"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Ada Apa dengan Hari ini?
"Kayaknya Jonas mulai suka sama gue, deh, Ar," bisik Chilla. "Aaaa! Gemes banget gue." Ia menggoyang-goyangkan lengan Arnas dengan liar. "Masa semalem dia salting gitu pas kepergok ngeliatin gue?! Gemes, gemes, gemesss!"
Chilla dan Arnas sedang melenggang menuju ujung koridor untuk mengambil bola basket di ruang peralatan olahraga. Sebenarnya yang dimintai tolong oleh guru olahraga hanya Arnas, tapi Chilla sukarela mengajukan diri agar ia punya waktu bercerita berdua. Walau itu harus dibayar dengan olok-olok anak sekelas yang dipelopori oleh Yaksa.
Menggunkan ujung telunjuknya, Arnas menoyor kening Chilla yang menggila di sisinya. "Gue lihat-lihat lo happy-happy aja. Gak dicaci maki lo sama Largha abis keciduk semalem?"
"Dari mana lo tahu?" Chilla terheran-heran. Apa Jonas yang bercerita?
"Gue lihat. Lo di seret-seret kayak beban hidup."
Chilla memutar matanya. Arnas berlebihan sekali. Semalam ia hanya ditarik-tarik bukannya diseret-seret. Diseret terdengar keras sekali.
"Beneran gak dicaci maki lo?" ulang Arnas. Ia seolah tak percaya bila semalam tak ada prahara.
Apanya yang tidak dicaci maki, pikir Chilla. Semalam layak mendapatkan penghargaan kermarahan-of-the-year. Bahkan semalam Kak Largha sudah nyaris menelepon Papa jika ia tak bersujud minta ampun tak akan mengulangi—yang mana hanya janji kosong.
"KAMU GILA KELUAR SEMALEM INI BUAT KETEMU COWOK?!" teriakan Kak Largha itu masih terngiang di telinga. Huh. Itu sangat mengerikan. Seolah seekor singa mengaum di depan wajahnya. Malahan, ia setengah yakin bila kuku tangan kakaknya mendadak tumbuh cakar dan matanya menguning dengan iris yang mengecil.
Chilla bergidik. Ngeri. "Bukan lagi dicaci maki, lebih parah."
"Sudah kuduga," Arnas menyahut. "Suara Largha lembut banget masuk kuping. Kamu gila keluar semalam ini..." ditirunya ucapan Kak Largha semalam, dengan suara santai yang terdengar mengejek.
Mengetahui Arnas mendengar kemarahan Kak Largha, membuat Chilla malu sekaligus khawatir bila Jonas juga mendengar.
"Jangan-jangan Jonas denger lagi?"
"Ya, iyalah. Gak mungkin dia gak denger. Suara Largha sekenceng itu. Apalagi Jonas masih di luar waktu lo dimarahin."
"Demi?!" tanya Chilla terkejut. Asli, ini memalukan sekali.
Oh, Tuhan. Bagaimana ia bisa menghadapi Jonas nantinya. Mau diletakkan di mana wajah cantiknya ini? Haruskah ia ganti wajah saja?
"Kan gue udah pernah bilang, kalo mau PDKT itu yang wajar aja waktunya, yang konvensional. Lo sih gak mau dengerin. Gue ngomong bukan karena khawatit sama lo," Arnas cepat-cepat menjelaskan intensinya, "tapi gue gak mau Jonas dapat masalah. Dia udah cukup tertekan karena olimpiade sialan itu tanpa perlu dimarahin sama bokap gue."
Chilla menoleh cepat, membuat lehernya berderak mengerikan. Tapi ia mengabaikannya dan langsung bertanya, "Jonas dimarahin?"
"Baek-baek, patah leher nanti," kata Arnas, menusuk pipi Chilla, lagi-lagi dengan ujung telunjuknya. Membuat wajah gadis itu kembali menghadap depan.
"Jawab pertanyaan gue!" tuntut Chilla, kembali menoleh pada Arnas dengan kecepatan tinggi.
"Misi-misi," terdengar suara di belakang sana, diiringi derap langkah yang ramai. Entah suara siapa, Chilla tak ambil peduli. Jawaban akan pertanyaannya jauh lebih mendesak. Lagi pula, ia tak berjalan di tengah koridor, masih ada ruang untuk lewat di sisinya.
Brukk!
Pundak dengan pundak berbenturan. Mendorong tubuh Chilla hingga membuatnya oleng. Untung saja Arnas bereaksi cepat, menangkap tubuh Chilla ke dalam pelukannya dan...
cup...
sesuatu yang lembut menyentuh kening Chilla sekilas. Sentuhan ringan yang membuat Chilla membeku, sementara Arnas segera melepaskan dekapannya. Chilla cukup yakin apa itu. Tapi itu terlalu menakutkan untuk diakui.
Kejadian yang hanya berlangsung satu nano-detik itu mampu membungkam Chilla serta Arnas. Keduanya tak ada yang berani bersuara atau juga bergerak.
Setelah nyaris satu menit kemudian, Chilla akhirnya memaksa dirinya untuk mengambil langkah mundur sekali. Dengan gugup ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada orang lain di koridor itu. Syukurlah koridor tempatnya berada sekarang adalah koridor yang jarang dikunjungi, apalagi dalam jam pelajaran seperti ini. Dan orang yang menabraknya tadi bersama rombongannya pun sudah tak lagi tampak.
