Halo guys! ini karya pertama aku, jadi jika masih banyak typo mohon di maklumi yah😄
Bagaimana jadinya jika kalian mempunyai saudara-saudara yang sangat menyayangi juga memanjakanmu tapi juga sangat posesif padamu. Tentu saja kalian pasti sangat senang karena selalu di sayangi dan di perhatikan tapi kalian juga pasti agak kesal karena keposesifan mereka bukan?
Itulah yang di rasakan oleh Seorang gadis cantik bernama AQUEENA PUTRI REVANO di adalah putri satu-satunya di keluarga REVANO. Dia memiliki Tiga orang Abang yang sangat menyayangi tapi juga posesif padanya. Di tambah lagi dia menikahi seorang pria tampan yang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, dia juga sangat mencintai dan menyayangi Queen tapi jangan lupakan keposesifannya pada Queen. Dia adalah ALVIANO DAVID DANENDRA.
Penasaran dengan ceritanya?
Silahkan buka dan baca ceritanya
Jangan lupa like dan komen yah 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyyah Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Mau Salah Lagi
Hari itu, Aqueena duduk di bangku taman belakang kampusnya, di bawah pohon akasia yang rindang. Laptop terbuka di pangkuannya, tetapi layar itu lebih banyak dipandangi daripada disentuh.
Ia tidak benar-benar fokus pada tugasnya. Pikirannya terus berputar pada satu nama.
Citra.
Dan tentu saja... Alviano.
Kalimat wanita itu masih mengganggu:
> "Tidak semua yang mengejar berarti berniat tinggal."
Queen memejamkan mata. Hatinya ingin menepis semuanya. Tapi otaknya masih terlalu penuh dengan keraguan.
Ia membuka mesin pencarian. Mengetikkan nama "Citra Wijaya" dan "Danendra Group" dalam satu baris.
Beberapa artikel lama muncul. Kebanyakan tentang proyek kerja sama sosial dan investasi antara yayasan pendidikan dan perusahaan milik keluarga Alviano. Salah satu artikel memperlihatkan foto keduanya, Citra dan Alviano berdiri berdampingan dalam acara amal besar dua tahun lalu.
Mereka terlihat akrab.
Terlalu akrab, bahkan.
Queen menatap foto itu lama, matanya panas.
“Apa aku terlalu naif?”
Ia tak sadar bahwa Slavina datang dari belakang dan mengintip layar laptopnya.
“Queen…” panggil Slavina lembut.
Queen buru-buru menutup layar. “Vin.. Lo ngagetin.”
Slavina duduk di sampingnya, lalu menatapnya penuh empati. “lo sedang menyelidiki dia?”
Queen tak langsung menjawab. Tapi matanya membenarkan segalanya.
“gw cuma… nggak mau salah lagi, Vin,” ucap Queen lirih.
Slavina meraih tangan Queen. “gw ngerti. Tapi lo juga harus tahu, orang yang benar-benar tulus biasanya nggak menyembunyikan apa pun. Kalau lo ragu, tanya langsung. Jangan biarkan diri lo terjebak dalam prasangka buatan orang lain.”
Queen mengangguk pelan. “gw takut.”
“Takut itu wajar. Tapi lo juga nggak harus menyakiti dirimu sendiri hanya untuk menghindari rasa sakit.”
---
Sementara itu, di kantor Danendra Group…
Alviano berdiri di depan jendela kaca tinggi lantai atas. Tangannya menggenggam ponsel, tapi tak kunjung menghubungi.
Ia tahu... Queen sedang menjauh sedikit demi sedikit. Bukan karena benci, tapi karena ragu.
Dan Alviano tahu penyebabnya: Citra.
Pintu ruangannya diketuk. Riko masuk membawa dokumen.
“Surat pengunduran diri dari proyek kerjasama kampus, Tuan,” ucap Riko.
Alviano menoleh cepat. “Pengunduran diri?”
Riko menyerahkan berkas itu. “Dari Citra. Ia keluar dari program kemitraan akademik. Tapi... ini yang aneh, Tuan.”
