S1_Akankah Aku Bisa Memiliki Akhir Yang Aku Harapkan Bersama Salah Satu Dari Kedua Pria Itu Atau Malah Terjebak Dalam Cinta Monyet Itu Selamanya??
S2_Tranmigrasi ketubuh seorang nona muda dan mengubah segala takdir yang tertulis apa aku bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vallerie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapt | 026
menghilang dari hidupmu. Tidak mungkin juga kau berharap sesuatu yang sama sekali tidak bisa diharapkan." "Jadi, aku harus melupakan Kamazaki? Begitu maksud mu, Ayumi?" kataku, memotong kalimat Ayumi.
Ayumi tak menjawab, ia hanya menatap kedua mataku Dari caranya menatap, kutahu maksud hatinya bahwa saran yang dia usulkan memang sangat berat untuk dilakukan.
"Sebenarnya aku juga ingin sekali melupakan Kamazaki, Ayumi," lanjutku. Ayumi hanya diam, barangkali dia merasa tidak enak hati karena mengusulkan saran yang berat untuk dilaksanakan.
"Tapi...," ungkapku sedih dan tidak berlanjut.
"Tapi kenapa, Ran?" tanya Ayumi, memotong kalimatku
"Tapi, aku selalu terbayang-bayang wajah Kamazaki, Ayumi," ungkapku dengan sangat jujur. "Setiap kali mencoba melupakan Kamazaki, aku justru semakin teringat padanya. Setiap saat, selalu ada bayangan dia. Dia seperti candu yang sulit kulepaskan dari hidupku, Ayumi."
Bukan berlebihan atau hiperbolis, tapi memang itu yang kurasakan terhadap Kamazaki. Aku selalu teringat Setiap saat.
"Obatnya cuma satu, Ran," cetus Ayumi dengan mimik serius. Ia telah mengerti maksud ketidaktahuanku.
"Ketika orang patah hati karena ditinggal kekasih, sebenarnya dia bukan tidak bisa keluar dari kesedihan, dia hanya sedang terjebak dalam perasaannya sendiri. Dan, jika seseorangmengalami halitu, yang harus dilakukannya adalah mencari pengganti kekasih yang pergi meninggalkannya," ujar Ayumi. Aku berpikir setelah mendengar kata katanya itu.
"Jadi, obatnya...?" tanyaku berusaha menyimpulkan sendiri. Namun, kalimatku sempat terpotong karena aku sendiri ragu.
"Benar sekali, Ran!" sahut Ayumi dengan cepat, ia berusaha menyelesaikan kalimatku. "Jika kau dilanda sakit hati, maka obatnya harus lekas mencari pengganti." Kali ini, Ayumi bicara dengan penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkan.
"Tidak semudah itu, Ayumi," kataku mengelak dan mencoba mencari pembenaran. Selama ini memang begi tulah yang terjadi, aku selalu mencari pembenaran dan menganggap bahwa melupakan Kamazaki adalah sesuatu yang sangat mustahil.
"Bisa, Ran!" ujar Ayumi tegas.
Aku melipat bibir dan membayangkan Kamazaki jika kelak kembali ke Tokyo namun ternyata aku telah p atau bahkan menikah dengan pria lain, tentu hatinya akan hancur berkeping-keping. pacaran
"Bagaimana kalau suatu saat Kamazaki kembali?" tanya ku, mengungkap kata hati yang tersembunyi. "Aku tidak mau dia terluka karena aku mengkhianatinya, Ayumi"
Ayumi menarik napas dan menghempaskannya dengan cepat. Di matanya, kutahu dia menganggapku gadis lemah yang terlalu bergantung pada satu sosok, Kamazaki,
"Cintaitubutuhkomitmen untuk memperjuangkannya," kata Ayumi lagi dengan nada bijak. "Jika seseorang telah memutuskan untuk mencintai orang lain, maka dia harus siap dengan segala rintangan yang menghadang."
"Tapi, Kamazaki tidak seperti itu, Ayumi," kataku menyela.
"Nah, oleh karena itu, Ran!" sahut Ayumi cepat dan berapi-api. "Kamazaki tidak pantas disebut sebagai kekasih yang komitmen tinggi dalam mempertahankan dan memperjuangkan cintanya. Jarak tidak akan menjadi
Persoalan yang berarti jika di hatinya selalu tertanam rasa ingin membahagiakan kekasih. Karena pada dasarnya, cinta memang sangat membutuhkan pengorbanan."
"Apa aku tidak boleh berjuang untuk Kamazaki, Ayumi?" sahutku cepat.
Ayumi tersenyum dan mengusap lengan kananku.
"Sudah seharusnya setiap orang berjuang untuk orang orang yang disayanginya. Namun, manakala seseorang yang diperjuangkan sudah tidak pantas untuk diperjuangkan, maka tidaklah berdosa untuk mengakhiri semuanya."
Lalu, bayangan saat-saat bersama Kamazaki melayang layang di benakku, aku rindu sekali masa-masa itu. Hidup memang begitu penuh misteri, dan segalanya dapat berubah dengan begitu cepat. Seolah baru kemarin aku dan Kamazaki mandi salju di Festival Salju Sapporo, kenapa kini kami sudah tidak saling memiliki dan terpisah jarak ribuan kilometer?
Tuhan, beginikah caramu memisahkan kami? Tidakkah ada cara lain, Tuhan...?
"Jadi, aku harus menerima Hajime? Begitu menurutmu,
Ayumi?"
________________________________
Bersambung~