Baru saja menikah dengan suaminya, malam itu kedua ayah dan ibu mertuanya meninggal dunia usai menghadiri pernikahan Khadijah dan Revan.
Revan yang tidak terima dengan kematian orangtuanya menyalahkan Khadijah sebagai pembawa sial dalam keluarganya.
"Siapapun yang ada di dekatmu menjadi tumbal dalam kehidupanmu. Dari kedua orangtuamu tewas karena dirimu dan sekarang kedua orangtuaku juga meninggal di malam pengantin kita.
Mulai detik ini aku bersumpah akan menjadikan kamu budak di rumahku bukan lagi istriku. Apakah kamu paham?!" teriak Revan membuat gadis bercadar itu hanya bisa menangis pasrah.
Bagaimana kisah cinta mereka? apakah Revan sama sekali tidak mencintai istrinya hingga kehadiran seorang pria lain?
Khadijah tidak menginginkan masuk dalam keluarga kehidupan Revan yang merupakan putra dari seorang Sultan. Jika bisa memilih, ia ingin menikah dengan seorang pria idamannya yang merupakan putra kyai di mana dulu ia menuntut ilmu di sebuah pesantren yang ada di Suraba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Penuh Cinta
Pemanasan itu cukup lama. Wajah Khadijah sudah terlihat memerah karena terus menerus menggapai kenikmatan. Rona bahagia menyelimuti hatinya kini.
Betapa suaminya memanjakannya penuh cinta dan sangat menghargainya. Mahkota yang dijaganya sudah siap ia persembahkan untuk suami tercinta.
Ternyata Revan sangat hati-hati memasuki istrinya yang akan melepaskan kegadisannya.
"Berteriaklah sayang,..! kalau memang sakit," ucap Revan sembari menghujamkan miliknya dengan cepat hingga tubuh Khadijah melengkung ke atas.
Cengkraman tangannya Khadijah yang tidak ingin menyakiti suaminya dari punggung Revan beralih ke seprei. Ia hanya memekik tertahan sampai Revan berhasil melalui pembatas halal yang setahun lebih tidak pernah dikunjungi suaminya dari awal pernikahan mereka.
"Apakah sakit, sayang?" tanya Revan sambil menghentakkan lembut bagian tubuhnya pada milik istrinya yang sudah mulai terbiasa. Lorong sempit itu memijat kuat miliknya yang seakan sedang di vakum di dalam sana.
"Bahagiaku mengalahkan sakitku," ucap Khadijah menatap dalam manik hitam suaminya yang juga menatapnya penuh cinta.
"Sayang. Rasanya ini sangat nikmat dari apapun yang pernah ku miliki. Rasanya aku tidak ingin berhenti," ucap Revan yang tidak ingin cepat melepaskan pertahanannya untuk menunggu istrinya lebih dulu mencapai puncak nirwana.
Entah sudah berapa kali Khadijah melakukan pelepasan. Ia benar-benar dipuaskan oleh suaminya malam ini. Karena ini adalah pertama untuk mereka, Revan tidak ingin berlama-lama lagi menahannya karena tidak tega pada Khadijah yang mungkin akan kesakitan nantinya. Ia akhirnya melepaskan benihnya dalam rahim istrinya dan berharap Khadijah cepat hamil anaknya.
Peluh membanjiri tubuh polos mereka. Revan yang merasa kegerahan duduk dan bersandar di dasbor tempat tidur.
Bercak darah kesucian istrinya tercetak jelas di seprei putih itu. Senyum Revan terlihat sangat tampan karena menjadi pria pertama yang menyentuh istrinya.
"Sini sayang ..! Masuklah dalam pelukanku!" tangan Revan terangkat hendak mendekap tubuh polos istrinya yang terlihat licin oleh keringat.
Khadijah duduk bersandar di dada bidang suaminya sambil melepaskan lelah. Revan mengecup leher jenjang istrinya yang menguar aroma parfum yang sangat disukainya.
Khadijah hanya menggunakan parfum saat berada di dalam rumah saja. Jika keluar rumah, ia tidak mau mengenakannya sama sekali. Itulah yang membuat Revan sangat senang pada istrinya. Khadijah benar-benar menjalani perintah Allah.
"Apakah masih capek, sayang?" tanya Revan setelah nafas mereka kembali normal.
"Aku lapar," jujur Khadijah membuat Revan tersenyum.
"Baiklah. Kita bersihkan dulu tubuh kita baru makan lagi. Aku akan panaskan makanannya di microwave sebentar. Sini aku gendong sayang...!" Turun lebih dulu dan menggendong Khadijah yang memang ingin diperlakukan suaminya seperti itu.
"Jangan jalan sendiri karena kamu habis digempur...!" ucap Revan membawa wanitanya ke kamar mandi. Khadijah memeluk leher kokoh suaminya dan menatap rahang tegas Revan yang terlihat sangat jantan.
"Mengapa suamiku sangat tampan. Rasanya aku tidak bosan menatapnya," puji Khadijah membatin.
"Apakah aku terlalu tampan sayang?" tanya Revan yang melirik Khadijah menatap wajah sedari tadi.
Ia lalu menurunkan Khadijah di kamar mandi.
"Terimakasih telah memilih aku untuk menikmati pahatan sempurna ini." Mengusap pipi Revan lalu turun ke dada bidang itu.
