NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna

Status: tamat
Genre:Patahhati / Badboy / Konflik Rumah Tangga-Pembalasan dendam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:256.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mylia Sarah

Bayi yang baru saja dilahirkannya itu terlihat membiru, bibirnya bergetar dan terus menyusup mencari kehangatan dalam dekapan sang ibu.

Seorang wanita muda tengah berjalan terseok menyusuri jalanan yang masih dipenuhi kabut itu. Ia terus menengok ke belakang, dengan lutut yang gemetar menahan sakit setelah melahirkan.

"Lihat saja kau Ansell Arian Rendra, di kehidupanku selanjutnya akan kubuat kau mengemis di hadapanku!" gumamnya.

Hanna bertekad membalas dendam saat tahu cintanya dikhianati. Meski rasa di hatinya tak mudah sirna karena luka sudah tersayat dalam.

Anak yang tak diinginkan terlanjur lahir dari rahimnya, dimana ia memiliki mata yang mirip dengan orang yang teramat sangat dibencinya. Walau kenyataannya jauh di relung hatinya kebencian itu terasa menyakitkan saat ia menyadari rasa cintanya masih tersisa.

Langkahnya sudah semakin jauh, meninggalkan semua kisah masa lalunya dan bayangan itu pun perlahan sirna. Namun, mata itu membawanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mylia Sarah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luluhnya Hati Hanna

Senja sudah terlihat di ujung cakrawala, saat mobil yang dikendarai Hendi dan Hanna keluar dari gerbang sebuah perusahaan. Wajah mereka sumringah, tanda suksesnya misi yang dibawa.

"Mau makan apa?" tanya Hendi melirik wanita di sampingnya.

"Mmm, enaknya apa yah?"

"Yee, ditanya malah balik nanya."

"Terserah kamu aja deh,"

"Beneran nih terserah aku?"

"Iyaaa," jawab Hanna singkat melirik Hendi yang terlihat berbeda itu.

"Aku mau kamu, gimana?"

"Aku? Maksudnya?" Kedua alis wanita itu bertemu.

"Aku mau kamu jadi istriku, dan menyiapkan makanan untukku setiap hari. Gimana?"

"Bentar, bentar ini apaan? Kamu ngelamar aku gitu?"

"Kenapa? Kurang pas ya, timing dan tempatnya?" Hendi merogoh kantong baju dan celananya mencari benda berharga itu.

"Nyari apaan?" Hanna yang ngeliat pria itu kebingungan ikut mencari-cari benda yang dimaksud.

"Sesuatu yang sangat berharga," jawab Hendi dengan tangan yang terus merogoh semua kantong.

"Ah, sial! Pasti jatuh di kantor. Atau jangan-jangan ... di rumah Siska?! Mati gue. Jangan sampe gue kesana lagi," bisiknya dalam hati.

"Dimana naronya?"

"Kalo tau naronya nggak mungkin aku nyariin Hannaa,"

"Eh, iya juga yah. Maksudnya terakhir kamu simpan dimana?"

"Adanya cuma ini," Hendi merapatkan jempol dan telunjuknya membentuk tanda love.

"Iiihhh, apaan sih kamu?! Nggak lucu tau!" bentak Hanna yang kesal merasa dikerjain.

"Hahahaha ... eh tapi serius, tadi tuh aku bawa barangnya loh."

"Au ah," Hanna merajuk menoleh ke arah jendela, dalam hatinya ia baper dan debaran jantungnya tak dapat berhenti.

"Sejak kapan Hendi jadi seromantis ini?" gumamnya dalam hati.

"Aku serius, ya udah kita balik kantor dulu yah."

"Tapi aku laper, boleh makan dulu?" pinta Hanna.

"Boleh donk, mau jalan-jalan sampe malem pun juga boleh." ledek pria itu. "etapi, bentaaarr aja mampir kantor dulu yaa. Nanti aku anterin kamu pulang deh," bujuk Hendi.

"Kamu kenapa sih?" tanya Hanna memberanikan diri.

"Aku? Emang kenapa?"

"Kayanya lagi happy banget,"

"Gimana nggak happy coba? Kontrak kerja gool, jalan bareng sama cewe tercantik dan terdingin di kantor. Lebih happy lagi kalo aku udah nemuin barang itu," ucapnya seraya menancap gas lebih kencang.

"Iiih dasar gaje nih bos satu ini."

Hendi hanya tersenyum saat wanita di sampingnya terus meledek perubahan sikapnya.

Selang 1 jam mobil mereka sampai di komplek perkantoran. Terlihat ruangan sudah mulai sepi, Hanna melirik jam sudah pukul 7 malam.

"Pak, besok aja yah nyarinya boleh?"

"Kamu tunggu sini aja, biar aku yang naik ke atas."

