Jane Pearson, terpaksa menjadi pengantin wanita palsu untuk menggantikan kakaknya yang kabur dari pernikahan sehari sebelum, yang akan menikah dengan Nicholas Lartner, pengantin laki-laki yang menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris Lartner Group. Setelah melewati berbagai rintangan pernikahan, keduanya terjebak dalam cinta. Akankah mereka memilih untuk tetap bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvina Stephanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Untuk menciptakan keharmonisan, kenyamanan, dan saling mencintai, maka perjanjian pranikah ini dibuat.
1. Tidak boleh bersikap berlebihan saat berada di perusahaan, bermain-main dan menggoda. Perilaku yang dilarang termasuk berciuman, berpelukan, dan kontak fisik
“Jadi, jika aku sedang bekerja, menyentuh kamu seperti ini, apa disebut kontak fisik?” Nicho protes saat membaca peraturan nomor 1.
“Ya.”
Nicho menghela napas dan lanjut membaca.
2. Di rumah juga.
“Hei, apa-apaan ini? Memang kamu sedang menghindari aku atau sedang menghindari serigala? Aku tidak setuju.”
“Di rumah bisa sedikit lebih santai.”
Nicho tersenyum. “Jadi, ubah yang di rumah dilarang bermain-main, menggoda, tapi boleh mencium, berpelukan, dan kontak fisik. Ok, nah sudah jadi. Cetak dan tandatangani ini.”
“Ini…”
“Kenapa kamu melihat aku? Kalau kamu melihatku lagi, berarti sedang genit menggodaku.”
Jane langsung keluar dari ruangan Nicho.
“Kita selesaikan saja semuanya sekarang, lalu pergi ke Jepang,” ucap Megan.
“Megan, sebentar lagi. Sebentar lagi Lartner Group akan jatuh. Sampai saat itu terjadi, baru kita akui semuanya,” balas Noah.
“Aku tidak bisa. Aku sudah terlalu banyak membuat adikku menderita.”
“Iya, tapi sebentar lagi, Megan.”
Ponsel Noah bordering. “Baik. Aku akan segera ke sana.”
Selepas kepergian Noah, Megan terus memikirkan adiknya, Jane.
“Lalu sampai kapan kakak masih ingin menyembunyikannya? Megan Pearson, tidakkah kamu merasa kamu sangat egois? Kenapa aku yang harus bertanggungjawab atas kekacauan yang telah kamu buat!”
Hal itu mendorongnya bergerak untuk menemui kakek Lartner. Dia mendatangi kediaman kakek Lartner dengan maksud untuk mengakui semuanya.
“Saya sungguh minta maaf. Saya melakukan ini karena saya tidak ingin menikah dengan Nicholas, yang saya cintai adalah kakaknya, Noah. Adik saya juga tidak bersalah. Ini semua salah saya.”
Kakek Lartner marah besar. Dia mengumpulkan Nicho, Noah, Megan, dan Jane.
“Karena keluarga Pearson telah menipu keluarga Lartner, aku membawa keluarga Pearson ke pengadilan. Dan jangan satupun di antara kalian menyebarkan hal ini. Karena ini adalah aib bagi keluarga Lartner!”
“Kakek! Kakek ‘kan sudah mendapatkan Pearson Company, kenapa kakek masih ingin membawa masalah ini ke pengadilan?” Nicho protes.
Noah membawa Megan pergi dari sana.
“Bukankah sudah aku bilang untuk tunggu sebentar? Sekarang kamu lihat. Kakek ingin menggugat kalian. Bukankah ini menjadi lebih besar?” Noah memarahi Megan.
Noah mengeluarkan ponselnya. “Halo, percepat rencananya.”
Nicho membawa pulang Jane.
“Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Aku harap kamu setuju,” ucap Jane.
“Jangan bilang… kamu mau pergi dari rumah ini?” Jane tidak ingin hubungan antara keduanya dibangun atas dasar bisnis, jadi dia berencana untuk mengakhiri kontrak pernikahan terlebih dahulu,
“Tidak. Aku ingin mengakhiri kontrak pernikahan.”
“Kenapa?”
“Bisakah kamu menghormati keputusanku? Aku berjanji, ini tidak berpengaruh ke hubungan kita.”
“Kamu tidak ingin hubungan kita didasari oleh bisnis?”
“Semacam itulah. Aku ingin kita bisa mulai dari awal lagi.”
Dan Nicho setuju.
“Aku setuju.”
Keesokan harinya, Nicho membawa Jane ke rumah kakeknya, siap untuk menandatangani perjanjian pemutusan kontrak. Namun kakek tidak setuju jika Jane masuk ke keluarga Lartner.
Jane mab*k di restoran Mark pada malamnya. Setelah dia dijemput oleh Nicho dan kembali ke rumah Jane tidak bisa mengendalikan kebiasaan minumnya terlalu banyak.
