Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINDERELLA
Tidak ada kabar yang sangat mengejutkan bagi Pelangi selama hidupnya sebelum ini. Kabar yang baru saja Farhan ucapkan dengan begitu santai membuat Pelangi sakit kepala karena terkejut. Ia bahkan hampir terjatuh, beruntung ada Gilang yang dengan sigap menahan tubuhnya.
"Terima kasih," ucap Pelangi, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Gilang.
Gilang maju selangkah, menghampiri sang Ayah. "Ini tidak masuk akal, Ayah. Ayah tahu bahwa aku sangat mencintai Gisel, aku bahkan telah mempersiapkan pernikahanku dengan Gisel. Bagaimana Ayah bisa memaksaku untuk menikah dengan Pelangi! Aku tidak mau!"
Farhan menaikan sebelah alisnya. Dengan wajah cemberut yang dibuat-buat ia berkata, "Bukankah kamu sendiri yang mengatakan akan bertanggungjawab. Ingat, Gilang, nama baik gadis ini telah ternoda karena sikap genitmu."
"Ya, memang, tapi aku berubah pikiran. Aku tidak bisa melukai, perasaan Gisel. Bagaimanapun Gisel adalah kekasihku, dia pasti terluka jika--"
"Berhentilah menyebut nama Gisela, Gilang. Aku tidak suka dengan anak itu. Pokoknya keputusan telah dibuat dan tidak ada yang bisa untuk mengubahnya! Termasuk kamu!"
***
Mobil sport hitam milik Gilang melaju dengan cepat membelah jalanan kota. Tidak peduli akan rambu lalu lintas yang mengharuskannnya untuk berhenti, Gilang tetap menginjak pedal gas, melewati lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. Baginya, ditilang adalah urusan belakangan, yang terpenting adalah bagaimana agar Gisel mendengar kabar pernikahan dirinya langsung dari bibirnya. Karena jika mendengar dari orang lain, Gilang takut Gisel akan salah paham.
Mobil sport hitam itu kemudian berhenti di sebuah bangunan menjulang yang merupakan apartemen sang kekasih, Gisela.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Gilang dengan cepat keluar dari dalam mobil dan menuju elevator yang tersedia di ujung basement dan memasuki elevator dengan tergesa-gesa.
Setelah tiba di lantai 25, di mana merupakan unit tempat tinggal Gisel, Gilang segera melangkah menuju pintu bernomor 309, kemudian menekan nomor pasword pada kunci otomatis yang terdapat di daun pintu.
klik!
Gilang mendorong pintu hingga terbuka saat terdengar suara klik dari kunci otomatis tersebut.
"Gisel! Gisel, kamu di mana?!" Gilang berteriak, sembari melangkah menuju kamar Gisel, karena wanita itu tidak terlihat di ruang tamu. Ruang tamu apartemen Gisel terlihat sepi dan berantakan, seperti tidak ditinggali selama berhari-hari.
Setibanya di depan kamar Gisel, Gilang kembali mendorong pintu kamar itu hingga terbuka, dan berapa terkejutnya ia saat melihat Gisel tengah bersantai sambil melakukan perawatan kecantikan seperti biasanya. Sementara di lantai kamar berhamburan paper bag yang berisi tas, sepatu dan pakaian dari brand terkenal. Sepertinya Gisel baru saja berbelanja.
"Gisel," gumam Gilang. Gilang sedikit terkejut, karena ia pikir Gisel sedang menangis, merasa terpuruk akan keadaan yang menimpa hubungan mereka, tetapi ternyata tidak demikian. Justru Gisel terlihat santai dan tenang.
Apalagi selama satu minggu ini Gisel tidak sekali pun menghubungi Gilang dan menerima telepon dari Gilang. Ia pikir Gisel butuh waktu untuk menenangkan diri, itulah sebabnya dalam waktu satu minggu itu tidak sekalipun Gilang datang ke apartemen Gisel.
"Hai," sapa Gisel dari balik masker wajah yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. "Ada keperluan apa?" tanya Gisel lagi, berusaha bersikap acuh pada Gilang.
"Aku ingin bicara denganmu berdua saja, bisakah kamu meminta mereka untuk pergi." Gilang memandang tiga pegawai selon kecantikan yang sedang sibuk memoles tubuh Gisel.
"Aku sedang treatment, Gilang, mana bisa aku meminta mereka untuk pergi," ucap Gisel, dengan malas.
"Sebentar saja, plis."
Gisel berdecak kesal, lalu meminta ketiga gadis yang tengah mengerubungi tubuhnya untuk segera keluar dari kamarnya. "Tunggu aku di luar," ucapnya, dengan nada sok seperti biasa.
Begitu hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar, Gilang menghampiri Gisel dan berlutut di hadapan wanita itu. "Bagaimana kabarmu?" tanya Gilang. Nada suaranya begitu lembut dan tatapan matanya lurus menatap ke dalam mata Gisel yang sekarang terlihat mulai berkaca-kaca.
