Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran part 2...
HAPPY READING...⚘⚘⚘
Malam berganti pagi, adzan subuh telah berkumandang, seperti biasa Fauzi pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah, Afifa melaksanakan kewajibannya dimushola rumahnya, setelah selesai membereskan alat sholatnya, dia melirik ponselnya yang tidak tersentuh sejak kemarin sore dan masih setia terpasang kabel charger dikamarnya karena sempat lowbet, diapun memeriksanya . Saat membuka layar pipih itu, ternyata terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari nomor Wulan, Afifa menarik nafas panjang, lalu dia menghidupkan data celuler ponselnya, terdengar beberapa notifikasi yang menandakan terdapat banyak pesan masuk ke ponselnya, pandangan Afifa tertuju pada chat dari Wulan.
Assalamualaikum Afifa, mohon maaf sebelumnya, tadi siang saya tidak sempat memberitahukan semuanya, tapi saya mohon untuk saat ini, jangan beritahu Fauzi terlebih dahulu, sebelum saya menjelaskan semuanya, saya akan mengatur pertemuan kita lagi nanti. Saya mohon 🙏, jangan sampai hal ini sampai ke telinga Fauzi, ini demi keselamatan kalian berdua, Wassalamualaikum.
Afifa tersentak membaca kalimat terakhirnya, apa maksudnya demi keselamatan mereka berdua? bukankah hal ini begitu sederhana? tinggal memberitahu semuanya kepada Fauzi, tentunya dia akan menerima dengan senang hati setelah tahu Talita adalah darah dagingnya, bukankah dulu dia juga sempat mengira hal itu, dan tidak sulit baginya untuk menerimanya, apalagi sekarang, dia baru saja kehilangan putranya, Talita akan menjadi obat untuk rasa kehilangan yang baru saja dia rasakan selama satu bulan ini. Dan Talita...anak tak berdosa itu tentunya akan sangat senang memiliki seorang Ayah yang selalu dirindukannya, seperti anak-anak yang lainnya. Lalu Afifa...?
Ah...Afifa terus berfikir, mencoba mencari jawabannya, tapi semuanya sama sekali tidak ada titik terang, diapun segera mengirim pesan balik ke nomor Wulan, bahwa hari ini juga dia ingin bertemu untuk membicarakan semuanya, dia tidak mau berlarut-larut dalam dugaan yang terus saja mengganggu fikirannya.
Afifa bergegas menuju dapur, melakukan semua pekerjaan rumah dan membuat minuman hangat untuk suaminya, tak lama suaminya pulang dari mesjid. Seperti biasa Fauzi selalu membantu Afifa melakukan pekerjaan rumahnya, mencuci dan menyapu sudah menjadi rutinitas Fauzi setiap pagi, sementara Afifa memasak dan melakukan pekerjaan lainnya. Ya...itulah Fauzi yang selalu memposisikan dirinya sebagai partner bagi istrinya untuk melakukan semua pekerjaan rumah, meski sering diselingi kemesraan dan keisengan Fauzi yang membuat pekerjaan Afifa jadi lebih lama, tapi justru hal itu yang membuat Afifa semakin mencintai suaminya, rasanya tidak akan pernah rela untuk berbagi kebahagiaan ini dengan siapapun nantinya.
*****
Suasana sekolah masih sama, saat bertatap muka dengan anak didik kesayangannya, semua masalah Afifa seolah hilang begitu saja, tergantikan dengan keseruan saat dia mendengarkan semua celoteh anak didiknya yang terkadang membuatnya tertawa, terheran bahkan juga sedikit kesal dengan kenakalan mereka.
Tak terasa waktu terus bergulir, sampai jam pulang terdengar dari pengeras suara di setiap penjuru sekolah, membuat anak-anak riuh bersorak dari setiap kelasnya, ya...itulah anak-anak, pagi-pagi semangat pergi sekolah, dan tetap saja jam pulang yang selalu ditunggu 😀.
Afifa keluar dari kelas, berjalan menuju kantor, dan menyimpan semua bukunya kedalam loker pribadinya, saat membereskan barang-barangnya ke dalam tas, terdengar suara panggilan masuk dari ponsel yang ia simpan di saku baju dinasnya, ternyata Wulan yang memanggil, dia bilang, akan bertemu hari ini dan sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Setelah berpamitan kepada guru yang lain juga kepala sekolahnya diapun bergegas menuju pintu gerbang, mobil merah Wulan sudah menunggu disana.