“Aku ingin minum. Satu kali lagi,” ucap Jane.
“Nah ini, minum.” Nicho memberikan segelas air putih.
“Tidak mau yang ini.”
“Jane, kamu akan membuat masalah kalau mab*k. kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.”
“Iya. Tidak masalah. Aku bukan seorang pengecut.” Jane menarik dasi Nicho agar wajah Nicho mendekat padanya. Setelah itu Jane hendak mencium bibir Nicho. Namun Nicho menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.
“Jane, kamu tidak mau mandi dulu?”
“Tidak.”
Nicho menyatukan kedua bibir mereka. Keduanya menghabiskan malam yang baik bersama.
Paginya, Jane tiba-tiba tidak tahu bagaimana menghadapi Nicho. Sebelum dia bangun, dia bergegas bekerja tanpa sarapan.
“Selamat pagi, Nyonya,” ucap Paul ssat melihat Jane menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.
“Paul, selamat pagi.” Jane hendak pergi.
“Eh eh, apa nyonya tidak sarapan?”
Jane langsung berlari pergi.
“Eh, eh. Nyonya? Sarapan dulu sebelum pergi.”
Nicho terbangun dan mendapati Jane tidak ada di sampingnya. Nicho berteriak memanggil nama Jane.
“Jane. Jane,”
Lalu Paul mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk.”
“Selamat pagi. Aku membuatkanmu bubur.”
Sementara di jalan, Jane memikirkan perbuatannya semalam saat mab*k.
“Jane, kenapa kamu tidak bisa mengontrol dirimu sendiri? Ini semua salah alcohol. Tapi, kita berdua juga sudah dewasa.”
Sejak malam itu, Jane terus menghindari Nicho. Dia tidak mau menjawab panggilan dari Nicho, dan di rumah juga selalu menghindari Nicho. Nicho menyuruh Jordan meneleponnya dengan menggunakan ponsely\=nya.
“Hubungi dia dengan ponselmu.”
Jordan menelepon Jane.
“Halo?” Jane menjawab panggilannya.
Nicho terkejut.
“Halo. Jane, dimana kamu sekarang?”
Nicho segera merebut ponsel Jordan.
“Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?” Tanya Nicho.
Jane segera mengakhiri panggilan setelah mendengar suara Nicho.
Di rumah Nicho.
Nicho duduk di ruang tengah dan menanti kepulangan Jane. Sampai jam 10 malam Jane belum juga pulang.
“Nyonya belum pulang?” Tanya Paul.
“Dia tidak meneleponmu?”
“Tidak. Ponselnya mati. Dia masih di luar jam segini. Itu sangat mengkhawatirkan.”
Nicho berdiri dan berjalan keluar dari rumah. Paul mengikutinya. Jane langsung bersembunyi di balik tanaman saat melihat Nicho keluar.
“Bagaimana kalau kita kembali masuk dan menunggu di dalam saja?” Tanya Paul.
Nicho tidak menjawab.
Tidak lama, Jane mengirim Paul sebuah pesan.
Jane.
Aku akan kembali nanti. Masuklah dulu.
Paul memperlihatkan pesan itu kepada Nicho. Nicho melirik ke sekitar, dan mengetahui Jane sedang bersembunyi.
“Paul, masuk saja. Aku akan menunggu sendiri,” ucap Nicho dengan keras.
“Oh, baik, baik. Aku akan masuk.” Paul masuk ke dalam.
“Berapa lama kamu akan bersembunyi?” Tanya Nicho.
Jane terkejut.
Mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar. Nicho menutup pintu kamar rapat-rapat.
“Kenapa kamu selalu menghindariku?” Tanya Nicho yang duduk di samping Jane di atas ranjang.
“Tidak.”
“Lantas, apa yang kamu lakukan beberapa hari ini? Apa karena kamu malu?”
“Aku… aku haus. Aku ingin mengambil air.” Saat Jane berjalan, Nicho menarik tangan Jane hingga Jane jatuh di pangkuannya.
“Kamu tidak bisa lari lagi. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu menghindariku?”
“Aku… aku malu.”
Nicho mencium bibir Jane dan menidurkannya. “Aku akan membuatmu tidak malu lagi.”
Waktu kian berjalan. Kakek Lartner ingin menggugat John, ayah Jane, karena sudah menipu keluarga Lartner tapi John melarikan diri keluar negeri. Sehingga sulit untuk menggugatnya.
“Sudah lama papa pergi. Apa papa tidak akan kembali?” Jane berpikir.
Namun Jane terasa mual.
“Apa mungkin…”
Jane segera pergi ke minimarket.
Setelah kembali ke rumah, Jane langsung melakukan tes kehamilan. Dan hasilnya menunjukkan garis dua, dia benar-benar hamil.
Saat Nicho pulang ke rumah dan melihatnya, Nicho sangat senang.
“Jane, aku akan menjadi seorang ayah?”
“Mungkin…”
Bersambung...