"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terakhir Kalinya.
Tanpa terasa sekarang sudah memasuki bulan kedua Rindu magang di perusahaan Devano dan selama itu juga Devano belum juga menyadari perasaan yang dimiliki terhadap gadis itu.
Tapi sifat yang selalu ditunjukkan Devano terhadap Rindu sudah sangat jelas bahwa laki-laki itu tidak rela saat melihat Rindu berdekatan dengan laki-laki lain bahkan Devano sempat melarang Rindu berdekatan dengan Kaisar.
"Apa kamu mau saya memberi nilai jelek hingga kamu tidak bisa lulus dengan cepat karena kamu selalu membantah apa yang saya bilang padahal saya sudah menyala untuk kamu berdekatan dengan laki-laki lain,"
Puncaknya saat Devano melihat gadis itu bercanda bersama Kaisar saat jam makan siang di kantin kantor dan kebetulan Devano juga berada di sana walaupun dalam ruangan yang terpisah dibatasi dengan kaca.
"Kedekatan saya bersama siapapun itu bukanlah urusan bapak jadi tidak perlu terlalu jauh mencampuri urusan pribadi saya. Ingat pak anda itu hanya atasan saya bukan orang tua yang pantas mengatur dengan siapa saya bergaul,"
Jika biasanya Rindu membalas dengan candaan tapi berbeda dengan sekarang sebab gadis itu sudah merasa risih seolah-olah ruang geraknya semakin terbatas.
Dia tidak ingin pergaulan dia dibatasi dengan orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya apalagi mereka baru kenal tapi Devano sudah berlagak seperti seorang kekasih yang tidak ingin gadisnya berpaling hati.
**Padahal aku hanya ingin tidak ada korban selanjutnya seperti yang gue rasakan tapi gadis itu sungguh sangat keras kepala**
Hingga sekarang Devano seperti cacing kepanasan saat melihat Rindu semakin dekat dengan Kaisar namun saat dia ingin menegur gadis itu Devano langsung itu ingat atas ucapan Rindu yang mengatakan bahwa mereka tidaklah lebih dari atasan serta karyawan.
"Sial kenapa gue malah kefikiran seperti sekarang? Nggak mungkin kan kalau gue benaran suka sama dia? Dia itu gadis yang penyakitan jika gue sama dia bukannya bahagia malah semakin sakit jantung,"
Devano memegang dadanya yang berdebar padahal hanya memikirkan Rindu saja oleh karena itu juga Devano sering kesal karena rindu sudah membuat kinerja jantungnya berjalan tidak normal.
Tok..
Tok...
"Masuk,"
Devano menyuruh pelaku pengetuk pintu itu memasuki ruangannya dan entah mengapa dia berharap jika Rindu yang berada di balik pintu itu.
"Kenapa gue berharap gadis penyakitan itu yang mengetuk pintu, biasanya juga dia kan?"
Walaupun belakangan ini yang mengantarkan hasil kerjaan adalah Kaisar tapi dari dalam hati Devano sangat berharap jika yang datang adalah Rindu.
"Ini berkas yang harus bapak tanda tangani dan yang ini bahan meeting kita yang akan dilaksanakan setelah jam makan siang,"
Kaisar memisahkan map yang diberikan kepada Devano agar tidak tercampur dan juga tidak salah bawah saat pergi meeting nanti.
Devano hanya mengambil map itu tanpa menjawab lalu mengibaskan tangannya agar Kaisar segera meninggalkan ruangan itu sebab dia sedang memendam kekecewaan karena bukan Rindu yang datang.
Entah mengapa dia sangat berharap jika gadis itu memasuki ruangannya walaupun harus berusaha menetralkan detak jantungnya tapi tanpa Devano sadari dia sangat menikmati debaran itu serta merasa kenyamanan saat berdekatan dengan Rindu.
"Apa dia udah nggak mau bertemu gue lagi? hingga menyuruh laki-laki sok tampanan itu menemui gue, padahal lebih tampan dan gue kemana-mana,''
Selama bekerja fokus Devano sudah terbagi antara kerjaan dan juga memikirkan Rindu.
"Sial selain memiliki penyakit mematikan ternyata gadis itu menggunakan pelet juga,"
Entah dapat pemikiran dari mana hingga Devano menyimpulkan bahwa rindu menggunakan pelet untuk memikat dirinya sebab akhir-akhir ini dia selalu memikirkan Rindu bahkan tanpa dia rencanakan sekalipun.
