Aku tak menyangka setelah membawa istriku ke rumah ibu, aku tak tahu jika banyak tekanan yang Sari hadapi saat itu. Dimana sifat ibu yang tadinya baik berubah derastis, ia memperlihatkan sifat aslinya.
Setiap malam Sari sering menangis, membelakangi tubuhku, mengabaikan aku. Setiap kali aku bertanya, ia tak pernah menjawab selalu terlelap tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 (Pov Raka.) Menolak makanan.
Aku terkejut mendengar suara teriakan dari kamar mandi, " Siapa yang berteriak. "
Masuk ke dalam kamar ibu, aku mulai mengintip di jendela kamar mandi ibu.
Namun tak kusangka, ibu malah mengguyur tubuh istriku, ia memarahinya habis habisan.
"N-ih, k-am-u ra-sai-n a-ir din-gin ini. D-a-sar m-en-antu t-ak ta-hu d-iri."
Istriku terlihat pasrah, saat ibu mengguyurnya.
"Ga-ra ga-ra ka+mu, ak-u ti-da-k bi-sa be-rte-mu den-gan Puj-a."
"Ampun bu. "
Karena tak tahan melihat istriku tersiksa, pada akhirnya aku mendobrak pintu kamar mandi ibu, membuat ibu menatap ke arahku dengan melemparkan gayung yang masih berisi air.
Aku menatap tajam dan penuh kekesalan, membawa istriku, membiarkan ibu di kursi roda.
"Ri-ki."
Membalikkan badan mendengar panggilannya, " Bu, harusnya ibu bersyukur mempunyai menantu yang rela mengerjakan pekerjaan rumah dengan sukarela, dan lagi mengurus ibu. Tolonglah pergunakan tangan dan mulut ibu yang masih berfungsi itu dengan hal baik."
"Ri-ki ak-u i-bu ka-mu, ke-na-pa ka-mu sel-alu sa-ja me-mb-ela di-a. "
"Bu, sudah berapa kali Riki katakan pada ibu. kenapa ibu tak pernah mengerti ngerti. Sari istri Riki, dia sudah melakukan yang terbaik untuk kita."
"Ter-baik a-pa, h-ah. "
Aku terus beristighfar mendengar perkataan ibu, sampai kapan ibuku akan sadar dengan kesalahan yang sudah ia lakukan pada Sari.
"Bu, jangan sampai. Perilaku jahat ibu berbalik lagi pada ibu sendiri. "
Begitu kesalnya, tanpa aku sadari sudah mengatakan hal yang malah membuat ibu murka.
"Be-ra-ni ka-mu me-ny-um-pahi ib-u kan-dun-gmu sen-diri. "
Berdebat dengan ibu tak akan pernah ada ujungnya, ibu tak mau salah dan ingin selalu benar di setiap ucapannya.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu, aku takut kamu sakit, Sari."
Sari menganggukkan kepala dan berkata," Baik mas. "
Langkah kaki istriku terlihat gontai, tubuhnya menggigil.
Menghela napas, melangkah ke arah ibu. Untuk segera mendorong kursi rodanya.
Ibu tetap diam, dimana aku langsung membersihkan tubuhnya yang sudah terlihat mengkerut.
Selesai memandikan ibu, aku mulai memakaikan baju, melihatnya seperti sekarang membuat hatiku sakit, tak tega.
Namun terkadang membuat aku kesal, karena ibu selalu memarahi Sari tanpa sebab. Padahal Sari begitu baik dan sabar, tapi ibu selalu menganggapnya buruk.
"Bu, kalau ibu tidak mau diurus sama Sari, nanti siapa yang mengurus ibu. Asal ibu tahu, Bi Asih, mengundurkan diri. Dengan alasan anaknya sakit. "
Ibu masih saja diam dengan ucapanku.
Selesai mendandani ibu, aku mulai membawa wanita tua itu ke meja makan.
Hidangan sudah tersedia, aku tak melihat istriku sama sekali. Hanya ada Riri yang duduk di kursi.
"Riri, kamu panggilkan kakakmu sekarang. "
"Tidak mau, malas sekali aku. "
Menggelengkan kepala, mendengar jawabannya. " Ya sudah kalau begitu, kamu jangan makan."
Riri membulatkan kedua matanya setelah mendengarkan perkataanku, ia bangkit dengan menampilkan bibir cemberutnya.
"Cepat."
