[Season 1-2]
Binar merupakan wanita berusia dua puluh delapan tahun. Statusnya sebagai dokter baru di sebuah rumah sakit ternama dan langsung disukai banyak pihak pasien, menjadi awal mula perundungan menimpa Binar. Pelakunya tak lain lima seniornya, dan memang merupakan orang-orang berpengaruh di rumah sakit.
Namun dari semua senior yang melakukannya, dokter Luri menjadi orang yang paling membenci Binar. Sebab laki-laki bernama Adam yang sangat dokter Luri cintai, justru berniat menikahi Binar.
Puncaknya, setelah Binar menyabet predikat sebagai dokter teladan selaku apresiasi khusus yang diberikan oleh pihak rumah sakit dan tak sembarang dokter bisa mendapatkannya. Dokter Luri yang merupakan anak dari pimpinan sekaligus pemegang saham terbesar di rumah sakit, kembali mengerahkan keempat sahabat sesama dokternya di Paradise Hospital tempat mereka bernaung.
Kali ini kelimanya tak hanya membuat Binar nyaris meregang nyawa. Karena mereka juga sengaja membuat Binar trauma dengan melecehkan Binar, sebelum akhirnya merusak wajah Binar, hingga Binar terancam kehilangan identitas.
Namun ketika itu terjadi, diam-diam Binar yang sudah memiliki firasat buruk sengaja menggunakan ponselnya untuk melangsungkan siaran langsung, di salah satu akun media sosial miliknya, hingga apa yang menimpanya tersebar dan bisa diakses oleh siapa pun yang terhubung. Meski berkat kekuasaan para orang tua kelima pelaku, kasus tersebut langsung berusaha dihilangkan.
Ketika akhirnya Binar tersadar, Binar yang sempat dibuang ke sungai berarus deras, berakhir di tempat asing dalam keadaan terluka parah sekaligus tak sampai disertai kartu identitas. Binar diselamatkan oleh warga setempat yang ternyata memiliki kemahiran dalam urusan pengobatan herbal. Karenanya, Binar yang berniat untuk segera balas dendam, sengaja menggabungkan keahlian medisnya dengan kebiasaan warga setempat.
Sederet penemuan Binar ciptakan dan wanita itu siapkan sebagai bagian dari balas dendamnya. Binar pastikan, semua senior yang sudah menghancurkan hidupnya, akan merasakan balasan berkali lipat!
SEASON 2 :
Hampir enam tahun berlalu, tapi kebahagiaan Binar membuat para orang tua dari pelaku perun-dungan Binar yang sudah bebas dari hukuman, berniat untuk balas dendam. Mereka tidak bisa menerima kebahagiaan Binar yang bagi mereka dibangun di atas luka-luka mereka. Apalagi selain kehilangan karier dan sebagian harta benda, mereka juga kehilangan anak semata wayang mereka. Lain dengan Binar yang selain makin sukses, justru juga jadi sangat bahagia bersama keluarga kecilnya.
Melalui Sunny putri cantik Binar yang sangat periang, mereka yang diketuai nyonya Melisa, siap memulai seran-gan balik. Nyonya Melisa sengaja menguasai Sekolah Internasional selaku tempat Sunny belajar. Sunny yang tidak tahu apa-apa perlahan mereka si-ksa, agar Binar merasakan apa yang mereka rasakan.
Akan tetapi, Sunny yang tidak mau keluarga khususnya sang mama khawatir, memilih merahasiakan semuanya. Sunny menggunakan perlengkapan kosmetik milik mamanya untuk menutupi setiap lukanya. Kendati demikian, diam-diam Sunny juga merencanakan seranga-n balik. Di beberapa kesempatan, Sunny bahkan melawan ketika dirinya dise-kap atau malah disik-sa.
Tentu, sebagai seorang mama, Binar tidak bisa percaya begitu saja kepada perubahan putrinya. Karenanya, Binar melakukan penyelidikan. Betapa terkejutnya Binar ketika tahu apa yang putrinya alami. Lebih terkejut lagi ketika Binar mengetahui pelakunya. Binar tak terima dan segera memberi setiap pelakunya balasan berkali-lipat.
Namun karena kubu nyonya Melisa terus menye-rang dengan ugal-ugalan, kejadian saling serang pun tak terelakan. Para mafia kembali turun tangan karena kubu nyonya Melisa sampai menyewa pembu-nuh bayaran.
🌟Merupakan bagian dari novel : Pernikahan Suamiku (Istri yang Dituntut Sempurna)🌟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 : Salam Terakhir
“Aku sakit hati.”
