Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 – Ki Suryo Alam
Tiba-tiba terdengarlah suara tawa seorang pria lanjut usia, suara tawa itu terdengar pelan saja dan halus, tapi seolah menggetarkan tempat itu, membuat jantung Surodipo pun berdegup kencang, “Apakah ia seorang malaikat yang bertugas menyiksaku?” tanya Surodipo.
“Hehehe… Aku bukan seorang malaikat, aku manusia biasa, dan tempat ini masih berada diatas muka bumi, di alam fisik manusia,” jawab orang tua yang tiba-tiba muncul dihadapan Surodipo tanpa Surodipo sadari kehadirannya. Orang tua itu bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang serta kumis janggutnya telah memutih, ia memakai sorban dan jubbah biru tua serta berpakaian dan bercelana putih, wajah orang tua itu nampak klimis.
Orang tua itu tersenyum pada Surodipo, tapi senyumnya terlihat sangat menakutkan bagi Surodipo, baru kali ini ia merasa gentar melihat wajah seorang tua seperti orang tua yang ada dihadapannya itu, pancaran wajahnya ini sangat angker! Namun begitu Surodipo memberanikan diri bertanya, “Kalau begitu mengapa engkau menyiksaku sedemikian rupa orang tua? Apa salahku padamu?”
Si Orang Tua itu menyeringai, “Hahaha… Sungguh pemuda tak berbudi, kau langsung menuduhku yang macam-macam!”
Surodipo heran dengan ucapan orang tua itu, “Kalau kau tidak menyiksaku, kenapa kau merebusku begini? Seluruh tubuhku sakit terasa oleh air aneh ini! Apalagi kau juga mengikat tangan dan kakiku!”
Orang tua itu mencelupkan tangannya ke air mendidih yang merendam seluruh tubuh Surodipo dari leher ke bawah, “Ini adalah air ramuan obat-obatan untuk mengobati luka luar dalammu, uap dari air ramuan ini juga dapat mengobati luka dalammu, itulah mengapa aku merendam seluruh tubuhmu dalam gentong ini, aku sengaja mengikat kaki dan tanganmu agar kau tidak banyak gerak supaya obat ini bisa lebih cepat merasuk kedalam tubuhmu!” jelas si orang tua.
“Ini adalah ramuan obat? Jadi kau sedang mengobatiku bukan menyiksaku?” Tanya Surodipo.
“Ini adalah ramuan obat? Jadi kau sedang mengobatiku bukan menyiksaku?” Tanya Surodipo.
“Benar, aku menemukanmu tiga hari yang lalu di rumah Ki Wirojoyo di Desa Banyu Urip yang terbakar habis dengan sekujur tubuh penuh luka, maka aku rendam kamu dalam air belerang ramuan obat ini!” jawab orang tua itu.
“Astagfirullah… Maafkan aku orang tua, aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, aku juga mengucapkan terimakasih sudah menolongku,” sesal Surodipo.
Si orang tua tertawa mengkehkeh, “Jangan salah sangka anak muda, menolong sesama adalah kewajiban semua manusia jadi aku tidak butuh terimakasihmu, aku juga sudah memaafkanmu, hanya saja lain kali kau jangan pernah lagi menuduh orang sembarangan, curiga boleh untuk waspada tapi hati-hatilah dengan mulutmu, jangan sampai kau menuduh orang sembarangan karena dapat menimbulkan fitnah! Camkan itu baik-baik anak muda!”
“Baik orang tua, aku akan mengingatnya baik-baik” angguk Surodipo.
Surodipo terdiam, kembali ia teringat pada peristiwa naas yang menimpanya bertubi-tubi, pertama kejadian Retno Jumini yang kabur meninggalkan dirinya entah kemana, kedua kejadian yang menimpa keluarganya. Tiba-tiba saja mereka didatangi sekelompok orang berjubah hitam yang menamakan diri mereka Kelompok Kelelawar Hitam yang dipimpin si Topeng Setan, salah satunya bernama Arya Kusumo anak Patih Mentahun dari Jipang yang kemudian tewas di tangan Surodipo sendiri.
Kemudian ia berduel dngan si Topeng Setan, sebelum kalah oleh manusia sakti itu, ia masih sempat melihat wajah aslinya yang tak kalah mengerikannya dengan topeng yang ia kenakan. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi, ia pun sudah bisa menebak nasib keluarganya.
Si orang tua itu mengangguk, ia sepertinya tanggap dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Surodipo. “Sayang sekali anak muda, aku hanya berhasil menyelamatkanmu, yang lainnya… Aku terlambat…”
Surodipo mengangguk perlahan, kemudian ia seolah baru tersadar dengan apa yang ada di sekelilingnya. “Orang tua, maafkan aku yang terlanjur tidak tahu budi tidak bertanya namamu… Siapakah engkau? Dan dimanakah ini?”
“Namaku Ki Suryo Alam, dan kau berada di puncak Gunung Sindoro.” jawab si orang tua yang ternyata bernama Ki Suryo Alam.
Surodipo terkejut karena Gunung Sindoro teramat jauh dari rumahnya di Desa Banyu Urip yang terletak dekat dengan Kotaraja Pajang, tapi kemudian ia mengingat-ngingat nama orang tua itu yang rasanya pernah ia dengar tersebut. “Ki Suryo Alam….” Surodipo berusaha mengingat-ngingat nama orang yang dahulu pernah ia dengar
tersebut, teringatlah ia pada sosok orang tua tersebut yang merupakan teman baik almarhum kakeknya dan kerabat Selo.
“Eyang Suryo Alam… Bukankah Eyang adalah salah satu sesepuh kerabat Selo dan sahabat baik almarhum Kakek saya?”
