Tahap Revisi
Tentang Vyolla, seorang gadis barbar yang dipaksa masuk ke dalam karakter Putri, sosok protagonis wanita di dalam novel yang selalu ia rutuki nan hina-hina..
📢 Novel pertamaku ini ceritanya ringan dengan protagonis yang anti menye-menye 🔥💪
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bantalguling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
"Oy Vyo.."
Vyolla yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah beres tahlilan ayah Putri, mendadak diam bagaikan patung. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat kembali mendengar suara dari orang-orang yang berada didekat raga aslinya. Dan kali ini, suara yang ia dengar adalah suara, "Varel.."
Vyolla buru-buru duduk bersender di headboard kasur, dengan membawa boneka besar tsum-tsum untuk ia jadikan tumpuan dari kedua lengannya.
"Oy Kakak Vyolla.."
Vyolla tersenyum geli mendengar Varel memanggilnya kakak. Karena selama ini, Varel yang hanya berselisih umur sembilan belas bulan dengannya, selalu menyebut dirinya dengan oy atau Vyo.
"Njir, geli sendiri gue, manggil lo kakak."
Mendengar perasaan Varel, membuat Vyolla tertawa ngakak.
"Mmm, Vyo, lo apa kabar disana?"
Pertanyaan Varel membuat Vyolla melotot kaget.
"Emang, di sana seru yah? Sampai lo nggak mau pulang?"
"Kok? Masa sih dia tahu?" tanya Vyolla penasaran.
"Lo pasti ketemu sama cogan yah di sana? Terus, lo kesemsem, lo godain, dan lo jadiin dia pacar lo."
Vyolla yang asalnya senderan santai, langsung duduk dengan tegap. Pendengarannya ia coba tajamkan semaksimal mungkin, agar ia bisa lebih jelas dalam mendengar ucapan Varel.
"Atau jangan-jangan, lo udah nikah di sana? Makanya lo nggak mau bangun-bangun?"
"Seriusan.. lo tahu Rel?"
"Balik yuk Vyo. Jangan mimpi terlalu lama, nanti kalau nggak sesuai harapan, bisa gila loh."
Vyolla menghembuskan napas panjang, "Oalah, maksudnya di sana itu di alam mimpi, toh. Gue pikir dia tahu, kalau gue lagi ada di dalam novel."
"Vyo.. kangen.."
Mendengar kalimat yang diucapkan Varel dengan suara serak menahan tangis, membuat Vyolla tak kuasa menahan air matanya. "Gue juga Rel.. gue juga kangen sama lo.. gue juga pengen balik ke sana.."
"Vyo.. yuk balik yuk.. lo emang nggak kasihan apa, sama kita bertiga yang khawatir banget sama lo." Varel diam sejenak. "Oiyah, sekarang ibu lagi sakit gara-gara mikirin lo tauk. Jadi lo harus tanggung jawab Vyo, lo harus ngerawat Ibu sampai sembuh."
Tok.. tok.. tok..
Dengan tergesa Vyolla menyeka air matanya, tatkala mendengar ada suara ketukan dari pintu kamarnya. "Siapa?"
"Gue."
"Masuk."
"Lo nangis?" Tanya Raksa ketika melihat mata Vyolla yang sembab.
"Eum, ingat Ayah," jawab Vyolla bohong.
Dengan cepat, Bagas memberikan pelukan hangat sebagai bentuk support untuk Vyolla. Tapi, dekapan dan usapan lembut yang dirasakan Vyolla, malah membuatnya kembali berderai air mata.
"Nggak usah ditahan Put, kalau mau nangis ya nangis aja."
"Hhk.. hhk.. huwaaa~"
Tangis Vyolla pun akhirnya pecah. Ia menangis melepaskan sedikit penat yang telah membelenggunya selama ini. Walaupun di dalam dunia novel Cherry, Vyolla dikelilingi oleh wajah-wajah yang sama seperti di dunia aslinya, tapi ia tetap ingin pulang. Ia lebih memilih untuk hidup sebagai dirinya sendiri, menjadi Vyolla, Vyolla Aileen Wicaksono.
"Bu..." ujar Vyolla tanpa sadar di tengah tangisnya.
...****************...
Hari ini Vyolla berangkat kerja dengan kembali diantar Raksa. Pria itu sekarang benar-benar hanyalah seorang pengangguran. Setelah berhenti bekerja di negara Jepang, dia kembali pulang ke Indonesia dengan niat awalnya yang mau nyari kerja di sini. Tapi karena terlalu fokus dengan masalah yang dialami Putri, Raksa akhirnya memilih untuk membantu segala urusan Putri terlebih dahulu. Beruntung, dia dari kalangan anak orang kaya, yang tak bekerja pun masih bisa makan dengan 'steak' setiap malam.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue aja yah," seru Raksa ketika Putri hendak turun dari mobilnya.
Vyolla mengangguk. "Iyah, bawel," jawab Vyolla sambil mendaratkan kecupan singkat dipipi kiri Raksa. "Bye, thanks ya Sa."
Raksa yang mendapat penyerangan dari Vyolla, langsung kalah dan meleyot. Jantung dan rona pipinya pun sudah tak aman. Ini adalah kali pertama Putri mengecupnya.. dan ia suka.
"Pagi Pak," sapa Vyolla ketika melihat Bagas sedang berdiri di depan mobilnya, yang tepat berada di seberang mobil Raksa.
"Pagi," jawab Bagas sambil terus berjalan pergi meninggalkan Vyolla yang masih diam di tempat. Merasa bingung dengan sikap Bagas, Vyolla pun berjalan mengikuti Bagas sambil bertanya-tanya. "Masa sih cowok bisa PMS," tutur Vyolla bermonolog.
Pagi berganti siang, dan siang pun dengan cepatnya berganti sore. Vyolla yang sedang bersiap untuk pulang, tertahan karena mendengar seruan Bagas.
"Tapi, saya mau mempersiapkan untuk tahlilan Ayah, Pak."
"Tapi laporan ini, harus dikirim ke Pak Sakurta malam ini juga Put."
Vyolla berpikir sejenak. Alasan utama Vyolla ingin cepat pulang, karena ia tak enak dengan Raksa yang sudah menunggunya di parkiran hotel. "Baik Pak. Tapi saya izin ke luar sebentar yah Pak."
Dengan langkah tergesa, Vyolla pergi untuk menemui Bagas. Ia ingin meminta maaf sekaligus menyuruhnya untuk pergi, karena takut jika ia pulangnya akan larut. Tapi memang dasar Bagas gabut, ia dengan tanpa terpaksa tetap ingin menunggu Putri sampai beres dari kerjaannya.
"Huft. Yaudah kalau itu mau lo. Gue usahain ngerjainnya cepet deh, biar lo nggak terlalu lama nunggu. Wait me oke.."
Raksa hanya mengangguk setelah mendengar ucapan Vyolla.
Kali ini, Vyolla kembali ke ruang kerjanya dengan setengah berlari. Ia tidak mau jika Raksa akan terlalu lama menunggu. Kasihan pikirnya. Dan tentu saja, alasan lainnya adalah Vyolla ingin mengikuti acara tahlil untuk ayah Putri. Karena bagaimanapun, ia sekarang sedang berubah menjadi anak pertama dari almarhum.
"Habis dari mana, kok ngos-ngosan?" tanya Bagas keheranan.
Vyolla menggeleng. "Yuk Pak, kita mulai dari mana dulu?"
Bagas yang melihat gimana Putri yang grasak-grusuk serta tidak fokus dalam mengerjakannya, membuat Bagas pun menjadi tak nyaman bekerja. "Kalau kamu kerjainnya seperti ini, bukannya lebih cepat, malah semakin membuang waktu karena hasilnya pasti akan salah terus."
Vyolla mengehentikan aktivitasnya. Ia tersadar bahwa memang benar yang Bagas ucapkan. Ojo kesusu, alon-alon waton kelakon. "Maaf Pak. Saya salah."
"Saya tahu kamu ingin ikut tahlil ayah kamu. Tapi karena laporan ini urgent, jadi saya harap kamu bisa tahu mana yang harus kamu prioritaskan untuk saat ini."
"Baik Pak."
Akhirnya, Vyolla dan Bagas kembali mengerjakan laporan yang diminta oleh Pak Sakurta dengan fokus. Dan ditengah-tengah pekerjaannya, Bagas menatap wajah Putri yang menurutnya begitu menawan ketika sedang serius bekerja.
'Maafin gue Put. Gue hanya nggak mau, lo pulang malam ini dengan dia yang udah lo cium tadi pagi.'
aku mampir ya baca, like dan coment. Mampir juga baca novel q yuk..