"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASIHAT UMI DI HARI PERNIKAHAN
Hari yang di tunggu-tunggu Rahmat telah tiba. Sosok laki-laki tampan yang sudah terlihat rapi dengan setelan jas berwarna putih serta peci yang berwarna senada, terus menatap dirinya dari pantulan cermin.
Tak hentinya wajah tampannya itu tersenyum, mengingat hari ini ia akan memulai dan menempuh kehidupan baru bersama Anisa, bersama gadis yang mampu membuatnya jatuh hati hanya baru dengan melihat fotonya saja.
Dadanya terus berdebar, ketika teringat jika sebentar lagi prosesi ijab kabul akan dimulai, dan setelah itu ia benar-benar telah menjadi seorang suami.
Umi Kalsum yang berada dikamar putranya itu sejak satu jam lalu, beranjak dari tepi ranjang yang menjadi tempat dudukan kemudian menhampiri Rahmat yang masih berdiri dihadapan cermin, lalu mengusap punggung putranya itu.
"Putra Umi tampan sekali," ucap Umi Kalsum sambil tersenyum.
"Umi, aku gugup." ujar Rahmat kemudian berbalik memeluk uminya.
"Iya Umi tahu, tapi kamu laki-laki jadi kamu harus terlihat gentle dihadapan calon istri kamu nanti." kekek umi kalsum.
"Jangan perlihatkan kalau kamu sedang gugup." sambungnya.
Rahmat mengangguk dibalik tubuh uminya, kemudian perlahan mengurai pelukannya.
"Setelah ini kamu akan menjadi seorang suami, Nak." kata umi sambil menangkup wajah putra bungsunya itu. "Dan tanggung jawab mu bukan hanya kepada Umi dan Abi, tetapi tanggung jawab mu akan lebih besar kepada istrimu." sambungnya.
"Bertutur kata lah yang lembut pada istrimu. Tegur lah dengan penuh kelembutan jika dia berbuat salah. Jangan terlalu sering mempersoalkan kesalahannya, dan maafkan lah jika dia berbuat salah. Tunjukkan cinta dan kasihmu padanya, buatlah hatinya merasa nyaman. Karena seorang istri adalah jantung rumah, jika istri tidak bahagia makan seisi rumah tidak akan bahagia." tutur Umi kalsum menasehati.
"Iya, Umi. In Sya Allah, aku akan selalu mengingat nasihat Umi." uja Rahmat.
Umi kalsum tersenyum, sekali lagi ia mengusap kepala putranya yang tertutup peci putih. Netranya tak lepas menatap wajah putranya yang terlihat semakin tampan dengan pakaian pengantin yang melekat ditubuhnya.
Rasanya baru kemarin ia menimang-nimang tubuh mungil Rahmat, dan hari ini sebentar putranya itu akan menjadi seorang suami.
Umi kalsum menitihkan air matanya, rasa bahagia tak mampu ia sembunyikan. Kini kedua anak-anaknya telah memiliki kehidupannya masing-masing.
"Nak, setiap pernikahan, setiap yang berumah tangga pasti memiliki ujiannya masing-masing. Dan Umi ingatkan, apapun ujian yang Allah berikan dalam rumah tanggamu nanti. Kamu jangan goyah, kuatkan imanmu, kuatkan hatimu, tabah menerima semua cobaan-Nya. Karena Allah tidak akan pernah menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya."
Dan kali ini Rahmat lah yang menitihkan air matanya. Yah ia sendiri tahu akan hal itu. Dan untuk itu ia benar sudah mempersiapkan dirinya dari perjalanan membina bahtera rumah tangganya nanti bersama Anisa.
"Iya, Umi. In Sya Putra Umi akan siap menjalani apapun ujian yang Allah berikan nanti." ucap Rahmat, ia meraih kedua tangannya Uminya dengan sedikit terisak.
"Ya sudah, jangan menangis nanti tampannya hilang." kekeh Umi. "Kalau sudah siap sekarang kita ke Musholah, sebentar lagi keluarga Anisa akan datang." ajak Umi.
Rahmat mengangguk, kemudian menggandeng tangannya Umi nya keluar dari kamar yang akan menjadi kamar pengantin nya bersama Anisa. Kamar yang sudah dihiasi dengan sedemikian rupa aneka bunga-bunga yang membentuk hati di atas ranjang, oleh Hanifah dan Indra.
Sesampainya di mushollah, Rahmat disambut dengan shalawat yang menggema yang dilantunkan oleh para santri-santrinya. Raut bahagia tercetak jelas diwajah para santri melihat Ustadz favorit mereka kini telah menjadi pengantin.
Begitupun dengan para guru-guru yang juga turut bahagia atas pernikahan putra dari pemilik pesantren. Namun, berbeda dengan Ustazah Nia yang wajahnya terlihat datar tanpa ekpresi.
Rahmat duduk bersila dihadapan seorang laki-laki paruh baya, yakni seorang penghulu yang akan menikahkannya dengan Anisa. Serta sebuah meja kecil yang berisi mahar dan berkas pernikahan, yang menjadi pembatas dirinya dan penghulu tersebut.
Tak lama, terdengar tabuhan rebana serta shalawat iringan pengantin, yang membuat dada Rahmat semakin berdegup kencang. Yah, diluar sana calon istrinya telah datang. Hanya tinggal beberapa menit lagi, dirinya benar-benar akan menjadi seorang suami.
Dadanya berdetak semakin tak karuan tatkala kini Anisa telah duduk disampingnya dengan gaun pengantin yang berwarna senda dengan jas pengantin yang dikenakan nya.
Namun, ia berusaha untuk menutupi rasa gugupnya seperti apa yang dikatakan oleh sang umi saat masih berada dikamar pengantin beberapa saat yang lalu.
"Kamu harus terlihat gentle dihadapkan calon istri kamu nanti. Dan jangan perlihatkan kalau kamu sedang gugup."
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..