"Iya bawel. "
Sepuluh menit menunggu, Sari datang, kedua matanya memerah. Sepertinya ia habis menangis, " Mas. "
Istriku kini mengambilkan nasi, untukku dan juga ibu. Ia terlihat melayaniku dengan begitu baik, " Ayo dimakan. "
Aku mulai menikmati hidangan yang dimasak oleh istriku, benar benar nikmat dan terasa enak.
Sari belum memakan makananya, ia fokus pada ibu," Ayo bu, makan. Sari suapi. "
Ibu memalingkan wajah, ia menolak suapan dari Sari, membuat Sari tak menyerah, merayu ibu berulang kali.
"Ayo bu, makan dulu, biar ada tenaga. "
Ibu malah menutup rapat rapat kedua bibirnya, membuat aku yang melihatnya merasa geram.
" Bu, ayo dong. Dimakan," Aku berusaha berucap lembut, agar ibu mau makan.
Mengambil piring berisi makanan dan juga sendok dari tangan istriku, aku mulai menyuapi ibu. " Dimakan ya bu, Sari sudah cape cape masak dari subuh buat kita makan."
Mulut ibu mulai terbuka lebar, dimana suapan mulai masuk ke dalam mulutnya.
"Uwek, uwek. "
Ibu malah memuntahkan makanan yang baru saja ia kunyah, " Bu, kenapa?"
"Ngg-ak en-ak, ma-ka-nan a-pa i-ni. Nggak ada en-ak ena-kny-a, ka-yak m-ak-a-nan sa-mp-ah!"
Di situasi seperti ini, masih bisa ibu menghina masakan Sari, mm. Ya Allah bagaimana lagi aku menahan kesabaran ini agar tidak marah kepada ibu kandungku sendiri.
Aku melihat Sari berpura pura tegar, ia berusaha tersenyum setelah mendapatkan hinaan dari ibu.
"Bu, maafin Sari ya. Sebagai gantinya ibu mau Sari masakin apa?"
Ibu malah mendelik kesal, saat Sari mencoba mengambil hatinya. " Ti-dak us-ah, ma-ka-nan ka-mu tid-ak a-da y-a-ng en-ak. "
Sari seperti menahan isak tangis, ia berusaha menyekah air mata beberap kali. " Gimana kalau Sari beliin makanan untuk ibu. "
Ibu malah diam, " Bu, jawab dong, kalau Sari ngomong."
Ibu menatapku dengan tatapan sinis, lalu menatap lagi kearah Sari. " Ib-u tid-ak m-au. "
Wanita tua itu malah memarahi istriku, padahal niat Sari begitu tulus. " Bu. "
"Ri-ki, an-ta-rk-an i-bu ke ka-mar. "
Aku mulai menuruti perintahnya, mendorong kursi roda.
Masuk ke dalam kamar. Aku mulai duduk dihadapan ibu. "Bu, ibu belum makan. Ibu mau makan apa?"
"A-pa s-a-ja ter-se-rah ka-mu!" Padahal tadi saat ditanya oleh Sari, ibu begitu jutek dan malah memarahinya.
"Ya sudah ibu tunggu dulu di sini ya, Riki mau pergi beliin ibu makanan. "
Ibu menganggukkan kepala, setelah mendengar perkataanku. Setelah menutup pintu kamar ibu, Sari datang. " Gimana keadaan ibu?"
Sari yang sudah mendapatkan bentakan dan hinaan masih saja menanyakan kondisi ibu. " Hmm, ibu masih seperti biasa."
"Oh ya, kamu mau ke mana, mas?"
Rasanya tak enak jika aku mengatakan pada Sari, ibu ingin membeli makanan di luar.
"Mas."
"Mas."
Lamunanku membuyar, saat Sari terus melambaikan tangan. " Eh, iya. "
"Ditanya malah melamun, kenapa mas?"
Aku menggaruk belakang kepala, masih bingung dengan jawaban yang akan aku lontarkan di depan istriku.
"Oh ya, ibu mau makan tidak, kata ibu dia mau makan apa!" Baru saja aku kebingungan dengan jawaban yang akan aku lontarkan kini istriku malah bertanya.
"Mas, hey. Ayo ngomong saja. "
"Sebenarnya ibu ingin beli makanan di luar, dan sekarang aku bingung mau beli apa?"
Sari tersenyum dan berkata, " kamu tunggu di sini, jangan kemana mana?"
Apa yang akan dilakukan istriku?
𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒 𝚏𝚋 𝚐𝚊𝚔 𝚙𝚞𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐𝚛𝚎𝚐𝚎𝚝𝚗𝚢𝚊