Diperlakukan seperti itu oleh Khadijah membuat milik Revan kembali turn on lagi. Revan dengan gemasnya memagut lagi bibir istrinya. Lalu turun ke dagu lancip Khadijah dan menghisap dagu itu kuat disertai gigitan lembut. Ia lalu berbisik pada istrinya.
"Sekali lagi ya, baby..! Kamu sudah menggodaku....!" serak Revan menyesap lagi benda mungil dan kenyal milik Khadijah yang membuat gadis mungil itu tidak mampu menolak karena itu terlalu nikmat untuknya.
Revan mempercepat permainannya karena ia hanya ingin menuntaskan hasratnya saja karena kemolekan tubuh Khadijah dan godaan nakal istrinya yang tidak bisa membuat ia berhenti bercinta.
"Kalau aku tahu seenak ini kenapa aku dulu mengabaikan istriku dari awal," sesak Revan seraya melepaskan lagi benihnya untuk kesekian kalinya.
Kaki Khadijah tidak bisa lagi berpijak ke lantai karena terlalu lemas. Revan merangkul pinggang ramping istrinya sambil menyalakan air shower. Revan menyabuni tubuh Khadijah yang menerima semua sentuhan dari tangan kekar itu.
Beberapa menit kemudian keduanya sudah duduk di atas tempat tidur karena Khadijah ingin makan di tempat tidur.
...----------------...
Beberapa hari berada di hotel, Revan tidak berinisiatif untuk pergi ke manapun. Ia ingin menikmati bulan madu mereka tanpa berurusan dengan dunia luar.
Bercinta, makan, tidur dan nonton. Itulah pekerjaan baru untuk pasangan suami istri ini. Bahkan keduanya sepakat tidak ingin memeriksa ponsel mereka.
Khadijah juga tidak protes kala suaminya masih menginginkannya. Jika ia ingin sesuatu semuanya dipesan oleh Revan. Baik itu makanan maupun pakaian.
Revan dan Khadijah tidak menyadari bahwa saat ini anak buahnya Reus sedang menyebar untuk mencari keberadaan mereka.
Khadijah yang sangat jenius mengacak nama mereka di arsip komputer hotel dengan nama lain. Khadijah sudah tahu kalau keberadaan mereka pasti diincar oleh mafia itu. Pengalamannya sebagai mantan agen rahasia yang bisa membaca gerak gerik musuh membawa keberuntungan dirinya saat ini.
Apa lagi ia bisa membuat aplikasi tersendiri yang bisa mendeteksi pergerakan musuh.
Tuan Reus sudah mengantongi nama mereka melalui ATC bandara setempat. Anak buahnya tuan Reus melaporkan lagi kepada bos mereka karena pencarian mereka nihil.
"Bos. Sepertinya mereka tidak ada di negara ini. Nama mereka tidak ada di hotel mewah manapun," ucap asistennya tuan Reus saat mendapatkan kabar dari orang mereka.
"Apa kalian sudah mencari pasangan itu secara teliti?" tanya tuan Reus kesal.
"Sudah tuan."
"Aku akan memberimu salah satu perusahaanku jika kamu bisa mendapatkan wanita bercadar itu. Aku sangat menginginkannya...!" menarik tengkuk asistennya itu sambil berbisik.
Asisten Max begitu senang dengan janji bosnya. Matanya membeliak tidak percaya dengan ucapan bosnya itu.
"Apakah harus wanita itu bos? Bukankah wanita bos sangat banyak dan diantara mereka sangat seksi dan....-"
Tuan Reus menatap horor wajah asisten Max membuat pria kurus langsing ini tidak lagi bicara.
"Baik bos. Aku akan mendapatkan wanita itu ujar bos," janji asisten Max.
Tuan Reus mengibaskan tangannya mengusir asisten Max meninggalkan ruang kerjanya.
Sementara itu, Revan yang sudah puas menikmati bulan madu mereka mengajak istrinya berpindah ke negara lain dengan menggunakan transportasi kereta.
"Sayang. Kita ke Belanda. Kamu mau?" tanya Revan usai menyelesaikan sarapannya.
"Bawa saja diriku ke manapun kau mau, sayang...! Aku tahu setiap tempat yang akan kita datangi ada kebahagiaan di sana, karena suamiku memberikan aku banyak cinta." Melingkar tangannya ke leher kokoh Revan yang tersenyum padanya.
"Oh no, Kenapa lagi-lagi istriku membuat aku terus on begini?" keluh Revan yang memiliki hasrat selangit tapi tenaganya tidak sekuat hasratnya.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Mobil hotel akan mengantarkan kita ke stasiun!" ajak Revan.
Khadijah hanya mengenakan gamis dan mantel serta sepatu dan hijabnya. Tidak lupa cadar sebagai pelengkap penampilannya. Ia tidak perlu dandan atau memakai aksesoris lainnya kecuali cincin kawin dan jam tangan branded.
Di stasiun kereta, Revan dan Khadijah sedang menunggu kedatangan kereta tujuan Rotterdam Belanda. Jika Khadijah masih bisa melindungi wajahnya dengan cadar, namun tidak dengan Revan yang masih bisa di lihat oleh orang lain terutama para wanita muda yang menatap wajah Revan hingga salah tingkah sendiri.
Tidak jauh dari mereka berdiri, ada penjahat yang sedang mengintai keduanya. Mereka segera melaporkan temuan mereka.
"Bos. Sepertinya pasangan itu ada di stasiun kereta api saat ini," ucap anak buahnya tuan Reus.
"Kalau begitu tangkap mereka...!" titah asisten Max terlihat antusias.
"Baik bos."