“Aku kecewa, ... den—dam!”
“Aku malu ....”
“Aku ben—nci, ... Papah!”
Tatapan dingin dokter Bagas menatap marah kedua mata sang papah. Napasnya terengah-engah meski ia tak baru saja berlari. Sementara alasan kedua matanya basah, tak lain karena amarah yang telanjur menguasai. Bahkan, darahnya seperti dididihkan di setiap ia ingat apa yang terjadi.
Di malam yang sudah sunyi, di ruang biliar yang ada di kediaman mereka, dokter Bagas tengah meluapkan perasaannya. Perasaannya yang telanjur terluka setelah mengetahui perselingkuhan papahnya dengan nyonya Rima, dan beberapa saat lalu pria itu akui, telah terjalin sangat lama.
Diakui pak Hasan yang sampai detik ini masih memakai setelan jas warna biru gelap, hubungannya dan nyonya Rima, sudah terjalin sejak dokter Bagas SMA. Masa yang tentu saja masih berdekatan dengan awal mula hubungan dokter Bagas dan dokter Luri. Karena dokter Luri dan Bagas baru jadian ketika keduanya memasuki bangku SMA.
Sebenarnya, fakta tersebut sudah dokter Bagas ketahui dari sopir pribadi sang papah, tak lama setelah video pak Hasan dan nyonya Rima tersebar. Alasan yang juga membuat dokter Bagas merasakan keluh kesah dan beberapa saat lalu baru saja ia sampaikan. Yang membuat dokter Bagas merasakan semuanya rasa sakit itu, tentu karena selain mamahnya yang tak kalah cantik dari nyonya Rima, selain sang mamah yang sangat setia menjaga marwah keluarga. Malahan walau disibukkan dengan sederet pekerjaan sekaligus bisnis, hampir setiap harinya sang mamah memasak, memastikan dokter Bagas maupun pak Hasan, selalu mengonsumsi makanan sehat.
“Kamu boleh saja kecewa karena itu hak kamu. Sama halnya dengan Papah yang juga berhak memiliki cinta Papah!” yakin pak Hasan menatap dokter Bagas penuh keseriusan.
Tak ada sedikit pun penyesalan yang terpancar dari sikap terlebih kedua mata pak Hasan. Alasan yang membuat dokter Bagas begitu merasa tersakiti.
Sebagai seorang anak, pengkhianatan yang dilakukan salah satu orang tuanya tak kalah menyakitkan dari yang dirasakan oleh pasangan orang tua itu sendiri. Terlebih selain ingin memiliki keluarga utuh yang meski tidak selamanya bisa harmonis, dokter Bagas juga tidak terima mamahnya yang di matanya sempurna, dikhi*anati begitu saja. Tentunya, dokter Bagas juga merasa sangat malu. Rasa malu yang terasa berribu kali-lipat, bahkan meski dokter Bagas tak ada lagi dalam kehidupan ini. Terlebih selain sampai disebar melalui video, seling*kuhan papahnya justru wanita yang tak lain merupakan mama dari wanita yang sangat dokter Bagas cinta.
“Minta maaf!” tuntut dokter Bagas bersama air matanya yang berlinang. Namun bukannya langsung melakukan tuntutannya, selain pak Hasan yang hanya menatapnya dengan tatapan tak paham, pria itu juga langsung menggeleng.
“Untuk apa?” Pak Hasan sama sekali tidak merasa bersalah. Namun yang dibalas malah makin berlinang air mata sekaligus menatapnya kecewa. “Hubungan Papah dengan tante Rima? Kami sama-sama mau. Salah kami di mana? Bahkan mamah kamu saja biasa saja. Semuanya baik-baik saja!” yakinnya.
“DIAM BUKAN BERARTI TIDAK TERLUKA. DIAM JUGA BUKAN BERARTI MENERIMA SEMENTARA KAMU PASANGANNYA, DAN TAK SEMESTINYA KAMU MENGKHIANATINYA!” dokter Bagas meronta-ronta tak ubahnya gelegar guntur yang kerap hadir sebelum maupun di tengah badai.
“Seorang laki-laki yang mampu memenuhi nafkah istri, dibebaskan bersenang-senang dengan wanita lain bahkan lebih. Dan mamah menerima keputusan itu. Andai dia ingin balas, dia bisa melakukannya dengan laki-laki lain!” enteng pak Hasan, seolah mamah dokter Bagas termasuk dokter Bagas sendiri, tak ada artinya untuknya.