Ki Suryo Alam mengangguk sambil tersenyum. “Benar… Takdir dari Gusti Allah siapa yang sanggup menyangkanya Surodipo? Sekarang beristirahatlah dulu didalam ramuan air obat itu, tubuhmu masih belum sembuh benar, syukurlah tenaga dalam dan daya tahan tubuhmu cukup kuat, kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi, karena Mutiara Setan amat berbisa selain Luka dalammu akibat Pukulan Rajah Penyangga Langit juga cukup parah.” ucap Ki Suryo Alam.
Surodipo heran mengapa Kakek itu bisa tahu dengan luka dalamnya akibat pukulan Rajah Penyangga Langit “Darimana Eyang bisa tahu kalau luka dalam saya akibat pukulan Rajah Penyangga Langit?”
Ki Suryo Alam menyeringai. “Aku hafal betul karakter dari pukulan inti es itu… Karena ilmu itu adalah turunan dari leluhurku… Pastilah Si Topeng Setan yang mencelakaimu”
“Dari leluhur Eyang? Dan kenapa Eyang bisa tahu tentang si Topeng Setan?” tanya Surodipo penasaran dan semakin terkejut kepada Ki Suryo Aalm, tapi ketika ia hendak bertanya lagi, Ki Suryo Alam melangkah pergi, “Beristirahatlah, setelah sembuh ada yang ingin aku tunjukan padamu.” pungkasnya.
***
Dua hari kemudian Surodipo sudah sembuh sepenuhnya, bahkan ia merasa tubuhnya lebih bugar dan ringan dari sebelumnya. Kyai Suryo memanggilnya ke sebuah danau kawah di Gunung Sindoro yang bernama Kawah Kembang. Di sana ia menyuruh Surodipo untuk duduk tafakur, Surodipo dengan segala dayanya menahan panas dari kawah dan bau belerang yang sangat menyengat yang membuat nafasnya sesak dan kepalanya pusing. Rupanya inilah pelatihan dari Ki Suryo yang pertama untuk Surodipo, latihan ini adalah untuk meningkatkan tenaga dalam Surodipo dan cara menyebarkan tenaga dalam ke seluruh tubuh secara refleks, lambat laun tenaga dalam Surodipo yang terus meingkat itu dapat membuat tubuhnya terbiasa dengan panasnya kawah dan bau belerang beracun itu.
Setelah Surodipo berhasil bertahan dapat duduk dengan tenang di tengah kawah Kembang itu, Ki Suryo mulai menurunkan ilmunya yang pertama pada Surodipo, tapi sebelum ia menurunkan ilmunya pada Surodipo ia melihat Surodipo sering murung dan melamun sendiri, maka bertanyalah ia “Surodipo, aku sering melihatmu melamun, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”
Surodipo terkejut mendapati pertanyaan itu, tapi ia menjawabnya dengan jujur, “Iya guru, hamba memang ada yang sedang hamba pikirkan dan sulit untuk hamba lupakan.”
“Apakah itu Surodipo?” tanya Kyai Suryo.
“Tentang peristiwa pembantaian keluarga saya oleh orang yang berjuluk Topeng Setan itu… Saya penasaran siapakah dia sebenarnya…” ucap Surodipo.
KiSuryo Alam mahfum bahwa api dendam masih terus berkobar di dalam dada pemuda ini, tapi ia merasa belum waktunya untuk menceritakan semuanya. “Aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu nanti setelah kamu berhasil mewarisi seluruh ilmu yang akan aku turunkan padamu… “
“Baik Guru…” Jawab Surodipo meskipun merasa tidak puas dengan jawaban guru barunya tersebut.
“Nah apa lagi yang merisaukan hatimu?” tanya Ki Suryo.
“Tentang seseorang yang telah menawan hati hamba Guru… Namanya Retno Jumini…” jawab Surodipo dengan jujur.
Ki Suryo merenung sejenak sambil mengelus-elus janggutnya yang putih. “Hmm… Lahir, rezeki, jodoh, dan pati semuanya ada di tangan Sang Pencipta… Apa yang akan terjadi denganmu dan gadis bernama Retno itu Tergantung pada keputusan yang akan kalian masing-masing ambil… Surodipo kebanyakan adalah ilmu kebathinan, aku hanya memiliki sedikit ilmu silat, maka jika bathinmu goyah dan masih dipenuhi nafsu duniawi kau tidak akan berhasil mempelajari satu ilmu pun dariku!”
Surodipo mengangguk, “Hamba paham guru, hamba sudah mengikhlaskannya.”
Kyai menangguk, lalu ia duduk bersila di tengah kawah dan menyuruh Surodipo mengikutinya, “Surodipo Ilmuku yang pertama bernama Ilmu Membuka Mata Sukma, gunanya adalah untuk membuka mata sukmamu agar lebih awas dan dapat melihat sesuatu yang tidak dapat orang lain lihat.”
Surodipo pun ikut bersemedi dengan gurunya di tengah danau kawah itu, “Sebut nama Allah sebelum melakukan segala sesuatu, selalulah ingat padanya, perbanyaklah ibadah sunah selain melaksanakan ibadah wajib, perbanyaklah dzikir untuk menyingkirkan bisikan setan, bacalah selalu istighfar setiap kali hawa nafsu menghampirimu, hindarilah melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengundang hawa nafsu, kurangilah makanan dan minuman yang dapat mengundang hawa panas dalam tubuh sebab hawa panas itu akan menuntun hawa nafsu, laksakanlah segala perintahNYA, jauhilah laranganNYA… Itulah inti dari Ilmu Membuka Mata Sukma!” jelas Kyai Suryo Alam.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
pantasnya ngadep laja nelaka😄
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