"Tapi, aku juga pengen pipis." kata Hanna.

"Ya udah ayo turun," ajak Hendi. Pria itu dengan sigap membukakan pintu mobil.

Mereka sampai di lobi, celingukan mencari satpam.

"Udah kamu pipis duluan, aku tungguin depan sini." kata Hendi menunjuk sofa minimalis di ruang tunggu.

"Nggak bisa agak deketan? Pliiisss ...." Hanna memohon dan menggigit bibir bawahnya. Sontak membuat Hendi gemes dan terus menatap bibir kenyal itu.

"Kamu penakut?" godanya seraya maju beberapa langkah mendekati Hanna.

"Mmm ... eng ... engga ko!" kilahnya mundur selangkah.

"Kalo takut nggak papa, bilang aja. Biar aku temani," bisiknya di telinga Hanna.

"Kalo kaya gini malah lebih takut saya pak," ia mendorong tubuh Hendi kemudian berlari masuk ke kamar mandi.

Hahahaha ... suara tawa Hendi menggema, membuat Hanna tersipu malu.

"Gila! Hendi jadi makin berani sama gue. Tuh anak kerasukan setan apa yah?" gumamnya dalam hati.

Setelah ia selesai dan membuka pintu, tiba-tiba tubuh Hendi merangkul pinggangnya dan mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.

"Hendi! Apa-apaan ini?!" jeritnya.

"Sebentar aja, aku cuma pengen peluk kamu." tubuh tinggi itu merangkul pinggang Hanna, membenamkan kepala wanita itu dan mereka pun merasakan degupan jantung yang tak beraturan.

"Maaf pak, lepaskan saya." pinta Hanna tak nyaman.

Hendi melepaskan pelukannya, kini giliran tangannya mengusap lembut Hanna dan menaikkan dagu wanita itu. Perlahan ia condongkan wajahnya mendekati bibir yang sedari tadi menjadi incarannya.

Kedua bibir itu bertemu, terasa hangat dan lembut. Darah mereka berdesir, seiring memburunya napas keduanya. Tangan Hendi turun menuju dada, sontak Hanna menjauh. "Tidak pak!" cegahnya. Dia segera membuka pintu dan berlari keluar ruangan.

Hendi hendak mengejarnya, namun ia bertemu pak Ujang Cleaning servis yang tengah memegang benda merah di tangannya. Tatapannya bengong melihat keduanya baru saja keluar dari kamar mandi.

"Bapak tadi ...."

"Ssssttt, sini! Ini punya saya mang. Oiya, tutup mulut oke?!" Hendi memberi kode mengunci mulutnya.

"Bereeess paaak, jangan lupa pajak tutup mulut yaaakkk?!" teriaknya yang dijawab lambaian tangan oleh pria itu.

"Euleuh, euleuh ... pak Hendi dan Bu Hanna keluar dari kamar mandi bareng. Kira-kira rebutan ngebersihin kamar mandi atau?" pikiran kotor berputar di kepala Ujang. Seraya nyengir, menahan tawa.

Sementara itu, Hanna yang berlari kenceng tak lagi terlihat oleh Hendi. "Kemana dia? Cepet banget sih larinya!" gerutunya kesal. Dia segera menuju mobilnya.

Hanna sampai di ujung jalan dengan napas yang terengah-engah. Ia segera menghentikan taxi yang lewat di depannya.

"Ayo pak, jalan pak!" perintahnya.

Lutut wanita itu gemetar, dengan terus memejamkan mata. Degupan jantungnya belum bisa ia kendalikan.

Hanna tak menyangka Hendi bisa seberani itu padanya. Dan bodohnya, ia mengikuti terbawa suasana. Bibir yang sedari tadi digigitnya seolah membekas kecupan lembut pria itu.

Selama beberapa tahun sejak bercerai dari Ansell, dia selalu menahan diri untuk tidak jatuh cinta dan tergoda rayuan laki-laki. Termasuk Reyhan, yang pada akhirnya mencoba membuka hati namun, pria itu tiba-tiba menghilang sebelum masuk ke dalam hatinya lebih dalam.

"Inikah saatnya? Hendi memang tidak pernah mempermasalahkan statusku, hanya saja keluarganya yang akan menjadi duri dalam hubungan ini jika diteruskan semakin dalam." batin Hanna.

"Kemana Mba?" suara sang sopir mengagetkannya.

"Itu pak, kostan depan sana. " tunjuknya pada sebuah bangunan tingkat bercat hijau pandan itu.

Baru saja Hanna keluar dari taxi, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya.

"Hendi?" pekiknya dalam hati. Ia segera berlari membuka gerbang dan menuju kamarnya tanpa menoleh. Entah kenapa dia merasa malu dan belum siap bertemu pria itu.

