Jual-beli harusnya barang, bukan manusia.
Dimalam Fasya menolak untuk berhubungan badan dengan kekasihnya.
Dia dijual.
Dilempar ke ranjang yang besar, pria tampan berbadan tinggi yang cukup berkharisma datang.
"Jika kau bisa menjadi pengasuh putra ku, maka aku akan membayar mu cukup tinggi."
- Shin
Bukan memuaskan hawa nafsu yang pria itu inginkan, tapi menjadi pengasuh anaknya? Kenapa harus Fasya?
Tapi ketika Fasya masuk ke rumah itu, dia menemukan banyak hal baru, fakta tentang siapa dirinya sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bibi pakai ini!
......................
"Ya, aku akan urus nanti, sekarang sisanya saja urus, aku masih menemani Asta belanja."
Shin menutup teleponnya. Saat Fasya sedang berganti pakaian di dalam sana, Shin barusan mendapat telepon penting soal rapat yang akan mereka laksanakan. Tapi demi Asta, Shin menundanya sementara. Entahlah, biasanya dia tidak suka menunda pekerjaannya, apalagi hanya demi Asta. Tapi anehnya, saat ini, sekarang ini Shin ingin menemani Asta berbelanja.
"Kenan? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shin saat dia kembali ke ruangan itu, tampak Kenan sudah berdiri di sebelah Fasya, sangat dekat hingga rasanya menyebalkan untuk Shin lihat.
"Ah, Shin? Aku datang kesini karena aku bosan, saat aku ke rumah mu ibu mu bilang kalian pergi berbelanja, makanya aku langsung kesini. Aku tau, jika itu kau, kau pasti akan datang ke pusat perbelanjaan ini." Jawab Kenan dengan senyuman ramah, tak kalah wajahnya juga ramah, suaranya hangat seperti membentangkan persahabatan yang sehat.
Semua pelayan yang ada disana terpana oleh ketampanan Kenan, bukan hanya itu, Kenan yang tampan dan ramah dengan senyuman manisnya benar-benar mencuri hati para pelayan itu. Mereka semua bisa merasakan aura yang berkebalikan saat Shin yang bicara.
Shin dingin bagai kutub Utara, dia datar dan bicaranya selalu serius. Tapi jika Kenan itu berbeda, dia hangat seperti matahari, cerah dan ramah, dan sering bercanda, membuat orang disekitarnya merasa sangat nyaman.
Makanya, tak jarang orang yang melihat Shin dan Kenan bersama merasa aneh, karna dua orang yang memiliki sifat tolak belakang ini menjadi sahabat?
"Oh."Jawab Shin singkat, bahkan jika itu Kenan sekalipun, Shin tetap dingin dan selalu saja datar. Shin memang begitu kan, pria yang gila kerja dan selalu serius.
"Tuan Shin? Boleh kita langsung belanja untuk Tuan muda Asta?" Panggil Fasya, suaranya agak gugup, tangannya yang gemetar coba dia sembunyikan, dia sudah tidak nyaman, dia ingin segera pulang, perkataan Kenan barusan benar-benar membuatnya gemetar.
"Ah?"
Cantik.
Shin tidak tau, tapi hari ini dimatanya dia merasa Fasya cantik.
Aneh bukan?
Karna bagi Shin, perempuan yang biasa dia temui rasanya seperti batu, wajahnya sama saja. Tidak ada yang menarik, bahkan pegawai di kantornya. Shin tidak pernah merasa perempuan itu cantik, dia juga tidak mengerti defenisi cantik untuk perempuan.
Tapi sulit dijelaskan, sepertinya Shin tau apa itu cantik sekarang.
Kalau ada yang bertanya cantik, maka dengan simpel harus dijawab Fasya kan? Padahal Shin ingat, saat dia pertama kali bertemu dengan Fasya dulu, wajah Fasya juga seperti batu, tidak ada cantik-cantiknya, Fasya sama saja dengan semua perempuan yang pernah dia temui.
Lantas, kenapa sekarang Fasya jadi terasa cantik? Padahal Shin yakin, tidak ada yang berubah dari wajah gadis ini sejak pertama kali bertemu.
"Tuan?" Panggil Fasya saat dirinya sadar Shin terlihat agak aneh.
Asta yang melihat itu merasa tidak nyaman, dia melempar seluruh baju yang tadi dia pegang, dia langsung berlari ke arah Fasya, menarik Fasya menjauh dari Shin dan Kenan secara bersamaan. Entahlah, Asta merasakan firasat buruk, tatapan kedua pria dewasa itu terhadap Fasya patut dicurigai.
Sebagai keponakan yang baik, aku bakal lindungi bibi dari siapapun, termasuk papa.