"Assalamualaikum Mbak", sapa Afifa saat melihat wanita cantik itu membuka kaca mobilnya.
"Waalaikum salam, yuk langsung masuk aja Fa, kita ngobrol sambil makan", ucap Wulan.
"Lalu motor saya?". tanya Afifa.
"Simpan saja dulu disini, deket kok, nanti kamu aku antar lagi kesini".
"Oh...sebentar, saya bilang Pa Satpam dulu".
Wulan mengangguk, Afifa segera menghampiri Pak Satpam dan menitipkan motornya terlebih dahulu, lalu kembali menghampiri mobil Wulan dan duduk disamping Wulan.
"Talita mana?", tanya Afifa setelah mobil itu berjalan beberapa meter.
"Dirumah bersama Rina", jelas Wulan, "Dia sudah pulang dari pukul 11 tadi".
"Oh..."
Mobil Wulan berhenti di depan resto lesehan kecil yang terletak dipinggir sawah yang sedang berdaun hijau, suasana resto itu begitu sejuk dan nyaman, mereka sengaja mengambil tempat duduk paling pojok agar mereka bebas berbicara, Wulan segera memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
"Gimana kabar kamu dan Fauzi hari ini Fa?", Wulan memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah baik Mbak".
"Alhamdulillah..", ucap Wulan, "Kamu belum cerita semuanya kepada Fauzi kan?"
"Belum", Afifa menggeleng, matanya tertuju pada hamparan sawah yang hijau, dengan petakan-petakan yang berjejer rapi, membuat segar penglihatannya.
"Syukurlah..." terukir senyuman kelegaan dari bibir Wulan.
Tak lama pesanan datang, Wulan mempersilahkan Afifa untuk makan terlebih dahulu, beberapa perbincangan ringan terlontar dari mulut mereka sekedar basa basi agar suasananya tidak kaku.
"Jadi...pesan mbak Wulan kepada saya semalem itu, maksudnya gimana?", Afifa memulai topik pembicaraan yang sesungguhnya.
"Mmmm..., tapi sebelumnya aku minta maaf Fa, aku tidak bermaksud mengungkit kembali kisah kami, tapi ini memang harus dibicarakan, aku sengaja membicarakan ini terlebih dahulu denganmu, karena tidak mau terjadi pertengkaran bahkan pertumpahan darah diantara orang-orang yang aku sayangi".
"Maksudnya?", tanya Afifa belum mengerti.
"Jadi begini, kita kan sama-sama perempuan, yang pastinya lebih mengedepankan perasaan dari pada fisik", Wulan menarik nafas panjang, seolah mengatur semua kata-kata yang akan dia keluarkan dari mulutnya.
Afifa masih setia mendengarkan Wulan.
"Sejujurnya, Ayahku mengalami gangguan mental setelah Ibuku meninggal, dan yang paling menyedihkan lagi, beliau menganggap, semua yang terjadi kepada ibuku adalah kesalahanku, dan mungkin itu ada benarnya juga, aku hamil diluar nikah tanpa dia tau pria yang sudah menghamiliku".
"Kenapa mbak Wulan tidak bilang padanya?"
"Karena itu semua kesalahanku, Fauzi tidak bersalah dalam hal ini, akulah yang egois, karena ingin mendapatkan cintanya, dengan sengaja aku menggodanya dan mencampurkan obat perangsang dalam minumannya".
"Tapi Kak Aji juga harus bertanggung jawab kan?".
"Ya...seandainya ayahku tidak sakit dan mengancam akan membunuh orang yang menghamiliku, dengan senang hati aku akan meminta pertanggung jawaban darinya".
"Lalu apa yang mbak Wulan lakukan setelah itu?"
"Aku hanya mengatakan kalau orang yang menghamiliku pergi entah kemana, dan aku tidak bisa menemukannya. Ternyata beliau semakin kalaf, bahkan ingin membunuhku tepat setelah pemakaman ibuku dengan pisau dapur yang ia temukan dirumah, aku sempat terluka dibagian tangan karena menangkis pisau yang beliau tujukan padaku, seandainya saja aku tidak berteriak dan didengar oleh tetangga yang hanya terhalang dinding rumah kontrakan kami, mungkin aku sudah tiada waktu itu, aku memang sempat dibawa ke rumah sakit karena terjadi pendarahan, tapi aku bersyukur janinku masih bisa diselamatkan, dan satu-satunya orang yang peduli padaku waktu itu adalah Mas Kadar, dia menolongku dari keberingasan Ayahku, dia bahkan bersedia menikahiku".
