"Aku jelek, nggak akan ada cowok kece yang mau mengatakan cinta padaku!" celetuk Viona Abraham dengan sedih bercampur putus asa.
Viona Abraham berusaha mencari cintanya. Dia menerima setiap cowok yang menawarkan diri untuk menjadi pacarnya. Namun apa yang dia dapatkan? Ungkapan putus mendadak!
Bisakah Viona Abraham menemukan cowok yang benar-benar tulus mencintainya?
Bagaimana kisah romansa nya berubah manis dan sanggupkah dia menemukan cinta sejatinya?
Ikuti kisah jutex nya dalam novel recehku Romansa VIONA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susi Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Melihat mobil Robbie melesat meninggalkan pintu gerbang sekolah, sekujur tubuhku rasanya lemas tanpa daya. Seperti Handphone yang lemah baterainya. Apakah nyawaku masih ada? Apakah aku masih hidup? Kayaknya aku bakal gila nih. Apa yang mereka lakukan sekarang?
Aku menelepon semua orang dan belum ada yang dengar apa-apa. Seolah semua sahabatku menghilang di telan bumi. Aku sendirian di sini. Merasakan perasaan yang nggak karuan. Mencoba menebak apa yang mereka omongin. Mencoba menerka apa yang mereka lakuin. Aku seperti tenggelam dalam lautan yang luas yang paling dalam. Ah tidak!! Rasanya kayak berada di salah satu sandiwara jelek yang harus kita pelajari. Aku akhirnya bakal ditinggal sendirian dan memandang laut....kemungkinan sampai menua lalu mati terseret ombak.
Aku melihat diriku di cermin. Aku sudah dewasa! Bentuk tubuhku dari hari ke hari berubah. Aku baru saja melihat bulu-bulu ketiak ku tumbuh lebat. Aku harus mencukur nya! Di kakiku juga ada. Mendingan aku mengalihkan pikiranku dengan merawat diriku sendiri.
Aku menyibukkan diri mencukur bulu-bulu yang tumbuh di kakiku dengan pisau cukur ibuku. Oh Tuhan! Aku mengalami pendarahan! Kakiku penuh darah. Aku harus menyetopnya dengan daster ibuku. Dia bakal membunuhku kalau sampai tahu. Mendingan dasternya aku cuci.
Aku langsung mencucinya sebelum ibuku pulang. Telepon mendadak berbunyi, ternyata ibuku yang menelepon. Dia dan Libby mampir ke rumah paman Eddie dan baru pulang nanti. Dan aku harus bikin teh dan makananku sendiri.
Makan apa ya enaknya? Hem... aku tahu. Aku akan makan mie goreng saja dengan telur mata sapi. Hanya itu yang kubisa. Saat aku sibuk membuat telur mata sapi, telepon berdering lagi. Aku tersandung kabel waktu mau mengangkat telepon. Gara-gara mematikan kompor dulu, dan aku berlari mengangkatnya. Kakiku mulai berdarah lagi. Ternyata Ellen.
"Jasmine Rendra baru menelepon ku!" kata Ellen dengan santai, sedangkan aku langsung menjerit.
"Terus!?" tanyaku dengan nada nggak sabaran.
"Yah, mereka minum kopi. Jasmine bilang, Robbie tampan sekali dan juga sangat lucu."
"Terus??"
"Yah, dia mau ngomong soal Jackson."
"Hahahaha...."
"Ada apa Viona? Kenapa malah tertawa?"
"Lucu! Dia sampai bela-belain pakai bot! Hahaha." Aku nggak bisa menghentikan tawaku. Entah kenapa, dadaku plong dan rasa lega menjalari sekujur tubuhku.
"Dasar cewek aneh!" ucap Ellen dengan nada dongkol mendengar tawaku yang nggak mau berhenti. Aku pun bertanya lagi, rasa penasaran masih ada.
"Lalu, dia bilang apa?"
"Ya, Robbie kepingin tahu kalau-kalau Jasmine Rendra masih suka Jackson. Soalnya Jackson masih menyukainya."
Penjelasan Ellen membuatku lega. Aku meletakkan gagang telepon. Jackson? Siapa yang peduli? Hahaha. Hidup ini Sik asik Sik asik. Lalalala Sik asik Sik asik. Nyam nyam nyam. Aku menikmati makananku dengan lahap. Mie goreng dengan telur mata sapi! Hatiku terus bernyanyi! Tapi aku lupa sudah mencuci daster ibuku di mesin cuci lama sekali.
Ya ampun! Ada masalah kecil. Daster ibuku menciut sampai sebesar baju boneka. Kayaknya cukup untuk Libby deh. Tapi tetap saja hal itu tidak membuatku takut. Hatiku terus bernyanyi! Akan kupikirkan besok saja. Sekarang aku mau joget diiringi lagu gembira!