Tapi memang seperti itu kenyataannya karena Devano sering sekali memikirkan Rindu dan sangat berharap Rindu selalu mendatangi ruangannya walaupun itu hanya mengantarkan hasil kerjaan.
Jam makan siang.
Mereka berempat pergi menuju tempat meeting yang telah dijanjikan.
"Kamu duduk di belakang ( menyuruh Rindu duduk di sebelahnya) dan kamu di depan,"
Devano tidak ingin duduk di belakang bersama Ren sebab secara naluriah dia ingin selalu berdekatan dengan Rindu walaupun harus berperang dengan debaran jantung dan terus menggila jika berada di dekat garis itu.
"Baiklah,"
Tanpa bantahan Rindu langsung mengambil tempat duduk di sebelah Devano yang sudah masuk duluan karena dia tidak ingin berdebat terus bersama Devano dan juga jika dia menurut maka akan semakin sedikit waktu mereka berinteraksi.
"Nanti saat di sana kamu jangan kecentilan dan jaga sikap, berlagalak seperti karyawan pada umumnya,"
Karena jika nanti Rindu berinteraksi dengan rekan bisnisnya karena Devano sendiri tidak bisa menjamin bahwa bisa memendam rasa kesalnya saat Rindu berinteraksi dengan laki-laki lain selain dirinya.
Devano tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa diam saja duduk di tempat dengan perasaan api cemburu yang terus membakar dadanya.
"Bapak pikir saya perempuan kurang kasih sayang atau perempuan butuh belaian laki-laki lain gitu hingga saya harus kecentilan lagian saya tidak membutuhkan semua itu,"
Padahal interaksi Rindu bersama rekan bisnis itu hanya sekedar menghormati dan juga tidak ingin dianggap sombong.
Tidak mungkin kan saat ada orang yang mengajak kita berbicara kita hanya diam saja itu terkesan tidak sopan.
"Tapi saya tidak suka melihat kamu berdekatan dengan laki-laki lain dan harus berapa kali saya bilang,"
Mobil sudah berhenti di tempat tujuan, Ren dan Kaisar memilih keluar duluan meninggalkan dua sejoli yang selalu berdebat hal yang tidak penting.
Daripada mereka menjadi penonton tanpa bayaran lebih baik menghindari karena apa yang dibahas Devano sudah berulang kali terjadi. Melarang tanpa alasan dan cemburu tanpa sadar bahwa nama Rindu sudah terukir di hatinya.
"Ini terakhir kalinya saya tanya, apakah bapak benar-benar tidak menyukai saya? Jika memang tidak maka jangan pernah melarang saya berinteraksi dengan siapapun dan jika ia maka saya akan memikirkan langkah apa kedepannya yang akan saya lakukan,"
Rindu sendiri sudah merasa jengah terus dilarang seperti ini.
Dia seperti tahanan tanpa melakukan kesalahan.
"Kamu jangan kepedean seperti itu karena selera saya bukan kamu,"
Jawaban Devano membuat Rindu menggangguk paham dan mulai saat ini Devano tidak harus melarang dia mau berdekatan dengan siapapun.
"Baiklah, jadi mulai sekarang stop, melarang saya berdekatan dengan siapapun karena saya bukan siapa-siapa buat bapak dan juga setelah saya selesai magang nanti anggap kita tidak pernah bertemu bahkan saling kenal,"
Bukan Rindu berharap disukai oleh Devano tapi memang tindakan Devano selama ini menunjukkan bahwa laki-laki itu sedang cemburu saat dia berdekatan dengan yang lain tapi jawaban yang diberikan Devano selalu bertentangan dengan apa yang dia rasakan.
"Tapi tetap saya tidak suka melihat kamu berdekatan dengan laki-laki lain karena saya tidak ingin penyakit yang kamu miliki tertular kepada yang lain cukup dengan saya saja,"
"Selalu alasan tidak masuk akal itu bapak utarakan kepada saya, harus berapa kali saya bilang bahwa saya bukanlah orang yang penyakitan dan juga debaran yang bapak miliki itu karena bapak menyukai saya. Jadi stop selalu menyala dengan apa yang bapak rasakan karena jika suatu hari saya bersama laki-laki lain tidak menutup kemungkinan bahwa bapak akan lebih frustasi dari ini apalagi saya ini cantik dan juga pintar wajar banyak laki-laki lain yang menyukai saya,"
Setelah berbicara panjang lebar Rindu keluar dari mobil itu apalagi kalimat akhirnya sangat-sangat menggelitik perut dengan tingkat kepedean tinggi.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