Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang Bukti
Beberapa saat kemudian, wajah Bima banyak perubahan. Kadang mengangkat alis, mengerutkan kening.
Bu Lasmi semenjak dari tadi diam, sebenarnya ingin bicara, akan tetapi Wira menahannya dengan mengangkat jari ke mulut, sebagai tanda isyarat; Ketika melihat Bima sedang membaca surat, yang menyatakan bahwa telah mendapatkan izin dari pemilik baru, juga telah ada tanda tangan dari kepala desa. Wajahnya tegang bahkan hatinya cemas. Selama ini seingat dia belum pernah menyerahkan tanda bukti walau sekedar duplikatnya, bahwa rumah itu telah di hibahkan kepada suaminya. Meskipun tanda bukti itu hanyalah tulisan tangan, akan tetapi dengan jelas ada tanda tangan kedua belah pihak, beserta saksi-saksi, termasuk juga kepala desa, semua itu berada di atas materai. Dan selalu di bawa kemanapun dia pergi. Mungkin ini merupakan bentuk hukum tak tertulis, begitulah pemikiran bu Lasmi.
Selain bu Lasmi, warga atau tetangga yang menyaksikan, ikut tegang dan cemas.
"Apa isi surat itu ya" seorang warga bertanya, wajahnya juga terlihat cemas.
"Bagaima aku tahu", seseorang menjawabnya dengan kesal; karena dalam pikirannya, memangnya hanya dia yang ingin tahu, tapi mereka juga ingin tahu termasuk dirinya sendiri.
Bima menghela napas, dan mimiknya sudah tenang kembali. Lalu mengembalikan ke pemimpin eksekutor,
"bagaimana, apakah itu bukan sebuah bukti, he..he.he.". Eksekutor tertawa dan mencibirnya.
Bima hanya tersenyum, tapi tidak membalasnya malah menengok kebelakang melihat bu Lasmi, lalu berkata; " Aku ingin menanyakan suatu hal pada ibu, bisakah ibu menjawabnya dengan jujur".
"Silakan nak, apa yang ingin nak Bima tanyakan," Bu Lasmi menganggukan kepalanya.
"Apakah ibu punya satu atau lebih banyak lebih baik, seperti berupa barang bukti bahwa rumah yang di tempati ibu ini. Telah di berikan..?" ucap Bima dengan tenangnya.
Bu Lasmi menghela napas, lalu berkata; "Ibu hanya punya satu bukti. Ini buktinya silakan bisa di lihat, bu Lasmi kemudian mengambil kertas yang sedikit usang, dari tasnya. Lalu menyerahkannya".
Bima kemudian menerima surat bukti kepemilikan, lalu membuka kemudian membacanya, setelah membaca beberapa detik, kerutan di dahi Bima semakin jelas. "ini hanya duplikatnya, tetapi ada perbedaan nama di kepemilikan terdahulu. Nama kepala desa juga beda, aku hanya menanyakan bukti aslinya dulu, setelah itu aku baru mengambil keputusan". Setelah berfikir seperti itu, Bima mengembalikan surat bukti ke bu Lasmi, lalu bertanya; "Apakah ibu tahu di mana surat yang aslinya..??"
Bu Lasmi, menggelengkan kepalanya.
"Ibu yakin tidak tahu..!! Coba ingat-ingat kembali, mungkin ibu melupakan sesuatu". Bima kembali bertanya dengan sabar.
Bu Lasmi memijat kening dan berfikir, tiba-tiba wajahnya cerah; "ya aku ingat sekarang. Apa itu, jadi sudah ingat!!"
"Coba jelaskan; Bima tersenyum."
Namun sebelum bu Lasmi menjelaskan, suara teriakan eksekutor terdengar.
"Hancurkan sekarang juga, cepat".
Pemimpin eksekutor memerintahkan anak buahnya dengan segera, karena dia sudah sangat kesal. Lebih-lebih Bima telah mencuekkannya, setelah membaca surat bukti persetujuan dari pemiliknya. Malah asik mengobrol tanpa memperdulikannya. Lalu kendaraan berat atau traktor, sudah menyala suara mesinya sudah menderu dan siap melaju.
Wira yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba berkelebat...
"Wuuushhhhh...." Dalam sekejap, Wira sudah berada tepat di depan traktor, hanya dengan tangan kirinya mampu menahan traktor, kemudian dengan menekannya lebih kuat dan..
"Booommm"
Sura ledakan terdengar keras, dan kendaraan berat itu langsung menembus tanah, hampir separuh dari traktor terbenam ke dalam tanah, tanahpun sedikit bergetar. Entah apa nasib dari sopir traktor, debupun berhamburan kemana-mana.
Melihat kejadian yang mendadak, semuanya tercengang kaget, mata melotot bahkan rahangnya seperi akan jatuh.
Mereka tidak percaya apa yang di lihat.
"Ap...appakah ini mimpi" seorang warga sampai tergagap saat berbicara.
"Plak",
"Suara tamparan terdengar"
"Kau ini setiap ada hal aneh pertanyaannya selalu sama," kata Sabri saat menamparnya. Warga yang di tampar sabri, tidak bergeming mungkin saking shok sampai tidak terasa.
Eksekutor, bahkan tubuhnya bergetar hebat, tidak percaya apa yang dilihatnya, akan tetapi kejadian tepat di depan mata mereka, mau tidak mau harus percaya. Wajahpun pucat pasi ketakutan, seolah-olah ada yang menerornya.
"Kalian benar-benar tidak sopan bahkan sekedar untuk menghargai, atau menunggu keputusan dari adikku, maka inilah akibatnya..!!" Wira menatap tajam ke arah para eksekutor yang di teror ketakutan.
"Lebih baik kalian cepat pergi dari sini..., sebelum aku berubah pikiran", Wira membentaknya.
"Ta..ta..taapi..., tidak ada kata tapi."
"Cepat pergii.. sekarang juga." Wira berteriak marah;
Membuat eksekutor kedinginan saat melihat tatapan Wira, dan tidak lagi melanjutkan perkataannya.
Ke dua puluh eksekutor saling lirik, kemudian mengangguk lalu berniat pergi. Baru saja melangkah.
"tahan jangan pergi dulu", Bima menahannya.
"Add...ad..ada apa lagi tuan". Pemimpin eksekutor tergagap.
"Aku hanya ingin saat kalian pulang, bilang ke tuan atau bos kalian untuk datang kemari!!, dan membawa serta barang bukti. Apa kalian paham". Ucap Bima dengan tenang, serta tidak ada nada intimadasi ke mereka.
"Iya tuan" Pemimpin eksekutor mengangguk, dan menghela napas lega.
"Ayo pergi"