"Hanna! Kumohon, dengarkan aku dulu!" teriaknya dari kejauhan dan menyusulnya hingga ke depan kamar yang sudah ditutup cepat oleh Hanna.

Tok ... tok ... tok

"Hanna! Ayolah, kita perlu bicara!" teriaknya dari balik pintu.

Wanita itu terdiam berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia bersandar di pintu dan terduduk.

"Hanna, pliiss. Ijinkan aku mengatakan ini, setelah itu aku janji jika kamu keberatan tak akan kuulangi lagi dan bila perlu menjauh darimu." ucapnya dengan suara sedikit berbisik di celah pintu.

Hanna masih saja terdiam enggan membukanya.

"Besok aja ah, aku bener-bener nggak siap ketemu dia." kata Hanna seraya melempar tas dan berganti pakaian.

"Paling juga dia bentar lagi pulang, kalo aku nggak buka-buka." batinnya. "ya, bener. Jual mahal dikit Han," gumamnya lagi.

Malam merayap menggantikan siang, panasnya matahari telah berganti menjadi dinginnya rembulan. Hanna menempelkan telinga ke daun pintu, tak mendengar apa pun selain deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di depan jalan.

"Kayanya udah sepi, kan gue bilang juga apa? Dia pasti nggak akan lama di depan pintu." gerutunya.

Perlahan ia membuka gagang pintu dan mengintip keluar mengamati sekitar. Tiba-tiba bola matanya membesar, mendapati mobil Hendi masih terparkir di depan kostan. Segera wanita itu menutupnya kembali.

"Ah, sial! Ngapain sih dia masih di depan sana?!" keluhnya sambil mondar mandir.

"Duuhh, mana perut laper. Tadi kan belum sempet makan," ucapnya seraya memegangi perut kecilnya yang sudah meminta haknya.

"Tok ... tok ... tok...." Ia terlonjak saat ketukan pintu terdengar lagi.

"Aku tau kamu di dalam, dan pasti laper kan? Ini aku bawain makanan, dimakan yaa." kata suara di balik pintu.

"What? Hendi peramal yah? Bisa tau gue kelaperan," bisiknya dalam hati seraya tersenyum.

"Dari tadi aku hubungi nggak bisa, aku cuma mau minta maaf atas kejadian tadi. Ya udah, aku pulang yaa, jangan lupa diambil makannya nanti keburu dingin." ucapnya lagi.

Entah kenapa Hanna terharu, ia baru sadar kalo ponselnya lowbatt dan belum sempat mengisi batrenya.

Tak menunggu waktu lama, dia segera membuka pintu dan melihat Hendi tengah berjalan menuju gerbang. Pria itu membalikkan badannya, menyadari pintu terbuka.

Hanna langsung memeluk tubuh pria itu, membenamkan kepalanya ke dada bidangnya. Tak ayal, membuat mata Hendi berbinar dan membuncah bahagia membalas pelukannya.

Akankah cintanya berlabuh pada seorang Hendi? Sementara akan ada badai besar yang tengah menunggu mereka. Nantikan di episode selanjutnya😘

Bersambung...

1
guntur 1609
semangat Thor tk kelanjutan ceritanya. ku tunggu ya seasin ke 2 nya
guntur 1609
lah kok gantung Thor.. gmna kelanjutan kisah Michel sm Hanna. padahal ceritamu bagus loh
guntur 1609
merek adanya memikirkan jesi. tanpa memikirkan perasaan hanna
guntur 1609
kau hanya memikirkan perasaan dan masa depan jessi. tanpa kau lihat bagaimana istrimu
guntur 1609
Michel kau memang kejam sm hanna
guntur 1609
wah ternyata calon pelakr
guntur 1609
telat karna ke egoiskan kalian anak kalian menderita
guntur 1609
cie.. cie... babang Michel sdh mulai posesif bucin
guntur 1609
karna kau yg bodoh. mau daja di peralatan sm mamamu dan si Sinta. mampus kau dasar laki2 gak punya pendirian
guntur 1609
mampus kau penghinaat
guntur 1609
yakin loe michel
guntur 1609
yakin loe
guntur 1609
hahah kena kau michel
guntur 1609
hahhah kena kau michel
guntur 1609
jngn blng jodohnya Hanna si Michel. nantinha
guntur 1609
rasain kau kn
guntur 1609
pasti hendi krna aids
guntur 1609
mampuslah kau anael. dasar bodoh
guntur 1609
adsar mata keranjangnya kau. nampak ja yg bening sdh mulai tergoda. walaupun tu dah istrimu. tapi kalau dilihat dari proilakumu. emang kau laki2 bastard
guntur 1609
mampuslah kau vio. kau puji saja lah Siska. bntr lagi dia akan mematok kalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!