Hidup tanpa orangtua memang sulit. Adea adalah gadis yatim piatum yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Dea menjadi hidup bebas.
Suatu hari, paman dan bibinya datang ke kota untuk menjemput Dea. Mereka mengajak Dea tinggal bersama.
Dea terpaksa tinggal bersama paman dan bibinya. Yang ada di lingkungan pesantren. Gaya hidup Dea sangatlah bertentangan dengan masyarakat sekitar.
Walau demikian, Dea di lamar oleh seorang ustadz. Yang mencintai Dea.
Bagaimana perilaku Dea setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA_TMYHU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Baik
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Pagi hari selepas sholat subuh, Dea menyiapkan sarapan di bantu oleh ustadz Azmi. Sebenarnya Dea tidak mengizinkannya. Namun, ustadz Azmi bersikeras membantu Dea membuat sarapan.
“Mas, apa aku boleh ikut ke pesantren?” tanya Dea sembari meletakkan segelas susu di hadapan ustadz Azmi.
“Boleh kok Dek,” jawab ustadz Azmi mengangguk. “Tumben Adek mau ikut sama mas?” Lanjutnya.
“Itu aku kesepian mas, akhir-akhir ini Yuli jarang di rumah. Apa ia sudah mengajar ya?”
“Belum Dek, Yuli sedang mempersiapkan berkas. Mungkin minggu depan ia mulai mengajar.”
Dea mengangguk mengerti. “Ehh tunggu, apa Yuli gak pernah suka sama seseorang?”
Ustadz Azmi tersenyum, ia mengelus pipi Dea. “Soal itu mas gak tau sayang, isi hati seseorang tidak bisa kita tebak. Yang mas tau ia hanya menunggu seseorang yang tepat saja. Jika sudah jodoh, yah sudah langsung nikah!!”
“Lah, kalau kegitu kasian. Yuli itu baik cantik pula, jika orang yang melamarnya tidak sesuai keinginannya gimana?” Dea menatap sendu bola mata sang suami yang berwarna hitam pekat.
Jujur saja ia sudah menyayangi Yuli. Ia tersentuh dengan ke baikan Yuli, dan juga sifat lemah lembut yang Yuli miliki.
“Adek, tenang saja. Allah tidak pernah salah dalam menentukan jodoh seseorang. Seorang yang baik pasti di pertemukan dengan yang baik pula.” Tutur ustadz Azmi membalas tatapan Dea.
Deg.
Jantung Dea berdetak dengan sangat cepat dari biasanya. Perkataan ustadz Azmi mengingatnya pada masa di mana ia belum dekat dengan sang pencipta. Yaitu Allah swt, ia tau betul bahwa dirinya bukan perempuan baik sebelumnya.
“Aku bukan perempuan baik mas, tapi kenapa bisa menikah sama mas? Sedangkan sikap aku sangat bertentangan dengan sikap mas.” Air mata Dea tiba-tiba jatuh.
“Dek, tatap mata mas. Jangan nangis dulu, jangan memotong perkataan mas.” Ustadz Azmi mengapit wajah Dea dengan kedua telapak tangan.
Dea mengangguk, ia memberanikan diri menatap bola mata ustadz Azmi.
“Sebenarnya Adek perempuan yang baik, hanya saja belum menyadari kekuasaan Allah. Sengaja Allah mempertemukan Adek dengan mas. Sikap Adek memang sangat bertentangan dengan mas, karena itu, Allah menguji kesabaran mas dalam menghadapi sikap Adek.”
“Mas maafkan aku ya, aku sudah banyak salah sama mas. Aku sudah bersikap kasar,” Dea terisak di pelukan ustadz Azmi.
Ustadz Azmi tersenyum senang, tak lupa ucapan syukur kepada Allah ia panjatkan. Karena berkat rahmat dan hidaya Allah rumah tangganya sedikit-demi sedikit menjadi lebih baik.
“Aku belum bisa jamin untuk tidak membentak mas lagi. Tapi aku akan berusaha.” Ucap Dea tersenyum.
“Allahmdulillah, tidak apa Dek. Seseorang itu tidak akan berubah dalam sekejap, tapi ada prosesnya.”
