Adel dan Vano adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan mereka harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang disebabkan oleh sebuah perjanjian ibunya dan sahabat ibunya di masa Sekolah.
"Kita menikah bukan atas dasar cinta,kenapa kita harus sama seperti pasangan yang lain?,kamu boleh mengambil peran istri hanya di depan orang tua kita saja, setelah itu kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan kamu,aku tidak akan ikut campur selagi itu masih dalam batas wajar. Dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku"kata Vano
Mendengar ucapan Vano ,hati Adel sedikit nyeri entah pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya.
Hingga di awal pernikahan Vano tidak juga menyadari kalau dirinya mulai menyimpan rasa dengan istrinya.
Siapa diantara mereka yang ternyata mulai jatuh cinta duluan,,,,,yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dik Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Oleh-oleh
Setelah selesai meninjau proyeknya, Vano dan kevin kembali ke kantor.
Di perjalanan menuju kantor.
"Gila, gue nggak nyangka Lo bisa bersikap seperti tadi kepada Bu ayu yang notabenenya adalah klien kita bos," kata Kevin.
"Emangnya kenapa?, gue nggak peduli mau dia klien kita atau nggak yang pasti dia sudah bertindak tidak sopan dan itu membuat gue jijik melihatnya." Jawab Vano dengan angkuhnya.
"Yakin jijik?" Goda Vano.
"Ya yakinlah kenapa nggak?, gue kasih tau Lo ya Vin, perempuan yang sudah berani dengan terang-terangan menggoda laki-laki beristri berarti dia bukan perempuan baik-baik ingat itu!" Tegas Vano.
"Iya juga sih, tapi kayaknya beliau suka deh sama Lo bos,"
"Gue sudah tau itu Vin, dari caranya menatap dan selalu mencari perhatian gue, gue sudah bisa menebak kalau dia tertarik sama gue." Ucap Vano dengan PD-nya.
"Apa di pertemuan sebelumnya juga pernah terjadi hal semacam ini bos?"
"Pernah sih pas aku meeting sendiri aja sama dia, tapi tidak separah hari ini."
"Saat beliau sudah tau Lo punya istri saja masih berani menggoda, itu tandanya Lo harus hati-hati bos karena bibit pelakor mulai muncul." Kata Kevin.
"Lo bener Vin, karena gue juga harus menjaga perasaan Adel."
"Ngomong-ngomong soal nona Adel nih ya bos, apa bener bos sudah bener-bener mencintainya?" Tanya Kevin.
"Kalau gue gak cinta sama dia, nhgak mungkin gue mau sentuh dia Vin, Lo kan tau sendiri gue itu orangnya gak mudah tergoda dengan wanita apalagi wanitanya kayak Bu ayu, ogah banget gue Vin."
"Ciye, yang udah bucin aja ni yee," ledek Kevin.
"Biarin. Bucin sama istri sendiri gakpapa lah ya."
"Dasar, dulu aja di suruh nikah nggak mau, giliran sekarang lengketnya melebihi perangko." Ledek Kevin.
Vano hanya tersenyum mendengar ledekan asistennya itu.
Di kediaman keluarga Nugraha.
Setelah kepergian Vano dan tuan Nugraha, Adel kini sedang membongkar oleh-oleh yang di bawanya dari Bali bersama mama mertuanya.
"Ma, ini Adel ada oleh-oleh buat Mama dan papa." Kata Adel menyerahkan papar bag pada Lisa.
"Ini apa sayang?"
"Ini ada kain songket khas Bali Ma, bagus kalau di buat sarimbit Mama sama papa."
"Ini bagus banget, mama suka sama motifnya sayang, makasih ya nak?" Ucap Lisa.
"Iya ma sama-sama, lagian juga belinya pakai uang anak mama kan jadi gak perlu berterimakasih segala kali ma," canda Adel dengan tersenyum.
"Itu kan memang sudah kewajiban Vano buat menafkahi kamu sayang." Kata Lisa sambil mengelus lengan Adel.
"Oh iya nak, Vano gak nakal sama kamu kan sayang?" Tanya Lisa.
"Enggak Ma, justru mas Vano memperlakukan Adel dengan sangat baik Ma," jawab Adel dengan senyum bahagia nya.
"Mama seneng dengarnya sayang, mama berdoa supaya rumah tangga kalian selalu bahagia." Kata Lisa dengan tulus.
"Amin, oh iya ini juga ada beberapa kue kering juga Ma, dan nanti sekalian Adel mau minta ijin pulang ke rumah, adel mau ngasih oleh-oleh juga buat ibu boleh nggak Ma?"