Ketika malam tiba, aku mendengar suara pintu. Dan ibuku masuk. Tapi aku pura-pura tidur. Dasternya sudah kusembunyikan di dasar lemariku. Ibu kembali melihatku sebelum keluar dari kamarku. Aku lega, ibu sudah menuruni tangga.
Keesokan harinya, Jasmine Rendra menunggu aku di pintu gerbangnya. Aku melihatnya dan mulai berjalan pelan sekali dan berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasku. Terus aku pura-pura ada yang kelupaan dan harus pulang mengambilnya.
Aku berjalan balik dan menunggu di belakang pagar tanaman selama empat menit, terus jalan lagi. Hore, dia sudah nggak ada. Rencanaku berhasil! Tapi baru saja aku melewati gerbangnya, dia muncul dari balik pagar tanamannya.
Dia berjalan di sebelahku tapi nggak bilang apa-apa. Aku juga diam. Aneh banget diam-diaman kayak gitu. Kau harus berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kau nggak boleh bersendawa atau apa, bahkan berdeham supaya orang di sebelah mu nggak mengira kau mau ngomong duluan.
Sesampainya di sekolah dia memberiku surat. Mula-mula aku nggak mau menerimanya. Tapi aku kepingin baca jadi akhirnya aku menaruh surat itu di tasku. Begitu sempat aku akan membaca suratnya. Soalnya aku nggak mau Jasmine Rendra tahu aku kepikiran banget membaca hal-hal tolol yang kepingin dikatakannya.
Saat jam istirahat, kubaca suratnya.
Dear Viona Abraham....
Aku minta maaf kita musuhan gara-gara cowok. Itu nggak bakal terjadi lagi.
Aku tolol dan dan nggak mikirin perasaanmu, padahal kau kan sahabatku.
Kalau ada yang bisa kulakukan untuk menjadi temanmu lagi, aku akan melakukannya.
Jasmine Rendra.
PS: Dia nggak tunangan sama Lindena kok. Robbie masih bebas!
Jadi? Dikira Jasmine....dia bisa melupakan semua minta maaf ini begitu saja? Yah, satu surat nggak cukup untuk mengubah pandangan ku tentang dirinya. Jasmine Rendra menemukanku di dekat penjual bakso dan dia agak gugup. Biar saja dia menderita.
"Em...Viona..." sapanya ragu-ragu.
"Apa sih maksudmu dia nggak tunangan sama Lindena?" tanyaku langsung padanya.
"Jangan sok bodoh Viona. Aku tahu, kau suka padanya. Dan kau cemburu berat saat kami minum kopi. Masalah sudah clear, kau bisa mengejarnya lagi."
Dari gugup, Jasmine Rendra langsung nyerocos tanpa bisa kuhentikan. Aku hanya bisa melongo, karena semua ucapannya benar. Akhirnya kami pun berbaikan lagi. Aku dan Jasmine Rendra sudah berteman kembali. Dia minta berkunjung ke rumahku. Kebetulan banget, dia bisa membantu masalah kecilku sebelum ibuku mengetahui dasternya mengecil!
Jasmine Rendra membantuku menarik-narik daster ibuku. Sebagai hukuman atas kelakuannya yang menjijikkan. Dia sudah berjanji akan akan mengatakan dialah yang menaruh daster itu ke dalam mesin cuci. Ibuku nggak bakal marah padanya. Jahat banget dirimu, Viona Abraham!
Daster itu benar-benar seukuran baju boneka kecuali sekarang lengannya panjang kayak lengan orang utan. Ibu memergokinya, dan Jasmine Rendra menepati janjinya. Dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada ibu. Aku terselamatkan deh, karena ibu nggak marah padanya. Jika aku yang ngaku, pasti marahnya nggak cukup setahun!
Sepertinya Robbie kaget banget mendengar kabar dirinya bertunangan. Waktu dia tanya Jasmine Rendra, kenapa dia mengira dirinya bertunangan? Jasmine Rendra terpaksa berpura-pura ada orang yang memberitahunya.
"Kabar palsu! Siapa yang berani menyebar kabar itu?"
"Aku juga nggak tahu. Mungkin karena Lindena sudah memakai cincin?"
"Apakah semua cewek yang memakai cincin dianggap tunanganku? Orang bodoh yang menyebar rumor tentangku seperti itu!"
"Jangan marah Robbie. Mungkin semua hanya salah paham saja."
"Lupakan saja masalah itu. Adikku masih menyukaimu. Nggak bisakah kau pertimbangkan lagi perasaanmu?"
Jasmine Rendra menceritakan obrolannya dengan Robbie sedetail mungkin. Aku seperti mendengar sandiwara radio yang sedang diputar. Begitu antusias nya aku melihat mulut mungil Jasmine Rendra bercerita.
Lanjut lagi KK dgn cerita baru 💪💪
Viona kangen tuh..