"Baik, seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja, Gilang, dan aku tidak akan membuat diriku berkubang dalam kesedihan karena aku akan kehilangan dirimu." Gisel membuang muka, memasang tampang terluka yang teramat sangat. Ia sudah berlatih untuk ini selama beberapa hari bersama dengan Alex.
Gilang menyentuh telapak tangan Gisel dan meremasnya dengan lembut. "Kamu tidak akan kehilangan diriku, Gisel. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. tidak akan pernah."
Gisel menepis tangan Gilang dari tangannya, lalu bangkit berdiri dan menjauh dari Gilang. "Mudah bagimu mengatakannya, tetapi apa yang bisa kamu lakukan, hah? Kamu akan terus berada di bawah bayang-bayang ayahmu. Ayahmu tidak suka padaku. Jika ayahmu harus memilih antara aku dan gadis tidak jelas itu, ayahmu pasti akan memilih dia, si gadis sampah itu. Aku tidak percaya pada ucapanmu, Gilang, sama sekali tidak. Jadi, pergilah dari sini sebelum hatiku semakin terluka."
Gilang menghampiri Gisel. Ia tahu betul apa yang dirasakan Gisel saat ini. Wanita mana yang rela kekasihnya menikah dengan wanita lain. "Gisel, percayalah padaku. Aku akan tetap berada di sampingmu. Toh beberapa waktu lalu sudah kukatakan bahwa aku akan menikahimu juga, walaupun aku sudah menikah dengan Pelangi."
Gisel memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir melewati masker wajah yang masih menempel di seluruh permukaan wajahnya. "Mari kita buat kesepakatan kalau begitu," ucapnya, dengan suara bergetar.
Dahi Gilang mengernyit. "Kesepakatan?"
"Ya, nikahi aku sebelum kamu menikah dengan gadis sampah itu. Dengan begitu, maka statusku adalah istri pertamamu, bukan istri keduamu!"
Gilang terkejut mendengar permintaan Gisel.
"Kenapa? kamu tidak mau?" sinis Gisel, saat Gilang hanya diam saja.
"Bukan begitu, aku hanya--"
"Mari kita menikah malam ini. Sementara aku mempersiapkan segalanya, buatlah sebuah perjanjian pra-nikah. Aku sudah menuliskan poin pentingnya di laptopku. carilah, dan selesaikan secepatnya."
"Perjanjian. Tapi, untuk apa harus ada perjanjian, Sayang. Ini tidak masuk akal dan--"
"Jangan banyak memprotes, Gilang. Toh, sejak satu minggu lalu semuanya menjadi tidak masuk akal bagiku. Bagaimana bisa kamu tidur dengan perempuan lain sementara kamu baru saja melamarku. Sial!" Setelah mengatakan hal itu, Gisel keluar dari kamarnya. Suara teriakannya yang memerintah pegawai salon kecantikan terdengar jelas di telinga Gilang.
Gilang mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berjalan menuju rak buku di mana Gisel meletakan laptopnya. Tidak ada pilihan lain baginya selain menerima persyaratan dari Gisel tentang perjanjian pra-nikah. Apa pun akan dilakukannya demi bisa terus bersama Gisel. Masalahnya dengan sang ayah dan Pelangi bisa ia selesaikan kapan-kapan.
***
Pelangi mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah, menuruti perintah dari Farhan yang ingin dirinya berdiam diri di dalam kamar sampai seorang desainer gaun pengantinnya tiba.
Sudah hampir dua jam ia menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda seseorang akan datang. Bahkan Gilang pun menghilang dan tidak kembali lagi sejak dua jam yang lalu
Saat ia sudah mulai bosan, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Ia pikir si desainer yang datang atau Gilang, tetapi ternyata Andrew yang datang.
Andrew tersenyum, lalu menghampiri Pelangi yang berdiri di dekat jendela besar yang terdapat di kamar itu. "Bagaimana kabarmu?" tanya Andrew.
"Buruk sekali," jawab Pelangi.
Andrew tertawa, lalu menyodorkan sebuah bungkusan ke arah Pelangi.
"Apa ini?" tanya Pelangi.
"Cokelat untukmu, agar kamu lebih rileks. Sebentar lagi desainernya pasti datang."
"Trims, aku memang butuh ini." Pelangi menerima cokelat dari Andrew, lalu memakannya dengan lahap. Kebetulan sekali, ia memang belum makan. Makanan yang sejak satu jam lalu diantarakan oleh pelayanan ke kamarnya, tidak tersentuh sama sekali.
"Jadi, sudah siap untuk menyandang gelar Nyonya Andreas?" tanya Andrew.
Pelangi menggeleng. "Aku mendadak menjadi Cinderella." Pelangi tersenyum masam. "Entah apa yang akan orang-orang katakan."
"Jangan pedulikan apa kata orang. Fokus saja pada apa yang harus kamu jalani."
"Gilang pasti akan menceraikanku suatu hari nanti."
"Dan saat hari itu terjadi, maka aku bersedia untuk menikah denganmu."
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️