Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu
Reyhan POV
Dia mengajakku ke sebuah taman, taman yang begitu bagus dan menyegarkan sepertinya baru pertama kali aku datang ke sini. Jika saja kita dalam keadaan hati yang baik, pasti ini akan sangat menyenangkan, tapi tidak untuk sekarang. Dia bahkan tidak mengatakan apapun dari tadi, dia hanya menunduk dan tidak berani menatapku. Apa dia pikir aku akan memakannya?
"Apa kau tidak ingin mengatakan apapun padaku?" tanyaku padanya yang masih diam seribu bahasa.
"Apa yang ingin kau ketahui?" dia bertanya balik padaku dan sekarang dia sudah berani untuk melihatku.
"Apapun yang akan kau katakan, aku akan mendengarkannya."
"Hmm ... Baiklah harus darimana aku memulainya," ucapnya sambil memalingkan wajahnya menghadap depan lagi.
"Dia bernama Dimas, kekasihku. Kami sudah lama saling mengenal, sejak pertama kali aku masuk kuliah. Kami akhirnya saling mencintai dan memutuskan untuk segera menikah setelah aku lulus kuliah dan diterima kerja di perusahaanmu."
"Aku sangat mencintainya karena dia adalah orang pertama yang memberiku kebahagiaan selain ibuku."
"Kau waktu itu pernah bertanya bukan tentang kesucianku yang sudah hilang?"
"Ya benar, saat itu aku memang sudah tidak perawan lagi, karena aku sudah memberikannya pada Dimas." Dia memandangku dan tersenyum tipis.
Tapi saat mendengar kalimat itu, melihat senyum diwajahnya, membuat hatiku menjadi semakin sesak. Entah kenapa aku sekarang merasa menyesal pernah mengucapkan kata-kata buruk itu padanya.
"Aku tau itu adalah kesalahan, aku menyadarinya. Jadi jika kau menganggap bahwa aku wanita hina, atau aku bukan wanita baik-baik itu semuanya benar dan aku menerima semua tuduhanmu, tapi ada satu hal yang salah."
"Aku tidak pernah sekalipun ingin memanfaatkanmu! aku juga tidak menginginkan apa-apa darimu selain namamu di akta kelahiran anakku."
"Aku berjanji setelah semua ini selesai aku tidak akan menggangu hidupmu lagi, aku juga menyadari aku bukan wanita yang baik untukmu. Jadi mari kita berteman dengan baik." dia tersenyum dengan tulus padaku, aku bisa melihat dengan jelas ketulusan dari setiap ucapannya.
Sekarang aku sadar selama ini hatinya pasti begitu sakit mendengar semua yang telah aku ucapkan padanya. Aku bodoh sekali waktu itu, kenapa aku tidak bisa menahan emosiku, Hanya karena pengalaman masa laluku yang buruk, aku menjadi seorang laki-laki yang sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Aku terlalu terbelenggu oleh masa laluku dan aku melupakanmu bahwa orang lain mungkin juga memiliki masa lalu yang lebih menyakitkan.
Author POV
Reyhan memandangi wajah Alina yang tertunduk, wajah yang terlihat sendu menahan tangis.
"Apa dia sudah lama meninggal?" tanya Reyhan menatap Alina lekat.
"Ya, sudah 2 tahun yang lalu," jawab Alina sambil mengangguk pelan.
Deg!
Hati Reyhan bagaikan disambar petir sekarang, dia memandang wajah Alina dengan tatapan tidak percaya.
"Saat itu kami akan segera melangsungkan pernikahan, 1 Minggu sebelumya bahkan kami masih jalan-jalan keluar kota dan saat itulah pertama kali aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Dimas. Aku yakin dia adalah orang terakhir untukku dan aku juga sangat mencintainya, aku begitu terlena dengan kebahagiaanku saat itu hingga melupakan tentang dosa."
"Seminggu sebelum pernikahan aku mendapat sebuah telpon dari orang tuanya, mereka bilang dia terlibat kecelakaan beruntun dan nyawanya tidak bisa diselamatkan," jawab Alina dan memejamkan matanya seolah hatinya sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kedua netranya mulai berkaca, terlihat genangan air mata yang coba dia tahan.
"Heh! semua ini seperti sebuah lelucon untukku sekarang. Semua hal tak akan pernah seperti yang aku inginkan, jadi aku memutuskan untuk berhenti berharap apapun! Aku hanya akan menjalani apapun yang ada di depanku, tidak terlalu berharap dan juga tidak mengharapkan." Alina menatap kosong ke arah depan sepertinya pikiran Alina sedang membayangkan kejadian yang dia ceritakan saat ini.
Reyhan yang mendengar cerita Alina hanya bisa diam, otaknya sedang mencoba mencerna informasi yang tiba-tiba datang itu. Dia bahkan bingung reaksi apa yang harus dia tunjukkan pada Alina sekarang.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Alina menatap Reyhan yang masih setia dengan diamnya.
Reyhan menatap dalam mata Alina, dia ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada kebohongan di setiap ucapan Alina. Mata yang begitu indah seperti mutiara, senyum yang begitu tulus, bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk Reyhan tidak mempercayai ucapan Alina. Seorang wanita yang selama ini menanggung beban hidupnya sendiri, seorang wanita yang selalu bersikap seolah dia baik-baik saja, tetapi sebenarnya menyimpan begitu banyak luka dan dirinyalah yang menyebabkan luka itu ada.
Bersambung ....
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