Kau pernah begitu mencintai namun pada akhirnya kau bukan pilihannya?
Kau pernah amat sangat ingin bersanding dengannya tapi harus berpisah. Sudah lupakan, lihat cerita kita saat ini. Akan segera kuceritakan prihal hal baik dan buruknya kita saat mencintai.
Yang menjadi Kita, "Bukan."
-ReviieAufiar
Cerita ini hanyalah keresahan yang terjadi di kalangan anak muda. Maraknya Ghosting, Benching, Overthingkin dll
Cover Pinterest or Royal Blood
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Jatuh Cinta Kembali
Mungkin aku saja yang terlambat, bisa jadi aku tak tau kapan waktu yang tepat untuk membuat diriku bersamamu, boleh aku meminta kembali waktumu agar aku bisa tetap bersamamu selama-lamanya? Sepertinya akan sulit.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, mereka masih asik berkeliling dan menikmati suasana malam.
"Mau cari makanan dimana, kelihatannya soto lamongan lumayan." Ucap lelaki itu.
"Makan itu yuk. Menunjuk keluar. Tahu gejrot, keliatannya enak juga ada pecel lele kesukaan kamu tuh." Pungkas gadis itu.
"Yaudah kesana aja. Sekalian kita cari tempat parkir ya." Sambil menatap kedepan mencari tempat parkir.
"Disana kosong." Menunjuk.
"Iyaa. Memarkirkan mobilnya. Agak jauh ya gapapa kan?" Tanyanya mematikan mesin mobil sambil membuka sabuk pengamannya.
"Gapapa kok." Membuka sabuk pengamannya. Dan keluar dari mobil.
Sebuah kendaraan bermotor hampir menabrak pintu mobil yang di buka Rere namun lelaki itu menghalangi pintunya terbuka.
"Astaga Re gapapa kan? Kan dah sering aku bilang hati-hati. Harusnya sebelum buka pintu tu liat kaca spion dulu." Menatap gadis itu.
"Maaf." Memanyunkan mulutnya dengan ekspresi kaget dan keluar mobil perlahan.
Lelaki itu memperhatikan gadis itu.
"Gak ada yang terluka kan?" Mengecek tangan dan kaki gadis itu. Takut kalau dia spontan menutup pintu mobil dan tak sengaja menjepit gadis tersebut.
Gadis itu hanya menggeleng.
"Gapapa kok." Ucapnya.
"Yaudah sini kamu di pinggir sini jalannya. Jangan jauh-jauh dari aku." Ucapnya khawatir.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Astaga Rere, selalu aja banyak hal yang selalu buat aku sangat-sangat peduli sama kamu." Bergumam dalam hati menatap gadis itu dan menggandeng tangannya.
Gadis itu menatap kearah tangan mereka yang bergandengan dan tersenyum wajahnya tetap menunduk ke bawah.
Duduk di kursi dan memesan makanan ke pelayan.
"Jadi mau pesan apa?" Tanya lelaki itu.
"Soto lamongan mbak satu sama tahu gejrot nya seporsi. Kamu pesan apa?" Tanyanya.
"Mbak pecel lele 2 porsi, es teh manis 2. Sambil menatap gadis itu. Itu aja mbak." Memberikan menunya.
"Kamu kapan balik? Udah kayak jelangkung aja. Pergi datang sesuka hati."memanyunkan bibirnya.
Lelaki itu tertawa kecil.
"Hei kamu kira aku setan, kenapa? Kangen?" Tawanya.
Gadis itu masih tanpa jawaban berharap lelaki itu menceritakan segala sesuatunya.
"Hmm. Dijawab loh bukan balik tanya. Pungkasnya." Menggeleng-geleng kepalanya.
"Pesanan datang. Meletakkannya di meja mereka. Selamat menikmati mbak mas." Ucap pelayan itu lalu pergi
"Ada pekerjaan lagian aku pulang menemui mama papa aku, kamu kok cemburu si." Masih tertawa menggoda gadis itu.
"Hmm. Jadi mereka sehat?" Sambil memeras jeruk nipis ke sotonya dan memakannya.
"Mereka sehat. Kamu sehat? Menatap gadis itu yang cemberut lalu menaikkan alisnya melihatnya memasukan banyak cabe ke mangkuknya. Hey udah nanti perut kamu sakit." Menghentikan gadis itu.
"Gapapa kok." Memakan makanannya.
"Hey kok gak pakai nasi? Memberikan nasi di mangkok kecil kepada gadis itu. Makan ni." Menunjuk.
Gadis itu mengangkat piring kecilnya dan memberikan setengah nasinya ke piring Dein.
"Kebanyakan. Nanti gak cukup buat makan tahunya." Tertawa senang.
"Mck. Dasar perempuan. Menggeleng kepalanya. Untung aja alasannya bagus." Pungkasnya.
"Yeee. Dasar gak mau ngalah." Tawa mereka bersama.
Sesampainya di depan rumah Rere.
"Yahh, sampek. Cepat amat." Memanyunkan bibirnya.
"Mau keliling lagi? Biar sampai ujung Jakarta." Menatap gadis itu.
Gadis itu memukul pelan dada lelaki itu.
"Ih apaan sih." Menatap kedepan.