"Boleh dong sayang, tapi kamu harus ijin dulu sama suami kamu ya, kan sekarang Vano yang bertanggung jawab penuh atas kamu."
"Iya Ma nanti Adel minta ijin dulu sama mas Vano. Yaudah Adel mau ke kamar siap-siap dulu ya ma?"
"Iya sayang,"
Vano baru sampai di ruangannya saat mendengar suara dering dari ponselnya.
"Iya sayang halo kenapa, apa kamu sudah kangen sama mas?, baru mas tinggal belum ada satu hari sudah kangen aja," jawab Vano yang sedang berjalan menuju kursi kerjanya
"Idiih PD banget, siapa juga sih yang kangen, aku itu mau pamit aja sama Mas Vano," ledek Adel.
"Oo... Kirain kamu kangen sama mas. Emang kamu mau pamit kemana Yang?"
"Aku mau pulang ke rumah ibu dulu mau nganter oleh-oleh, gimana boleh nggak mas?" Tanya Adel.
"Oo gitu, tapi mas nggak bisa nganter kamu sayang gimana dong?"
"Iya gakpapa Mas, aku bisa naik taksi kok, lain kali aja kalau mas libur nanti kita bisa main kesana." Kata Adel.
"Ok sayang. Yaudah kamu pergi nya hati-hati ya Yang,"
"Iya mas."
Setelah mendapatkan ijin dari suaminya Adel kemudian berangkat menuju rumah ibunya. Karena pintu rumah yang tidak di kunci, membuat Adel langsung masuk dan mencari ibunya.
"Pagi Bu," sapa Adel pada Santi yang lagi memasak di dapur.
"Eh anak ibu sudah pulang?" Jawab Santi sambil memeluk ade6l.
"Maaf ya Bu, aku langsung masuk habisnya ibu aku panggilan gak dengar mana pintu gak di kunci lagi, kalau ada orang jahat gimana Bu?"
"Iya sayang, pas ibu pulang dari pasar tadi lupa buat kunci pintu lagi. Oh iya mana suami kamu Del?" Tanya Santi.
"Mas Vano kan sudah masuk kerja Bu, besuk akhir pekan aja kita nginep disini."
"Oh gitu, ya udah gakpapa."
"Ibu jam segini kok masih dirumah, nggak ke tempat loundry Bu?"
"Iy nanti ibu berangkat nya agak siang Del, sekarang ibu sudah tambah karyawan satu lagi buat bantu ibu, jadi ibu bisa sedikit santai." Jelas Santi.
"Bagus itu Bu, biar ibu gak kecapekan juga kan."
"Oh iya ini Adel sama mas Vano beliin oleh-oleh buat ibu, ada kain songket sama kue kering dari Bali."
"Makasih ya nak, ibu doakan pernikahan kamu sama nak Vano langgeng dan selalu bahagia."
"Amin. Makasih ya Bu buat doanya."
Setelah setengah hari dirumah ibunya, Adel pamit pada santi untuk mengantar oleh-oleh buat Novi ke toko kue.
Karena Novi sedang mengantar pesanan ke pelanggan, akhirnya Adel menitipkan oleh-olehnya ke ibunya Novi.
Setelah selesai dengan urusannya Adel segera kembali pulang ke rumah mertuanya.
Karena sampai rumah mertuanya sudah sore, Adel langsung bergegas membersihkan diri untuk menyambut kepulangan suaminya.
Di kantor NUGRAHA,
Kini Vano sudah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak kembali pulang.
Satu jam kemudian Vano sampai dirumah.
Lisa yang saat itu berada di ruang tamu segera membuka kan pintu untuk anaknya.
"Sore Mam," sapa Vano sambil mencium pipi mamanya.
"Sore juga sayang, tumben kamu sudah pulang?" Tanya Lisa heran (karena sebelum menikah Vano selalu pulang telat).
"Iya dong Ma, kan sekarang sudah ada yang nungguin Vano di rumah, jadi ya harus pulang tepat waktu." ucap Vano sambil nyengir.
"Oh gitu, yaudah sana masuk!"
"Istriku dimana Mam," Tanya Vano.
"Adel ada di kamarnya mungkin lagi mandi karena dia baru pulang dari rumah ibunya."
"Oke Ma, aku naik ke atas dulu ya, emuaah...!" Vano berlalu setelah kembali mencium pipi mamanya lagi.
"Dasar, sudah punya istri juga masih suka cium mamanya." Ucap Lisa tersenyum dengan menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.