Detik itu juga, dokter Bagas yang makin tidak bisa menyudahi kesedihan, kekecewaan, sekaligus air matanya mengangguk-angguk. Ia berangsur mendekat sembari berdalih meminta izin memeluk sang papah.
Sampai detik ini, tanpa sedikit pun merasa bersalah, pak Hasan balas memeluk sang putra.
“P-papah benar-benar tidak ingin meminta maaf? Setia itu mahal, Pah. Hanya orang-orang berkualitas saja yang bisa melakukan sekaligus memilikinya!” isak dokter Bagas tersedu-sedu mendekap pria yang selama ini ia panggil papah. Pria yang sebelumnya sangat ia hormati, tapi tidak dengan kini setelah ia paham, bagi pria itu, mamahnya maupun dirinya yang notabene darah dagingnya, sama sekali tidak berarti.
“Aku mau kita sama-sama lagi. Jadi aku mohon, tolong tinggalkan tante Rima. Tolong minta maaf kepada mamah. Dan berjanjilah, tidak akan melukainya lagi.” Kali ini, dokter Bagas yang tersedu-sedu tak hentinya memohon.
“Anggap saja aku sedang menge*mis. Terlebih alasanku hidup, ... alasanku hidup dan bertahan sejauh ini, hanya mamah, kalian, dan juga ... Luri. Aku dan Luri akan menikah!” Sampai detik ini, dokter Bagas masih memeluk sekaligus memohon.
Namun, pak Hasan masih saja diam.
“P—ah ....”
“Lupakan Luri.” Setelah mengucapkan itu dengan dingin, pak Hasan juga berkata, “Lupakan Luri karena tante Rima rela melepaskan semuanya. Tante Rima rela kehilangan semuanya demi Papah!”
Hati dokter Bagas remuk redam mendengar itu. Karena dengan kata lain, papahnya tidak hanya mengorbankan sang istri, melainkan juga dokter Bagas dan hubungannya dengan Luri.
Dari sini juga awal mula dokter Bagas tak lagi ragu untuk menghabi*si papahnya sendiri. Pisau yang diam-diam sudah ia siapkan dan ia sembunyikan di balik pinggang, seketika meluapkan segala luka sekaligus kekecewaannya kepada sang papah. Pemandangan yang Binar saksikan melalui teropong.
“B—Bagas ...?” lirih pak Hasan yang sudah langsung tek berdaya akibat tus*ukan maupun tika*m*an yang dokter Bagas lakukan.
“Itu hukuman yang sangat pantas untuk orang egois sepertimu!” tegas dokter Bagas masih bertahan memegang pisau di tangan kanannya yang masih dihiasi dara*h segar milik sang papah.
“Cepat hubungi Tante Rima. Bukankah bagi Papah, dia segalanya? Jika dia segalanya, harusnya dia bisa memberimu sumbangan nyawa. Jika dia akan melakukan apa pun demi hubungan kalian, harusnya dia juga akan menyusulmu ke neraka!” Setelah berkata demikian, dokter Bagas sengaja merogoh saku sisi kiri celana panjang warna hitamnya, menggunakan tangan kirinya yang tak luput dari da*rah segar sang papah.
D*arah segar yang sampai detik ini masih mengalir dan berakhir di marmer putih gading yang menghiasi ruangan di sana.
Kini, menggunakan ponselnya, dokter Bagas sengaja merekam keadaan sang papah dan sudah langsung ia siapkan di ruang obrolannya dengan WA nyonya Rima.
“Ucapkan salam terakhirmu. Bilang padanya, bahwa kamu menunggunya di neraka. Wanita mur*ahan sepertinya yang rela m*enghancurkan rumah tangga, pasangan, bahkan darah dagingnya, memang sangat cocok bersanding dengan laki-laki sepertimu yang tidak berguna!” tegas dokter Bagas.
“B—bagas, ... HENTIKAN!” lirih pak Hasan tak berdaya dan perlahan berakhir jatuh di lantai.
Apa yang pak Hasan lakukan, dan itu masih saja memihak nyonya Rima, begitu menyakiti dokter Bagas. Dokter Bagas sampai berteriak sangat kencang meluapkan emosinya.
Padahal, niat pak Hasan ialah menghampiri kemudian menghentikan kesibukan sang putra. Namun, kegagalannya itu justru sukses membuat yang mendapatkan kiriman video ketakutan.
Di tempat berbeda, nyonya Rima yang sudah memakai gaun malam warna putih sungguh langsung kacau. Nyonya Rima buru-buru meninggalkan tempat tidur yang awalnya akan ia gunakan untuk istirahat.