Steven adalah seorang pria Psychopath di mana masa lalunya yang kelam terlebih ada keturunan psychopath dari ke dua orang tuanya membuat perasaan Steven mati.
Hingga dirinya dipertemukan oleh seorang gadis yang bernama Leona Alexander putri dari pasangan Jessica Alexander dan Lemos Alexander yang juga ternyata keturunan psychopath.
Akankah mereka bersatu dalam ikatan pernikahan mengingat Steven sudah merusak Leona akibat dirinya salah menuduh Leona.
Ikuti novelku yang ke 32
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Steven dan Leona
"Tidak Opa, Steven akan temani Leona," Jawab Steven.
"Baiklah kalau begitu Daddy pulang bersama Mommy dan Lemos," ucap Daddy Nathan.
"Hati - hati Dad / Opa,'' ucap Soraya, Leona dan Steven bersamaan.
Soraya dan Steven mencium punggung Daddy Nathan secara bergantian kemudian berlanjut Steven mencium punggung tangan Lemos sedangkan Leona hanya tersenyum karena ke dua tangannya masih terasa sakit.
Daddy Nathan dan Lemos berjalan ke arah pintu ruang perawatan meninggalkan mereka berdua menuju kamar sebelah untuk menjemput Mommy Maya yang berada di ruang perawatan di mana Julia sedang terbaring.
"Mommy mau antar Daddy dulu sampai depan, Nak Steven titip Leona sebentar ya," pinta Soraya.
"Baik Tante," jawab Steven patuh sambil tersenyum.
Soraya membalas senyuman Steven kemudian Soraya pergi meninggalkan mereka berdua menyusul Daddy Nathan dan Lemos.
"Siapa Kak Alex?" tanya Steven yang sejak tadi diam dan menahan cemburu.
"Kak Alex, Kakak sepupuku," jawab Leona.
"Apakah kamu keluarga besar?" tanya Steven.
"Sangat besar, buyut mempunyai tujuh anak kembar dan dari ke tujuh anak kembar sudah menikah semua dan mempunyai anak kembar juga. Opa Nathan adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara dan dari Opa Nathan mempunyai lima anak kembar. Daddy anak nomer tiga dari lima bersaudara," jawab Leona menjelaskan.
"Kak Steven jadi pusing mendengar ceritamu," ucap Steven sambil memijat keningnya.
"Pffftttt... Hahahaha..."
"Senang banget menertawakan Kakak," ucap Steven dengan wajah cemberut.
"Aduh kalau kekasih ku lagi ngambek lucu banget," goda Leona.
Tanpa menjawab Steven turun dari kursi kemudian meletakkan tangan kanan dan tangan kiri ke sisi kanan dan kiri kepala Leona. Kepala Leona kini berada di tengah-tengah tangan Steven kemudian Steven menatap wajah cantik Leona.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Leona dengan wajah memerah.
"Kakak kangen banget sama kamu, boleh aku cium?" tanya Steven.
Leona hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju membuat Steven tersenyum bahagia. Steven mendekatkan wajahnya ke arah wajah Leona hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.
Ceklek
Ketika Steven ingin mencium bibir Leona bersamaan pintu kamar perawatan di buka seseorang membuat Steven menahan amarahnya.
Steven langsung berdiri dengan tegak kemudian menatap ke arah pintu begitu pula dengan Leona. Mereka melihat perawat membuka pintu dengan lebar kemudian dokter masuk ke dalam ruang perawatan dan di susul oleh perawat.
"Selamat siang, Nona Muda dan Tuan Muda," sapa dokter tersebut dengan ramah.
"Selamat siang," jawab Leona.
"Maaf Nona muda, saya periksa dulu ya," ucap dokter tersebut dengan ramah.
"Silahkan Dok," jawab Leona dengan nada lembut.
Dokter tersebut mulai memeriksa keadaan Leona hingga lima belas menit kemudian dokter tersebut sudah selesai memeriksa keadaan Leona.
"Apakah masih ada yang sakit?" tanya dokter tersebut.
"Jika aku menggerakkan ke dua tangan dan ke dua kakiku terasa sakit sekali," jawab Leona.
"Kalau begitu aku berikan obat penghilang nyeri," ucap dokter tersebut sambil mengambil botol kecil dan jarum suntik.
"Baik Dok," jawab Leona.
Dokter tersebut hanya tersenyum kemudian memasukkan alat suntikan ke dalam botol infus. Setelah selesai dokter tersebut menyimpan kembali suntikan dan botol obat tersebut ke dalam saku jasnya.
"Dalam satu jam perasaan nyeri akan hilang," ucap dokter tersebut.
"Terima kasih banyak Dok," ucap Leona.
"Sama-sama Nona," ucap dokter tersebut.
Dokter itupun pergi dengan diikuti oleh perawatnya meninggalkan mereka berdua dan tanpa sepengetahuan Steven dan Leona kalau dokter dan perawat tersebut tersenyum menyeringai.
"Oh ya, kata Mommy kalau Tante Katarina dan Kak Alex akan datang ke sini. Kenapa tidak menunggu mereka saja untuk mengobati mu?" tanya Steven.
"Aku tidak tahan Kak, terasa nyeri jika aku menggerakkan salah satu anggota tubuhku," jawab Leona.
Steven hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum sambil mendekati wajah Leona untuk mencium bibir Leona.
"Lanjutin yang tadi tertunda," bisik Steven.
Leona hanya tersenyum dengan wajah memerah hingga Steven mendekatkan bibirnya ke bibir Leona dan hampir saja bersentuhan.
Ceklek
Cup
Steven dan Leona mendengar suara pintu kamar perawatan di buka membuat Steven dengan cepat mencium bibir Leona kemudian langsung menegakkan tubuhnya sambil menahan kesal karena sudah dua kali di ganggu.
Steven dan Leona langsung menatap ke arah pintu dan melihat Soraya sedang berjalan menuju ke arah mereka bersamaan datang dokter dan perawat.
"Selamat siang Nyonya Besar, Nona Muda dan Tuan Muda," sapa dokter dan perawat itu bersamaan dengan ramah.
"Siang," jawab Leona dengan tatapan bingung begitu pula dengan Steven.
"Maaf Nona muda, saya periksa dulu ya," ucap dokter tersebut dengan ramah.
"Lho bukannya tadi sudah?" tanya Leona dengan wajah yang masih bingung begitu pula dengan Steven.
"Maaf Nona, saya yang bertugas merawat Nona Muda bukan dokter lain. Kalau boleh tahu nama dokternya Nona?" tanya dokter tersebut dengan wajah yang ikut bingung.
"Namanya ... Maaf Dok, aku tidak perhatikan," jawab Leona sambil menatap ke arah Steven karena siapa tahu Steven tahu nama dokternya.
"Aku juga tidak perhatikan," jawab Steven jujur yang mengerti arti tatapan dokter tersebut.
"Gawat, Steven cari dokter yang tadi dan minta bantuan Paman Jimmy," minta Soraya.
"Memang ada apa Mom?" tanya Steven.
"Kemungkinan dokter itu gadungan, cepat pergi biar Mommy yang menjaga Leona," perintah Soraya dengan wajah panik sekaligus takut sambil mengambil ponselnya yang di simpan di dalam tas untuk menghubungi suaminya yang bernama Lemos.
"Baik Mom," jawab Lemos Paris sambil berlari ke arah pintu.
"Dokter, tolong cek putriku," pinta Soraya sambil mencari nomer Lemos dari kontak teleponnya.