Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Menantu
Dua Hari Sebelumnya
Gabriel akhirnya sadarkan diri setelah mendapatkan perawatan secara intensif. Nyawanya hampir saja melayang jika saja dia tidak segera di bawa ke Rumah Sakit. Dia menyembutkan satu nama saat kedua matanya mulai terbuka secara sempurna.
''Na-naura,'' lirih Gabriel dengan suara pelan dan lemah.
''Pah? Syukurlah papah sudah siuman. Saya khawatir sekali sama papah,'' tanya Ibra yang memang selalu dengan setia menemani sang ayah.
''Naura? Di ma-na di-a?''
''Naura sudah pulang, Pah.''
''A-apa?''
''Papah jangan banyak bicara, papah istirahat saja dulu. Papah baru saja siuman.''
''Dimana ibumu, Nak?''
''Ibu sedang pulang dan beristirahat di rumah, kasian beliau sepertinya kelelahan.''
''I-bra, papah minta kamu pergi ke kota dan cari Naura. Papah takut dia akan melakukan hal tidak di inginkan.''
''Apa maksud Papah?''
Dengan nada suara berat juga dengan napas yang terengah-engah, Gabriel menceritakan semua yang dia bicarakan dengan Naura dari A sampai Z tidak ada satupun yang terlewatkan. Tentu saja hal itu membuat Ibra seketika merasa bersalah karena telah menuduh Nuara yang bukan-bukan.
''Papah mohon, Ibra. Kamu pasti tahu siapa Naura yang sebenarnya. Papah juga tahu kamu mencoba menyembunyikan hal itu karena tidak ingin membuat papah merasa kecewa. Tapi, terlepas dari siapapun Naura, dan seperti apapun dia, Papah tetap menyayangi dia. Naura tetaplah putri papah yang lucu dan menggemaskan. papah mohon, selamatkan dia. Jangan sampai dia menjadi seorang pembunuh seperti papah,'' lirih Gabriel memohon dengan sangat.
''Apa papah akan baik-baik saja kalau saya tinggal sendirian?''
''Papah baik-baik saja, atau kalau tidak. Kamu pulang dulu dan berpamitan kepada ibumu di rumah.''
Ibra menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun menatap wajah Gabriel sang ayah dengan tatapan mata sayu penuh kasih sayang. Ada begitu banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali dia tanyakan. Mengenai pembunuh kedua orang tua Naura, dia masih belum bisa percaya sebelum dia mendengar hal itu dari mulut ayahnya sendiri.
''Kenapa kamu menatap papah seperti itu?'' tanya Gabriel seketika membuyarkan lamunannya.
''Hah? Nggak ko, Pah.''
''Setelah papah sembuh nanti, papah akan menyerahkan diri kepada polisi dan mengakui perbuatan papah 30 tahun yang lalu. Papahlah yang telah membunuh kedua orang tua Naura. Tapi, papah sangat menyesali hal itu dan papah juga menyesal karena telah lari dan menutupi hal ini selama puluhan tahun lamanya. Sudah saatnya papah di hukum,'' ucap Gabriel secara tiba-tiba seolah tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh putranya.
''Papah,'' gumam Ibra dengan kedua mata yang berkaca-kaca juga merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang ayah.
''Tidak usah sedih seperti itu. Papah memang seorang penjahat di masa lalu. Lebih baik kamu segera pergi sebelum semuanya terlambat. Kamu gak mau 'kan wanita yang kamu cintai menjadi seorang pembunuh?''
Ibra merasa terkejut tentu saja. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata sang ayah mengetahui prihal hubungannya dengan Naura.
''Dari mana papah tahu kalau saya--''
''Tidak penting papah tahu dari mana. Sekerang cepat kamu pergi dan bawa calon menantu papah itu ke sini.''
Ibra seketika tersenyum juga menitikan air mata secara persamaan. Perasaannya campur aduk sulit untuk di gambarkan. Dirinya pun bertekad akan membawa Naura pulang dengan selamat apapun yang terjadi.
''Saya pamit dulu, pah. Saya janji akan membawa Naura pulang dengan selamat,'' jawab Ibra penuh percaya diri.
* * * * *
"Ibra, sedang apa kamu di sini?" tanya Naura menatap wajah pemuda itu dengan tatapan tidak percaya.
"Saya mohon, turunkan pistol kamu, sayang. Jika dia memang seorang penjahat maka ada yang lebih berhak untuk menghakimi dia. Negara kita ini negara hukum, kamu tidak boleh main hakim sendiri," pinta Ibra menatap pistol tersebut.