"Aw. Hobby banget si jadi tukang pukul." Gerutunya.
"Ah iya. Menoleh ke arah Dein. Mulai bulan depan Jie bakal tinggal di lantai bawah, kayak jadi anak kost gitu." Menatap lelaki itu.
Lelaki itu mendekatinya dan membuka sabuk pengamannya.
"Yaudah gapapa, jika teman kamu gak mungkin dia macem-macemin kamu kan." Kembali ke posisinya.
"Ih apaan sih, aku sepak donk dianya." Pungkasnya.
"Iya, iya aku percaya Rere kok. Langsung tidur ya." Melambai.
Gadis itu keluar dari mobilnya dan melambai.
"Ah lupa." Menepuk jidatnya.
"Kok gak pergi." Ucap Rere mendekati jendela mobilnya.
Lelaki itu membuka kaca mobilnya dan mengisyaratkan dengan tangan agar mendekat.
"Apaan? Gadis itu menatap lelaki itu memberikan sebuah buket bunga dan buku kesukaannya mendadak ia kaget. Ya ampun apaan ini?" Tanyanya terharu.
"Happy Anniversary, maaf telat tapi aku ingat kok. Gak perlu kamu ingat dan chat panjang lebar." Nada mengejek.
"Ye, pacar macam apa kamu." Gerutunya.
"Sini dekat." Perintahnya.
"Malas ah ngambek." Memalingkan pandang.
"Rere sayang sini dekat." Ucapanya.
"Iya apa?" Mendekatkan wajahnya ke jendela pintu mobil lelaki itu.
Tangan lelaki itu memegang lehernya dan mengecup lembut bibirnya.
"Ini hadiah, selamat malam." Ucap lelaki itu.
Gadis itu masih terdiam dan melambaikan tangannya. Ia masih diam tanpa kata.
"Gadis polos. Gerutu Dein seakan masalah tadi malam bukan masalah baginya. Setelah ini aku harus lebih waspada dan selektif terhadap orang-orang yang mau mendekatinya." Pungkas lelaki itu mengencangkan laju mobilnya.
Pernah menyayangi seseorang bahkan dua orang sekaligus, aku mencintainya dan aku mengizinkannya untuk menghapus ciuman lelaki lain di bibirku dengan bibirnya.
"Ya ampun bisa aja makhluk super cuek kayak dia bisa buat aku yang tadinya marah jadi klepek-klepek. Berteriak di atas tempat tidurnya sambil memeluk guling dan kegirangan ke kanan dan kekiri. Ahh sayang banget Deinandra." Pungkasnya sambil menggeliat di tempat tidurnya.
Di rumah Deinandra, selepas mandi mengusap usap kepalanya dan tersenyum di depan cermin.
"Kenapa dia selalu bisa membuatku tertawa, gadis konyol jangan pernah hilang ya. Yang boleh hilang cuma aku dan biarkan aku menjadi lelaki yang sangat egois." Menatap layar ponsel dengan banyaknya panggilan tak terjawab, dan ponselnya kembali bergetar. Ia hanya melihatnya dan meletakkannya di lemari samping tempat tidurnya men-silent nya lalu ke tempat tidur.
"Good night Re. Mematikan lampunya lalu tersenyum. Kutebak pasti dia akan susah tidur malam ini." Gumamnya dan terlelap.
Di kamar Rere.
"Astaga. Masih menggeliat dan salto di atas tempat tidurnya. Bisa banget dia ya?"
"Sebentar berkata manis, sebentar mengejek." Huu.!
"Sebentar bilang tidak, sebentar marah, sebentar gak peduli sebentar sangat peduli. Astaga kepalaku." Menggeliat memegangi kepalanya.
"Sebentar mengacuhkan setiap pesanku, sesaat lagi datang memberi kejutan dan bunga. Dasar manusia susah ditebak." Masih menggeliat dan bangkit dari kasur lalu terduduk.
"Ahhh pusing. Mengacak-acak rambutnya. Ya tuhan masa iya malam ini aku gak tidur lagi. Fiuh. Menghela nafas panjang. Ah iya telepon Jie." Nada memanggil di telepon.
"Hallo. Jawaban dari ujung telepon. Astaga kenapa Re?" Tanya lelaki itu dengan suara ngelindur.
"Jie laki-laki semua kayak gitu ya?" Tanyanya.
"Kayak gitu gimana sih Re?" Tanyanya menggerutu dengan mata tertutup.
"Iya kok kalian kayak gitu. Susah ditebak." Pungkasnya dan bercerita panjang.
Lelaki itu membuka matanya dan menghela nafas.
"Astaha Re, jam 2 pagi lu belum tidur nelfon gue lagi. Besok pagi gue harus ngantor. Bye Re." Mematikan telponnya.
"Jie. Jie. Jie. Yaelah belum kelar dah dimatiian. Oke ayo kita tidur Re. Memejamkan mata. Astaga ingat dan terbayang-bayang kejadian tadi. Fiuhhh. Haaaa." Teriak kencang.
"Yaelah Re, pacaran juga udah lama masih aja bucin kayak lagi jatuh cinta berkali-kali. Pungkasnya dan berakhir ketiduran di jam 6 pagi. Oke Rere tidur, oke dunia Rere tidur." Terlelap.