“Aneh bagaimana?”
Riko menunjuk bagian bawah surat. “Ia juga meninggalkan satu surat pribadi. Ditujukan untuk Anda.”
Alviano mengambil amplop putih itu. Tertulis di atasnya:
> Untuk Viano. Agar kamu tidak lupa siapa yang dulu diam-diam menunggu.
Ia membuka perlahan. Isinya tulisan tangan yang halus, tapi menyakitkan:
> Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pernah sangat berharap. Tapi kamu tak pernah melihat. Sekarang, kamu jatuh pada seseorang yang bahkan tak tahu apa pun tentang siapa kamu sebelumnya. Selamat dan semoga kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama: mengabaikan orang yang benar-benar peduli.
Alviano meremas kertas itu. Bukan karena marah tapi karena frustrasi.
Ia memang pernah mengabaikan perasaan Citra. Tapi karena saat itu ia belum siap untuk siapa pun.
Sekarang... ia baru siap, dan Citra datang membawa luka yang seharusnya tidak lagi terbuka.
---
Sore harinya.
Queen berada di restoran. Ia menyusun ulang beberapa dokumen keuangan bulanan di ruang belakang saat suara ketukan pelan terdengar.
Ia mengangkat wajah.
Dan di ambang pintu... berdiri Alviano.
“Boleh bicara?” tanyanya pelan.
Queen berdiri pelan. Hatinya gemetar, tapi ia mengangguk.
“Kalau kamu datang untuk membela diri, aku—”
“Bukan,” potong Alviano. “Aku datang bukan untuk membela. Tapi untuk menjelaskan. Dan bukan karena aku takut kehilangan kamu... tapi karena kamu berhak tahu.”
Queen menunduk. Tangannya mengepal.
“Citra adalah seseorang yang pernah merasa dekat denganku. Tapi aku tak pernah menjanjikan apa pun. Aku tidak pernah berniat mempermainkan siapa pun, Queen.”
Queen menatap matanya. “Kenapa kamu nggak pernah cerita sebelumnya?”
“Karena aku kira... masa lalu itu tidak penting kalau aku datang ke kamu dengan niat baru. Tapi aku salah. Karena untuk membangun sesuatu yang utuh, kamu harus tahu semua bagian dariku termasuk bagian yang paling kusimpan.”
Queen menghela napas berat. “Aku cuma nggak mau jadi orang yang salah lagi.”
Alviano mendekat, perlahan.
“Kamu bukan orang yang salah. Dan kamu juga nggak salah karena mencoba mencari tahu. Aku akan tetap tinggal, bahkan jika kamu butuh waktu lebih lama lagi untuk percaya.”
Queen menatapnya lama.
Tak ada kalimat puitis yang bisa menggambarkan sesaknya dadanya saat ini.
Tapi satu hal yang ia tahu lelaki ini tak berusaha kabur.
Alviano berdiri di hadapannya, jujur, dengan masa lalu yang kini terbuka tanpa dipaksa.
---
Ruangan itu masih sunyi. Alviano berdiri tak jauh dari Queen. Wajahnya tenang, tapi tatapan matanya memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam ketulusan yang tidak dibuat-buat.
“Terima kasih,” ucap Queen pelan.
Alviano menatapnya dengan bingung. “Untuk apa?”
“Untuk tidak memaksa aku percaya... tapi memilih menunjukkan segalanya,” jawab Queen sambil menghela napas.
Ia menarik kursi dan duduk. Perlahan, ia memberi isyarat agar Alviano duduk juga.
“Sekarang aku mengerti,” lanjut Queen. “Bahwa terkadang bukan orang lain yang menyesatkan kita, tapi bayangan ketakutan sendiri.”
Alviano menatapnya lama. “Kamu nggak harus kuat sendiri, Queen.”
“Dan kamu nggak harus sempurna untuk membuatku percaya,” balas Queen dengan suara yang nyaris berbisik.