Usai mengembus napas guna menenangkan diri, Chilla mematrikan pandangnya pada laki-laki yang baru saja mengecup keningnya—ASTAGA! Tergesa ia berkata, "Lupain." Yang ternyata dibarengi Arnas yang berujar, "Sorry."
∆∆∆
Achilla berdiri di belakang sebuah jendela yang menghadap ke halaman belakang. Pandangannya kosong, sekosong kelasnya. Mendadak ia tersentak kala sebungkus es krim hadir di depan wajahnya, membuyarkan lamunannya.
Es krim stoberi.
Stroberi sama dengan Jonas.
Tanpa menoleh pun Chilla tahu jikalau oknum Jonas yang tiba-tiba ada di sisinya bersama es krim itu. Namun ia tak akan pernah mau menyia-nyiakan kesempatannya memandang wajah tampan lelaki di sisinya, menatap kelabu-gelap matanya. Maka ia pun mengambil es krim stroberi itu, lantas tersenyum semanis yang ia mampu pada Jonas, meski pikirannya sedang ruwet sekali.
Ia masih tak habis pikir akan bencana yang menimpanya di koridor tadi. Apalagi sensasi bibir Arnas dikeningnya terus menghantuinya. Hilang dengung teriakan Kak Largha semalam, kini terbit ingatakan akan kecupan Arnas yang tak berkesudahan.
"Kenapa?" tanya Jonas lembut, menarik pikiran Chilla dari masa lalu yang kelam.
"Enggak pa-pa." Chilla menggeleng bersama senyum samar. "By the way, makasih es krimnya."
"Kalo gak pa-pa kenapa keliatan banyak pikiran gitu?" Sembari bertanya Jonas menukar es krim miliknya yang sudah dibuka dengan milik Chilla yang masih terbungkus. "Apa karena semalem? Kakak kamu masih marah? Kalo iya, biar aku yang jelasin ke dia soal semalem."
"Enggak, kok. Soal semalem udah selesai. Kak Largha agak marah, tapi nanti juga pasti balik kayak biasa lagi."
Padahal tadi Chilla mengira tak akan sanggup menghadapi Jonas saking malunya. Namun ternyata rasa terkejutnya akan 'kecelakaan' tadi mengalahkan rasa malunya perihal semalam.
"Kalo bukan karena semalem, terus kenapa kamu keliatan banyak pikiran gitu? Ada apa? Kamu bisa cerita sama aku kalo mau."
Gila saja bila ia cerita pada Jonas. Sekali pun kejadian tadi tak disengaja, tetap saja itu tak etis. Orang hilang akal mana yang akan bercerita bila tadi tak sengaja dicium oleh adik dari orang yang ditaksirnya?
Uh. Membayangkannya saja mengerikan.
"Chilla?"
Chilla berpaling, memandang Jonas yang menatapnya khawatir. Sekonyong-konyong ia merasa berdosa. Perasaan macam apa ini coba?!
"Kenapa?" tanya Jonas, kali ini jauh lebih lembut. Matanya menatap mata Chilla dalam-dalam.
Mata Chilla pun memanas dan mulai berkaca-kaca.
"Aku ngerasa kotor," ujar Chilla, menahan tangisnya. Ia tak mau menangis di depan Jonas, ia tak mau nampak jelek.
Sepasang alis tebal Jonas terangkat, jelas kebingungan.
"Tadi pas aku jalan di koridor, ada cicak yang nemplok dijidatku."
Chilla tahu bila Jonas ingin tertawa. Mata lelaki itu terlihat berbinar. Bahkan Jonas sejenak merapatkan bibirnya untuk menahan tawa.
"Bagian mana?" tanya Jonas kalem, seolah tak ada yang lucu. Chilla sungguh mengapresiasi itu.
"Di sini." Chilla menunjuk puncak keningnya yang berdekatan dengan batas rambut.
Ia begitu tertegun ketika Jonas mengangkat tangan, mengusap bagian kening yang ditunjuk olehnya tadi. Lalu tanpa disangka-sangka, Jonas maju dan meniup keningnya lembut.
Fuhh...
Napas Chilla tertahan. Pikirannya kosong. Seluruh tubuhnya diisi dentum jantung yang bertalu-talu. Milyaran kupu-kupu berkepak gila diperutnya.
Astaga... Siapa itu Arnas? Apa yang tadi terjadi di koridor? Mendadak ia amnesia.
"Oke. Sekarang udah bersih," ujar Jonas santai. Ia kembali ke posisi awal hingga hingga Chilla bisa menghela napas lagi.
"Es krimnya," ujar Jonas, melirik es krim di tangan Chilla yang sudah dilupakan si empunya.
Es krim... Chilla melirik tangannya yang sudah kuyup. Pantas saja sejak tadi ia merasa dingin, pikirnya linglung.
Baik Chilla mau pun Jonas, tak ada yang menyadari keberadaan Arnas dan Yaksa di ambang pintu, memperhatikan mereka dalam bungkam.
∆∆∆
please guys support me. bantu aku terus berkarya dengan setiap poin dan vote yang kalian berikan
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh