NovelToon NovelToon
Oh My Ex-Husband

Oh My Ex-Husband

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Perjodohan / Militer / Tamat
Popularitas:447.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fara Dela Sandi

WARNING : CERITA INI MENGURAS EMOSI SAMPAI TUTUP PANCI AKAN IKUT MELAYANG! BERMENTAL LEMAH HARAP JANGAN BACA. TAKUT DARAH TINGGI NAIK MENDADAK😈


Bercerai? Itulah satu permintaan Kaiden. Selama tiga tahun, mereka tidak bersinggungan. Tiba-tiba Kaiden suami kontraknya itu lontarkan. Devina Deborah, merasa tidak bisa melepaskan Kaiden Louis. Perempuan cantik itu memiliki perasan pada sang suami.

Ia memberikan persyaratan. Dalam kurun waktu 3 bulan. Jika Devina tidak mampu menggoyahkan hati Kaiden untuknya. Maka ia bersedia menandatangani surat cerai tanpa perlawanan. Mampukah Devina menaklukkan hati Kaiden. CEO angkuh yang malah jatuh cinta pada Dokter berdarah Rusia-Indonesia itu? atau malah harus terpaksa menandatangani surat perceraian. Dan pergi dengan mengibarkan bendera, pertanda menyerah.

Simak terus kisahnya di sini. Jangan lupa simpan di perpustakaan untuk mendapatkan update tiap harinya. Dan jangan follow akun Ig author di "Dhanvi Hrieya"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. MALU DI PAGI HARI

Tirai jendela melambai-lambai ditiup angin siang. Udara panas mulai menguar. Deburan ombak sangat jelas menyapa indra pendengaran. Paru-paru memompa aroma air laut. Meskipun sang raja mentari tengah bertahta angkuh di atas sana. Di mana panasnya mampu mengigit kulit. Kedua pasang suami-istri itu masih terlihat asik dengan alam mimpi.

Seprei tempat tidur terlihat berantakan. Tubuh atletis polos itu memeluk tubuh mungil sang istri dari belakang. Ruam-ruam merah keunguan terlihat memenuhi leher jenjang Devina. Sampai bahu mulut itu tidak luput dari cap bibir Kaiden Loius. Entah seberapa panasnya permainan ranjang keduanya ini.

Hembusan nafas kedua menderu teratur. Sedangkan di atas meja di ruangan tengah villa sudah diletakan hidangan makan pagi. Yang sama sekali tidak disentuh sampai dingin.

"Eugh ..." erang Devina terdengar rendah.

Beberapa kali terlihat dahi putih mulus itu mengerut kecil lantaran rasa ngilu dibeberapa ruas tulang tubuhnya. Dan rasa penat di panggul. Seakan ia sudah menjalani olah raga berat. Telapak tangan Kaiden bergerak membelai perut datar Devina dengan elusan pelan. Kedua mata keduanya masih terpejam.

Dua orang pegawai villa yang bertugas mengantarkan makan siang dengan troli yang di dorong itu sontak mengerutkan dahi mereka. Adu tatap langsung terlihat.

"Eh, tidak disentuh sama sekali loh?" tanya salah satu gadis ayu itu.

"Oh, iya. Apakah mereka masih tertidur?" balas gadis berambut dicopol tinggi itu.

Yang ditanya tidak menyahut. Malah keduanya saling adu lirikkan mata. Senyum nakal terkembang di wajah mereka masing-masing. Ayolah, pasangan yang kini mendiami villa mahal untuk empat hari itu mengambil paket honeymoon. Sudah pasti melakukan hal yang bisanya pasangan suami-istri itu lakukan.

"Tapi sudah sangat siang. Kita harus mengganti makanan yang ada di atas meja dengan makanan yang baru. Kalau mereka tidak kita bangunkan. Takut-takut ini akan dingin lagi," ujarnya.

Gadis berambut dicepol itu mengangguk kecil."Kalau gitu sama kamu yang ketuk pintu dan memanggilnya," sahutnya.

Gadis berambut di atas bahu itu mengangguk."Kamu rapikan makan ini. Aku akan ke kamar untuk memanggil Tuan dan Nyonya muda itu!"

Setelah membagi tugas. Gadis berambut sebahu itu melangkah meninggalkan meja makan. Melangkah terburu-buru. Melangkah mendekati pintu kamar keduanya.

TOK!

TOK!

"Pak Kaiden! Nyonya Devina!" seru gadis ayu itu.

Sebelum kembali membuat suara gaduh dibalik pintu kamar kayu yang diukur itu. Merasa berisik di luar. Kaiden dan Devina mengerang bersamaan. Kaiden mengerjap pelan. Hingga kedua mata tajam itu mengedip beberapa kali. Sebelum terbuka kembali.

"Nyonya Devina! Pak Kaiden! Makan siang sudah kami hidangkan di atas meja makan. Bapak dan Ibu bisa makan selagi panas," teriakan keras kembali terdengar dari balik pintu.

Kaiden linglung. Ia melepas rangkulannya di pinggang ramping Devina. Muka bantal itu jelas terlihat. Gila. Baju mereka berserakan di lantai.

"Saya tinggal, ya, Pak! Bu! Selamat makan siang!" seru gadis ayu itu kembali.

Sebelum melangkah meninggalkan pintu kamar kedua tamu villa. Merasa sudah cukup. Sudah pasti kedua pasangan suami-istri itu terbangun dari tidur panjang mereka.

Devina membeku. Bahkan kedua kelopak mata Devina menggerjab kecil karena apa yang baru saja ia pahami. Tubuhnya yang masih membelakangi tubuh sang suami. Ranjang berderit, Kaiden turun dari atas ranjang. Memungut pakai semalam. Memakainya dengan gerakan cepat. Devina masih belum mampu menguasai dirinya.

Bibir bawah Devina digigit perlahan. Saat rasa pedih menghantam pangkal padanya. Gila. Alkohol memang cairan terkutuk yang tidak seharusnya i minum. Apakah dia bodoh? Kenapa bisa tidak tahu membedakan mana minuman alkohol dan sirup.

TAP!

TAP!

KLIK!

Pintu kamar terbuka perlahan. Kaiden menarik pintu kayu itu ke dalam. Membuka cukup lebar pintu kayu. Kepalanya menoleh ke belakang. Di mana Devina masih berada di atas ranjang dengan posisi membelakangi dirinya. Memperlihatkan punggung putih mulut nan polos itu.

"Ma—mandilah, aku akan menunggu di luar. Kalau sudah siap keluarlah. Kita makan siang, bersama." Kaiden berucap dengan nada tergagap.

Sialan. Devina hanya memaki kembali dalam diam. Karena Kaiden tahu bahwa dia ternyata sudah bangun. Bibir bawah Devina gigit perlahan. Wajahnya memerah. Sangat merah, sampai mengalir di daun telinga Devina. Derap langkah kaki Kaiden menjauhi kamar terdengar.

Devina perlahan-lahan membalikkan tubuhnya. Menghadap ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Devina mengernyit kecil. Tubuhnya sakit-sakitan.

"Dasar tidak punya hati. Bagaimana caranya aku beranjak dari ranjang? Jika bergerak sedikit saja sakit!" dumel Devina dengan nada kecil.

Wajahnya memerah padam. Ingatannya kembali memutar momen panas yang terjadi tadi malam. Membuat jantung Devina semakin berdebar keras.

TAP!

TAP!

"Dev! Apakah ada yang bisa aku bantu?" seru suara bariton itu terdengar nyaring.

DEG!

Devina membeku mendengar suara Kaiden. Pemuda itu agaknya melangkah setengah berlari ke arah kamar. Siapa sangka malah Kaiden malah kembali.

"Ah?"

"Itu ... kamu bisa bangkit ke kamar mandi?" tanya Kaiden.

Pria ini peka juga ternyata. Bahwa perbuatan yang ikut adil oleh Kaiden tadi malam. Harus bertanggung jawab sampai akhir. Devina dengan ekspresi wajah malu. Ia mengangguk kecil.

"To—tolong bantu aku ke kamar mandi. Aku tidak bisa bergerak. Itu ... sakit." Devina menjawab dengan nada meragu.

Kaiden mengangguk patah-patah mendengar permintaan Devina. Pemuda itu melangkah mendekati ranjang. Hawa panas membuat keduanya malah terlihat kikuk. Setelah apa yang terjadi tadi malam.

...***...

"Menurut Papa apakah akan ada kabar bagus untuk kita?" tanya Maria dengan sorot mata penuh harap.

Antonio yang sibuk dengan koran di tangannya yang dikembangkan langsung menarik atensinya. Yang tadinya fokus pada berita terbaru itu dibawa ke arah wajah sang istri tercinta.

"Ya, sepertinya begitu. Harusnya begitu," jawab Antonio ambigu.

"Jawabannya kok begitu, sih, Pah? Nggak pasti banget!" keluh Maria yang merasa kurang puas dengan jawaban sang suami.

Antonio terkekeh kecil."Kita lihat saja nanti. Tidak perlu terlalu banyak tanya dan berharap lebih. Kalau rezeki kita ya, sudah pasti nanti ada berita baik. Kalau belum ya, coba lagi. Toh, mereka masih muda sekali. Masih bisa punya anak, kok. Devina maupun Kaiden itu subur. Tidak ada masalah. Tinggal tunggu saja. Mama jangan terlalu nyinyir juga. Kasihan Devina," papar Antoni dengan pandangan mata tegas ke arah sang istri.

Maria mengangguk kecil. Wanita paruh baya ini tidak tahan untuk bisa meminang cucu pertama dari sang putra bungsu. Karena semua teman-teman sosialita yang lain sudah banyak yang pamer betapa lucunya cucu yang mereka punya dari putra-putri mereka. Sedangkan Maria hanya bisa pamer cucu dari anak perempuannya. Sedangkan Kaiden belum ada. Padahal sudah menikah tiga tahun.

"Ya, Pa!" sahut Maria pelan.

Bersambung....

Mohon dukungannya, Kakak-kakak dengan cara like dan komen😉

1
Sala Wati
rasain kaiden mkanya jgn egois 🤭
Sala Wati
aduh saya juga mau
Woro Wardani
Luar biasa
Laurentia Delimarta
dlu dia yg mau cpt2 cerai, skrng mala ga mau
Laurentia Delimarta
jgn bucin Dev nanti susah sendiri, hea tegae d dpn Kaiden
Laurentia Delimarta
jahat banget, yg 1 pelakor
KarmilaFatiyah Hudong II
aaku suka kok sma kaiden...mudhan dia mncintai jane
nuning 29
ini serius, sekelas CEO yang punya gedung tinggi, naik mobil sekelas Avanza?
hehe ...
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
cerita yg luar biasa
v_cupid
yg cerita lain ada kah yg bukan mafia
v_cupid
mw yg lain..
v_cupid
mw cerita yg lainnya.. yg sama bagusnya dgn ini thor...
v_cupid
baguslah bs bangkit dan membuat kaiden sangat sakit.. begitulah.. br menyesal saat sudah tidak memiliki
v_cupid
kaiden kok ga curiga ya knp bs semua mnm obat tidur.. siapa yg membantu Devina kabur.. secara tdk mgkn melakukan semua itu sendiri
v_cupid
gmn mw hamil.. org masih perawan sebelum ke bali
v_cupid
kalo dulu pasti akan bahagia sekali
v_cupid
..
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
bagus
v_cupid
just happy with devina kaiden.. don't get disturb with arumi
v_cupid
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!