yang telah menjadi perjanjian," pesan Ki Roso kepada istrinya, lalu menepis cengkraman tangan wanita tersebut.
Ia berusaha memantapkan hatinya untuk menghadapi warga yang sedang berkerumun.
Kreeeeek...
Terdengar suara pintu tua yang berderit saat dibuka.
Tampak pria bertubuh tambun dengan kumis tebal menghiasi bibir atasnya. Ki Roso berjalan dengan nyali yang dikokohkan dan melewati teras gubuk tuanya.
Ia berdiri tegak dihadapan para orang-orang yang seolah ingin menghakiminya, meskipun ia tidak mengerti niat apa yang sedang mereka bawa untuk berkerumun didepan gubuknya.
"Ki, apakah kamu yang telah membu-nuh para remaja didesa ini?" tanya Jarwo dengan lantang.
Ki Roso membolakan matanya, lalu menatap tajam pada pria yang tidak memiliki sopan santun terhadapnya yang lebih tua.
"Turunkan nada bicaramu saat berbicara dengan yang lebih tua," ucap Ki Roso mengingatkan.
"Begini, Ki. Kami mendapatkan laporan jika Ki Roso dicurigai menjadi biang dalam kekacauan dan pembu-nuhan yang terjadi pada remaja di desa ini, maka kami meminta penjelasan dari Aki," Latif mencoba menerangkan maksud dan tujuan mereka datang ke kediamannya.
"Bagaimana bisa kalian menuduhku seperti itu? Apakah ada bukti yang dapat memperkuatnya?" tanya Ki Roso dengan penekanan.
"Mana ada maling yang mengaku! Coba kita periksa rumahnya. Pasti ada sesuatu yang dicurigai," ucap Jarwo semakin menyulut keyakinan warga.
"Iya, ayo kita geledah rumahnya," jawab yang laiinya. Kemudian pergerakan warga tak lagi dapat dicegah, semuanya bergerak tanpa memperdulikan Ki Roso yang mencoba menghalangi mereka masuk.
Warga yang tersulut emosi dan termakan hasutan dari Jarwo meringsek masuk ke dalam rumah Ki Roso untuk memeriksa kebenarannya.
Mbok Darsih menggigil ketakutan dan berdiri disudut ruangan dengan memperhatikan warga yang masuk tanpa permisi ke rumahnya. Mereka mengacak-acak isi rumahnya yang tentunya tidak ada barang berharga yang terdapat dirumahnya.
"Lihat ini!" teriak warga yang memasuki kamar Naeswari dan tentunya membuat warga lainnya memasuki kamar tersebut dan hampir saja merobohkannya.
"Hah," warga sontak terkejut saat melihat apa yang ada didalam kamar tersebut.
"Lihatlah, ini alat ritual untuk memanggil jin, dan tentunya Ki Roso benar melakukan ritual ilmu hitam," ucap seorang warga yang semakin membuat suasana memanas. Ia menujuk arah dimana terdapat kain hitam membentang dengan dupa dan kemenyan yang baru saja digunakan didalam sebuah anglo.
"Aaaaaaa..." teriak warga saat tanpa sengaja tangannya menyentuh pintu lemari dan mendapati jasad wanita yang sudah mengering dan menghitam dengan wajah yang sulit dikenali.
Sontak warga semakin terkejut dengan penemuan yang semakin memperkuat keyakinan mereka jika semua itu adalah ulah Ki Roso.
"Telefon polisi," seru Jarwo dengan cepat, dan membuat warga memandangnya.
"Tunggu, kita arak saja pria tua itu ke balai desa. Hutang nyawa dibalas dengan nyawa. Dia harus dipermalukan atas perbuatannya sebelum merasakan jeruji besi," yang lain semakin menyulutkan api kebencian.
"Iya, enak saja sudah menghabisi putera-putera kami, ia tidak merasakan sakit apapun dan mendekam dipenjara itu tidak membuat saya puas," ucap juragan Jali yang tentunya kehilangan puteranya.
"Tunggu, ini jasad siapa? Apakah ada yang mengenalinya?" tanya salah seorang warga.
"Tidaaaaak...," teriak pria itu saat melihat jasad tersebut dengan jelas," Itu jasad puteriku, mengapa ia harus mengenaskan seperti ini?" ucap Juragan Jali yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya nanar dan tubuhmya hampir membeku saat mengenali sosok jasad mengering tersebut.
Semua tercengang mendengarnya. Lalu mereka menatap Juragan Jali yang menatap lemas pada sosok menghitam didalam lemari.
"Bagaiamana Juragan dapat mengenalinya? Bukankah Julia sedang berkuliah dikota?" tanya salah seorang warga.
"Pakaian yang dikenakannya adalah hadiah ulang tahunnya bulan lalu. Aku yang membelikannya karena aku menemuinya dikota. Pantas saja phonselnya tidak aktif seminggu ini, Apa salahnya harus juga menjadi korban kebia-daban ini," ucapnya dengan lemah, lalu ia tak lagi dapat menahan pandangannya yang mulai menggelap, dan ia jatuh pingsan.
Ki Suro tersentak kaget saat mendengar mereka menemukan jasad wanita didalam lemari pakaian milik Naeswari, begitu juga halnya dengan Mbok Darsih yang sama kagetnya.
"Tangkap pria itu, dan jangan biarkan ia kabur!" titah Jarwo, dan tentunya warga menangkap Ki Roso tanpa perlawanan sedikitpun.
Buuuuuuuugh..
Sebuah bogem mentah mendarat dipipi pria tua itu, hingga membuat memar dan darah mengalir dari luka robek tersebut.
"Breengsek, dasar pembu-nuh!" maki Pak Kades yang juga tersulut emosi.
"Tidak, ini fitnah. Aku tidak tahu tentang jasad itu," Ki Roso mencoba membela dirinya, tetapi warga tidak ingin mendengar ucapan dari pria tua itu.
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
boy...boy...tunggulah giliranmu.