"Mas Kadar? siapa dia? apa dia orang yang berseragam polisi yang kulihat didalam photo bersama mbak Wulan dan Talita waktu masih bayi?"
"Iya, dia Mas Kadarusman, seorang perwira polisi yang bertugas menangani kasus ayahku waktu itu, dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadapku, aku juga tidak tahu kenapa kasus itu sampai ke tangan polisi".
"Lalu apa Ayah Mbak Wulan ditahan?".
"Tidak, karena terjadi gangguan mental pada ayahku, dia tidak dinyatakan bersalah, hanya dimasukan ke tempat rehabilitasi di Jakarta".
"Kalau tidak salah, waktu Talita ulang tahun, ayah Mbak wulan menyebut nama Kak Aji, bagaimana Ayah Mbak Wulan tau kalau Mbak Wulan tidak pernah mengatakannya?"
"Itu karena beliau melihat selembar foto kami berdua waktu SMU, dan aku menuliskan nama lengkap Fauzi dibelakangnya, seandainya saja waktu itu dia tidak dibawa petugas ke tempat rehabilitasi, pasti dia akan terus mencarinya, dan sampai sekarang, photo itu masih selalu dia simpan dan sembunyikan entah dimana, akupun tidak mau kembali mengungkitnya, karena hanya akan membuatnya kembali sakit".
Hening... keduanya menatap kosong ke arah hamparan sawah, tenggelam dalam lamunannya masing-masing.
"Apa Mbak Wulan dan Mas Kadar pernah menikah?" tanya Afifa lagi.
"Iya, hanya menikah siri, untuk menutupi aibku saja, karena dia juga punya seorang istri dan satu orang putra, Mas kadar sangat baik padaku, aku dibiayai kuliah sampai lulus, pernikahan kami berlangsung selama 5 tahun secara diam-diam, sampai akhirnya pernikahan kami tercium oleh istri pertamanya, dan diapun kembali kepada istrinya karena karirnya juga terancam. Setelah 4 tahun terakhir aku belum pernah bertemu lagi dengannya, karena aku pindah ke Bandung dan memulai merintis karirku disini dengan modal pengetahuanku dari hasil kuliahku, dan tentu saja modal yang sempat diberikan dari keluarga Mas Kadar, dengan syarat aku tidak boleh muncul lagi dihadapan mereka".
Wulan mulai menitikan air mata.
Afifa menarik nafas panjang, mengingat begitu pahitnya kisah wanita dihadapannya ini.
"Mbak...aku turut prihatin dengan semua kejadian yang menimpa Mbak Wulan", Afifa menggenggam tangan Wulan yang tersimpan diatas meja.
"Terimakasih Fa", ucap Wulan pelan.
"Tapi walau bagaimanapun Kak Aji harus tau tentang Talita".
"Iya, tapi ini belum saatnya, sampai Ayahku benar-benar pulih dan dapat kembali berfikir jernih".
"Tapi sampai kapan?" tanya Afifa lagi.
"Entahlah", jawabnya pesimis.
"Kita tidak bisa terus larut dalam kebohongan ini Mbak", Afifa menatap lekat wajah Wulan.
"Iya aku tau..., tapi apa yang bisa aku lakukan?".
"Kita belum mencobanya Mbak, mungkin Ayah Mbak Wulan akan luluh hatinya saat mendengar semua penjelasan Mbak Wulan dan Kak Aji".
"Apalagi yang harus aku jelaskan?" Wulan mulai menangis, intensitas suaranya meninggi, "toh Fauzi juga sudah tidak mungkin lagi bertanggung jawab untuk menikahiku bukan?" Ucapan Wulan tiba-tiba terlontar begitu saja disela isakannya. Namun seketika tangisannya berhenti karena sadar dengan ucapannya.
Afifa tercengang, matanya menatap tajam wajah wanita dihadapannya yang nampak kaget dan gelagapan menyesali kata-kata yang barusaja keluar dari mulutnya. mulut Afifa terkunci, tak sanggup berkata apapun, hanya degupan jantung Afifa yang terdengar semakin kencang dengan ritme yang tak beraturan, hatinya bergejolak mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Wulan...😢.
************
Bersambung....❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gak tau harus bilang apa....???
tetap like, vote, dan beri masukan dikolom komentar ya Readers...🙏
LOVE YOU ALL...❤❤❤😙😙⚘⚘⚘
By : @Rahma Husnul#
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep