"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 | Kota Gibo
Disaat malam menjelang orang-orang, tidur, Kalara terbangun secara alami di kamar asramanya.
Siang tadi, pembagian asrama sudah dijelaskan. Dengan pembagian seragam dan barang-barang khusus yang dibutuhkan untuk menjadi seorang murid di Celestial Academy sudah dibutuhkan. Alika mengatakan bahwa pembelajaran akan dimulai besok pukul delapan di kelas masing-masing setelah sarapan pagi. Asrama seluas tiga meter x tiga meter itu dihuni olehnya sendirian, dengan kamar mandi terletak disudut dengan pintu yang berbeda bersebelahan dengan ruang penyimpanan.
Secara teknis, kamar asrama itu tidak luas namun tidak begitu sempit. Ada ranjang tunggal dengan meja belajar didekat jendela, lengkap dengan sebuah lampu belajar yang akan bercahaya cukup terang ketika dialiri sihir., yang merupakan benda ciptaan penyihir perak untuk memudahkan siswa belajar dimalam hari.
Kalara bangkit berdiri dan melangkah keluar ketika ia sudah mengenakan jubah ditubuhnya.
...🌙...
"Permisi," sapa Kalara pada pemuda yang berjaga gerbang keluar dan masuk Celestial Academy.
Pemuda itu menoleh dan terpana melihat Kalara, namun selang beberapa saat, ia membalas ramah sapaan Kalara. "Ya? Ada yang bisa kubantu?"
Kalara tersenyum, "Bisakah aku izin keluar malam ini? Aku memiliki urusan yang cukup penting."
"Kamu harus mendefinisikan urusan penting itu. Apakah kamu ingin keluar untuk berbelanja, untuk bertemu orang tuamu atau apa?" tanya pemuda itu dengan nada yang halus.
"Malam ini aku ingin menaruh senjata sihirku ditoko senjata kak. Ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki, dan ya, urasa itu penting. Aku akan kembali besok pagi sekali." Jawab Kalara.
Pemuda itu mengangguk, "Tentu itu penting. Bisakah aku mendapatkan Token Merah milikmu?"
Kalara memunculkan sebuah benda berbentuk lingkaran kecil dengan ukiran kepala naga yang rumit diatasnya. Benda itu berwarna merah dengan bagian tepinya dihiasi bentuk dedaunan dan sulur yang menjalar. Token Merah, adalah token khusus yang dibuat khusus untuk murid di Celestial Academy. Dengan token itu, murid bisa mendapat izin keluar dan masuk untuk urusan yang dirasa masuk akal. Token merah sama seperti Token Biru dan Token Putih. Bedanya token merah untuk kelas 1, token biru untuk kelas 2, serta token putih untuk kelas 3 atau tingkatan akhir.
Kalara mendapatkan kembali tokennya selepas diperiksa.
"Jangan sampai menghilangkan tokenmu, ingat? Berhati-hatilah di perjalanan. Ingat untuk membawa sesuatu yang bercahaya. Apakah kamu memerlukan lentera?" tanya pemuda itu.
Kalara mengangguk semangat, "Aku memiliki sihir api, jadi tidak perlu. Terima kasih kakak, sampai jumpa~"
...🌙...
Meninggalkan Celestial Academy, Kalara muncul diportal penghubung dunia luar dan Celestial Academy. Kaki rampingnya yang berlapis flatshoes bergerak menjauhi portal sementara manik emasnya mengawasi sekelilingnya yang nampak sepi. Kota itu masih nampak ramai, dengan ditiap sudut terpasang lentera dan lampu yang bercahaya dengan sihir. Hal ini tentu saja menghindari para bayangan mendekat. Meskipun, dalam beberapa waktu, masih ada beberapa orang yang hilang dan diduga karena bayangan. Semua bukti nyata yang mengarah jelas.
Jemarinya bergerak ringan, mengambil piringan hitam yang muncul perlahan dan menjatuhkannya didepannya. Ketika ia telah berdiri, bola hitam itu melayang dan melesat dengan cepat menuju sebuah tempat yang jauh, berkilo-kilometer jauhnya.
Kota Gibo adalah kota kecil di Barat Daya Kerajaan Espen. Kota ini dikenal karena sikap barbar penduduknya, yang membuat mereka sedikit terisolasi dari dunia luar. Kota ini dipenuhi dengan mereka yang pandai bertarung dengan senjata, dan keseharian mereka nyatanya adalah berburu dan saling beradu pedang sebagai hobi. Dalam empat jam perjalanan dengan kecepatan yang cepat menggunakan bola hitamnya, Kalara telah tiba digerbang masuk Kota Gibo yang tidak memiliki pencahayaan yang sama seperti kota-kota lain. Pencahayaan cukup minim. Hanya saja, kota itu dikelilingi dengan bunga aneh berbentuk bintang dengan kilauan cahaya samar keemasan ditiap kelopaknya yang mengemabang dengan bentuk layaknya bintang.
"Aku kembali lagi," gumam Kalara dengan senyuman dimatanya.
...⭐...
Kota Gibo, dua tahun yang lalu...
Kalara yang saat itu berusia empat belas tahun melangkah dengan ringan disepanjang jalan setapak. Melangkah keluar dari hutan dengan balutan dress tanpa lengan dan tanpa lengan warna putih dengan jubah semi transparan berwarna hitam yang terikat pas ditubuhnya sebatas pinggang. Sesekali bersenandung, Kalara menggerakkan tangannya menyapu dedaunan hijau. Hingga ia berhenti melangkah begitu melihat sebuah gerbang kota yang cukup besar. Dan itu terbuat dari bebatuan asli.
Ketika Kalara mendekat, dua orang pemuda berusia sekitar belasan tahunan menahannya. "Hey, siapa kau?"
Mengangkat wajahnya, Kalara menampilkan senyumnya. "Hanya pengelana yang tak sengaja lewat dikota ini. Apa boleh aku tinggal disini selama beberapa hari?"
"Tidak, pergilah!" usir pemuda bernama Emer Shallr itu.
Kalara sedikit menunduk, "Tidak bisakah? Beberapa hari saja."
"Tidak bi—!"
"Ada apa ini?" Ucapan pemuda itu terhenti ketika melihat seorang wanita dengan tatapan tajam dan bertubuh tinggi menatap mereka dengan tajam.
"Ah," beo Kalara sembari mendongak, ketika melihat betapa besarnya wanita didepannya itu.
Penduduk kota ini memiliki keistimewaan yang lain. Meskipun tak mampu menggunakan sihir, mereka memiliki tubuh besar dan tinggi baik wanita, perempuan maupun anak-anak. Mereka besasal dari Suku Gomilus. Sebuah suku yang disinyalir terlahir dengan darah raksasa ditubuh mereka. Jadi, ukuran tubuh mereka memang bisa dikatakan melebihi ukuran tubuh orang normal.
"Siapa dia?" tanya wanita itu pada Emer yang sedikit mundur.
"Nona Lupar. Kami tidak tahu siapa dia yang tiba-tiba datang. Mengatakan bahwa dia kelelahan dan ingin menginap beberapa hari. Ketika aku menyuruhnya pergi, dia tetap mencoba untuk tinggal beberapa hari disini." Jelas Emer.
Lupar, melangkah mendekati Kalara dan menatapnya rendah. Bukan dalam artian merendahkan, namun karena memang Kalara dan wanita itu jika dibandingkan hanya sebatas perutnya saja.
"Siapa namamu?" tanya Lupar itu.
Kalara membangkitkan senyuman lebarnya, "Namaku Kalara, bibi."
...⭐...
Kalara tidak mengerti situasinya sekarang ini. Ya, dia tidak cukup mengerti. Dimana sekarang dia didudukkan diatas bangku dengan banyak wanita yang sama seperti Lupar duduk bersila dibawahnya. Meskipun duduk dibawah, mereka masih sejajar dengan Kalara yang duduk dibangku yang cukup besar itu. Tak hanya wanita, banyak orang yang berusia remaja dan pria besar ikut mengelilingi Kalara diruangan yang sangat besar itu.
"Astaga, dia sangat menggemaskan."
"Lihat betapa halusnya dia! Bayi kecil yang halus!"
"Bagaimana dia bisa terlihat sangat cantik seperti itu."
"Ibu, dia boneka peri ya?"
"Terlihat seperti boneka."
"Siapa namanya? Kalara bukan?"
Orang-orang berbisik dan bertanya-tanya saat melihat sosok Kalara. Mereka menatapnya seolah mereka tidak pernah melihat dirinya. Sedangkan Kalara menatap sekelilingnya dengan senyuman manis yang halus meski tersirat sedikit kekakuan didalamnya. Ketika ia menjawab pertanyaan Lupar yang menanyakan namanya, Kalara langsung diangkat kegendongannya dan dibawa mengelilingi kota itu dengan riang. Hal yang tidak diketahui Kalara, Lupar adalah pemimpin Kota Gibo. Orang-orang yang melihatnya terutama wanita memekik senang dan mendekatinya.
"Kalara, bagaimana kau bisa sampai disini?" tanya Lupar.
"Em, sebenarnya Kala sudah melakukan perjalanan sejak kecil. Dan kebetulan saja hari ini sampai dikota ini setelah dari Kota Cetres. Jadi karena sedikit lelah, Kala berpikir untuk menetap selama beberapa hari, juga melihat-lihat kota ini sebentar." Jawab Kalara.
"Ah, begitu? Darimana kau berasal? Kau sendirian? Dimana orangtuamu?" tanya seorang pria disamping Lupar, Kal Omen, suami dari Lupar.
"Kala berasal dari tempat yang jauh sekali dari sini. Dan yah, Kala tidak tahu siapa orangtua Kala sejak dilahirkan."
Jawaban Kalara membuat Kal membungkam bibirnya cemas ketika melihat tatapan tajam Lupar. Sementara yang lain nampak memasang wajah simpati pada Kalara yang masih tersenyum.
"Ma—Maafkan paman Kala." Kata Kal.
Kalara menggeleng dan menjawab dengan senyuman ringan, "Tidak apa, tidak apa. Kala sudah terbiasa, lagipula tidak ada yang salah dengan rasa penasaran melihat seorang gadis berkeliaran seorang diri tanpa orang dewasa."
Lupar menunduk sesaat, "Aku izinkan kau tinggal disini sampai kau akan pergi. Aku secara khusus membiarkanmu mengelilingi kota bersama dengan Emer."
"Ah? Aku? Tidak mau!" tolak Emer yang sejak tadi bersandar didinding.
"Tidak ada penolakan."
"Cih!"
Lupar menoleh dan menatap Kalara dengan senyuman, "Ngomong-ngomong berapa usiamu, Kala?"
Kalara tersenyum, "Empat belas tahun."
Seketika, keheningan jatuh melanda.
gak ketebak