“Makasih sayang, aku mau siap-siap dulu.” Dea berlari meninggalkan ustadz Azmi yang syock.
Ustadz Azmi syock dengan panggilan sayang yang di ucapkan Dea. Sebab ini yang pertama Dea memanggilnya sayang. Darahnya seakan berhenti berdesir, ia seakan tidak percaya dengan perilaku Dea.
▪︎▪︎▪︎
Di pesantren Yuli sedang menata berkas di atas meja. Ia bersemangat, walau usianya belum genap 20 tahun tetap saja ia bersyukur. Ia yakin Allah ada di setiap saat, dan akan menjawab semua pertanyaannya.
Yuli kembali sibuk dengan labtopnya. Tiba-tiba seorang ustadzah menghampirinya.
“Yuliana, ayo kita pergi ke aula.” Ajak salah seorang ustadzah.
“Ke aula? ada apa ya?” tanya Yuli bingung.
“Donatur baru sudah sampai, kiyai menyuruh para ustadz dan ustadzah untuk berkumpul mengucapkan terima kasih ke pada beliau.”
“Ayo kita kesana.”
Mereka berdua berjalan menuju aula. Tiba di aula, Yuli duduk di salah satu kursi khusus para ustadzah.
Kiyai berpidato sejenak, lalu acara selanjutnya ucapan terima kasih kepada donatur baru. Dan pada sesi ini, satu persatu para ustadz dan ustadzah memberi ucapan selamat kepada donatur tersebut.
Tiba giliran Yuli, ia maju ke depan menghadap sang donatur.
“Terima kasih banyak pak, semoga kebaikan bapak di balas Allah swt dengan berlipat ganda.” Tutur Yuli lembut.
Donatur itu menatap Yuli kagum. Suara yang lembut dan juga begitu merduh di telinganya.
“Siapa namamu? Berapa usiamu?” tanyanya.
“Yuliana, 19 tahun.” Jawab Yuli tanpa menatap wajah pria yang di depannya.
“Apa? Jadi ustadzah baru 19 tahun?”
Yuli mengangguk, lalu melangkah meninggalkan pria itu. Ia tak menghiraukan pria itu menanyakan nomor ponselnya.
Yuli kembali mendudukan tubuhnya di kursi. Namun, ia mendengar suara Dea yang memanggil namanya di tengah ramainya aula.
“Adea, kamu datang bersama kakak?” tanya Yuli menghampiri Dea.
“Iya, aku kesepian di rumah gak ada kamu. Jadi ikut sama mas Azmi saja.” Jawab Dea.
“Gini aja deh, kamu ikut sama kakak aja setiap hari. Kan aku juga ada di sini.”
“Okey!!” Seru Dea memeluk Yuli.
“Kemana kakak?” Yuli melirik ke belakang Dea, karena biasanya ustadz Azmi selalu berjalan di belakang Dea.
“Mau ucapin selamat sama donatur baru katanya.”
“Ya udah duduk yuk.” Ajak Yuli.
Mereka berdua duduk di deretan kursi paling belakang. Sembari berbincang-bincang.
“Kamu cantik banyak hari ini,” puji Yuli menatap kagum dengan penampilan Dea.
Dea mengenakan gamis berwarna abu-abu bercampur hitam di padukan dengan jilbab pasmina berwarna hitam. Hingga wajah putih nan mulus Dea terukir dengan indah, apalagi model jilbabnya yang terlihat bagus dan juga sangat rapi.
“Benarkah?” tanya Dea tak percaya.
“Benar, kamu cantik bangat.” Jawab Yuli.
“Wah makasih, jadi gak sia-sia mas benarin jilbab aku.” Ucap Dea tersenyum bangga.
“Kakak yang benarin? Apa yang pakein?” Ledek Yuli.
“Ihh, ia hanya benarin doang. Karena aku memakainya agak acak-acakan.” Bantah Dea cemberut.
“Haha, muka kamu lucu kegitu. Pasti kalau kakak lihat ia makin cinta!!”
Wajah Dea merona malu, ia memalingkan pandangannya tanpa menatap Yuli.