Perkataan itu menghantam lembut. Seperti gerimis pertama di musim kemarau. Tak menyakitkan, tapi menyejukkan.
Alviano menunduk sebentar, lalu berkata, “Aku belajar... bahwa menjauhkanmu dari masa laluku justru membuatmu mempertanyakan masa depanku.”
Queen menatapnya lekat. “Kamu tahu? Aku nggak suka rahasia.”
“Aku juga nggak suka harus menyimpan sesuatu darimu,” jawab Alviano jujur.
Queen menggigit bibir bawahnya. “Kalau aku bilang... aku ingin mengenalmu lebih dalam, termasuk masa lalumu yang mungkin menyakitkan, kamu akan membiarkan aku?”
“Akan kuizinkan kamu tahu semuanya, bahkan yang paling buruk dariku,” jawab Alviano pelan, “karena aku nggak ingin kamu mencintai versi sempurna yang aku ciptakan. Aku ingin kamu mengenal yang sesungguhnya.”
Queen terdiam.
Itu bukan kalimat manis yang biasanya membuat hati berbunga. Tapi itu... jauh lebih jujur dari segala pujian.
---
Beberapa saat kemudian...
Mereka duduk berdampingan di kursi kecil dekat jendela. Matahari mulai tenggelam perlahan, mewarnai langit dengan semburat jingga.
“Dulu aku pernah menyukai seseorang,” cerita Alviano tanpa diminta. “Tapi bukan karena cinta. Lebih karena rasa nyaman semu. Seperti... pengalihan.”
Queen menoleh, tak menyela.
“Citra pernah datang dalam masa itu. Ia hadir dengan cara yang tenang. Tapi aku tidak pernah memberi ruang yang jelas. Aku tahu itu salah,” lanjut Alviano, nadanya rendah.
“Kamu tahu dia menyukai kamu?” tanya Queen pelan.
“Ya. Tapi aku mengabaikannya, berharap perasaannya akan hilang sendiri. Aku... pengecut waktu itu.”
Queen menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Ia mengerti sekarang, bahwa Alviano bukan pria yang tak pernah salah. Ia hanya manusia biasa, yang dulu memilih diam—dan kini memilih bicara.
“Lalu kenapa kamu gak pernah jatuh cinta ke siapa pun selama itu?”
Alviano menoleh pelan ke arahnya.
“Karena aku... belum pernah bertemu seseorang yang membuatku ingin belajar untuk tidak lari,” ucapnya. “Sampai aku bertemu kamu.”
Queen terdiam.
Dadanya terasa sesak. Tapi bukan karena sakit. Melainkan karena terlalu penuh oleh sesuatu yang hangat yang baru yang menenangkan.
“Aku belum bisa bilang aku sepenuhnya percaya. Tapi aku... nggak akan lari lagi.”
Alviano tersenyum kecil.
“Kalau kamu bertahan, aku akan menunggu. Dan kalau kamu mulai berjalan ke arahku, aku akan pastikan jalanmu tetap aman.”
Queen tersenyum, perlahan. Ia meraih secangkir teh di hadapannya dan menyeruput sedikit, sebelum berkata, “Kita mulai dari sini, ya?”
Alviano mengangguk.
“Dari sini. Dari kamu dan aku yang tak lagi bersembunyi.”
---
Sementara itu, di tempat lain...
Citra berdiri di tepi balkon apartemennya, menatap foto Queen di ponselnya. Di layar terlihat Queen sedang berdiri di samping Alviano, diambil diam-diam.
Ia menekan tombol panggilan.
Suara seorang pria menjawab di ujung sana.
“Sesuai kesepakatan... aku ingin kamu buat semuanya kacau. Aku ingin lihat seberapa jauh perempuan itu mampu bertahan.”
“Perempuan itu? Maksudmu Aqueena Revano?”
Citra menyeringai dingin.
“Ya. Aqueena.”
---
Gimana kira2 kelanjutannya? Apa rencana yang bakal di lakukan oleh citra? nantikan di bab berikutnya yahhh, jangan lupa tinggalkan jejak kalian🤗