Cita-cita tergantung setinggi langit. Dia yakin meski terjatuh maka akan tepat diantara bintang-bintang. Pejuang ilmu di kota besar, hidup menumpang dengan sanak saudara. Segala penderitaan tidak membuatnya berhenti berjuang agar bisa bersekolah. Nantikan kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelam
Rita menyetir mobil ke salah satu swalayan di pusat kota. Dia memberikan kebebasan pada Bilqis agar memenuhi satu keranjang dorong membeli apapun yang dia suka. Begitu pula dengan Riky, waktu satu jam berbelanja kembali di tempat bagian buah-buahan untuk bertemu bersama-sama melakukan pembayaran. Ibu yang tidak memiliki hati nurani itu melepaskan Riky begitu saja. Dia mendorong keranjangnya menjauh dari mereka berdua.
“Kita barengan yuk. Kakak mau kamu bantuin pilihkan warnanya nanti.”
“OK” jawaban bahasa tubuhnya.
Jajanan plastik berukuran dua kali dari jajanan yang ada di kampung. Bilqis mengamati benda-benda baru yang pertama kali dia sentuh dan lihat tanpa sadar Riky memenuhi kedua keranjang dengan jajanan pilihannya.
Bilqis meraih sebungkus Marsmellow, melihat keranjangnya penuh. Bilqis meletakkan kembali makanan yang serupa ke tempatnya.
Ada Sembilan jajanan yang sama. Bilqis memilih plastik kemasan berbeda, keranjangnya pun akhirnya kosong. Terlihat keranjang Riky terisi setengah bagian.
Bilqis memilih sebuah jas hujan berwarna biru. Satu ukurannya dan satu lagi ukuran Riky. Menuju ke bagian peralatan sekolah. Benda-benda unik, salah satunya buku dan pulpen yang bertema Disney princess membuat daya tarik keinginan mengambilnya. Tema pemeran cinderella berwarna biru. Bilqis tidak melewatkan alat tulis dan perlengkapan sekolah untuk Riky.
Mendorong keranjang ke sisi bagian ujung. Pernak-pernik ikat rambut, pita dan aksesoris di pilih Bilqis. Mereka juga memilih jam kembar berwarna biru. Masing-masing menempah ukiran tertulis nama.
Selesai memilih, Bilqis dan Riky menunggu Rita di tempat yang dia janjikan. Hampir setengah jam menungggu Rita yang tidak datang-datang. Bilqis meminta Riky menunggunya, dia memasang jari kelingking perjanjian tetap menunggu tanpa membuat keributan.
Bilqis berlari mecari Rita, tapi dia tidak ada walau sudah dua kali berkeliling. Bilqis mencoba menghubungi tapi nomornya tidak aktif. “Dimana kak Rita? Kalau gitu aku harus mengambil inisiatif sendiri. Mengembalikan semua benda-benda itu lalu ke luar jalur yang membelakangi pintu masuk bagian depan kasir. Ketika dia kembali, Ada Deni yang membawa bungkusan belanjaan.
“Kak Rita nggak lihat ada si Riky? Nggak kasihan sama anaknya yang lihat ibunya bermesraan dengan pria lain selain ayahnya?” gumam Bilqis memalingkan wajah enggan menyapa.
“Makasih ya sayang.”
Cipika-cipiki melambai, mobil Rita meninggalkan parkiran. Di dalam mobil, raut wajah Riky manyun sedang kan Bilqis sibuk membuka buku pelajaran. Rita tidak memperdulikan gelagat anaknya, dia malah memasang musik keras sesekali dia melantunkan lagu di dalam suaranya yang serak basah.
Khususnya wanita yang terlalu banyak merokok, mengkonsumsi minuman keras dan minum air dingin di malam hari akan mengganggu pita suara dan kesehatannya. Dia tidak ingat semasa kehamilan Riky, Rita rajin menggunakan semua itu.
Whener, wherever
We are meant to be togethet
I will be there and you’ll be near
And that’s the deal, my dear
Nyanyian suara Rita di sambung Bilqis dengan nada kecilnya. “There over, here under. You’ll never have to wonder..”
Tinn (bunyi klakson kuat).
Di depan sedang macet total. Seperti sedang ada kecelakaan, bunyi klakson ambulance dan mobil polisi berhenti di depan tepi belokan. Anak-anak jalanan mengamen menyanyikan lagu, suara musik yang mereka ciptakan dari benda-benda barang bekas berdiri di samping pintu mobil.