"Hahahaha! Aku tidak percaya dengan yang namanya hukum. Bagiku, laki-laki ini lebih pantas mati biar dia bisa merasakan apa yang dahulu dirasakan oleh kedua orang tuaku," tegas Naura penuh penekanan.
"Tidak, sayang. Saya mohon jauhkan senjata itu, saya cinta sama kamu, saya gak mau kamu jadi seorang pembunuh. Kalau kamu membunuh dia, apa bedanya kamu dengan bajingan ini. Kita telpon polisi saja ya, biarkan polisi yang menangani kasus ini, sayang."
Pembunuh? Mendengar kata itu membuat hatinya sedikit luluh. Ya, semua yang diucapkan oleh Ibra memanglah benar adanya. Jika dia membunuh Richard, apa bedanya dirinya dengan laki-laki yang yang merupakan omnya sendiri itu. Belum lagi, dia harus mendekap di penjara nantinya. Apakah dia siap menjadi seorang narapidana?
Naura pun mulai lengah. Dia bahkan mulai menurunkan senjata api yang digenggamnya. Namun, kesempatan tidak disia-siakan oleh Richard, dia memutar keadaan dengan merampas pistol tersebut lalu mengarahkannya kepada Naura kemudian.
"Naura?" Ibra sontak berteriak histeris.
"Jangan bergerak jala*g sialan. Kamu mau membunuhku, orang yang telah membesarkan kamu? Hahahaha ... Tidak semuda itu Naura," tegas Richard.
"Dasar tua bangka gila, aku baru saja akan mengampuni nyawamu. Kamu pikir aku takut mati, hah? Tembak aku kalau berani, TEMBAAAAAK!" teriak Naura tidak terlihat takut sama sekali.
"TIDAAAAAK! JANGAN BERANI-BERANINYA KAMU MENEMBAKAN PISTOL ITU," Ibra pun melakukan hal yang sama, dia memajukan langkah kakinya hendak menghampiri.
Ceklek!
"Jangan mendekat, kalau kamu berani mendekat, maka kepala kekasihmu ini akan meledak sekarang juga!"
Ibra sontak menghentikan langkah kakinya, menatap wajah Naura dengan tatapan khawatir.
"JANGAN MENDEKAT, IBRA. AKU GAK AKAN MATI BEGITU SAJA, KAMU GAK USAH KHAWATIR,'' pinta Naura, dia pun melirik ke arah Bruno yang memang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Gadis itu pun menganggukan kepala kepadanya seolah memberikan isyarat. Itulah sebabnya dia membawa Bruno bersamanya agar dia tetap ada yang melindungi jika hal ini sampai terjadi. Bruno pun sepertinya mengerti arti dari anggukan tersebut.
Sedetik kemudian ...
Dor!
Satu tembakan melesat bahkan melintas tepat di depan wajah Naura lalu menembus bahu Richard kemudian. Bruno yang memiliki keahlian menembak juga salah satu anak buah terbaik Naura pun berhasil melumpuhkan Richard hanya dengan sekali tembakan saja.
Bruk!
Tubuh Richard seketika ambruk bersimbah darah. Kedua matanya nampak terbuka menahan sakit yang tiada terkira. Lelehan air mata pun mengalir dari ujung kelopak matanya kini.
"Da-sar ku-rang a-jar ..." lirih Richard suaranya terdengar lemah begitupun dengan tubuhnya kini, sampai akhirnya dia pun memejamkan kedua matanya.
"Cepat pergi dari sini, Nyonya bos,'' pinta Bruno kemudian.
"Kita harus pergi sama-sama dari sini."
"Tidak, sudah saatnya saya bertobat dan mengakhiri semua ini, Nyonya. Anda bilang organisasi kami akan di bubarkan bukan? Saya akan menyerahkan diri kepada polisi dan mempertanggungjawabkan perbuatan saya ini," jawab Bruno terdengar tulus.
"Tapi, Bruno--"
"Pergilah Nyonya. Sudah saatnya Anda hidup bahagia dan menikah dengan laki-laki ini. Dendam Anda sudah terbalaskan. Hiduplah dengan normal mulai sekarang. Cepat pergi sebelum polisi datang kemari!"
"Maafkan, aku Bruno," lirih Naura kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita harus pergi sekarang, Naura."
Ngiung ... Ngiung ... Ngiung ....
Terdengar suara sirine polisi kemudian. Entah siapa yang telah melaporkan hal itu kepada pihak berwajib, yang jelas beberapa mobil polisi mendekat dan berhenti tepat di depan kediaman laki-laki bernama Richard.
BERSAMBUNG
...****************...
...****************...