"Bibi sini Bi. Papa sama Om Kenan kan udah besar, kerja aja sana, aku mau belanja berdua aja sama bibi!" Asta berteriak, genggamannya semakin erat.
"Paman Kenan lagi senggang, makanya main kesini." Kenan menjawab dengan ramah dan senyuman hangat, tapi sialnya untuk Fasya itu terdengar seperti senyuman kematian.
Fasya jadi ingat, siapa pria yang sudah membelinya dari Dimas kapan lalu. Mungkinkah itu Kenan? Dan bukan Shin? Tapi suaranya lebih mirip Kenan sih.
Fasya gemetar sedikit, sesaat setelah dia mengingat kepahitan yang menimpanya di hari ulang tahunnya karena mantan sialan tidak tau diri itu.
"Kalau gitu Paman Kenan sama Papa pergi aja ketempat lain, jangan ikuti aku sama bibi." Asta juga menolak kehadiran Kenan. Baik Shin atau Kenan, keduanya tidak boleh dekat dengan Fasya, hanya Asta sendiri yang boleh, karna Asta hanya percaya dirinya sendiri untuk menjaga sang bibi, asik kesayangan ibundanya.
"Kau baik-baik saja? Ganti pakaian mu, tampaknya kau kedinginan." Shin memakaikan jasnya pada Fasya. Ah, tampaknya Shin sadar bahwa tadi Fasya sempat sedikit gemetar, sayangnya Shin salah. Fasya gemetar bukan karna kedinginan, tapi karna Kenan mengingatkannya pada mantan sialan dan trauma kenangan buruknya di malam ulang tahunnya sendiri.
"Pa?"
"Shin?"
Semua orang disana heran, benarkah itu Shin? Alfashin Cadivan yang terkenal dingin dan kejam, juga hanya gila kerja, punya manner juga?
"Ada apa?" Jawab Shin datar dan dingin, Shin sendiri bahkan tidak mengerti kenapa dua orang itu melihatnya dengan aneh.
"Tuan sehat?" Bahkan Fasya yang takut gemetar juga kembali normal sesaat setelah merasakan keanehan Shin sekarang.
"Cepat ganti pakaian mu." Shin mengalihkan topik, entah dia sadar atau tidak, Shin ingin Fasya yang tampak gemetar dan kedinginan segera berganti pakaian.
Apa yang sebenarnya ku lakukan barusan? Aku pikir dia kedinginan, dan hanya mencoba membantunya.
Shin lupa, sejak kapan dia peduli pada orang lain yang tidak masuk dalam lingkup pekerjaannya?
......................
"Mulai besok bibi pake semua ini yaa, jangan sampai enggak. Berhenti pake pakaian pelayan itu." Ujar Asta yang kini sudah ada di mobil bersama Shin dan Fasya disebelahnya.
Pada akhirnya Shin ikut Asta dan Fasya belanja sampai akhir. Memang ada beberapa barang Asta, tapi masih lebih banyak barang yang dibeli untuk Fasya.
"Mana boleh begitu, seorang pengasuh harus tetap pakai seragam pengasuh, mana boleh diganti." Fasya menjawabnya dengan tegas, dia tidak mau jadi pusat perhatian lagi.
Entahlah, apa yang orang-orang pikirkan tentang Fasya yang kini sudah menerima enam pakaian yang cantik luar biasa dengan harga yang tidak biasa tentunya. Asta ingin membelikan Fasya tas dan sepatu, tapi Fasya terus menolaknya, hingga Asta hanya berhasil membujuk Fasya untuk memiliki enam pakaian dan juga dua pasang sepatu. Padahal untuk Asta itu sudah sangat kurang, dia ingin belanja lebih banyak untuk sang bibi.
"Itu benar Asta, dia seorang pengasuh, biarkan dia berpakaian semestinya." Shin setuju, bagaimanapun juga Fasya adalah seorang pengasuh kan.
Fasya tau sih yang Shin katakan itu benar, tapi rasanya agak menyebalkan dan cukup sesak ketika di dengar.
"Loh kenapa? Apaan sih papa ini!" Asta melirik Shin dengan menyebalkan.
"Itulah faktanya, tidak lebih dan tidak kurang, dia hanya seorang pengasuh."
"Dia bukan sekedar pengasuh! Dia itu bibi aku! Bibinya Asta!!" Asta berteriak kesal, bagaimana dia bisa terima Fasya sang bibi yang dia anggap sebagai pengganti ibunya malah hanya dikatakan sebagai pengasuh saja? walau sebentar Shin juga tidak salah kan?
makasih Thor
sehat slalu lah byar up sampai tamat.
aku suka ❤️👍
padahal suka banget ceritanya
dapat notif tak kira up
ternyata 😌