Bilqis memberikan selembar uang lima puluh ribuan. Mereka berkali-kali mengucapkan terimakasih. Rita menyuruh Bilqis cepat menutup kaca jendela. Beberapa detik kemudian mereka di hampiri lebih banyak anak jalanan mengerubungi mereka.
“Tuh besok lu kasih lagi uang besaran. Kalau lu kasih receh pasti semua nggak nuntut minta di kasih!” omelan Rita menjalankan mobilnya.
Rambu lalu lintas bernyala lampu hijau. Rita melaju kencang kendaraan. Bilqis merasa bersalah karena perkataan kakaknya ada benarnya. Di depan gerbang, ada dua mobil putih berhenti. Sekitar lima orang wanita berpakaian seksi bersuara tinggi di dalam tawa kerasnya.
“Kalian kesini kok nggak bilang-bilang sih?”
“Ta, kami sekedar mampir. Haus nih. Eh ada si Riky. Loh ini siapa Ta?” ucap wanita berbaju merah.
Bilqis memperhatikan anting emasnya berbentuk lingkaran besar. Bajunya seperti mau terlepas dan sepatunya sangat tinggi. Di antara kelima wanita itu ada dua yang tidak asing adalah wajah Susi dan Nina yang sering dia lihat kalau di ajak kakaknya ke diskotik.
Raut wajah masam mereka terlihat dari tindak tanduk tidak betah berlama-lama. Mereka berpamitan pada Rita. Ketiga teman-temennya tidak mau mendengar ajakan Susi. Mereka menarik Rita masuk ke dalam rumah. Melihat tamu-tamu Rita merajai rumah, bi Sumi hanya bosa menggeleng kepala. Masing-masing dari mereka memesan minuman yang berbeda. Ada yang minta jus jeruk, kopi panas, sirup, susu coklat dan teh manis panas.
Susi dan Nina terpaksa ikut masuk ke dalam. Rita melirik perubahan kedua sahabat terdekatnya itu. “Kalian berdua kenapa? Lu pada seolah musuhi gua!”
“Emangnya si Deni belum cerita?” gumam Susi melihatnya.
“Nggak apa-apa lagi badmood aja” jawab Susi.
“Terus lu Nin? Habis putus sama Egi? Buaya lu pelihara. Dia meloroti lu mulu. Jangan bego deh jadi cewek.”
Perkataan Rita tidak bisa di artikan sebagai perbandingan dengan dirinya. Rita tergolong wanita beruntung di mata Nina. Deni si bos Mafia berstatus lajang bertekuk lutut di hadapannya. Di tambah lagi serangan fajar para pria yang tidak pernah henti merebut hatinya.
“Lu pakai apa sih ta? Semua pria tergila-gila sama lu? Lu pakai susuk ya?” cibir Susi.
“Gila lu. Gua nggak percaya hal gituan. Gua rajin perawatan aja, uang jajan yang di kasih si Arun setiap hari udah bisa buat bangun kampung.”
Suara teriakan Uli mengagetkan hingga Ketrin tersedak minuman. Saat mereka berlari melihatnya,Uli membuka lemari kaca yang berisi berbagai jenis tas branded di dalamnya. Dia mengambil dua tas. Satu tas selempang dan satunya lagi tas tangan. Label harga masih tertera, tas berwarna merah muda seharga dua juta rupiah. Satu lagi harga yang membuat Uli meneruskan jeritannya, harga lima juta rupiah untuk sebuah tas tangan yang berukuran kecil.
“Untuk kualitas dan bahan jangan di pertanyakan. Kalau lu mau ambil aja, nggak usah pake drama.”
“Hu, jutek amat sih. Heheh, tapi makasih ya cantik. Baik banget sih.”
Mida dan Ketrin saling bertatapan, mereka sama-sama melirik tas berwarna putih. Tarik menarik membuat tali tas putus, Rita melotot. Dia tidak memperbolehkan keduanya mendapatkan tas yang mereka mau.
“Ini harganya tiga juta rupiah! Heran gua, masih banyak lagi di lemari sono yang warna putih malah ngerusakin. Udah bubar dah!”
Pulang dengan hati yang hampa, hati ini hanya Uli yang memenangkan keberuntungan mendapatkan dua tas mahal sekaligus.
. dia milih bawa mukenah. belajar. kasian juga wktu di pukuli si rita sunting. aduh