[Selamat tuan, anda berhasil menyelesaikan tugas]
[Anda menerima 100 poin dan uang tunai yang langsung masuk ke rekening anda]
[Sebagai bonus anda menerima uang 500.000 karena telah menyelesaikan misi kurang dari waktu yang ditentukan]
"Haah.. Apa ini?" Julian terkejut, apakah ia baru saja menyelesaikan tugas dari aplikasi aneh yang ada di ponselnya itu.
Julian yang penasaran segera memeriksa mobile banking yang ada di ponselnya dan benar saja ternyata nominal uang di rekeningnya telah bertambah. Julian sedikit bingung, bagaimana aplikasi ini bisa tau nomor rekeningnya.
Privilege App System, Aplikasi aneh yang tiba-tiba muncul di ponselnya membuat Julian yang penasaran dan semakin tertarik untuk mencoba.
Akankah aplikasi ini dapat mengubah kehidupannya yang malang….
Simak terus kisahnya hanya di sini !
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zarans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan
"Hati-hati di sana," ujar Julian dengan senyum mengembang.
"Siap tuan," jawab Michelle sambil memberi hormat.
Hari ini adalah hari keberangkatan Michelle untuk pindah dan tinggal bersama orang tuanya selama beberapa waktu.
Julian sedikit sungkan, karena pasti akan bertemu dengan atasannya. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan ikut mengantar keberangkatan gadis itu.
Michelle melambaikan tangannya beberapa kali sampai akhirnya ia menghilang dari pandangan mata. Julian terdiam dan berbalik mencoba menyapa atasannya.
"Kita ngobrol dulu ya sebentar," tawar Susi sambil berjalan mendahului Julian.
Tanpa menunggu jawaban Julian, Susi berjalan lebih dahulu dan mereka pun sampai di sebuah coffee shop yang berlokasi di area bandara.
"Kita memang belum lama kenal, tapi saya percaya sama kamu," ujar Susi memulai percakapan.
"Bisa jelaskan kejadiannya lebih rinci dengan sejujur-jujurnya?" tanya Susi melanjutkan.
Julian awalnya sedikit sedih mendengar perkataan atasannya itu. Namun, satu sisi Julian berusaha untuk mengerti bahwa atasannya itu hanya mencoba yang terbaik untuknya.
Secara perlahan Julian menjelaskan semua kejadian yang akhir-akhir ini terjadi padanya. Mulai dari dirinya yang tiba-tiba dekat dengan Malik sampai kejadian yang menimpa Leo, sehingga membuatnya sampai tidak masuk kantor.
Julian sebenarnya tidak ingin melibatkan atasannya itu dalam masalah yang menimpanya ini, karena sejujurnya Julian telah menyiapkan kejutan yang pas untuk Malik atas semua perbuatannya.
Pilihan Julian juga sudah mantap, terbukti atau tidaknya nanti di sidang yang akan dilakukan besok ia sudah memiliki pilihan sendiri.
"Kamu mau saya kenalkan ke teman saya di perusahaan lain? Perusahaannya cukup bagus," tawa Susi.
"Tidak usah Bu, dan apapun keputusannya saya akan terima nanti," tolak Julian halus.
Setelah berbincang sebentar, Julian pun berpisah dengan atasannya. Ia memutuskan untuk pulang kerumah dan beristirahat.
Julian membeli beberapa bahan makanan sebagai amunisi sekaligus untuk mengisi kulkasnya yang sudah kosong. Aneka buah, minuman dan camilan ia beli sampai ia kesulitan membawanya di motor.
[Selamat malam tuan]
"Rabbit, selain tugas baru itu apa aku tidak akan mendapat tugas lain lagi?" tanya Julian penasaran.
[Tentu saja akan ada tugas lain tuan]
[Namun jika tuan hanya berdiam diri di rumah bagaimana tugasnya akan keluar]
Julian mengangguk setuju, setelah dari mengantar Michelle tadi Julian segera pulang dan hanya menghabiskan waktu di rumah sampai saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 malam, Julian sedikit ragu jika ingin keluar malam ini. Besok pagi ia harus ke kantor dan menyiapkan mentalnya dengan baik.
Tentu saja bukan hal lucu jika besok ia tiba di kantor dalam keadaan setengah sadar akibat mabuk atau kurang tidur.
"Baiklah, beri aku tugas yang banyak besok ya!" ujar Julian sambil tertawa.
[Jika tuan menyelesaikan tugas terbatas lebih cepat, maka tuan akan mendapatkan bonus yang lebih besar]
[Nama : Julian Ferdinand]
[Usia : 22 tahun]
[Pekerjaan : Karyawan]
[Level Privilege : 27 ]
[Soft Skill : 100/100]
[Hard Skill : 50/100]
[Stamina : 60%]
[Poin : 20900]
[Saldo Rekening : 1.530.000.000]
Setelah selesai memandangi data diribya yang ada dalam sistem, Julian bergegas mengambil catatanya, ia mencari informasi terkait beberapa lokasi yang dijual atau disewakan kemudian mencatatnya.
Setelah dari kantor besok ia berencana untuk berkeliling kota sambil mencari lokasi yang strategis untuk tempat usahanya nanti.
...🍀🍀🍀...
Julian tiba di kantor dengan setelan yang rapi dan rambut yang klimis, ia sengaja memakai pakaian baru yang belum pernah ia pakai ke kantor hari ini.
Di balik ranselnya Julian sudah menyiapkan sebuah surat yang nanti akan ia serahkan setelah pertemuan pagi ini.
Julian duduk di meja yang biasa ia duduki setiap hari, ia menatap setiap bagian dan lekukan yang ada, sebagai memori yang tak akan pernah ia lupakan.
Tak ada satu pun pegawai yang mendekat ke arah Julian. Beberapa pegawai justru bergantian menepuk punggung Malik memberi dukungan, hal itu membuat Julian tersenyum geli.
"Malik, Julian ikut saya ke ruang rapat di atas," perintah bu Susi sambil berjalan ke arah lift.
Julian dan Malik berjalan mengikuti dari belakang dalam keheningan. Tak ada satupun yang mengeluarkan suara bahkan sepatah katapun, keheningan itu sangat dinikmati Julian.
Terlihat pantulan diri mereka dari balik pintu lift, sekeras apapun Malik menutupi kegugupannya Julian tetap dapat melihat hal itu.
Sesampainya di ruang rapat, telah ada 3 orang lainnya selain bu Susi. Totalnya ada 4 orang yang duduk di seberang Malik dan Julian. Julian dan Malik duduk berdampingan dengan jarak sekitar 1,5 meter.
Pertanyaan demi pertanyaan Julian jawab dengan tegas dan persis seperti yang ia lontarkan pada bu Susi di coffee shop tempo hari, tanpa ada kurang satu apapun.
Tibalah saat Malik, jawaban Malik membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Bahkan sang pemilik mulut pun tampak terkejut dengan apa yang ia sendiri katakan.
Julian mencoba menahan senyuman, ia bersusah payah menyiapkan ekspresi datar agar tak tampak mengejek sang lawan.
"Kami pastikan lagi, apa benar laporan yang anda presentasikan tempo hari adalah milik anda sendiri?" tanya Gunawan, pemimpin pertemuan hari ini.
"Bukan Pak, itu adalah milik Julian. Saya mencurinya dari laptop yang ia tinggalkan di kantor dan merubah sedikit dari tampilannya," jawab Malik, ia tampak sedikit terkejut dengan kata-kata yang dirinya sendiri lontarkan.
Bersambung..
"Menyala Abangkuhh"
"yang bener aje, Rugi dong? "